
Maaf jika ada yang merasa cerita ini melebar kemana-mana, berbelit-belit. Tidak menceritakan tokoh utama saja, banyak ini itu. Ini cerita bersambung. Apa dibahas jika hanya tokoh dua orang saja, boring baca tidak ada intermezzo didalam setiap tulisan. Kalau dunia sinematografi satu tokoh saja yang dibahas nggak apa-apa, karena kita melihat gambar.
Maaf jika tidak suka banyak tokoh yang di ceritakan.
Maaf..🙏🙏
*
*
*
Jam sudah menunjukkan waktu pukul 9 pagi, penghuni villa belum pada bangun.
Berbeda dengan dikota besar, semua sudah membuka matanya. Dan sudah beraktivitas.
Aisha, Alana dan Mayang. Sudah berada di gedung tempat resepsi diadakan.
Ketiga ibu muda sibuk mengerjakan mendekorasi pelaminan, mereka tidak menyerahkan tugas itu kepada orang yang biasa mendekorasi. Karena ide dari Alana, yang ingin menyalurkan hobi barunya merangkai bunga.
"Tante kecil, bagaimana? baguskan?" Alana memamerkan hasil rangkaian tangannya.
"Hemhh! bagus Al, tidak sia-sia Dony mengeluarkan uang untuk membayar biaya kursus mu ," kata Mayang.
"Betulkah? kalau bagus, bagaimana kalau kita buka WO. Kita bekerja, dari pada dirumah bengong" usul Mayang.
"Bagaimana Tante kecil?" tanya Alana kepada Aisha yang sedang mengamati hasil tangannya.
"Boleh juga, kita paksa nanti. Klien suami kita yang pertama menyewa WO kita" kata Aisha.
"Hahaha..! kau bisa juga Aish" tertawa Mayang mendengar ucapan Aisha.
"Kita bisa kerja sama dengan usaha kuliner lakimu May" kata Alana.
"Benar juga ya, otakmu semakin encer dalam mencari uang Al" puji Mayang.
"Siapa dulu! Alana." bangga Alana karena idenya direspon baik oleh kedua temannya.
Selesai selesai mendekorasi, ketiganya duduk selonjoran dilantai.
"Aduh.. pinggangku!" Aisha merebahkan tubuhnya kelantai, tidak perduli dia lantai yang berdebu.
"Kenapa Tante kecil?" tanya Alana.
"Pinggang, nyeri" Aisha memijat-mijat pinggangnya.
"Kita sudah tua, kau saja sudah mengeluarkan 4 mahluk hidup" kata Mayang.
"Dia antara kita, Tante kecil yang paling hebat. Empat anak! wow..!" seru Alana.
"Itu karena Om mu yang ganas " kata Aisha.
"Hehe.." Alana nyengir.
"Kalau ingat dulu, aku tamat SMA pulang kampung. Bertemu lagi saat sudah bekerja" cerita Mayang.
"Kita bertiga tidak terpisahkan ya, kalian juga saling besanan. Hanya aku yang tidak menjadi besan dengan mu May, May. Bagaimana kalau kau punya anak lagi, kalau bisa yang cewek. Biar bisa jadi jodoh Aldo" kata Alana kepada Mayang.
"No! pabrik sudah tutup, besanan saja dengan mas Wisnu. Atau Adam saja " kata Mayang.
__ADS_1
"Heh..Adam adikku, mana boleh dengan Aldo atau Ivan," kata Aisha.
"Hei ! kalau boleh juga tidak bisa, Adam laki-laki. Anakku juga laki-laki" kata Alana.
"Al, ambil menantu dari luar keluarga saja. Biar makin berkembang," kata Aisha.
"Bagaimana kabar Aldo, sudah seminggu dia di Jerman. Bagaimana dengan bisnis travel nya?" tanya Mayang.
"Belum ada keluhan yang disampaikannya, hanya dia mengatakan. Pesta pernikahan ini, mungkin dia tidak bisa pulang, sulit dia mengatur waktunya. Karena akhir tahun, bisnis travel sibuk-sibuknya," kata Alana.
"Apa tidak ada yang bisa dipercaya, untuk menangani disana ?" tanya Aisha.
"Belum ada, mas Dony ingin mengirim orang dari sini. Yang sudah terlatih dan terpercaya" kata Alana.
**
Para mama sudah sibuk bekerja, sedangkan para Papa masih berada dibalik selimut. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi, dari kamar ke empatnya belum ada pergerakan.
Dalam kamar Dama, baru Vely yang membuka matanya.
"Sudah pagi." Vely melihat seberkas cahaya keemasan masuk kedalam kamar.
Vely menoleh kesisinya, kearah Dama yang masih dalam keadaan tidur.
"Ternyata bang Dama ganas juga ." gumam Vely, saat melihat area sekitar dadanya yang penuh cap kebiru-biruan. Hasil kereasi bibir Dama.
"Heh..apa yang kukatakan tadi Bang Dama? hihi..seru juga manggil Abang" ucap Vely seraya memegangi kedua sisi pipinya.
"Abang...Abang..!" iseng Vely menusuk-nusuk pipi Dama dengan jemarinya dan memanggil Dama dengan panggilan Abang.
"hihihi.." ngekeh Vely.
Karena tidak ada respon dari Dama, Vely kembali menganggu Dama.
"Ternyata bang Dama kebo kalau tidur" gumam Vely.
Vely kembali mengganggu Dama dengan menarik selimut yang menutupi wajah Dama, kemudian menusuk pipi Dama kembali.
Tap..
Tangan Dama menangkap jemari Tangan Vely, dan menggigitnya.
"Aduh..! ini tangan Vely!" teriak Vely sembari menarik tangannya dari dalam mulut Dama.
"Kak Dama..! kenapa tangan Vely di gigit?
"Tangan? tadi mimpi makan kepiting" sahut Dama dengan mata yang masih setengah terpejam.
"Kepiting! ini tangan Vely tahu !" Vely mencebikkan bibirnya.
"Kenapa sudah bangun? ini masih awal bangunannya, ayo tidur lagi." Dama menarik tubuh Vely agar merapat ke dada nya.
"Mau lihat matahari terbit kak " kata Vely.
"Kak? bukannya tadi ada yang manggil dengan Abang Dama...Abang Dama" kata Dama dengan menggoda Vely.
Blush...
Wajah Vely merona merah, dia tidak mengira kelakuan isengnya. Diketahui oleh Dama.
__ADS_1
"Tapi Abang suka Vely manggil Abang, panggil Abang saja ya Delove," ujar Dama.
"Delove?" heran Vely.
"Dek lovely" ucap Dama.
"Kita seperti Daddy dan mommy, ada nama panggilan " kata Vely.
"Iya, biar romantis" kata Dama.
"Panggil lagi dengan Abang " pinta Dama.
"Betul, mau dipanggil dengan sebutan Abang?" tanya Vely.
"Iya, manggilnya dengan lembut ya. Berirama ya"
"Abang ." Vely mengikuti perkataan Dama, memanggil Dama dengan lembut dan mendayu-dayu.
Vely menutup wajahnya, dia malu sendiri mendengar suaranya yang terdengar genit di telinganya.
"Kenapa malu? Abang suka mendengarnya, sangat menggairahkan. Kalau tidak ingat ada Daddy disini, Abang sudah menggempur Delove pagi ini" kata Dama .
"Ingat Abang, dua hari lagi kita resepsi. Apa abang mau lihat Vely tumbang ?"
"Karena itu, Abang tahan hasrat ini. Hanya bisa memeluk tanpa bisa mencoblos" ujar Dama.
"Abang itu sudah janji dengan Daddy ya, nggak nyentuh Vely sampai umur 20" ingatkan Vely dengan perkataan Richard .
"Siapa yang tahan nunggu lama begitu, Daddy juga pasti tidak akan tahan" kata Dama.
"Lagu pula hubungan suami istri itu salah satu ibadah, apa kita mau melawan Tuhan. Tidak menjalankan titahnya, Abang nggak mau masuk neraka. Apa Delove mau masuk neraka, tidak melayani suami?" tanya Dama kepada Vely.
Vely menggelengkan kepalanya cepat, siapa yang mau masuk neraka. Dalam pikiran Vely.
**
Selesai mandi, Vely dan Dama keluar dari dalam kamarnya.
"Pak Yusuf, apa mereka belum ada yang bangun?" tanya Dama.
"Belum Nak Dama" sahut Pak Yusuf.
"Apa mereka masih tidur, atau pingsan karena obat tidur itu " batin Dama khawatir.
Dama bangkit dan beranjak berjalan menuju kearah kamar Papanya.
"Mau kemana bang ?"
"Abang mau lihat Papa dulu" kata Dama.
"Vely lihat Daddy ya."
Keduanya menuju kearah kamar Richard dan David.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung 😘
Jangan lupa like jempolnya kakak-kakak terima kasih 🙏