
Kita happy saja ya kakak-kakak semua, cerita hanya untuk mengisi waktu menunggu pandemi berlalu.
Happy reading guys ❤️
🌟🌟🌟🌟
"Cepat temui Pak dokter, daripada tambah badmood" kata Umar.
"Baiklah mas Umar, mas juga jangan terbawa badmood seperti Pak dokter itu ya" ledek Jessie.
Jessie membuka pintu dengan perlahan-lahan, dimasukkannya kepalanya sedikit. Matanya mencari-cari keberadaan orang yang sedang badmood, menurut perkataan Umar.
"Tidak ada, kemana ?" Jessie membuka pintu lebar, tanpa mengetuk terlebih dahulu. Jessie masuk kedalam ruang kerjanya Rodrick.
"Tidak ada juga, apa sudah jadi monyet diatas pohon mangga" gumam Jessie.
Hoek..Hoek...
Terdengar suara muntah dari dalam kamar mandi.
Tok...tok...
"Mas Rosay..!" panggil Jessie seraya mengetuk pintu.
Tidak ada sahutan.
"Pak Dokter!" ulang Jessie, dengan panggilan yang berbeda. Kali ini, Jessie memanggil Rodrick dengan sebutan Pak dokter.
Cklek
Pintu kamar mandi terbuka, muncul wajah Rodrick dengan wajah yang basah dan terlihat pucat.
"Kenapa?" Jessie meletakkan barang yang dibawanya keatas meja, kemudian bergegas menghampiri Rodrick yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi. Dan berpegangan dengan pintu.
Jessie memapah Rodrick, dan membawanya untuk duduk dikursi yang ada didekat kamar mandi.
"Kenapa mas Rosay?" tanya Jessie.
"Pusing, perutku juga terasa tidak enak. Tadi Umar beli gorengan, mungkin goreng itu sudah basi" beritahu Rodrick.
"Gorengan basi, apa mas Rosay tidak tahu kalau gorengan itu sudah tidak layak untuk dikonsumsi?"
"Tidak ada yang aneh dengan gorengan itu, Jesay. Mana Umar, dia sangat jahat," ucap Rodrick.
"Jahat? jahat apa mas Umar?" tanya Jessie dengan ekspresi wajah yang heran, dan tanda tanya.
"Ayo sini" Rodrick membawa Jessie menuju jendela ruang kerjanya.
"Lihatlah" Rodrick menunjuk kearah mangga yang masih hijau, belum kuning.
"Kenapa dengan mangga itu?" Jessie pura-pura tidak tahu, kalau sebenarnya dia sudah tahu. Bahwa Rodrick menyuruh Umar untuk mengambil mangga tersebut.
"Aku mau mangga itu, lihatlah. Mangga itu memanggil aku untuk mengambilnya" kata Rodrick.
"Aaa.." Jessie melihat wajah Rodrick, dan memegang keningnya.
"Tidak panas" ucap Jessie.
"Aku tidak panas Jesay , aku sehat walalfiat" ucap Rodrick.
"Mangga itu belum masak, pasti asam. Hihh!" Jessie membayangkan mangga tersebut sampai bergidik.
Rodrick membawa Jessie keluar, dan berjalan mendekati tembok.
__ADS_1
"Jesay , ayo ambil. Aku juga mengambilnya, tapi entah kenapa. Aku itu ingin makan mangga itu jika orang yang mengambilnya" ucap Rodrick dengan ekspresi wajah yang memelas, membuat Jessie berat untuk menolaknya.
"Ok, tunggu disini dulu. Biar minta izin dengan yang punya mangga" kata Jessie.
"Untuk apa minta izin" kata Rodrick.
"Mangga itu punya tetangga sebelah" kata Jessie.
"Bukan, itu milik kita. Lihatlah, mangga itu masuk kedalam pekarangan kita ini. Itu menjadi hak kita" ujar Rodrick.
"Ayolah ayank Jesay, please. Ambilkan ya." pinta Rodrick dengan memohon, menyatukan kedua telapak tangannya didadanya.
"Pakai apa mengambilnya?" bingung Jessie.
Rodrick dan Jessie dalam kebingungan, Umar datang dengan membawa bambu yang di ujungnya telah dipasang pisau.
"Awas minggir, ingat Pak dokter. Dosa mengambil mangga ini, Pak dokter yang nanggung. Saya tidak mau " ucap Umar seraya mengaitkan pisaunya ke buah mangga yang ingin diambilnya.
"Iya, nanti saya yang jawab. Kau yang nanggungnya " sahut Rodrick asal.
"Lah.. kenapa saya yang nanggung, bapak hanya menjawab. Tidak bisa, bapak itu harus bertanggung jawab. Titik..!"
Bruk..
Satu rangkaian buah mangga yang belum matang, jatuh tepat didepan mata Rodrick.
Rodrick kaget, dan sontak bergeser kebelakang. Dan tangannya juga secara refleks menarik Jessie, agar terhindar dari kejatuhan buah mangga.
"Aduh..! kau tidak ikhlas ya mengambilnya? kenapa mangga itu jatuh di depanku!" seru Rodrick.
"Pak Dokter, saya mana tahu. Mata saya fokus menatap keatas, mangga itu saja suka dengan bapak" jawab Umar.
"Sudah mas Rosay, lihatlah. Tuh mangga nya" Jessie mengambil rangkaian mangga yang jatuh ke tanah, dan memberikannya kepada Rodrick.
"Akhirnya, kau bisa kumiliki" ujar Rodrick dengan tawa kecil dibibir.
"Jes, kenapa dengan Pak dokter. Kenapa aneh sekali, nggak biasanya dia begitu. Walaupun biasanya dia bicara ceplas-ceplos, tapi dia tidak keras kepala," kata Umar.
"Biasanya, yang ceplas-ceplos. Keras kepala, sedikit rada-rada gitu. Kau yang begitu Jess, kenapa sekarang Pak dokter yang menjadi sepertimu" sambung Umar.
"Hei..! Jessie tidak seperti yang mas katakan tadi ya, Jessie itu baik budi. Dan rajin menabung" ucap Jessie.
"Biasanya kau yang keras kepala, kenapa kalian jadi bertukar begini?" tanya Umar.
"Mana ada Jessie keras kepala" kata Jessie.
Sambil berjalan membawa bambu untuk mengambil mangga, Umar ngedumel.
"Suami istri sudah ada rada-rada korslet, sekarepmulah Pak dokter dan Bu dokter. Jangan suruh aku lagi untuk nyolong"
***
"Tante kecil!" Alana datang-datang langsung menjatuhkan bokongnya di atas sofa, wajahnya ditekuk. Bibirnya manyun.
"Ada apa? pulang-pulang dari honeymoon, kenapa cemberut?" tanya Aisha yang baru pulang dari Raja Ampat.
"Honeymoon apa? disana itu, aku terus berada di dalam kamar. Mas Dony sibuk dengan pekerjaannya" kata Alana.
"Walaupun hanya dalam hotel, tapi namanya tetap liburan kan?"
"Bukan liburan, kalau liburan itu. Tidak memegang pekerjaan" kata Alana.
Perbincangan kedua terhenti dengan kedatangan Keane dan Mada.
__ADS_1
"Hei! kapan kalian berdua membawa kegembiraan didalam rumah ini?" tanya Alana.
"Kegembiraan apa Kak Al?" tanya Keane.
"Hoek..Hoek.." ucap Alana.
"Apa itu Hoek..Hoek ?" Mada dan Keane belum mengerti juga, apa yang dikatakan oleh Alana.
"Hih.. kenapa otak kalian tidak cepat nangkap apa yang aku katakan, Tante kecil. Kenapa putramu ini?"
"Al, kau itu kalau bicara yang jelas" kata Aisha.
"Apa itu Hoek.. Hoek?" tanya Mada.
"Bayi! anak bayi ," ucap Alana.
"Anak bayi kenapa hoek..hoek?" tanya Keane.
"Anak bayi nangis kan hoek..hoek.." kata Alana.
"Al, jangan buat anakku pusing ya. Keane Mada, sana naik saja. Jangan dengarkan Alana, dia lagi galau" kata Aisha.
Keane bangkit dari duduknya, diikuti oleh Mada.
"Keane, ingat ya. kasih Oma Aish cucu kembar lima, ya Mada. Semangat!" ujar Alana.
Keane dan Mada hanya tersenyum melihat tingkah Alana, yang tidak pernah berubah sejak mereka kecil. Selalu ceria dan bersemangat.
Didalam kamar, Keane langsung menuju kedalam kamar mandi. Sedangkan Mada mengambilkan baju ganti untuk Keane. Dan meletakkannya di depan kamar mandi. Kemudian Mada keluar dari walk in closed.
Mada duduk termenung di sofa, matanya menatap televisi. Tapi dapat dilihat, bahwa pikirannya tidak berada pada apa yang dipikirkannya.
Dia tidak menyadari, Keane berdiri didekatnya.
"Heemm!" dehem Keane.
"Sudah selesai kak?"
"Sudah sedari tadi, ada apa?" tanya Keane.
"Tidak ada apa-apa, hanya memikirkan tugas kuliah saja" jawab Mada.
"Kalau tugas kuliah, kenapa sampai berkerut itu dahi" Keane mengusap dahi Mada.
"Tugas kuliah sangat banyak kak, kami disuruh membuat resep masakan. Yang bahan dasarnya buah-buahan"
"Kenapa tidak tanya kepada Dama, atau Papa?"
"Sudah, tapi belum terpikirkan" sahut Mada.
"Sudahlah, pikirkan secara tenang" kata Keane.
"Apa aku berterus-terang saja, apa yang ada didalam pikiran ku ini, mungkin kakak tidak suka dengan yang ada didalam otakku ini" batin Mada.
🌟🌟🌟🌟🌟
Bersambung guys
Jangan lupa untuk
Like
Like
__ADS_1
Like
Terima kasih...