Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 266 Galau


__ADS_3

Jumpa lagi dengan keluarga halu, tetap jaga kesehatan. Biar kita tetap bisa bertemu didunia halu.


Happy reading guys ❤️.


***


Dama terpaksa tidur dikamar Vely, karena kamarnya tidak bisa membuat matanya terpejam.


"Dam, kalian tidur dirumah mas besan?" tanya David, saat melihat Dama membawa pakaiannya kerumah depan. Rumah Richard.


"Iya Paa, Dama tidak bisa tidur dikamar yang gelap begitu" kata Dama.


David melihat kepergian Dama kerumah depan dengan tatapan mata yang galau.


"Mas besan mengambil anakku semua, kenapa aku jadi rugi" gumam David.


"Ada apa mas ?" tanya Mayang.


"Aku menikahkan anak, aku kehilangan anak juga. Lihatlah, kedua anak kita tinggal dirumah depan. Tinggal kita berdua disini " keluh kesah David.


"Mas, rumah depan hanya lima langkah. Bagaimana dengan Alana itu, dua anaknya jauh. Puluhan jam baru tiba disana kalau kangen dengan Aldo dan Ivan" kata Mayang.


"Heran dengan Dony dan Alana, anak di izinkan pergi jauh. Lihatlah, sekarang mereka tinggal berdua seperti kita. Mas besan sungguh beruntung, keempat anaknya sangat berbakti. Mereka tinggal bersama" kata David.


"Mas Rich juga sudah membeli rumah disebelah kanan, katanya ingin meluaskan rumahnya" kata Mayang.


"Apa? aku tidak tahu, mas besan ini. Benar-benar akan menopoli anak-anak semua " kata David.


Mayang tertawa melihat tingkah David yang kesal.


***


Setelah tahu istrinya pada hamil, para suami menjaga sang istri dengan posesif.


Rodrick berdiri didepan pintu kamar mandi, sudah hampir sepuluh menit dia berdiri. Karena letih berdiri, Rodrick menarik kursi untuk tempatnya duduk menunggu Jessie yang berada didalam kamar mandi.


Ceklek..


Pintu kamar mandi terbuka, Jessie keluar dengan rambut yang masih setengah basah.


"Mas Rosay!" Jessie kaget melihat Rodrick duduk disamping pintu kamar mandi, dengan menyandarkan kepalanya Kedinding.


"Heh sudah selesai, lama sekali?" Rodrick berdiri, dan dengan sigap menuntut Jessie.


"Mas! kenapa Jessie dituntut seperti orang lumpuh?" kesal Jessie, karena selama hamil. Rodrick selalu berlebihan menjaganya.


"Aku nggak mau anak-anakku nanti tersakiti" kata Rodrick.


"Tersakiti? kenapa tersakiti? mereka baik-baik saja didalam sini" kata Jessie.


"Hei mas Rosay, sepertinya mas bilang tadi anak-anakku," kata Jessie.


"Ya anak-anakku" ulang Rodrick.


"Anak-anakku itu lebih dari satu mas, ini hanya satu " kata Jessie menunjuk perutnya.


"Mungkin saja mereka seperti kami, kembar tidak. Ya kan baby" kata Rodrick dan mendekatkan wajahnya keperut Jessie.


"Kembar tiga? No! Jessie nggak sanggup membayangkan bagaimana besarnya perut Jessie jika kembar tiga, Jessie kecil. Perut besar, Jessie sudah seperti badut" Jessie membayangkan tubuh saat hamil besar, dan didalam perutnya ada tiga baby.


"Seksi" goda Rodrick.


Dalam kamar Mada, seperti yang dialami oleh Jessie. Keane juga sangat menjaga Mada.


Kemanapun Mada mau berjalan, Keane langsung menggendongnya. Sehingga Mada merasa jengah, tidak bebas bergerak kemanapun juga.


"Kak Keane! stop. Jangan berdiri!" Mada langsung mengultimatum Keane agar tidak berdiri, saat Mada ingin turun dari ranjang.


"Kenapa?" Keane merasa tidak tahu, kenapa Mada melarangnya untuk bangkit dari sofa. Tempat dia duduk beberapa jam, sambil mengerjakan tugas kantor.


"Kakak mau mengendong Mada lagi kan? please, Mada ingin berjalan seperti biasa. Jangan terlalu berlebihan memperlakukan Mada, sepertinya Mada ini orang yang penyakitan!" seru Mada.

__ADS_1


"Mada kan lagi hamil, nggak ada salahnya jika kakak menjaga istri dan anak kakak dengan hati-hati " kata Keane.


"Nggak salah Kak, tapi. Ini sudah berlebihan kak, besok kita periksa. Kakak tanya pada dokter, apa Mada harus di gendong kesana-kemari, kaki ini tidak di gunakan."


"Baiklah, tapi jalan harus hati-hati. Jangan loncat-loncat" titah Keane kepada Mada.


"Mada bukan anak kecil kak Keane"


"Kakak tahu, kalau anak kecil. belum bisa buat anak kecil" gurau Keane.


Mada melotot menatap Keane, dia tidak mengira. Keane yang irit bicara bisa juga mengeluarkan ucapan bernada gurauan.


Dalam kamar Vely, Dama tidur. Disebelahnya Vely tiduran sembari memainkan ponselnya, membalas chat teman-teman kuliahnya. Karena Vely memposting tespeck dua garis diakun media sosialnya.


Teman-teman kuliahnya, ada yang belum tahu Vely telah menikah. Menjadi terkejut, banyak yang mengirim pesan melalui email dan juga nomor Whatsapp.


Dama membuka matanya, dan menoleh kearah Vely yang sedang asik dengan ponselnya.


Dama mengambil ponsel Vely.


"Kak !" kaget Vely, tiba-tiba ponselnya melayang dari genggaman tangannya. Berpindah ketangan Dama.


"Tidur! kenapa main ponsel terus, anak kita akan terganggu nanti" kata Dama.


"Kak, anak kita itu masih sebesar kacang hijau. Dia tidak akan tahu, mommynya ini main ponsel atau jumpalitan" kata Vely.


"Jumpalitan? jangan lakukan itu!" tegaskan Dama.


"Siapa yang mau jumpalitan, itu hanya umpama kak..!"


"Sini ponselnya" Vely ingin meraih ponselnya, tetapi Dama meletakkannya keatas nakas didekatnya.


"Tidak boleh, cepat tidur. Besok kita akan periksa kandungan kan" kata Dama.


"Hihihi..lucu ya " kata Vely sembari tertawa kecil.


"Kenapa lucu?" Dama memiringkan tubuhnya menghadap Vely yang telentang.


"Hamil bersamaan dengan Mada dan kak Jessie." kata Vely.


"Sudah terbiasa, umur kami tidak terlalu jauh. Sedangkan dengan kak Jessie, umur Vely dengannya jaraknya hampir dua tahun" kata Vely.


"Ayo tidur" Dama mengelus perut Vely sembari berkata.


"Baby, bobok ya. Besok kita mau lihat baby" kata Dama.


"Iya, baby bobok dulu ya Dad" Vely menjawab dengan meniru suara anak kecil.


Kalau saudaranya sibuk mengurus istri yang pada hamil, Kenway sibuk dengan baby Julio. Yang sudah beberapa hari tinggal bersama dengannya dan Vania.


"Kak, apa Kakak sedih. Vania tidak hamil seperti yang lain?" tanya Vania.


"Tidak, kakak tidak sedih. Sekarang ini jadwal penerbangan kakak sangat padat, kakak tidak mau jika nanti Vania hamil. kakak itu tidak bisa sering mendampingi" kata Kenway.


Kenway meletakkan baby Julio yang sudah tidur, ditempat tidur kecil yang ada dalam kamar.


Kenway naik keatas ranjang, dan merebahkan tubuhnya.


"Van, jangan sedih ya. Kita sudah ada Julio, dia sekarang sudah menjadi anak pertama kita" kata Kenway.


"Terima kasih Kakak, karena keluarga semua mau menerima Julio" kata Vania.


"Julio sekarang sudah mendapatkan nama keluarga, dia sekarang sudah menjadi Julio Kenny way Hutama. Ingat itu" kata Kenway.


"Terima kasih"


Cup


Ucapan terima kasih Vania dibarengi dengan kecupan dipipi Kenway.


🌟🌟🌟

__ADS_1


Keesokan harinya jam empat sore, ketiga pasangan dengan ditemani oleh Aisha dan Mayang pergi ke dokter kandungan.


Sedangkan sang suami belum tiba, karena masih sibuk dengan urusan pekerjaannya. Dan akan menyusul.


Tiba di rumah sakit, pasien sudah banyak yang antri. Walaupun sudah daftar dulu, mereka bertiga tetap menunggu menurut nomor antrian.


"Banyak sekali yang mau periksa kandungan Mom" kata Vely.


"Jadwal periksa" sahut Aisha.


"Kalian tunggu disini dulu" kata Aisha kepada ketiganya.


"Mommy mau kemana?" tanya Vely.


"Mau kekantin, mommy tiba-tiba haus. Kalian mau pesan apa?" tanya Aisha.


"Minum saja Mom" kata Vely.


"Jessie, Mada?" tanya Mayang.


"Minum juga" jawab Mada .


"Sama, kalau ada coklat juga ya mom" kata Jessie.


"Mommy, Vely mau kopi" kata Vely.


"Kopi! tidak boleh, nanti cucu mommy hitam" kata Aisha.


"Mana ada pengaruhnya mom" kata Vely.


"Kalau mau kopi, nanti. Tunggu izin dari dokter"


Mayang dan Aisha meninggalkan ketiganya.


"Aku mau kopi" gumam Vely.


"Sabar, keluar dari dalam ruangan dokter. Dan atas seizin dari dokter, minum sepuasnya itu yang namanya kopi" kata Mada.


"Kenapa banyak sekali orang yang terkena korban laki-laki" kata Vely.


"Musim hamil tahun ini" kata Jessie.


"Mungkin" timpal Mada.


"Nanti didalam kita diapakan?" tanya Jessie dengan berbisik kepada Mada.


"Nggak tahu, aku belum pernah hamil. Tanya mommy" kata Mada.


"Hih, malu. Apa kita disuruh ngangkang? dan ini kita dilihat?" tanya Jessie lagi.


"Apa?" shock Mada, membayangkan dirinya tidur diatas ranjang pasien. Paha terbuka lebar.


"Dokternya laki-laki?" tanya Mada pada Jessie.


"Apa laki-laki?" kini, Jessie yang kaget.


"Ada apa? kalian bahas apa?" tanya Jessie.


"Kita akan diapakan didalam Vely? apa kau tahu?" tanya Jessie.


"Mana aku tahu, aku belum pernah hamil" kata Vely.


"Mama dan mommy mana? laki-laki yang membuat kita meteng juga belum datang " kata Jessie.


"Apa mereka lari dari tanggung jawab?" ujar Mada.


"Hahaha! mau lari kemana kak Keane dan kak Rodrick, kak Dama juga. Rumah kita hanya lima langkah"


Ketiga tertawa keras tanpa sadar, sehingga banyak pasang mata yang menatap kearah mereka.


🌟🌟🌟

__ADS_1


**Bersambung 😘


Cerita sudah mendekati ending, mungkin dua episode lagi.


__ADS_2