
Dibarengi dengan rontaan, Aisha berusaha mengigit tangan yang membekap mulutnya. Tapi dia tidak berhasil.
"Maaf Nona, kami tidak ingin menyakiti dirimu."
"Hemm..!" Aisha meronta-ronta dan menendang kesegala arah untuk melepaskan diri dari pegangan orang yang membekap mulutnya. Tapi Aisha tidak bisa melepaskan dirinya, lama-lama rontaan Aisha makin melemas. Dan akhirnya Aisha pingsan.
Setelah pingsan Yudi menidurkan Aisha di kursi belakang.
"Arika, bawa masuk tas dan sepatu itu. Cepat..! jangan sampai ada yang melihat ." perintah Ragil yang duduk di kursi pengemudi kepada Arika.
Arika mengambil buku dan sepatu yang terlepas dari kaki Aisha saat dia meronta dan menendang-nendang tadi.
"Cepat Rika !" seru Ragil.
"Sabar.." jawab Arika.
"Yudi, kau pindah ke depan. Biar Arika yang dibelakang" perintah Ragil.
"Baik Boss." Yudi keluar dan pindah ke kursi depan.
Begitu Arika masuk kedalam mobil, Ragil dengan cepat menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia berpacu dengan waktu, agar Aisha tidak bangun dari pingsannya. Dan dapat mengenalinya, karena sebenarnya dia mengenal Aisha karena rumah mereka saling berdekatan hanya dipisahkan oleh gang.
Saat Gaby menunjukkan gambar Aisha, betapa kaget Ragil. Karena targetnya kali ini orang yang dikenalnya.
Ragil membawa Aisha kerumah Danil, orang yang juga kenal dengan Aisha. Karena Danil dan Aisha juga bertetangga.
Ragil membawa mobilnya masuk kedalam pelataran rumah Danil yang cukup besar.
"Lama sekali kau ?" tanya Danil begitu Ragil keluar dari dalam mobilnya.
"Dia lama keluar dari kampus " kata Ragil.
Ragil mengendong Aisha dan membawanya masuk kedalam Kamar, diikuti dari belakang oleh Arika dan Danil.
Ragil membaringkan Aisha ditempat tidur.
"Sekarang, kalian keluar ." usir Arika kepada ketiga pria yang berada dalam kamar.
"Apa kami tidak bisa disini saja ," ucap Yudi sembari menatap keindahan yang terbaring diranjang dalam keadaan pingsan.
Pletak..
Tangan Ragil mendarat di kepala Yudi.
"Kau mau cari mati ?" tanya Danil dengan melotot menatap Yudi.
"Nggak Boss ," ucap Yudi dan mengatupkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Ayo keluar, lakukan tugasmu Arika. Tapi jangan terlalu vulgar, aku tidak ingin tubuhnya terlihat. Buat saja seolah-olah dia sedang tidur dengan seseorang." selesai memberikan perintah Ragil keluar, begitu juga dengan Danil dan Yudi.
"Apa tindakan kita ini tidak keterlaluan ?" tanya Danil kepada Ragil.
"Aku juga merasa bersalah, tapi apa yang kita lakukan ini bisa melindungi Aisha. Perempuan gila itu tidak akan mencelakai Aisha lagi, untung saja dia menyuruh kita untuk melakukannya. Jika orang lain tadi, pasti Aisha sudah celaka," ucap Ragil sambil menyesap minuman dingin.
"Semoga perempuan itu tidak curiga " ucap Danil.
Arika keluar dan memberikan gambar Aisha yang difotonya melalui ponselnya.
"Perfect, ayo kita antar Aisha pulang ," kata Ragil.
***
Ragil menuju kerumah Aisha, dengan lambat dia mengemudikan mobil. Diwaktu sebegini area rumah Aisha sudah terlihat sepi, masing-masing orang sudah berada didalam rumahnya masing-masing.
Sejak sore perasaan ibunya Aisha tidak tenang, dia merasakan ada sesuatu yang terjadi.
"Kenapa ini ?" Larasati memegang dadanya dan mengusap-usapnya.
"Kemana Aisha, sudah hampir jam 10 malam belum pulang juga," Larasati mondar-mandir dan sesekali matanya melirik kearah jam besar yang berada didinding.
"Aku telpon Alana saja, mungkin dia masih berada dirumahnya Alana.
Larasati mengambil ponselnya, dan ingin menghubungi Alana. Tetapi saat dia ingin menghubungi Alana terdengar suara dari teras rumahnya.
"Itu dia sudah pulang ," ucap Larasati dan kemudian membuka pintu rumahnya, dan betapa syok Larasati saat melihat Aisha terbaring dilantai didepan pintu dalam keadaan pakaian yang tidak berbentuk.
"Apa yang terjadi Aisha, siapa yang melakukannya ?" ibunya menggoyang-goyangkan tubuhnya tetapi Aisha tidak merespon.
Larasati menangis pilu, meratapi nasib Aisha.
"Aisha..Aisha, bangun sayang ." dengan sekuat tenaga, Larasati menarik Aisha untuk masuk kedalam rumahnya.
Setelah sampai didalam rumah, Larasati mengambil ponselnya.
"Wisnu...Wisnu.! Aisha ," ucap Larasati sambil menangis.
"Tolong Aisha Wisnu, Aisha.."
Brakk..
Larasati pingsan didekat Aisha terbaring, sedangkan diseberang telepon Wisnu terus menerus memanggil-manggil ibunya.
"Ada apa Wisnu ?" tanya nenek yang sedari tadi berada disamping Wisnu saat Larasati menelponnya.
"Tidak tahu Nek, tiba-tiba sambung telepon terputus. Wisnu hanya mendengar ibu bilang Aisha..Aisha saja, kemudian tidak ada suara lagi." cerita Wisnu kepada Neneknya.
__ADS_1
"Pasti ada yang terjadi, ayo kita ke kota ," ucap nenek dan kemudian masuk kedalam kamarnya, dan tidak lama kemudian sudah kembali keluar dengan membawa tas yang biasa dibawanya.
"Sudah siap Nek ?" tanya Wisnu yang sudah berganti baju dan memakai jaket, karena udara malam sangat dingin di desanya.
"Wisnu, cepat sedikit. Kamu bawa mobil seperti nenek-nenek saja ." omel neneknya sambil tangannya terus berusaha untuk menghubungi ponsel anaknya.
"Iya nek, Wisnu akan ngebut. Tapi jangan protes ya ." Wisnu menambah kecepatan mobilnya.
"Kenapa tidak diangkat, tadi kamu mendengar apa sebelum tidak ada suara lagi ?" tanya Neneknya.
"Seperti suara jatuh Nek," jawab Wisnu .
"Pasti Laras pingsan, apa yang terjadi ?" pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya neneknya.
"Coba lagi nek hubungi ?"
Nenek menghubungi dan panggilan ke tiga terdengar suara Larasati menyahut dan terdengar juga suara teriakan seperti suara Aisha.
"Laras...Laras, ada apa ?"
"Ibu...tolong kami Bu ." terdengar suara Larasati yang menangis dan bergetar.
"Tenang Laras, bawa doa nak ," ucap Nenek.
"A..a...a..!" teriakkan Aisha terdengar dari sambungan telepon.
"Aisha...!" Larasati memeluk Aisha yang meraung-raung dan mencabuti rambutnya, sehingga Aisha seperti orang yang tidak waras.
"Ais, jangan lakukan nak. Kau tidak apa-apa Aisha. Aisha tetap putri cantik Ibu sayang ," ucap Larasati untuk menenangkan Aisha, yang begitu tersadar dan melihat pakaian yang dikenakannya compang-camping. Langsung histeris.
"Ais..Aish..sudah tercemar !" ucap Aisha dengan tersedu-sedu.
"Tidak nak, Aisha tidak apa-apa. Aisha tetap suci Dimata ibu ," ucap Larasati dengan mengatupkan kedua tangannya di wajah Aisha yang berurai air mata.
"Ayo Aisha, kita ganti baju mu." ibu membawa Aisha masuk kedalam kamarnya dan membuka baju Aisha.
Saat membuka bajunya, ibu melihat ada memar di lengan dan pipi Aisha. Air mata ibu mengalir meratapi nasib anak semata wayangnya.
"Cobaan apa yang kita hadapi ." monolog dalam benaknya, saat memakaikan pakaian ke badan anaknya.
"Ya Allah, apa yang terjadi pada anak hamba ini. Kenapa kau beri kami cobaan yang begitu berat ." ucap ibu Aisha, sedangkan Aisha hanya diam seperti patung. Tatapan matanya kosong.
"Aisha..Aisha.." panggilan Ibunya tidak direspon Aisha, membuat ibunya menjadi semakin takut.
"Aisha, ayo baring nak ." ibunya membaringkan Aisha, dan Aisha hanya nurut saja. Mata Aisha nyalang menatap kelangit-langit kamarnya.
"Tidurlah Aisha, anggap ini sebagai mimpi. Besok pagi semua kejadian ini tidak ada ." usapan tangan lembut ibunya tidak bisa membuat mata Aisha terpejam, disudut bola matanya mengalir air yang bening.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa untuk menekan tombol like like like