
**Jumpa lagi dengan Aisha dan Om Richard.
Happy reading guys.
****
Aisha mengulurkan tangannya, menyambut tangan Edward. Terlihat dari wajah Edward yang gembira.
"Aku senang, mempunyai saudara perempuan ," kata Edward, dan tangannya masih menggenggam jemari Aisha dengan eratnya.
"Hei..! little Brother, lepaskan. Suaminya ada disini," ujar Richard dengan menunjuk kearah tangan Aisha dan Edward yang masih saling menggenggam.
"hehehe..big brother, Dia adalah my sister ," ujar Edward dan senyum iseng mengerjain Richard terlihat dari wajahnya.
"Sudah..sudah ! bing brother dan little brother, jangan ribut." Aisha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Edward dan berdiri ditengah-tengah mereka berdua.
Richard memberikan tatapan mata yang kepada Edward, dan Edward mengetahui apa arti tanda tersebut.
"Wifey...!" Richard memeluk Aisha.
"Sister..!" Edward juga memeluk Aisha, sehingga Aisha terjepit diantara dua badan yang besar dan kekar.
"Huh..Aisha terjepit!" teriak Aisha sambil berusaha melerai dua pelukan yang menghimpit badannya.
'Lepas bing brother dan little brother, kalau kalian tidak lepas. Hari ini terakhir kalian berdua punya wifey dan sister !" seru Aisha.
Pelukan langsung terlerai, ketika mendengar ucapan Aisha.
"Sorry sister, suamimu itu yang merencanakan ini semua," kata Edward.
"kau ini, baru lima belas menit ketemu sister. Langsung ingin menguasainya ya !" ujar Richard dengan pura-pura marah.
"Hari ini, aku sangat senang. Karena aku punya saudara perempuan yang sangat cantik ." Edward memandangi wajah Aisha, terlihat Edward sangat terharu.
"Aku juga sangat senang, karena punya istri yang sangat cantik ," ujar Richard.
"Ah..aku kira kau akan bilang, punya little brother yang sangat ganteng," kata Edward memuji dirinya.
"Hei..aku hanya akan memuji istriku, tidak orang lain. Apalagi laki-laki, apa kata orang jika aku memuji dirimu," kata Richard.
"Nah.. mulai lagi ini." Aisha mendelik melihat keduanya.
"Kenapa mereka berdua seperti bocah yang memperebutkan mainan ." dalam benaknya seraya memperhatikan Richard dan Edward.
Sebenarnya Richard mengusili Edward, berniat agar Aisha tidak canggung terhadap Edward. Sehingga kedua saudara satu ayah lain ibu ini bisa saling menerima, khususnya Aisha.
"Oke kita damai little brother ." Richard mengulurkan tangannya dan Edward menyambutnya.
"Friend, bing brother ," ucap Edward.
"Sudah duduk .!" titah Aisha.
"Yes mam," jawab keduanya.
"Hei..kalian sedang bermain apa ? kenapa aku kalian tinggalkan ." Alana datang dari dalam rumah.
"Kau kan sedang ngobrol dengan calon mertua ," kata Aisha.
"Hai beautiful.." Edward mengulurkan tangannya kepada Alana.
"Hai handsome ." balas Alana dengan menyambut uluran tangan Edward.
Edward menarik tangan Alana kebibirnya, dan kemudian mengecupnya.
"Oh..so sweet !" seru Alana dengan bibir yang sumbrigah.
__ADS_1
"Edward, Alana keponakanku. Dia memanggil mu uncle ," kata Richard.
"Oh no !" seru Edward dengan terkejut.
"Hehe...hai uncle kecil." Alana melambaikan tangannya kepada Edward.
"Cintaku langsung terbang !" ujar Edward dengan berpura-pura sedih, dan memegangi area jantungnya.
"Kau ini pasti playboy ," ujar Aisha.
"Tidak sister, aku pria baik-baik," jawab Edward.
"Mana ada playboy yang ngaku ." celetuk Alana.
"Hai uncle kecil, senang berkenalan dengan mu," ujar Alana.
"No! please jangan panggil aku uncle, aku masih muda. aku baru 18 tahun ," ujar Edward.
"Aku 21 tahun uncle kecil, dan sister mu itu baru mau 21 tahun ," kata Alana.
"Please, jangan panggil uncle ." mohon Edward kepada Alana.
Alana tersenyum jahil.
"No uncle, aku suka punya uncle kecil ." ujar Alana.
"Up to you ." bibir Edward manyun, membuat Aisha dan Alana gemas melihatnya.
"Aish, baru kali ini aku melihat bule manyun. Lucu ya ." ngekeh Alana, begitu juga Aisha. Sedangkan Edward curiga, apa yang dikatakan Alana kepada Aisha. Karena keduanya tertawa melihatnya.
"Bing brother, apa yang mereka katakan. Apa keduanya menceritakan ku ?" tanya Edward, yang tidak mengerti apa yang dikatakan Alana kepada Aisha. Karena Alana dan Aisha berbicara dengan bahasa Indonesia.
"Mereka berkata, kau itu sangat ganteng," jawab Richard, sembari membalas pesan yang baru masuk ke ponselnya dari Tony.
"Betul bing brother, jangan bohong," kata Edward.
"Mas say, Ais masuk ya ," kata Aisha kepada Richard.
"Iya, bentar mas say juga masuk. Ini lagi balas pesan Tony," kata Richard.
"Little brother, aku masuk ya. Mau istirahat," kata Aisha kepada Edward.
"Selamat istirahat Sis," ucap Edward.
"Uncle kecil, bye..bye..!" seru Alana.
"Bye..." jawab singkat Edward, karena Alana masih memanggilnya dengan uncle kecil.
"Little uncle.. little uncle..." gerutu Edward.
Richard melirik Edward yang ngedumel, Dia tertawa.
Wisnu keluar dari dalam rumah bersama dengan Adam.
"Ed, ayo. kita tidur di Yayasan," kata Adam, karena kamar dirumah nenek Aisha tidak mampu menampung mereka semua.
"Ok ," kata Edward.
Wisnu tertawa melihat Edward memakai bajunya yang kekecilan, celananya menggantung. Begitu dengan Richard, karena mereka berencana tidak menginap. Sehingga tidak membawa baju ganti.
****
Richard sudah masuk kedalam kamar, dan tidak melihat keberadaan Aisha.
"Mana Dia, apa dikamar Alana ." Richard keluar lagi, dan mengetuk pintu kamar Alana tidur.
__ADS_1
Aisha membukanya dan melihat Richard berada didepan pintu.
"Mas say, ada perlu apa. Mau minum?" tanya Aisha.
"Ayo kembali kekamar kita ," ujar Richard kepada Aisha.
"Al, takut tidur sendiri mas say ," ujar Aisha.
"Apa !"
Muncul wajah Alana dari belakang Aisha.
"Om, Al pinjam istri Om satu malam ya " ujar Alana.
"Tidak bisa, tidur sendiri ." Richard meraih jemari Aisha dan membawa masuk kedalam kamar.
"Hih.. Om Richard menyebalkan..!" Alana menutup pintu dan naik keatas tempat tidurnya, dan menarik selimutnya sampai menutupi sekujur tubuhnya.
"Ayo tidur ." Richard menyuruh Aisha naik ketempat tidur, dan kemudian Richard membaringkan tubuhnya.
"Sudah tidur ." Richard mengusap pucuk kepala Aisha dan kemudian memejamkan matanya.
***
Sepasang kaki melangkah mengendap-endap, keluar dari dalam kamarnya.
"Akhirnya ." Gaby menarik napas dengan lega, karena berhasil untuk keluar rumah lagi. Seperti biasanya, jika ia ingin keluar malam.
"Pak ini ." Gaby menyerahkan dua lembar uang warna merah, untuk menyuap satpam agar mau membantunya untuk mendorong mobilnya keluar dari area rumahnya.
"Siap bersenang-senang !' serunya.
Drret.dreett...
"Siapa ini ." Gaby melihat pesan masuk dari Mark yang mengatakan ia absen ke club malam ini, dan menyarankan agar Gaby tidak ke club.
"Huh..enak saja melarang-larang, bapak tidak. Pacar juga tidak !" omel Gaby, dan meneruskan perjalanan menuju ke club tempat biasa ia bersenang-senang.
***
Hampir pukul dua dini hari, Aisha terbangun dan mendengar suara langkah kaki didepan pintu kamarnya.
"Suara langkah kaki siapa ?" gumamnya.
"Apa ada maling, tapi kenapa malingnya hanya mondar-mandir didepan pintu," ucap Aisha.
"Mas..mas say ." Aisha membangunkan Richard.
"Hemhh ada apa ?" Richard membuka matanya dan melihat Aisha duduk didekatnya.
"Ada suara langkah kaki didepan pintu kamar mas say, apa ada maling." ucap Aisha.
"Maling !" Richard langsung bangkit, mendengar perkataan Aisha.
Richard turun dari ranjang dan mengambil hair dryer dan melangkah mendekati pintu dan Aisha juga mengikutinya dari belakang.
"Mas say, hati-hati. Aisha nggak mau jadi janda," ujar Aisha.
"Mas say juga nggak mau mati penasaran ," jawab Richard.
'Kenapa mati penasaran ?" tanya Aisha dengan berbisik.
"Mas say belum...." Richard berbisik kepada Aisha.
Blush..merah merona pipi Aisha.
__ADS_1
Bersambung..