
Cerita hanyalah untuk hiburan semata, selamat membaca.
Happy reading guys ❤️
**
Hari ini, Vely berangkat kekampus diantar oleh Dama. Karena Dama juga akan mengunjungi usaha kulinernya yang berdekatan dengan kampus Vely.
Usaha kuliner Dama menjadi salah satu tempat nongkrong mahasiswa, karena dilengkapi oleh WiFi gratis. Dimanfaatkan oleh mahasiswa-mahasiswi untuk tempat ngumpul, untuk mencari referensi tugas kuliah.
"Ingat, pulang nanti kakak tunggu disini," kata Dama.
"Iya" sahut Vely nurut apa yang dikatakan Dama.
"Pulang kuliah, kita lihat rumah. Apa ada yang mau Vely diperbaiki" kata Dama
"Rumah?"
"Rumah untuk tempat kita tinggal, tidak mungkin kita pulang balik."
"Dimana kak Dama? tidak jauh dari kampus kan?"
"Sebelah cafe " sahut Dama.
"Pulang jam berapa?" tanya Dama.
"Hanya satu mata kuliah" sahut Vely.
"Jam sebelas sudah pulang kan?" tanya Dama.
"Jam sepuluh, tapi selesai kuliah mau ke perpustakaan dulu ." beritahu Vely.
"Jangan keluar dulu, tunggu Kakak hubungi. Baru keluar." ingatkan Dama.
Vely hanya mengiyakan saja ucapan Dama, perasaannya saat ini juga kurang nyaman. Dia masih takut jika bertemu dengan Roy.
Vely membuka pintu mobil untuk keluar, tetapi tangan Dama menarik lengannya.
"Ada apa kak Dama?" Vely menoleh memandang Dama.
"Salim." Dama mengulurkan tangannya.
"Salim?" bengong Vely.
"Iya, belajar dari sekarang. Biar sudah sah tidak canggung," ujar Dama, terlihat senyum dibibirnya.
"Hih..!" manyun bibir Vely.
"Ayo, cepat. Nanti keburu masuk ." titah Dama kepada Vely.
Dengan bibir yang cemberut, Vely meraih tangan Dama dan membawanya ke jidatnya.
"Ok nggak pa-pa, nanti kalau sudah sah. Wajib dicium ya ," ujar Dama.
"Cium ?" belum paham Vely.
"Tangan," ujar Dama.
Raut wajah Vely memerah, dengan cepat dia turun dan setengah berlari menuju dalam kampus.
Dama memandang punggung Vely, sampai hilang dari pandangan matanya. Baru mobil Dama jalan meninggalkan area kampus.
***
Mada keluar dari kampus bersama dengan temannya-temannya.
"Mada, nggak di jemput?" tanya Paula.
"Nggak, sopir dipakai mamaku" jawab Mada.
"Temani aku ke toko buku ya ," kata Paula.
"Kau mau beli buku, apa mau beli novel?" tebak Mada.
"Keduanya." nyengir Paula.
"Leo nggak masuk hari ini ya ?kenapa dia. Nggak biasanya dia mangkir" kata Paula.
"Dia ngirim pesan, katanya ada urusan." beritahu Mada.
"Sok sibuk anak itu," ujar Paula.
__ADS_1
Tin..tin...
Suara klakson mobil, dibelakang mereka. Membuat Mada dan Paula yang sedang menunggu taxi kaget, dan menoleh.
"Siapa Mada? kau kenal?" tanya Paula.
"Kenal" sahut Mada.
Pintu mobil terbuka, Keane keluar. Dari pintu mobil, Keane memerintahkan Mada untuk masuk kedalam mobilnya.
"Masuk !" titah Keane.
Mada berjalan mendekati mobil Keane, Paula juga mengikutinya.
"Kak Keane, Mada mau ke toko buku. Belum pulang," kata Mada.
"Mada, kakakmu keren ya. Kenalin ya" bisik Paula.
"Masuk, biar kakak antar" kata Keane.
"Hih.. nggak asik jalan dengan kak kak Keane" batin Mada.
Berbeda dengan Mada, Paula sangat senang. Keane menawarkan diri untuk mengantarkan mereka ke toko buku.
"Ayo Mada, dari pada nunggu taxi nggak datang-datang ." Paula menarik Mada, Paula masuk kebagian jok belakang.
"Cepat masuk !" seru Keane, melihat Mada masih berdiri didekat pintu depan mobil.
"Mada!" kali ini, Paula yang berteriak menyuruh Mada untuk masuk kedalam mobil.
Suara klakson mobil, berbunyi dari mobil yang berada dibelakang mobil Keane
"Mada !" seru Keane.
"Iya!" cemberut bibir Mada.
Mada akhirnya masuk kedalam mobil Keane.
"Dari atas wow..! kalau tidak sabar!" seru Paula jengkel kepada mobil dibelakang mobil Keane.
"Terima kasih ya kak, sudah mau mengantarkan kami " ucap Paula kepada Keane.
"Ya" sahut Keane singkat.
Sesekali Paula mengajak Keane berbincang, sedang Keane menanggapinya seadanya.
"Mada, kakakmu sudah ada pacar?" tanya Paula dengan berbisik.
"Tanya saja sendiri," ujar Mada.
"Comblangin ya ," ucap Paula lagi .
"Comblangin sendiri" jawab Mada.
"Nggak asik kau !"
"Kita mau cari buku atau ngobrol?" tanya Mada, yang tidak suka. Paula terus menanyakan tentang Keane.
Keane mengikuti keduanya mencari-cari buku, setelah mendapatkan buku yang mereka inginkan. Mada dan Paula menuju kasir untuk membawa buku yang mereka beli.
"Gabung saja " kata Keane, dengan apa yang dia beli.
"Terima kasih kak !" seru Paula dengan menampilkan senyuman manisnya.
"Kita makan dulu ya " kata Keane.
"Ok kak, Paula juga lapar ini ." lagi-lagi Paula yang menjawab.
"Hih.. ganjen..!" batin Mada, kesal dengan Paula.
Keane membawa mereka kesatu restoran, makanan khas Jepang. Karena dia tahu Mada sangat menyukai makanan khas Jepang.
"Kita makan disini kak?" tanya Paula yang tidak menyukai makanan khas Jepang tersebut.
"Iya, kenapa ?" tanya Keane.
"Paula nggak suka kak !" rengek Paula.
"Selain Jepang, ada yang lain koq" kata Mada seraya masuk kedalam restoran.
"Hih Mada, dia kan tahu aku nggak suka masakan Jepang !" kesal Paula.
__ADS_1
"Rasain, ganjen!" dalam benak Mada.
"Mau makan apa ?" tanya Keane kepada Mada dan temannya.
"Sushi " sahut Mada.
Keane dan Mada memesan makanan yang sama, karena selera mereka sama. Sedangkan Paula memesan salad buah, karena tidak pernah menyukai makanan Jepang.
"Hih..Mada! itu mentah. Apa kau tidak jijik ?" Paula bergidik, melihat Mada dan Keane makan sushi dengan nikmat.
"Ini makanan sehat, makanlah. Mau ?" Mada menawarkan sushi yang dimakannya kepada Paula.
"Tidak! terima kasih, aku makan ini saja " ujar Paula.
Selesai makan, Keane dan Mada. mengantarkan Paula pulang.
"Tidak singgah kak ?" tanya Paula.
"Terima kasih, kami harus cepat pulang," sahut Keane.
"Mada, kau tidak singgah?" setelah Keane nolak, Paula mengajak Mada untuk mampir kerumahnya.
"Sudah sore, lain kali ." tolak Mada, Mada tahu. Paula suka dengan Keane.
"Pasti besok dikampus, nanyain kak Keane." dalam benaknya Mada.
"Ayo kak jalan ," ucap Mada.
Keane melirik Mada yang diam, tidak seperti biasanya. Tidak pernah berhenti bicara.
"Kenapa?" tanya Keane.
"Kenapa, apanya ?" balik tanya Mada.
"Diam saja, dari kampus tadi."
"Papa nyuruh kak Keane jemput Mada ya ?" tanya Mada.
"Nggak ada" sahut Mada.
"Terus ! kenapa tiba-tiba muncul dikampus Mada ?"
"Ada orang yang ingin mau jadi saham, agar mendapatkan perhatian," ujar Keane.
Degh...
Spontan Mada menatap Keane, dia ingat. Kalimat itu diucapkannya saat berada didalam kamar Vely.
"Kak Keane curi dengar ya !" Mada memegang lengan Keane, tatapan matanya setengah mendelik menatap wajah Keane yang tersenyum.
"Curi dengar ? siapa yang ngomong mau jadi saham ?" goda Keane.
"Hih..sebel!" Mada mencebikkan bibirnya, karena kesal.
"Mada tidak perlu jadi saham, jika ingin menjadi perhatian kakak. Cukup berada disisi kakak, jangan nakal dan main hati ," ucap Keane
"Hih.. siapa yang nakal !" seru Mada.
"Situlah, bukan kakak ," sahut Keane.
"Mada anak baik-baik ya ," jawab Mada.
"Anak baik, kenapa membuat Papanya pusing ?"
"Papa pusing? kenapa?" tanya Mada.
"Gara-gara cowok yang ngantarkan Mada pulang," jawab Keane.
"Itu teman Mada ya ."
"Teman ?" tanya Keane .
"Iya teman!" tegaskan Mada.
"Pasti Papa ceritain Mada ya ?"
"Sedikit ."
*
*
__ADS_1
*
Bersambung 😘