
**Hai...
Selesai baca, jangan lupa like..like ya kakak-kakak.
Happy reading guys ❤️**.
*
*
Ketiganya pulang dalam keadaan berantakan, wajah dan sekujur tubuh ketiganya cemong penuh lumpur, hanya Vania yang selamat.
Mada, Jessie dan Vely berada didepan seraya mendorong sepedanya. Sedangkan Kenway, Vania dan Rodrick berada dibelakang mengikuti ketiganya.
Mobil sudah disuruh Rodrick berjalan duluan.
"Lihatlah, kita seperti sedang mengasuh bebek-bebek " gurau Rodrick.
Jessie yang mendengar perkataan Rodrick, seketika menghentikan langkahnya. Badannya memutar, wajah kesal diperlihatkannya kepada Rodrick.
"Bebek..bebek!" kesal Jessie.
"Kak Rodrick dan kakak ipar, kalau mau romantis-romantisan itu. Jangan main kejar-kejaran di sawah, di lapangan atau di taman bunga!" seru Vely kepada keduanya.
"Malas! romantis dengan Pak dokter, nyebelin!" Jessie mendorong kembali sepedanya.
"Sebel! entar bucin !" ledek Vely.
"Entar bucin akut Jess!" timpal Mada.
"Ayank...! pelan-pelan, nanti jatuh ke sawah lagi !" seru Rodrick memperingati Jessie.
"Weekk..!" Jessie menolehkan kepalanya sedikit, dan menjulurkan lidahnya kepada Rodrick.
"Sudah Drick, kau suka sekali menganggunya" tegur Kenway.
"Dengan mengganggu Jessie, hidupku tidak monoton. Cobalah kak, ganggu kak ipar" kata Rodrick.
"Awas, jangan ikuti sarannya" Vania langsung mengeluarkan ancaman.
"Hahaha..!" Drick langsung tertawa.
"Mana mungkin aku mengikuti saran gokil begitu" sahut Kenway.
"Tapi jangan sampai kebablasan, dia istrimu" ingatkan Kenway.
"Siap Boss!" ujar Rodrick seraya memberikan tanda hormat tangannya di kepala.
"Kakak ipar, sini sepedanya. Biar Rodrick yang dorong" Rodrick menawarkan diri untuk membawa sepeda Vania.
"Drick, sepeda bini bawain. Ini urusan ku " kata Kenway.
"Sini, biar aku yang bawain " Kenway mengambil alih stang sepeda Vania.
"Baru dibantu, tadi diam saja. Seperti bodyguard disamping" goda Rodrick.
Akhirnya mereka sampai rumah.
Suara orang tadi saling berbincang-bincang, diselingi suara tawa. Berhenti seketika.
"Oh...!" Aisha tidak tahu apa yang ingin dikatakannya, kedua tangannya memegang pipinya.
"Vely!" Dama terbelalak menatap sekujur tubuh Vely penuh lumpur.
"Mada!" Keane bangkit dari duduknya, dan berjalan secara perlahan mendekati Mada yang berdiri kaku. Tangannya masih berada di stang sepeda.
__ADS_1
"Hai..!" Jessie melambaikan tangannya, senyum kecil terlihat dari bibirnya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Larasati.
”Ini kerjaan kak Rodrick!" telunjuk Vely terarah ke arah Rodrick.
"No Mommy!" Rodrick menggoyang jemarinya.
"Kalau Pak Dokter tidak menganggu, tidak mungkin Jessie mengejar Pak dokter !" seru Jessie dengan menampilkan bibir manyun.
Kenapa menantuku mirip sifatnya dengan Alana?" dalam benak Richard.
"Kenapa Mada dan Vely juga mandi lumpur begitu?" tanya Aisha.
"Kami mau bantu Jessie, untuk keluar dari dalam lumpur. Bukannya bantu, kami ikut jatuh " jawab Mada.
"Sudah, sana bersihkan badan kalian." titah Nenek.
Richard mendekati Aisha, begitu mereka tinggal berdua diteras depan.
"Asay, sepertinya ada yang mengikuti jejak kalian berdua dahulu" ucap Richard dengan suara setengah berbisik.
"Jejak apa ?" Aisha tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Richard.
"Apa lupa, dulu kalian juga pernah mandi lumpur" Richard mengingatkan Aisha, apa yang pernah terjadi padanya dan Alana.
"Hih..mas say, jangan diingatkan lagi. Malu " seru Aisha, kemudian meninggalkan Richard didepan.
"Untuk apa malu, aku sepertinya ingin mengenang kembali. Apalagi, apa yang kita lakukan di gubuk sawah" gumam Richard, tapi sayang. Apa yang dikatakan oleh Richard tidak didengar oleh Aisha, jika didengar oleh Aisha. Wajah Aisha pasti sudah seperti udang goreng.
Setelah makan malam, Nenek mengumpulkan semua anak. Cucu dan cicitnya.
"Nenek sudah tua, tidak tahu. Sampai kapan napas ini berada ditubuh Nenek ini" ucap nenek.
"Ibu masih muda" kata Larasati seraya memeluk tubuh renta ibunya.
"Utuh, karena pakai gigi palsu" balas Nenek kepada Rodrick.
"Palsu kan juga gigi Nek" ucap Kenway.
Nenek tertawa melihat wajah anak, cucu dan cicitnya.
Hanya Jeslyn dan anaknya yang tidak ada, karena Jeslyn dan anaknya berada dirumah kedua orangtuanya.
"Laras, Wisnu. Nenek mau membagi harta warisan kepada kalian berdua, nenek tidak mau. Jika nenek tiada ada yang saling tidak enak antara Laras selaku anak, dan Wisnu selaku cucu " kata Nenek.
"Bu, Laras tidak butuh warisan. Beri kepada Wisnu saja Bu, Wisnu adalah penerus keluarga ini" kata Laras.
"Ibu tahu, kalian pasti saling tidak ingin menerima. Ini, nenek mengeluarkan isi bab yang berada di atas pahanya.
"Apa ini Nek?" tanya Wisnu.
"Nenek sudah membagi semua tanah, atas nama cucu." kata Nenek.
"Pasti Laras tidak ingin menerima, makanya nenek memberikan kepada Aisha dan Wisnu. Aisha, kau berikan tanah bagianmu kepada keempat cicit nenek. Dan kau Wisnu, kau berikan harta itu kepada cicit nenek juga. Nenek tidak menerima penolakan." tekankan nenek.
Tidak ada yang melakukan penolakan lagi, karena nenek tidak ingin mendengar ada suara penolakan. Mengenai harta warisan.
Akhirnya pembagian harta warisan selesai.
Hari sudah merangkak malam, suara bintang malam sudah mulai terdengar saling bersahutan.
Aisha merasa matanya sudah ingin mengatup, tetapi Richard masih semangat bermain catur dengan Wisnu.
"Mas say, ayo kita tidur. Seperti tidak ada hari esok saja" Aisha menyenderkan kepalanya ke pundak Richard.
__ADS_1
"Sudah ngantuk ?" Richard melihat kearah Aisha sekilas.
"Iya, lihat. Anak-anak juga sudah pada ngantuk, mas say. Jangan buat yang aneh-aneh lagi, selama sebulan tidak dikasih jatah. Jika ada ide jahil" bisik Aisha ke telinga Richard.
Degh...
"Aduh..! bahaya ini ancaman Aisha." batin Richard.
"Kita sudahi Wisnu, Nyonya sudah kasih ultimatum" kata Richard.
"Hehehe! iya Mas Rich, aku juga ingin menghubungi jagoan dirumah Omanya" kata Wisnu.
"Kapan mbak Jeslyn balik mas?" tanya Aisha.
"Belum tahu, sepupu Jeslyn lamaran dua hari lagi. Selesai acara baru pulang" kata Wisnu.
Diluar ruangan, keempat pria sedang berdebat siapa yang akan tidur di yayasan. Karena kamar dirumah Nenek tidak cukup menampung semuanya.
"Kak Keane tidur dirumah Nenek." titah Rodrick.
"Tidak bisa, kalian yang kecil tidur disini. Kakak dan Mada tidur di Yayasan" ngotot Keane untuk tidur di Yayasan, karena lebih bebas.
"Aku ngalah, aku dan Vely tidur disini saja " ujar Dama .
"Vely tidur dulu, Vely sudah ngantuk" ujar Vely seraya masuk kedalam kedalam rumah, dan masuk menuju kamar paling belakang.
"Aku tidur duluan saja" batin Vely.
"Vely, siapa yang tidur di Yayasan?" tanya Aisha yang baru keluar dari dapur.
"Tidak tahu Mom, mereka lagi rembukan. Vely tidur disini, Ngantuk. Nggak bisa jalan kesana " ujar Vely.
"Sudah, sana tidur. Besok bangun cepat, biar kita ke pasar, ikut Oma" kata Aisha.
"Oke mom" sahut Vely dengan semangat, mendengar besok akan kepasar. Karena Vely sangat suka jika kekampung, ikut kepasar. Karena banyak jajanan pasar yang tidak ditemui ada di kota.
Setelah ada kesepakatan, akhirnya. Kenway dan Rodrick yang tidur Mandah ke yayasan.
"Akhirnya, kita bisa berduaan!" seru Rodrick sembari menjatuhkan tubuhnya ke kasur dengan telentang.
"Yank..!" panggil Rodrick.
"Yank !" ulang panggil Rodrick, karena panggilan pertama tidak ada sahutan.
Rodrick bangkit, setelah tidak ada sahutan dari Jessie.
"Kemana dia? apa hilang lagi?" Rodrick bangkit dan berjalan keluar dari dalam kamar.
Rodrick membuka pintu kamarnya dan keluar.
Rodrick berdiri didepan kamar, matanya mencari-cari keberadaan Jessie.
Cklek...
Pintu kamar Kenway terbuka, Kenway keluar dengan menggunakan jaket.
"Cari apa?" tanya Kenway.
"Istriku hilang lagi !" seru Rodrick.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung 😘..
Jangan lupa tekan like.. like ya kakak-kakak terima kasih ❤️🙏