Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 267 Mamud dan Pamud


__ADS_3

**Happy reading guys ❤️


🌟🌟🌟**


Tawa ketiganya membuat orang yang berada di dekat mereka duduk memandangi ketiganya.


"Ups..! wow..kita bukan berada dirumah " ingatkan Mada, saat tersadar mereka lagi berada didepan ruangan praktek dokter spesialis kandungan.


"Hihihi.." Jessie tertawa sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Adik mau periksa kandungan juga?" tanya seorang wanita yang perutnya sudah kelihatan besar.


"Iya Tante" Jessie yang menjawabnya.


"Sepertinya kalian masih sangat muda? siapa yang diantara kalian yang hamil? apakah adik ?" tanya wanita tersebut kepada Jessie.


Jessie melihat kearah Vely dan Mada, kemudian secara bersamaan mereka menjawab pertanyaan wanita tersebut.


"Kami bertiga." Ketiganya menjawab secara bersamaan, dan menunjuk Kediri sendiri.


Ibu-ibu yang berada didekat ketiga para mama muda saling bertukar pandang, dan pertanyaan di kepala wanita tersebut berseliweran didalam benak masing-masing.


"Kalian masih begitu muda, kenapa bisa menikah muda? apa kalian...?" wanita yang didepan Vely bertanya, tetapi pertanyaannya belum tuntas keluar dari mulutnya. Dia ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Apa Tante mau bertanya, bahwa kami MBA ?" tanya Mada.


"Hahaha! jangan khawatir Tante, kami tidak MBA. Kami masih bisa menjaga bawah kami Tante," jawab Jessie dengan perkataan yang nyeleneh.


"Bawah? apa yang dibawah?" tanya Vely bingung dengan perkataan Jessie.


"Kaki, kita masih bisa menjaga kaki kita kan? kaki kita ini tidak membawa kita menjadi anak nakal" kata Jessie.


"Ooh..benar, kaki kita ini juga bisa sebagai pembawa bencana juga ya" kata Mada sembari manggut-manggut.


"Kenapa kaki? kenapa tidak mata ?" tanya tanya Tante yang didepan Vely lagi.


"Mata hanya melihat Tante, yang membawa kita menuju jurang kehancuran itu kaki kita. Dibantu oleh otak, Alhamdulillah. Kedua orang tua kami itu telah memberikan kami otak yang sempurna" nyengir Jessie.


"Kakak ipar, kau sungguh menakjubkan " kata Vely kepada Jessie.


"Terima kasih.. terima kasih" Jessie bangkit dari duduknya dan membungkukkan badannya.


"Heemm ! suara dehem, membuat Jessie menoleh kearah belakangnya.


"Mas Rosay!" Jessie langsung berlari, menubruk Rodrick dan memeluknya.


"Tante-tante semua, ini suamiku. Kenapa aku mau menikah muda ," kata Jessie.


"Dulu saja main kabur, sekarang sok gembira" gumam Rodrick.


"Apa kak?" Jessie mendongak memandang wajah Rodrick, saat mendengar gumaman pria yang dipeluknya tersebut.


"Tidak ada apa-apa" sahut Rodrick.


"Ayo kita duduk" Rodrick membawa Jessie duduk.


"Keane dan Dama belum datang?" tanya Rodrick.


"Baru kasih kabar kak, dalam perjalanan" kata Vely.


"Kalian hanya bertiga, mana mommy?" tanya Rodrick.


"Mommy dan Mama Mayang lagi kekantin, tapi lama sekali. Apa mommy dan Mama tidak nyasar?" ucap Mada.


"Rumah sakit sekecil ini, tidak mungkin mereka nyasar. Ada-ada saja isi dalam kepalamu Mada " ledek Rodrick.

__ADS_1


Dari kejauhan terlihat Keane dan Dama berjalan beriringan.


Setelah dekat, Mada dan Vely berdiri.


"Masih lama?" tanya Keane.


"Tidak kak" sahut Mada.


"Ayo duduk" kata Dama.


"Tante, ini suami kami" kata Vely.


"Ada apa?" tanya Dama.


"Kami tadi heran, melihat mereka masih muda. Tapi sudah pada menikah" ucap wanita yang duduk berada didepan Mada.


"Jodoh sudah tiba Tante, untuk apa dipersulit. Jangan sampai nanti kita menjadi jaga jodoh orang" kata Rodrick.


Semua tertawa mendengar perkataan Rodrick, hanya Dama dan Keane yang tidak merespon perkataan Rodrick.


Keduanya fokus dengan ponselnya, keduanya tidak menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang tersebut. Hanya Rodrick yang terus menjawab, walaupun jawaban yang diberikan oleh Rodrick ada yang nyeleneh.


"Ibu Mada Hutama...!" seorang suster memanggil nama Mada, tetapi Mada cuek saja mendengarnya. Dia anteng menyandarkan kepalanya dibahu Keane, sedangkan Keane masih asik dengan ponselnya.


"Ibu Mada Hutama, Mada !" panggil suster kembali.


"Mada!" seru Dama kepada adiknya.


"Saya suster" tersentak kaget Mada.


"Dengan ibu Mada Hutama?" tanya suster tersebut.


"Mada Syailendra suster" kata Mada.


"Iya suster, Mada Hutama" kata Keane seraya berdiri.


"Kenapa Hutama? makanya aku tidak ngeh dengan nama sendiri" ucap Mada sambil mengikuti Suster masuk kedalam.


"Bye.. duluan ya " ucap Mada kepada Vely dan Jessie.


Vely dan Jessie melambaikan tangannya.


"Kak, didalam nanti disuruh ngapain?" tanya Vely kepada Dama.


"Lihat ini" Dama menunjukkan gambar yang ada didalam ponselnya, ternyata Dama diam sedari tadi fokus membaca tentang ibu hamil.


"Oh, tidak ada disuruh ngangkang kan?" tanya Vely.


Dama menoleh kearah Vely, dan menatapnya dengan dalam.


"Untuk apa disuruh ngangkang, apa mau melahirkan. Makanya, ada ponselnya itu gunakan untuk mencari tentang kandungan. Jangan gunakan untuk melihat media sosial saja " ceramah Dama.


"Aduh..! salah nanya, kak Dama ngomel seperti emak-emak saja. panjang" batin Vely.


Aisha dan Mayang datang dengan membawa banyak makanan.


"Mommy beli minuman kemana? kenapa lama sekali?" tanya Vely.


"Dikantin tidak ada minimum yang cocok untuk ibu hamil, ini kami belikan juice buah-buah segar." kata Aisha.


"Mada mana?" tanya Mayang.


"Baru masuk" beritahu Jessie.


Dalam ruangan, Mada gugup. Dia takut, begitu disuruh berbaring.

__ADS_1


"Dok, saya mau diapakan? apa mau periksa dari bawah sini Dok?" tanya Mada dengan ekspresi wajah yang gelisah.


"Tenang Mada" ucap Keane seraya menggenggam jemari Mada.


"Tidak Bu, tenang ya. Periksa tidak ada dari bawah, maksud ibu dari **** * ya?" tanya dokter tersebut dari kursi kebesarannya.


"Iya dokter ," sahut Mada.


"Ibu lucu sekali" ujar suster yang sedang mengukur tekanan darah Mada, dia tertawa mendengar ucapan Mada.


"Ini, aneh-aneh saja " melotot Keane melihat Mada.


"Mada belum pernah hamil kak!" seru Mada.


"Belum pernah hamil juga kan bisa cari melalui internet, mengenai kehamilan" kata Keane.


"Kira periksa dulu ya Bu" kata dokter.


Mada melirik Keane sekilas, dan mencebikkan bibirnya.


Dokter memeriksa Mada, dan menanyakan tentang siklus menstruasi Mada. Mada yang ditanyai, Keane semua yang menjawab. Sampai siklus bulanan Mada juga, Keane ingat.


"Usia kehamilan ibu baru memasuki lima mingguan, janinnya sehat. Karena masih baru masih rawan, jangan terlalu letih dan untuk sementara puasa dulu ya Pak" kata dokter kepada Keane.


"Puasa, apa puasa dipercepat dokter? bulan puasa masih lima bulan lagi. Kenapa saya harus puasa sekarang?" bingung Keane.


"Pak, bukan puasa itu. Maksud saya, puasa enak-enakan " kata dokter.


"Dok, jelaskan yang jelas. Jangan ambigu " kata Keane.


"Begini Pak, jangan melakukan hubungan suami istri dulu" kata dokter.


"Oh..berapa lama baru bisa melakukan hubungan sek*s?" tanya Keane.


Mada, wajahnya sudah merona merah. Ingin rasanya dia menjahit mulut Keane agar tidak bertanya lagi.


"Calon baby kami hanya satu dokter?" tanya Keane.


Dokter mengerakkan USG kesekitar area perut Mada.


"Untuk saat ini hanya satu Pak, kenapa Pak? apa bapak mengharapkan bayi kembar?"


"Tidak Dok, karena saya juga terlahir kembar" terlahir kembar.


"Ini sepertinya satu Pak"


Keluar Keane dan Mada, masuk Rodrick dan Jessie. Jessie juga seperti Mada, terlihat dia nervous saat dititahkan untuk berbaring.


Dokter mengamati Rodrick dengan seksama, Rodrick yang tahu dokter mengamatinya. Bertanya.


"Kenapa Dok, kenapa dokter melihat wajah saya. Apa ada yang aneh ?"


"Apa bapak saudara kembar suami pasien sebelum bapak masuk tadi?" tanya dokter.


"Iya Dok, kami itu kembar tiga. Tapi tidak identik, saudara kembar kami yang satu lagi istrinya belum hamil, insyallah secepatnya Dok. Pasien anda pasti bertambah" kata Rodrick dengan tertawa.


Dokter juga tertawa mendengar gurauan Rodrick, begitu juga dengan Jessie.


🌟🌟🌟


Bersambung 😘


Like


Like

__ADS_1


Like


__ADS_2