Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 57 Sebelum tenda biru berdiri


__ADS_3

Jumpa lagi dengan author receh.


***


Dony datang menghampiri Aisha dan David yang tertawa dengan gembira.


"Apa yang kalian tertawakan ?" tanya Dony.


"Mau tahu saja ," ujar David.


"Kau sombong sekali, tadi wajahnya kecut seperti jeruk purut. Sekarang sudah bisa tertawa ." ledek Dony.


"Kau ini tidak setia kawan, jangan bocorkan ." David mendelikkan matanya menatap kearah Dony.


"Kau tahu Ais, tadi di mobil ada orang yang wajahnya kusut. Seperti baju yang perlu di strika,, dia..." ucapan Dony terhenti, karena David langsung menutupkan jemarinya kemulut Dony.


"Kau..!" David langsung menutup mulutnya Dony dengan tangannya, agar Dony tidak membocorkan rahasianya lagi.


Aisha tertawa melihat David dan Dony saling berkejaran.


"Ah..tanganmu bau David !" seru Dony, dengan mengusap mulutnya.


"Huh.. sorry, tadi aku baru dari toilet," kata David dengan santainya, dan kembali duduk didekat Aisha.


"Hih..jorok kau David, hoek.. hoek...."


"Ha...ha...bercanda Bro ." ngekeh David.


"Sekarang hatimu sudah damai dan bermekaran lagi ?" tanya Dony kepada David.


"Sekarang ini, aku masih punya harapan. Sebelum janur kuning melengkung dan tenda biru terpasang, harapan ku masih ada untuk mendapatkan Aisha," kata David dengan penuh harap.


"What..! kau masih mengharapkan Aisha ?" tanya Dony.


"Tentu, mungkin saja orang tua itu terlambat bangun saat waktu akad nikah. Aku yang gantikan pengantin pria," ucap David.


"Gila kau David !" seru Dony.


"Kenapa gila, apa saja mungkin terjadi kan. Sebelum lagu Dessy Ratnasari berkumandang, aku masih punya harapan. Ya kan Aisha ," kata David dengan wajah yang memelas menatap Aisha.


Aisha hanya menampilkan senyum manis dibibirnya.


"Keinginan jahat seperti itu, tidak akan terkabul," ujar Dony.


"Mengharap tidak apa-apa kan ?" ucap David.


*****


Richard kembali sibuk dengan pekerjaannya, apalagi dia nanti akan mengambil cuti pada saat dia akan menikah nanti.


"Pak, ini ada undangan ," Tony memberikan undangan kepada Richard.


Richard mengambilnya dan membuka undangan tersebut, setelah membacanya. Richard membuang undangan tersebut kedalam bak sampah.


"Rika " ujarnya dengan wajah yang mengeras.


"Kenapa dia tahu kantor ini ?" tanya Richard kepada Asistennya Tony.


"Saya tidak tahu pak, mungkin saja dia mencari tahu ," kata Tony dengan perasaan yang takut, melihat wajah Richard mengeras saat melihat siapa yang mengirimkan undangan tersebut.

__ADS_1


"Apa dikiranya aku anak kecil, ulang tahun anaknya saja kenapa aku di undangnya ." gerutu Richard.


"Mungkin dia ingin mencari calon bapak untuk anaknya pak ," ujar Tony tiba-tiba.


"Apa ?" mendelik Richard menatap asistennya tersebut.


"Hups..!" Tony menutup mulutnya.


"Kau sudah bosan menjadi asisten ku ?" tanya Richard.


"Tidak pak !" suara Tony keluar dengan cepat.


"Karena kau tidak bisa menahan ucapanmu, aku akan menghukummu. Sekarang kau ke apartemen, dan bersihkan apartemen. Ganti semua perabotan dengan yang baru, aku mau Aisha nanti masuk. Semua perabotan dalam apartemen sudah baru," kata Richard.


"Harus saya pak ?" tanya Tony.


"Ya ." Richard mengibaskan tangannya, agar Tony segera melaksanakan perintahnya.


Tony keluar, diluar ruangan Richard dia bertemu dengan Bram.


"Kenapa?" tanya Bram, yang melihat Tony mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Pak Bram mau ketemu Pak Richard ?" tanya Tony.


"Iya, boss sibuk ?" tanya Bram.


"Pak Richard lagi PMS, kalau pak Bram nggak mau kena marah. Jangan ketemu boss dulu." kemudian Tony berlalu dari hadapan Bram yang ragu-ragu untuk masuk, takut menerima amukan Richard.


"Apa nanti saja ya aku masuk ? ah biar saja kalau dia ngamuk." Bram membuka pintu Richard, dan memasukkan kepalanya sedikit.


Richard melihat siapa yang membuka pintu ruangan, dan melihat kepala Bram nongol sedikit.


"Apa maumu ? kalau perlu masuk, kalau tidak perlu. Silahkan pergi." Richard kembali menatap layar laptopnya.


"Apa kau yang memberitahukan alamat kantor ini kepada Rika ?" tanya Richard.


"Hemhm.. sorry Bro, dia sangat memelas minta alamatmu. katanya dia ingin menjaga hubungan baik dengan sahabat jaman kuliah dulu ," kata Bram.


"Aku ingatkan kau Bram, jangan mau jadi perantaranya." kata Richard.


"Ok, aku penasaran. Gadis mana yang akan kau nikahi, Apa pacarmu yang diluar itu ?" tanya Bram.


"Jangan sebut lagi, wanita dari masa lalu."


"Kalau bukan dia siapa ? apa kau menerima hasil perjodohan?"


"Aku bisa cari sendiri."


"Siapa ? kenapa rahasia sekali."


"Dia teman Alana ."


"Alana ? dia anak kak Chintya?" kaget Bram.


"Iya," jawab Richard.


"Kau menikahi anak kecil !?" seru Bram dez ekspresi wajah yang kaget.


"Aisha tidak anak kecil, dia sudah dewasa," ujar Richard dengan jengkel, karena Bram mengatakan bahwa dia menikahi anak kecil.

__ADS_1


"Dibandingkan dengan dirimu, dia masih kecil. Apa dia masih kuliah?" tanya Bram.


"Iya."


"Ha..ha.. Richard, kau itu mencari istri atau ingin menjaga anak orang ." Bram menertawai Richard, sehingga Richard menjadi jengkel dan melemparkan benda yang ada didepannya. Yaitu pena.


"Waduh! untung aku bisa ngelak. kalau tidak tadi, wajahku sudah tergores oleh penamu ini." Bram mengambil pena Richard yang jatuh didekatnya.


"Sorry, aku hanya menggoda dirimu saja Bro. Kau tahu, kata orang kalau istri kita jauh dibawah kita. Kita akan terlihat awet muda, sepertinya aku akan mengikuti jejak mu ," ujar Bram seraya tertawa.


"Sudah ! jangan bahas aku lagi, ada apa kau mencariku ?"


Bram menerangkan hasil pekerjaannya, saat Richard sibuk mengurus pernikahannya.


****


Mama Richard dan Chintya, satu harian sibuk menemani Aisha untuk fitting baju pengantin.


"Mana Richard ini, kenapa dia lama sekali datang." mamanya ngedumel, hampir satu jam menunggu kedatangan Richard dibutiq.


"Ini orangnya ." Chintya melihat Richard datang dengan berjalan santai, tidak merasa bersalah sudah membuat mama dan kakaknya menunggu lama.


"Kenapa lama sekali ?" tanya kakaknya.


"Sorry, tadi ada meeting dulu didekat sini ," kata Richard.


"Mana Aisha?" tanya Richard,. tidak melihat Aisha bersama mama dan kakaknya.


"Tuh.."


Mata Richard melotot melihat Aisha yang keluar dengan memakai kebaya modern berwarna putih.


"Kondisikan mata ." kakaknya menyikut lengan Richard, yang terpelongo melihat Aisha.


"Sangat cantik ." puji Tante Vera, pemilik butiq.


"Bajunya sangat bagus Tante" kata Aisha, yang tidak menyadari bahwa ada Richard dalam ruangan tersebut.


"Kamu juga sangat cantik sayang, badan tinggi mu cocok menjadi model. Apa kau mau menjadi model butiq Tante ?" tanya Tante Vera.


"Ehemm..!" deheman Richard menyadarkan Aisha, bahwa ada sosok lain dalam ruangan tersebut selain mama dan kakaknya Richard.


Aisha menundukkan kepalanya, dan wajahnya merona merah.


"Ais..! sungguh cocok baju ini kau pakai " kata mama Richard.


"Iya maa, sangat cantik ." Chintya mengiyakan ucapan mamanya.


"Tante ingin Aisha jadi model, tanya kepada calonnya Tante ," kata Chintya.


"Bagaimana Rich, boleh Aisha menjadi model butiq Tante ini?" tanya Tante Vera kepada Richard.


"No..!" jawab Richard dengan tegas, dan tatapan matanya tidak lepas dari Aisha.


Aisha terus menundukkan kepalanya.


"Dasar Richard, tidak mau berbagi kecantikan istri" kata Tante Vera.


"Milik Richard, tidak boleh dilihat siapapun juga" kata Richard dengan posesifnya.

__ADS_1


"Ya. ya., sudah puas mandangin nya. Ayo Aisha kita ganti bajunya, Rich kau coba bajumu " ujar Tante Vera.


Bersambung..


__ADS_2