
**Jumpa lagi dengan author recehan, maaf jika ceritanya terlalu datar and lebay🤔.
Happy reading guys ❤️**
***
Mayang mengambil ponsel David, dan mencari nomor telepon Richard.
"Aish..! jangan tidur Aish !" seru Alana sembari menangis.
"Jangan kasih tidur Al, ajak terus Aisha bicara ." titah David.
Sedangkan Mayang mencari nomor telepon Richard dengan tangan yang gemetar.
Setelah menemukan nomor Richard, Mayang langsung menekan nomornya. Tidak lama, Richard menjawab.
Richard : Ada apa kau
kau menghubungi ku.
Mayang: Maaf Mas Richard, ini
Mayang. Bukan David.
Richard : Maaf, mas kira tadi David.
Mayang: Mas Richard, segera
kerumah sakit.
kami membawa Aisha.
Richard :Aisha, apa yang terjadi ?
Panik terdengar suara
Richard.
Mayang: Datang segera Mas.
Richard : Iya
Richard dan Mayang saling memutuskan sambungan teleponnya.
Richard langsung lari menuju lift, saat menuju ke lift. Richard bertemu dengan Tony.
"Ayo kita kerumah sakit!" seru Richard kepada Tony.
Dengan sigap Tony berlari menuju parkiran, sedangkan Richard menunggu didepan perusahaan.
Begitu tiba dirumah sakit, petugas sudah menunggu. Karena David sudah memerintahkan Mayang untuk menghubungi pihak rumah sakit.
"Aish! bangun Aish, kita sudah tiba dirumah sakit ," kata Alana.
"Eee...!" sahut Aisha dengan suara yang lirih, dan kemudian tidur kembali.
"Aish. .! jangan tidur lagi, Tante kecil..!" teriak Alana sembari menangis.
"Aish.. please..! jangan takuti kami, bangun Aish..!" seru Mayang dari jok mobil depan.
Aisha membuka matanya perlahan dan kembali terpejam.
skip
David, Mayang dan Alana menunggu diluar ruangan UGD.
Terlihat Richard dan Tony berlari ke arah resepsionis, dan menanyakan tentang Aisha.
__ADS_1
"Om Richard !" teriak Alana, saat melihat Om Richard dan Tony berlari menuju ke ruangan UGD.
"Bagaimana dengan Aisha, apa yang terjadi ?" tanya Richard dengan setengah berteriak.
Alana menceritakan kronologis kejadian, apa yang menimpa mereka.
"Oh.. shit..!" umpat Richard, ia mengingat. Beberapa hari yang lalu Alana sudah menceritakan mengenai sepeda motor itu, dan Richard belum ada waktu untuk melaporkan kepada pihak keamanan perumahan.
Richard terduduk di lantai rumah sakit, kedua tangannya meremas kepalanya.
Pria yang biasa berdiri tegar, sekarang terlihat rapuh. Air mata sudah membasahi matanya, Richard tidak perduli orang menatap dirinya dengan perasaan yang aneh.
Dan juga tidak ada orang yang menatap dirinya aneh, karena orang-orang yang melihat keadaannya saat ini juga merasa wajar. Seorang calon ayah, dan seorang suami meratapi apa yang terjadi kepada istri dan anaknya.
"Kalau begitu, ini bukan kecelakaan. Pasti ada unsur kesengajaan ," kata David.
"Kau tidak apa-apa Al ?" tanya Richard kepada Alana, karena sedari tadi dilihatnya Alana meringis memegang perutnya.
"Tidak Om, hanya perut Al. Terasa tidak nyaman ." beritahu Alana.
"Kenapa lama sekali, apa kata Dokter ?" tanya Richard masih posisi duduk dilantai.
"Sejak masuk belum ada yang keluar, memberitahukan kondisi Aisha," sahut Mayang.
"Ayo Mas besan, kita duduk dikursi. Aisha pasti mampu melewati ini semua." tangan David mengajak Richard untuk berdiri, bersamaan dengan terbukanya pintu UGD.
Pintu UGD terbuka, muncul perawat.
"Keluarga ibu Aisha.. keluarga ibu Aisha !" seru perawat tersebut.
"Saya..saya suaminya ," ucap Richard dengan cepat.
"Ayo Pak, Dokter mau bicara."
Suster membawa Richard untuk masuk kedalam ruangan UGD.
"Mana Aisha ?" tanya Mama Richard.
"Didalam Oma ," sahut Alana.
"Apa yang terjadi ?" tanya Papa Richard.
Alana kembali menceritakan kronologis kejadian, Seperti apa yang diceritakannya kepada Richard.
"Pasti ini sengaja ," kata Papa Richard.
Papa Richard mendekati Tony, dan berbicara dengan serius dengannya.
Selesai berbicara, Tony langsung pergi meninggalkan rumah sakit.
David menelpon seseorang, begitu selesai menghubungi seseorang. David mendekati Papa Richard.
"Om, saya rasa. Kecelakaan ini ada unsur kesengajaan, ini sudah yang kedua kalinya. Sepertinya bukan Aisha targetnya, saya curiga. Targetnya adalah Alana ," kata David.
"Ini yang kedua kalinya ?" Ekspresi wajah Papa Richard kecewa, karena Richard tidak mengatakan kepadanya. Jika hal ini langsung diusut, kemungkinan hal yang dialami oleh Aisha bisa dihindarkan.
"Om tadi sudah bicara dengan Manuel, agar pergi kerumah Richard."
"Kita harus menyelidiki ini semua ." sambung Papa Richard.
"Kita harus laporkan ke polisi Om, biar polisi yang bertindak ," kata David.
"Kita tunggu dulu kabar dari Richard, bagaimana dengan keadaan Aisha," kata Papa Richard.
"Al, kau tidak apa-apa ?" tanya Mayang, yang melihat Alana terlihat menahan rasa sakit.
"Perutku tidak nyaman," jawab Alana.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali, Om Richard juga tidak keluar-keluar," kata Alana.
Alana berjalan hilir-mudik didepan Mayang dan mamanya.
"Al, apa yang terjadi. Apa kau halangan?" tanya Mamanya.
"Tidak Ma ," sahut Alana sembari menggelengkan kepalanya.
"Kenapa ?" tanya Oma.
Chintya menunjukkan belakang celana olahraga Alana yang berdarah.
"Al, kau pucat ?" Mayang melihat wajah Alana yang terlihat pucat.
Dony datang, setelah mendapatkan kabar dari David.
"Sakit Ma !" Alana memegang perutnya dan kemudian ia oleng, dengan cepat Mayang menangkap tubuh Alana yang lemas.
"Dony ! Alana !" teriak mamanya.
Dony berlari menuju ketempat Alana, dan langsung mengangkatnya.
"Bawa kedalam !" titah Oma.
Dony langsung mengangkat Alana masuk kedalam UGD, diikuti oleh Oma nya.
"Apa yang terjadi dengan Alana, apa saat kecelakaan tadi ada yang terluka ?" tanya Chintya kepada Mayang.
"Tidak tahu Tante, kami tadi fokus dengan Aisha. Apa itu tadi darah Aisha ?" pertanyaan berseliweran didalam kepala setiap orang yang berada diluar, menunggu kabar. Tentang kondisi Aisha. Dan sekarang Alana juga berada didalam.
Pintu UGD terbuka, dan keluar Dony dan Oma.
Dony tertunduk lesu, tangan Oma memegangi tangan Dony.
Sampai diluar, Dony langsung berlutut dan menangis.
"Ada apa Maa, apa Aisha ? atau Alana ?" Chintya panik sembari menangis.
"Alana keguguran !" kata Oma.
Degh...
Ucapan dari mulut Oma membuat orang yang mendengar shock.
"Al hamil ?" gumam Mayang.
"Aku tidak bisa menjaga istri dan calon anakku, aku suami yang gagal!" tangan Dony memukuli lantai rumah sakit.
"Dony ! ini bukan salahmu !" seru David dan menahan tangannya untuk tidak memukul lantai, karena David melihat buku-buku tangannya sudah terlihat berdarah.
Darah mengalir dari tangan Dony.
"Ayo kita obati luka tanganmu ," kata David.
"Tidak, tangan ku tidak apa-apa. Aku mau menunggu mereka disini ." mata Dony menunggu ruang UGD terbuka.
Di satu tempat didalam ruangan, Richard berdiri menatap kedalam ruangan kaca. Dimana ketiga buah hatinya sedang tidur menunggu mukzijat.
Twins brothers tidur dalam ruang NICU, setelah berhasil dikeluarkan dari dalam perut. Yang selama ini tempat ternyaman mereka.
"My Boys, harus kuat. Daddy dan mommy menunggu kalian, jangan kecewakan mommy ya. Jangan sampai mommy mengeluarkan air matanya kembali ," ucap Richard dari balik kaca, karena tiga baby boys belum boleh dijenguk. Richard hanya diperbolehkan melihat dari kaca tebal.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung 😘