
**Hai reader minta like ya, thanks 🙏🙏
***
Richard memperhatikan wajah Aisha yang merona merah, membuat dirinya semakin semangat menggoda Aisha.
"Ais, apa kau tidak yakin. Bakal suamimu ini masih kuat untuk membiayai dirimu dan beberapa orang anak nanti ?" kata Richard kepada Aisha yang masih menundukkan kepalanya.
"Anak?" mendengar ucapan anak yang keluar dari mulut Richard, Aisha mengalihkan pandangannya kewajah Richard.
"Iya anak ? apa kau tidak ingin memiliki anak Aish ?" tanya Richard sembari menampilkan senyum dibibirnya.
"Anak kita ?" Aisha menunjuk kearah dirinya dan Richard.
"Iya anak kita berdua, Aisha kecil. Atau bisa juga Richard kecil ." goda Richard.
"Tapi Aish, belum memikirkan itu ," ujar Aisha.
"Aish, usiaku sudah 31 tahun. apa nunggu 40 tahun baru aku bisa memiliki Aisha atau Richard kecil, nanti anakku bisa-bisa memanggil diriku ini dengan panggilan opa saat pertama kali bisa berbicara," ujar Richard.
Aisha tertawa spontan, mendengar perkataan Richard. Melihat Aisha tertawa, Richard merasa senang. Karena baru pertama kali dia melihat Aisha tertawa lepas.
"Sangat cantik ." gumannya.
Aisha menghentikan tawanya, karena Richard terus menatap dirinya tanpa berkedip.
"Kenapa Om lihatin Aisha terus ?" Aisha merasa jengah dipandangi Richard begitu insten.
"Kenapa ? apa ada larangan untuk memandang calon istri, atau perlu bayar. Dan Aish, sampai kapan panggilan Om terus melekat pada diriku ?"
"Aish harus panggil apa ?"
"Panggil sayang, atau Darling," ujar Richard.
"Bukannya sayang dan Darling itu artinya sama saja ?"
"Aish mau panggil mas , Om nggak mau. katanya seperti tukang baso, Mas Wisnu keren. Tidak seperti tukang baso," ujar Aisha sembari memasukkan spaghetti kedalam mulutnya.
"No ! cari yang lain, itu PR Aish. Setelah pernikahan nanti," ujar Richard.
"PR, seperti tugas kuliah saja ," gerak bibirnya Aisha, tanpa mengeluarkan suara.
Richard tersenyum melihat Aisha ngedumel.
"Kenapa aku suka sekali menggodanya, aku seperti anak remaja saja yang menggoda gadis-gadis." dalam benaknya Richard, sembari menatap Aisha yang terus menyantap makanannya.
"Jeslyn, sepertinya hati ini sudah terisi dengan kehadiran gadis didepanku ini. kau yang menyuruh aku untuk menikah jika ada yang gadis yang membuatku untuk melupakan dirimu, mungkin ini saatnya aku untuk melupakan dirimu ." monolog dalam benaknya Richard.
Ketika keluar dari dalam restoran, seorang wanita masuk kedalam restoran dan berjumpa dengan Richard.
"Hei Richard, apa kabar ? kenapa kau tidak datang ke acara ulang tahun Lania?" tanya Rika langsung tanpa basa-basi.
"Lania, siapa Lania ?" Richard bingung mendengar nama Lania.
"Apa undangan tidak sampai kepada dirimu?" tanya Rika.
__ADS_1
"Undangan?"
"Hari Minggu kemarin, aku merayakan ulang tahun putriku Lania," kata Rika.
"Lania nama putrimu ?" kata Richard.
"Kau sudah bertemu dengannya, waktu di Bali," ucap Rika, sembari melirik Aisha yang hanya berdiri disisi Richard.
"Siapa dia, pasti keponakannya ." dalam benaknya Rika.
Richard yang mengetahui Rika menatap Aisha, kemudian mengenalkannya.
"Kenalkan, Aisha. Istriku ," kata Richard.
"Istri !" terkejut Rika, begitu juga dengan Aisha yang kaget mendengar Richard mengenalkan dirinya sebagai istri. Bukan sebagai calon istri.
"Iya istriku ." perjelas Richard.
"Kapan kau menikah, kenapa kau tidak mengundang teman-teman SMA dulu ," kata Rika.
"Kami menikah hanya dihadiri oleh orang-orang dekat saja, maaf ya. Kami terburu-buru, istriku tidak boleh lama-lama berdiri ." selesai berkata, Richard berlalu dari hadapan Rika yang bengong menatap pria yang kembali mengisi relung hatinya.
"Om, kenapa bilang kita sudah menikah ?" tanya Aisha.
"Apa bedanya, bilang sekarang atau Minggu depan. Sebentar lagi Ais akan menjadi istri Richard Hutama ," ujar Richard dengan terus melangkahkan kakinya menuju mobilnya.
"Om, Tante tadi siapa?"
"Orang tak penting ," jawab Richard asal .
"Jangan ngedumel, nanti cepat tua," ujar Richard, seolah-olah dia tahu apa yang ada dalam pikiran Aisha.
"Pasti Om Alana ini bisa membaca pikiran."
****
Alana keluar dari rumah sakit, setelah hari terakhir dia melakukan terapi. Hari ini dia benar-benar sudah melepaskan tongkat sebagai alat bantu dia berjalan.
"Akhirnya, saat pernikahan Aisha. Aku sudah bisa jalan mengunakan high heels, dan memakai baju yang cantik. Seakan-akan aku yang menjadi pengantinnya," ujar Alana.
"Kenapa tidak berbarengan saja kau dengan Aisha menikah?"
"Hrhmm..benar juga sarannya May, tapi siapa pria yang bisa aku nikahi ?"
"Dony, apa kau mau mencari yang lain lagi ?"
"Mungkin juga, kalau ada pilihan yang lain " kata Alana.
"Perasaan ingin pindah ke lain hati, lihat Dony ngendong cewek saja. Itu badan sudah patah-patah." ledek Mayang.
"Dulu, sekarang mungkin beda."
"Awas non, ntar Dony mendua. kau patah hati plus serangan jantung," ucap Mayang.
"Hih.. Doa nya kelewat sadis," kata Alana kepada Mayang, dan matanya setengah mendelik.
__ADS_1
"Sorry girl, Aisha hari ini fitting baju ya ?" tanya Mayang.
"Iya, gara-gara aku hari ini terakhir terapi. Nggak bisa ikut mereka, asikk tadi ikut Oma dan mama fitting baju dan kemudian shopping ," ujar Alana.
"Yailah.. besok-besok juga bisa non, apa kau tidak mau cepat terlepas dari kaki tiga ?"
"He..he.iya, sepertinya aku sudah suka dengan kaki tiga ku.." ucap Alana, dan menggerak-gerakkan kakinya.
"Kaki kayu, tangan kayu dan hidung kayu. Semua kayu, jadi Pinokio kamu Al ." ngekeh Mayang.
"Sudah..! makin ngaco, balik dulu. Mau ikut kerumah May?" tanya Alana.
"Nggak, aku masih ada pasien ," ujar Mayang.
"Bye ." ucap Alana, setelah melihat mobilnya datang.
****
Edward sibuk didepan komputer sudah hampir satu jam.
"Gotcha..!" teriak Edward dengan gembira.
"Dad..! mom !" teriakkan Edward bergema dalam kamarnya.
"Apa Edward, kau kau berteriak?" mama dan Daddy-nya datang kedalam kamarnya.
"Lihat !" Edward menunjukkan kearah layar laptopnya.
"Apa?" Daddy-nya menatap kearah layar laptop, begitu juga dengan mommynya.
"Dad, lihat. Perhatikan, apa Daddy mengenalinya ?" tanya Edward.
"Adam?" Josh mendekatkan wajahnya kelayar laptop, dan mengenali sosok gambar yang ada layar laptop.
"Ya, ini Adam Sulistyo. Teman Daddy," kata Edward dengan perasaan yang bangga, karena telah berhasil mencari orang yang mengenalnya dan juga mengenal Larasati.
"Josh, sebentar lagi kau akan berjumpa dengan dirinya ," ujar Evelyn.
"Thanks, karena kalian berdua mendukung ini semua. Sehingga Tuhan mempermudahkan aku untuk mencari dia, untuk memohon maaf ," kata Josh, dan matanya sudah berkaca-kaca.
"Dad, kita hubungi orang ini sekarang ?" tanya Edward.
"Iya."
Edward mengirimkan pesan melalui message kepada Adam melalui media sosialnya.
Selama lima belas menit, mereka menunggu balasan. Tapi balasan belum juga ada.
"Mungkin dia tidak membuka media sosial nya, mungkin dia sedang sibuk. Waktu Indonesia sekarang ini jam kerja ," kata Daddy-nya.
"Besok saja, sekarang kita tidur dulu. Sudah malam, Edward cepat tidur," kata mommynya, dan meninggalkan kamar putranya.
"Ayo boy, kita tidur. semoga besok ada berita yang menggembirakan." Daddy-nya kemudian keluar dari kamar Edward.
Bersambung...
__ADS_1