
Happy reading guys ❤️
***
Dalam keadaan mata setengah tertutup, Vely berjalan pelan. Dama mengikutinya dari belakang, bukan tanpa sebab. Dama tidak menggendong Vely untuk pindah masuk melanjutkan tidurnya dari sofa menuju kamar.
Dama ingin Vely tidak melanjutkan tidurnya, dia ingin melanjutkan apa hampir dilakukannya tadi. Sebelum para penganggu datang.
Dama langsung mengunci kamarnya.
Vely yang ingin langsung melanjutkan tidurnya, ditarik Dama kedalam kamar mandi.
"Kak Dama!" sontak Vely kaget.
Yang tadinya matanya setengah terpejam, kini bulat sempurna.
"Sikat giginya, cuci wajah. Baru kembali tidur." titah Dama.
"Besok saja kak, Vely ngantuk " sahut Vely.
"Tidak boleh, cepat lakukan apa yang dilakukan sebelum tidur. Jangan meniadakan kebiasaan, dengan alasan apapun juga" kata Dama.
"Ya" sahut Vely.
Vely mengambil sikat gigi yang masih terbungkus, dan menyikat giginya dan membasahi wajahnya. Sehingga wajahnya terlihat kembali cerah, tidak terlihat lagi wajah bantal.
Begitu juga dengan Dama, apa yang dilakukan oleh Vely. Dama lakukan juga, wajah Dama juga cerah.
"Dah bersih." Vely membuka mulutnya lebar-lebar.
"Bagus, istri yang penurut," ujar Dama.
Dan tanpa berkata apa-apa, Dama langsung mengangkat Vely.
"Kak Dama!" teriak Vely.
"Hus..! jangan teriak-teriak, nanti para penganggu bangun. Kita lanjutkan lagi kegiatan kita yang tertunda tadi" ujar Dama seraya meletakkan Vely secara lembut dan langsung menindih tubuh yang sudah sejak tadi membangkitkan gairahnya.
Tanpa sempat membalas perkataan Dama, bibir Vely sudah dihisap oleh Dama. Seperti Dama mengisap lolypop, menarik dan menekan dan sedikit memberikan gigitan kecil. Sehingga bibir Vely terbuka, Dama mengabsen apa yang perlu di jelajahinya didalam rongga mulut Vely.
Dama melepaskan tautannya, dengan cepat tangan Dama bergerilya di sekujur tubuh Vely yang tidak fokus dengan keadaan dirinya. Dia hanya pasrah apa yang dilakukan oleh Dama, tubuhnya hampir polos. Hanya tertinggal pengaman renda putih dibawah.
Vely tidak sadar, kapan tangan Dama yang lincah bergerilya meloloskan helai demi helai pakaiannya.
Ketika Dama sibuk meloloskan helaian pakaiannya sendiri, Vely membuka matanya.
Matanya terbelalak, melihat tuyul besar berdiri diatas ranjang dalam keadaan hampir tidak berbusana.
__ADS_1
"Kak !" sontak Vely terkejut, begitu mata terbuka. Sosok laki-laki sedang meloloskan bagian bawahnya, dan kini berdiri sempurna dalam keadaan seperti baby baru lahir kedunia.
"Kenapa?" tanya Dama, yang tidak merasa malu. Tubuh polosnya terlihat oleh Vely.
Vely menutupi wajahnya dengan jemarinya, dia tidak sadar. Seharusnya kedua tangannya bisa menutupi bagian tubuh sensitifnya sendiri .
"Malu? untuk apa malu-malu, kita sudah halal untuk saling melihat. Dan juga untuk saling memegang" kata Dama.
Vely membuka sedikit matanya, melihat Dama dalam keadaan polos tanpa sehelai benang. Berdiri gagah diatas tempat tidur menatapnya yang terbaring.
"Oh Tuhan, benda itu begitu menantang. Apa nggak robek ini ku" batin Vely, begitu melihat aset berharga Dama begitu menantang kedepan.
Vely merasakan area sensitifnya terasa gilu, begitu melihat aset berharga Dama.
Vely menepuk-nepuk kedua pipinya, agar pikiran mesumnya hilang.
Pikiran mesum Vely teralihkan dengan udara dingin yang berhembus tiba-tiba.
Vely merasa angin dingin menerpa badannya, karena pintu besar yang menghadap langsung ke pantai terbuka. Tirai putih tertiup angin melambai-lambai.
"Dingin" ucap Vely sambil merasakan hembusan angin laut dari luar kamar.
Tangannya ingin mengambil selimut, tapi dia merasakan ada yang aneh ditubuhnya. Mata Vely melihat ke badannya.
Dan...
"Aarghhh...!" teriak Vely, begitu sadar. Tubuhnya hampir polos seperti Dama.
Setelah hampir satu menit menyumpal bibir Vely dengan permainan bibirnya, Dama melepaskan tautan bibirnya.
"Jangan teriak-teriak, nanti Daddy dan Papa bangun. Please honey, jangan berisik ya " mohon Dama.
"Kapan baju Vely..?" Vely tidak melanjutkan ucapannya, dia tahu. Dama pasti tahu apa yang ingin dikatakannya.
"Vely buka sendiri, bukan kak Dama yang membukanya" ujar Dama seraya menggerakkan jemari tangannya di putik gunung sintal Vely yang belum terlalu berbahaya, seperti gunung yang ingin meluber mengeluarkan laharnya.
"Hih..kak Dama! tidak mungkin ya!" ketus Vely saat dikatakan Dama, jika dia membuka bajunya sendiri.
"Betul" sahut Dama dengan suara yang serak.
Kini tangannya makin turun kebawah, kini jemari tangannya sudah bermain-main diarea renda putih. Yang bentuknya sangat minim, hanya menutup sedikit area sensitif Vely.
Sebenarnya Vely tidak nyaman memakai mode G-string, tapi tidak ada pilihan. Dama membelinya, dia tinggal memakai saja. Dari pada tidak memakai apapun juga, atau tidak ganti bagian bawah.
"Aghhh..kak Dama!" lenguhan kecil Vely keluar dari dalam mulutnya.
Jemari Dama semakin kebawah, renda minim Vely sudah hampir turun akibat gerakan tangan Dama.
__ADS_1
Blashhh...
Sekali sentak, renda putih langsung lolos dari tempatnya.
Dan akhirnya keduanya dalam keadaan tidak tertutup yang namanya pakaian dalam bentuk apapun juga.
Vely tidak bisa lagi melakukan apa pun juga, kekuatan magis dari bibir dan tangan Dama berhasil meluluh lantakkan tingkat kewaspadaan Vely.
Sampai satu ketika hentakan benda asing diarea terlarangnya berhasil membuat teriakan dan lenguhan yang saling bersautan keluar dari sela-sela bibir Dama dan Vely.
"Aaahhhh..!" teriak Vely menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang badannya.
"Sakit" lirih suara Vely.
"Sebentar sakitnya" ujar Dama sembari memberikan kecupan bibir dan ceruknya.
Dama berhenti, setelah berhasil menanamkan asetnya di milik berharga Vely. Setelah merasa Vely nyaman dengan asetnya, baru Dama bergerak dengan lembut. Dia tidak ingin membuat Vely kesakitan lagi.
"Yeahh..!" dari bibir Dama, dibarengi dengan suara gesekan benda tumpul saling bergesek.
Bokong keduanya naik turun mengikuti irama, sesekali Vely menaikkan bokongnya. Dama menurunkan bokongnya.
Hampir sepuluh menit mereka melakukan naik turun, sampai merasa tidak sanggup lagi untuk melakukan naik turun. Keduanya lemas, Dama turun dari atas badan Vely dalam keadaan lemas. Dan langsung telentang, begitu juga dengan Vely.
Dama melirik kearah Vely, melihat Vely terpejam. Sehingga Dama merasa kasihan untuk membangunkannya untuk membersihkan diri dari sisa-sisa percintaan mereka.
Atas inisiatifnya, Dama membersihkan area sensitif Vely. Dama melakukannya, dibarengi dengan menelan salivanya berkali-kali.
Melihat area terlarang Vely, membuat hasrat libido Dama naik kembali.
"Sabar...sabar..! besok masih ada waktu, kasihan Vely. Ini hal baru baginya" gumam Dama.
"Ini juga hal baru bagiku, aku harus tahan. Jika aku lakukan lagi, mungkin besok. Vely akan sulit berjalan, dan pasti Daddy akan curiga" Dama berbicara sendiri seraya memakaikan Vely baju .
"Kuatkan diri Dama, masih ada hari esok" ucap Dama.
*
*
*
Bersambung 😘
Catatan author:
Maaf typo, terkadang ada nama yang tertukar. sering nama dari cerita yang lain tertukar disini.
__ADS_1
Mungkin ada nama Rania, Bayu atau juga Mia ya😀🤭 itu cerita author di aplikasi berbayar.
Maaf..maaf ya...