
Cerita hanyalah untuk hiburan semata, semoga kakak-kakak reader terhibur dengan cerita recehan ini.
Happy reading guys ❤️
***
Keane masuk kedalam rumah sembari bersiul-siul, membuat Aisha dan Alana yang sedang berada diruang keluarga heran.
"Keane! apa dapat proyek baru ?" tegur Alana.
"Iya, proyek pribadi" sahut Keane.
"Wow..! boleh kakak minta traktir," ujar Alana.
"Boleh, kakak mau minta ditraktir apa? mau siomay atau baso ." tawarkan Keane seraya meletakkan bokongnya di sofa depan mommynya.
"Alana saja yang mau ditraktir, mommy tidak ya ?" kata Aisha.
Keane bangkit dari duduknya dan beranjak duduk disamping Aisha.
"Mommy mau apa? akan Keane beri ?" tangan Keane memeluk Aisha.
"Mommy mau cucu, bagaimana?" mata Aisha bermain-main memandang wajah Keane.
"Oh..mau cucu? tapi mommy sudah ada cucu dari kak Alana" kata Keane.
"Mommy mau dari anak mommy juga" kata Aisha.
"Oke! Keane akan bawa cucu untuk mommy," ujar Keane.
"Hei..Keane, jangan buat anak gadis orang tengdung ya Keane" kata Alana.
"Apa itu tengdung?" tanya Keane heran.
"Nikah karena sudah bawa bola dulu ," ucap Alana.
"Apalagi itu." perkataan Alana, semakin membuat Keane tidak mengerti.
"MBA Keane !" seru Aisha kepada putranya yang bingung dengan perkataan yang keluar dari mulut Alana tidak ada yang dimengerti oleh nya.
"MBA?" Keane juga tidak tahu, apa yang dikatakan oleh mommynya.
"Married by accident Keane putra Hutama!" seru Alana gemas, karena Keane tidak mengerti apa yang dikatakan olehnya.
"Oh..!" yang keluar dari mulut Keane.
"Hanya oh..!" mata Alana setengah mendelik.
"Keane harus bilang apa? Keane tidak akan melakukan apa itu MBA," kata Keane.
"Tenang, Keane akan beri mommy cucu dengan cara yang halal. Keane kekamar dulu, badan Keane sudah gerah " Keane meninggalkan Aisha dan Alana.
"Tante kecil, sepertinya. Ada yang berubah dengan Keane, lihat. Wajahnya tadi cerah, apa dia ada dekat dengan seseorang gadis ?" tanya Alana.
"Tidak ada yang aneh, biasa saja " sahut Aisha.
"Tidak biasanya Keane mau berlama-lama cerita," ujar Alana.
"Mungkin hatinya lagi senang, dapat proyek besar " jawab Aisha.
Perbincangan mereka beralih membahas usaha Dony yang ingin meluaskan usaha travel nya keluar negeri.
"Al, apa jadi Dony buka cabang diluar negeri ?" tanya Aisha.
__ADS_1
"Jadi, itu kan keinginan Dony sejak dulu ," kata Alana, mengingat saat dulu. Rumah tangganya hampir hancur, hanya karena dia tidak mau ikut pindah dengan Dony keluar negeri. Saat Aldo masih kecil.
"Aldo yang megang disana ?" tanya Aisha.
"Iya, Siapa lagi bisa diandalkan. Ivan masih kecil, biarlah sebagai pelajaran untuk Aldo semakin berkembang," kata Alana.
"Masalah pernikahan Vely bagaimana, sudah sampai berapa persen selesai?" tanya Alana.
"Lancar saja, katering semua diurus oleh Mayang dan David. Gedung juga diurus oleh David, kami hanya tinggal mengurus Vely siap lahir batin untuk menjadi istri Dama," kata Aisha.
"Aku tidak ada dilibatkan ini ?" tanya Alana dengan menampilkan bibir manyun.
"Kau urus baju dan makeup saja." titah Aisha.
"Bagus! soal kecantikan, serahkan kepada ahlinya !" Alana menunjuk diri sendiri.
***
Selesai membersihkan badan, Mada keluar dari dalam kamar.
"Sepi, kemana semua orang?" Mada celingukan mencari kedua orangtuanya.
Mada mendengar suara bincang-bincang dihalaman belakang, suara itu membawa langkah kakinya.
"Maa" sapa Mada, begitu melihat Mamanya sedang berbicara dengan pekerja yang membersihkan taman.
"Kenapa lama pulang?" tanya Mayang .
"Tadi teman ngajak Mada ke toko buku." beritahu Mada.
"Kalau pulang telat, bilang kerumah. Biar mama tidak khawatir," kata Mayang.
"Mada juga pergi ditemani kak Keane Ma, jangan khawatir." beritahu Mada.
"Keane ? tumben dia bisa keluar kantor" ujar Mayang.
"Ketemu dengan Keane ? mama tidak tahu. Mungkin bahas masalah pernikahan Dama dan Vely," kata Mayang.
"Mungkin" sahut Mada.
"Maa, kak Dama tidak tinggal disini dengan Vely?" tanya Mada.
"Mereka tinggal didekat kampus, seminggu sekali pulang kesini." beritahu Mayang.
"Hih..! padahal Mada senang, punya teman dirumah. Jika Mama dan Papa pergi mengunjungi restoran diluar kota," ucap Mada.
"Bagaimana jika Mada nikah juga seperti Vely, biar ada yang menemani. Jika Mama dan Papa tidak ada dirumah?"
"Hih... Mama! nikah.. nikah! Vely sudah ketemu jodohnya, Mada belum ketemu. Jodoh Mada masih belum jelas!"
"Tuh..! jodoh Mada !" Mayang memonyongkan bibirnya, menunjukkan arah depan rumah.
"Au ah...!" Mada pergi meninggalkan Mamanya.
***
Dama membawa Vely menuju rumah yang tidak begitu besar, dan tidak begitu kecil juga. Yang bersebelahan dengan tempat usaha yang dimiliki oleh Dama.
"Ayo turun." titah Dama.
Vely mengikuti Dama masuk kedalam rumah, dan melihat keadaan dalam rumah yang kelihatan sudah terisi perabotan yang baru.
"Bagaimana? apa ada yang tidak disukai?" tanya Dama, setelah selesai membawa Vely memeriksa setiap sudut rumah.
__ADS_1
"Tidak ada kak," sahut Vely.
"Baguslah, kamar kita diatas. Ayo " Dama meraih jemari Vely dan membawanya menuju lantai atas.
Lantai atas hanya ada satu kamar tidur dan satu ruangan yang di ubah Dama menjadi Ruang kerjanya.
"Kamar hanya satu kak ?"
"Iya, kenapa? apa kita tidur pisah ?" Dama memandang Vely.
"Walaupun kita tidur bersama, kakak tidak akan menyentuhmu. Kakak akan menuruti keinginan Om Richard," ujar Dama.
"Semoga aku kuat ." batin Dama.
Vely menuju jendela kamar, melihat keluar dari jendela kamar.
"Itu rumah pegawai cafe kak?" tanya Vely, saat melihat ada beberapa rumah terlihat dari jendela kamar.
Dama berjalan menuju ketempat Vely berada, dan melihat kearah apa yang ditanyakan oleh Vely.
"Ya, ada beberapa pegawai yang tempat tinggalnya jauh. Karena itu Papa berinisiatif untuk membangun rumah untuk pegawai," kata Dama.
Vely merasa gugup, saat merasa embusan napas Dama menerpa wajahnya. Tangan Dama melingkar dipinggangnya, Vely merasa jantungnya berdetak tidak beraturan. Dan tubuhnya serasa lemas tidak bertenaga.
"Kak !" lirih suara Vely.
"Hemhh.." Dama meletakkan dagunya dibahu Vely.
"Lepas kak ." pintanya.
"Kenapa? biarkan sebentar kita seperti ini, hanya berpelukan. Tidak akan membuat Vely hamil ." gurau Dama.
Pipi Vely berona merah, mendengar ucapan Dama.
"Gerah kak ," ujar Vely.
"Gerah? lihatlah, langit sebentar lagi akan turun hujan. Kenapa gerah ?" tanya Dama.
"Ayo kita pulang, Vely lapar." Vely mengatakan alasan yang berbeda lagi.
"Kita makan disini," jawab Dama, tangannya tetap melingkar diperut Vely. Dan dagunya tetap betah bertumpu dibahu Vely.
"Makan disini?"
"Kakak sudah suruh antarkan makanan kesini." Dama melepaskan pelukannya dan membawa Vely keluar dari kamar, menuju kelantai bawah.
"Lihatlah, makan siang kita sudah tersedia. Ayo ." Dama menarikan kursi untuk Vely duduk, baru Dama duduk.
"Ayo makan yang banyak, biar saat pernikahan kita nanti. Vely sedikit berisi " kata Dama.
"Vely tidak kurus ya ." Vely mencebikkan bibirnya.
"Tidak kurus, tapi sedikit lebih berisi. Biar enak dalam pelukan," ucap Dama, senyum kecil menghiasi bibirnya.
*
*
*
*
**Bersambung 😘
__ADS_1
Maaf jika banyak typo, author mohon maaf 🙏**
Author hanya bisa update satu bab setiap hari.