
**Jangan lupa like ya kakak-kakak, terima kasih atas dukungannya.
Happy reading guys ❤️**
***
Aisha berada didalam kamar tidur Vely, berat rasa Aisha untuk melepaskan Vely. Walaupun Vely sudah pernah tinggal jauh, saat Vely kost. Tapi saat ini, terasa berbeda dirasakan oleh Aisha, karena ini Vely pergi untuk tinggal dengan suaminya.
Karena sekarang ini, Vely tidak bisa sesuka hati untuk tinggal dirumah kedua orang tuanya. Walaupun rumah Dama, berada didepan rumahnya. Tapi berat dirasakan Aisha.
"Mom, kenapa?" Vely melirik mommynya yang sedari tadi hanya diam, sembari merapikan pakaian Vely didalam koper.
"Apa ?" Aisha mengangkat kepalanya, dan menatap wajah putrinya yang sebentar lagi akan tinggal jauh.
"Mommy sedih, kita tidak bisa lagi pergi ke salon. Cerita, sebelum tidur malam" kata Aisha.
"Mom, Vely setiap Minggu akan pulang. Hari Minggu waktu kita bersama, waktu mommy dan putri cantik ini" Vely bergurau, agar mommynya tidak sedih.
"Vely, ingat ya. Setiap pagi harus bangun cepat, harus masak sarapan untuk Dama. Jangan beli untuk sarapan pagi, untuk memikat hati suami itu. Kita harus mengenyangkan lambungnya, biar dia tidak terbiasa makan diluar " kata Aisha.
"Mom, kak Dama itu pengusaha kuliner. Apa yang harus Vely lakukan, kak Dama jago masak. Masakan Vely pasti seperti masakan orang yang baru belajar masak" kata Vely.
"Dulu sudah mommy bilang belajar masak, sekarang baru tahu kan"
"Tenang mommy, Vely tidak perlu belajar. Begitu masuk dapur, Vely sudah bisa menghasilkan masakan yang spectacular" Vely membanggakan diri sendiri.
"Awas, kalau nanti mommy dengar rumah kalian terbakar" ingatkan Aisha.
Vely tertawa kecil mendengar ucapan Aisha.
"Sudah semua, tidak ada lagi yang mau dibawa?" tanya Aisha.
"Tidak mommy, ini saja. Baju yang dirumah kost juga sudah banyak" ucap Vely, dan menutup kopernya.
"Sudah dibawa pindah?" tanya Aisha.
"Sudah, kunci kost juga sudah dikembalikan. Rugi, sudah dibayar satu tahun. Tapi ditempati hanya dua bulan" kata Vely.
"Kenapa tidak diberikan kepada teman yang mau kost saja" usul Aisha.
"Oh.iya, kenapa lupa. Tapi tidak bisa diambil lagi mom, sepertinya sudah ada yang huni kamar yang Vely kontrak."
"Sudahlah, rugi sedikit saja" kata Aisha.
"Dua juta mommy, banyak itu. Dua juga jatah uang saku Vely itu" kata Vely.
"Mom, uang saku Vely tambah kan?"
"Uang saku minta sama suami, kenapa minta sama mommy" kata Aisha.
"Minta mommy dan kak Dama, kan makin bertambah banyak uang saku Vely"
"Tidak bisa, uang saku dari Daddy sudah tertutup. Begitu Vely menikah!" seru Aisha seraya meninggalkan kamar Vely .
"Mommy!" panggil Vely.
"Rugi Vely nikah, uang saku tidak doubel" gerutu Vely.
"Hih.. kenapa aku lupa" Vely mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan kartu black card dari dalam dompetnya.
"Hehehe.. ternyata kau masih nyaman didalam dompet" Vely mengeluarkan kartu tersebut dan menciumnya.
***
Pulang dari kampung, Rodrick mengantarkan Jessie kerumah neneknya.
__ADS_1
"Nenek!" begitu mobil belum berhenti, Jessie langsung bergegas membuka pintu mobil dan langsung turun. Ketika melihat Neneknya duduk didepan.
"Hoi..! jangan main loncat keluar saja, nanti jatuh!" teriak Rodrick, karena Jessie keluar dari dalam mobil. Saat mobil belum berhenti dengan sempurna.
"Jessie, kau itu sudah menikah. Kelakuanmu harus berubah, jangan seperti preman pasar begitu," ujar Neneknya.
"Iya Nenekku sayang" sahut Vely dengan memeluk neneknya dan mengecup kedua pipinya.
"Mommy!" teriak Jessie dari depan.
"Hih! kamu ini, teriak-teriak. Pelankan suara, baru diingatkan. Sudah lupa" ujar Nenek.
Rodrick turun dari dalam mobil, dengan menenteng paper bag. Oleh-oleh untuk Nenek Jessie.
"Nenek sehat?" Rodrick memegang tangan nenek Jessie, dan mencium tangan nenek.
"Alhamdulillah, nenek bertambah sehat. Apalagi sekarang anak ini sudah menikah, tambah sehat nenek," kata nenek Jessie.
"Nenek! apa Jessie senakal gitunya, sampai nenek pusing menghadapi Jessie." bibir Jessie manyun.
"Nggak nakal, tapi terlalu baik sekali " gurau nenek.
"Hih..nenek" Jessie menampilkan bibir yang cemberut.
"Sudah, jangan cemberut. Jessie nggak nakal, cucu kesayangan nenek" ucap nenek sembari menepuk-nepuk lengan Jessie.
"Mommy mana nek?" tanya Jessie, dengan menyebut mamanya dengan mommy.
"Siapa mommy?" tanya nenek balik kepada Jessie.
"Mommy dokter Yuni" perjelas Jessie.
"Ini anak, makin aneh saja. Mamamu pergi tadi" beritahu nenek.
"Kemana Nek, apa dengan dokter Rafa." usil Jessie terus berlanjut.
"Dokter Rafa Nenek tidak tahu? anak Nenek Sundari, nenek yang terkenal dengan kecantikannya itu" ucap Jessie.
"Makin ngelantur ini anak, Mama dan Papa pergi cek up" kata Nenek.
"Apa sakit mama kambuh lagi?" tanya Jessie.
"Nggak, periksa rutin saja" sahut nenek.
"Oh."
"Pak Dokter, temani Nenek dulu ya. Jangan biarkan pemuda ganteng ganggu nenek, nanti nenek dilamar pemuda. Dikiranya nenek anak perawan, karena nenek terlihat cantik" goda Jessie.
Rodrick tertawa melihat Jessie menggoda neneknya.
"Nek, Jessie masuk dalam dulu ya. Mau ambil baju, Pak dokter ingin bawa Jessie tinggal dirumahnya" kata Jessie.
"Pak Dokter.. Pak dokter! suamimu dipanggil pak Dokter" ujar Nenek.
Jessie yang sudah masuk kedalam rumah, tidak mendengar omelan Neneknya.
"Maafkan Jessie ya Pak dokter..eh, kenapa aku ikutan anak nakal itu” ujar nenek dengan tertawa.
"Tidak apa-apa Nek" sahut Rodrick.
"Jessie itu pada dasarnya anak baik, cuma itu. Dia nggak bisa dibilangin, keras kepala" kata Nenek
"Nak Rodrick harus sabar ya, bimbing dia. Agar bisa menjadi istri yang baik," kata Nenek.
"Iya Nek" sahut Rodrick.
__ADS_1
"Dan soal Mamanya, Jessie belum tahu. Jika hari itu tiba, walaupun kita tidak ingin terjadi. Itu semua atas kehendak yang kuasa, Nenek harap. Nak Rodrick bisa menjadi penguat Jessie" kata nenek dengan perasaan yang sedih.
"Nek, dunia medis sudah maju Nek. Tidak ada yang tidak bisa disembuhkan" ucap Rodrick.
"Iya, tapi pen..." ucapan nenek terhenti, saat Jessie sudah keluar dengan membawa koper yang berisi baju-bajunya.
"Lihatlah Nek, Mama dan Papa mengusir Jessie" Wajah Jessie memelas menatap wajah Neneknya.
"Sudah! jangan main drama terus, ingat. Cepat buatkan nenek cicit yang banyak" kata nenek.
"Nenek, Jessie masih bocil. Belum bisa buat anak, Jessie hanya bisa buat enak !" seru Jessie.
"Huuk..uhuk..!" Rodrick terbatuk mendengar ucapan Jessie yang fulgar.
"Kenapa Pak dokter? haus ya, maaf ya Pak dokter. Jessie lupa menghidangkan minuman, seusai berkata. Jessie masuk kedalam rumah.
"Maaf Drick, mulut anak itu tidak ada remnya. Sudah blog remnya " Kata Nenek.
"Ini Pak dokter" Jessie menyerahkan segelas air putih.
Rodrick meneguknya sampai tidak tersisa, dan menyerahkan gelas kosong kepada Jessie.
"Pak Dokter haus ya" ucap Jessie, melihat gelas kosong yang diberikan Rodrick kepadanya.
"Nek, kami permisi dulu ya. Besok kami akan kesini lagi" kata Rodrick.
***
Rodrick selesai mandi, dengan menggunakan handuk kecil melilit pinggangnya. Dia keluar dari dalam kamar mandi.
Dengan bersiul-siul kecil, Rodrick mencari-cari baju dilemari. Dengan santainya Rodrick melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Aww...!" suara teriakan membuat Rodrick spontan melihat keasal suara.
Brakk...
Jessie sudah tergeletak diatas tumpukan baju yang ingin disusunnya kedalam lemari.
"Hei.." kaget Rodrick.
Bergegas Rodrick menghampiri Jessie yang pingsan.
"Jessie.. Jessie..!" Rodrick menepuk pipi Jessie.
"Kenapa dia pingsan?" bingung Rodrick.
Rodrick merasakan dingin diarea bokongnya, baru dia sadar. Bahwa dia dalam keadaan polos tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya.
"Waduh..! apa gara-gara lihat laki-laki telanjang, dia pingsan" gumam Rodrick.
Rodrick mengambil jubah mandi, dan kemudian mengangkat Jessie keatas ranjang.
"Hemm..! seru kali ya, dikerjain anak ini" tiba-tiba terbersit ide untuk mengerjain Jessie.
*
*
*
Bersambung..
**Like like like like
Vote vote vote vote
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya 😘**