
Jumpa dengan author kembali 🥰.
***
Aisha heran dengan baju tidur yang dikenakannya.
"Semalam aku pakai celana jeans dan kemeja, kenapa sekarang jadi pakai baju tidur ." gumannya.
"Ada apa sweetie, apa ada yang kurang dibadannya ?" tanya Richard, saat dilihatnya Aisha melihat kearah baju tidurnya dan kebingungan.
"Kenapa Ais pakai baju ini?" tanya Aisha dengan wajah yang bingung.
"Kalau tidak pakai baju ini, mau nya pakai baju apa. Apa mungkin Aisha tidak mau pakai baju, suamimu ini sangat suka. Jika itu yang sweetie ingin kan ." goda Richard.
"Hih.. Om, Ais serius." Aisha mencebikkan bibirnya, dan bangkit dari berbaring.
"Semalam suamimu ini yang membukanya, orang lain. kalau malam pengantin saling membuka baju, ini. Hanya suami saja yang capek membuka baju istrinya. Sedangkan sang istri tidur seperti baby," ujar Richard.
"Om! Om yang buka baju Ais?" tanya Aisha dengan pipi yang sudah merah.
"Sudah tentu, apa Aish mengharapkan Tony atau David yang membukanya ?"
"Aaaa..! Om sudah melihat badan Aish ." Aisha ngambil bantal dan menutupi sebagian wajahnya.
"Tidak semua terlihat Ais, masih ada kain hitam yang menutupinya ," ucap Richard.
puk..puk..
Aisha mendaratkan pukulan di dada Richard, saat menyebutkan warna pakaian dalam yang dikenakannya.
Richard tertawa mendapatkan pukulan dari Aisha, Dia sengaja menggoda Aisha. Agar Aisha tidak malu-malu dengan keberadaan dirinya.
Aisha menggeser badannya sedikit agak menjauh dari Richard, Richard tahu bahwa Aisha bergeser menjauhi dirinya. Dan Dia membiarkannya saja, Richard tahu bahwa Aisha masih belum terbiasa tidur bersama dengan dirinya.
Aisha melihat kearah jendela, dan terlihat mentari pagi yang masih malu-malu untuk menunjukkan warna keemasannya.
"Lihat apa ?" tanya Richard.
"Om, kita dimana ?" tanya Aisha.
"Dirumah, hei.. kenapa manggil Om terus sweetie ?" Richard protes Aisha memanggil dirinya Om.
"Maaf Om, Aisha belum terbiasa. Maklumlah lidah kampung, kalau sweetheart itu lidah kota ," ucap Aisha dengan malu-malu.
"Hukuman karena tidak memanggil sweetheart ." Richard menarik tubuh Aisha, sehingga Aisha nemplok diatas badan Richard.
"Om!" Aisha kaget, karena mendarat diatas badan Richard.
__ADS_1
"Apa ? ini hukumannya ." Richard langsung menarik tengkuk Aisha dan menempelkan bibirnya ke bibir Aisha.
Richard bermain-main dibibir Aisha, sehingga Aisha megap seperti ikan tidak mendapatkan air. Setelah Richard puas, baru Dia melepaskan tautan bibirnya.
Mata Aisha melebar sempurna, dan bibirnya yang merah tipis basah bekas saliva Richard yang masih nempel dibibir dan sekitarnya.
"Bagaimana mau lagi?" tanya Richard sembari tertawa kecil, saat melihat Aisha seperti patung dengan mata dan mulut terbuka.
Aisha yang belum sadar, belum menyadari apa yang dikatakan Richard hanya menganggukkan kepalanya.
Melihat anggukan kepala Aisha, Richard menarik tengkuk Aisha dan ingin mendekatkan wajahnya kewajah Aisha.
"Om mau apa ?" Aisha mendorong wajah Richard, dan ingin turun dari atas badan Richard. Tetapi tidak bisa, karena Richard menahannya dengan satu tangannya.
"Katanya mau nambah sebungkus ciuman lagi." Richard mengerlingkan matanya kepada Aisha.
"Yii..ah..! mana ada ." Aisha menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Tadi, anggukan itu."
"kalau masih ingin, bibir ini masih sanggup. Melakukannya semalam suntuk." sambung Richard lagi.
"Cukup!" seru Aisha dan menutup bibirnya dengan jemari tangannya.
"Om lepaskan, Ais sesak ini ."
"Kenapa Om lagi, oh.. sepertinya suka dengan bibir ini ya. Bilang saja, suamimu ini siap melaksanakan semua sweetie ?" Richard menaik-turunkan alisnya.
"Aish tidak terbiasa, panggil mas saja ya ?" mohon Aisha, karena panggilan sweetheart akan membuat Dia mendapatkan hukuman terus, karena mulutnya belum terbiasa.
"No, aku tidak ingin seperti sweetie memanggil Wisnu dan seperti memanggil mas tukang becak dan tukang baso." Richard mengutarakan keberatannya.
"Ih... banyak sekali kemauannya ." gerutu Aisha yang hanya dapat disimpannya dalam benaknya saja.
"Bagaimana kalau mas say ?" tanya Aisha.
"Mas say, hemhh.. bolehlah. Dari pada Om, dikira orang aku Om-om senang."
"Ucapin dengan mesra dan lembut ," kata Richard.
"Mas say...!" Aisha mengucapkannya dengan suara yang mendayu-dayu, sehingga Richard menjadi tertawa geli melihat bibir Aisha yang bergerak maju-mundur dan kiri-kanan.
"Terimakasih Asay ." balas Richard, ingin mengikuti gerakan bibir Aisha. Tetapi tidak dapat diikutinya.
"Asay, kenapa Asay ?" tanya Aisha.
"Aisha sayang," ujar Richard.
__ADS_1
Cup...
Richard memberikan kecupan sekilas dibibir Aisha.
"Om !" Aisha menepuk dada Richard.
"Apa ?"
"Mas say." dengan cepat Aisha bangun dari atas badan Richard dan berlari ingin kekamar mandi pintu, tetapi dia berhenti.
"Mas say, kamar mandi mana?" karena tadi malam Dia tiba dirumah ini larut malam dan dalam keadaan tidur, Aisha tidak tahu pintu mana yang menuju kamar mandi.
"Tu ." Richard menunjuk pintu yang ada didepannya.
Aisha langsung masuk, karena Dia sudah kebelet ingin buang air kecil .
"Ah.. sepertinya aku jatuh cinta dengannya, apa Dia juga ada rasa itu ." pertanyaan dalam benaknya Richard.
Richard meletakkan kedua tangannya menjadi bantalan kepalanya, dan matanya menerawang menatap keatas. Entah apa yang ada dalam benaknya saat ini.
****
Saat hari hampir subuh, Josh belum juga dapat memejamkan matanya. Dia termenung menatap gelapnya malam, membayangkan saat Larasati melahirkan putrinya kedunia ini. Tanpa didampingi oleh seorang ayah.
"Maaf Laras, aku sudah sangat bersalah. Kenapa aku harus menyerah dahulu, begitu tidak bertemu denganmu. Aku langsung menyerah dan kembali pulang." Josh berbicara sendiri didalam kegelapan malam, sembari menatap langit.
Evelyn terbangun dan tidak melihat keberadaan suaminya disisinya.
"Kemana Dia ?" Evelyn turun dari ranjang dan keluar dari dalam kamar.
Evelyn melihat pintu balkon terbuka, dan melihat Josh duduk dan dilihatnya puntung rokok bertebaran.
"Josh, apa yang kau laku. Tidak biasanya kau merokok ?" tanya Evelyn.
Josh mengangkat kepalanya, dan terlihat wajah Josh yang kusut. Dan lingkaran hitam terlihat dibawah matanya.
"Josh, apa yang terjadi ?" Evelyn kaget melihat wajah Josh yang terlihat kacau.
"Aku sangat jahat, aku ayah yang sangat jahat. Aku tidak tahu aku mempunyai anak selain Edward, anakku tumbuh tanpa aku ketahui!" seru Josh dengan suara yang bergetar menahan tangisnya.
"Josh, ini bukan kesalahanmu. Ini karena kau tidak tahu mereka tinggal dimana ," ujar Evelyn, berusaha untuk menenangkan Josh yang terlihat prustasi.
"Ini kesalahanku, kalau aku terus melakukan pencarian seperti yang kulakukan saat ini. Kami pasti masih bersama mengurus putri kami ," ujar Josh, tanpa menyadari bahwa perkataan telah melukai hati Evelyn yang selama ini mendampinginya saat duka dan suka.
"Aku yang masuk diantara kalian." dalam benaknya Evelyn menyesali kenapa Dia menyetujui rencana kedua orangtua mereka dahulu.
Evelyn dan Josh dahulu teman masa kecil dan bertetangga, saat Josh kembali untuk melihat mommynya yang sakit. Josh dipaksa untuk menikahi Evelyn sebelum mommynya meninggal. Tetapi Josh menolak dan memilih kabur ke Indonesia, tetapi begitu tiba di Indonesia. Rumah yang dirinya tinggalin bersama Larasati ludes dilalap si jago merah, dan Dia kehilangan jejak Laras. Apalagi Dia tidak mengetahui kampung orang tuanya Laras, karena pernikahan yang mereka lakukan tidak direstui oleh kedua orangtuanya Laras.
__ADS_1
Bersambung...