
Happy reading guys
***
Semua tertawa melihat Alana y bersemangat menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada Aisha.
"Ya kan Tante Aisha ?" kata Alana dengan menyebutkan Aisha dengan embel-embel Tante, membuat Aisha mendelikkan matanya menatap sahabatnya tersebut.
"Alana !" seru mamanya kepada putrinya yang sangat bersemangat menggoda Aisha.
"Bagaimana Ais..?" tanya ibunya.
"Ais..," Aisha menjeda ucapannya, membuat lagi-lagi Alana yang melanjutkan ucapan sahabatnya tersebut.
"Aisha setuju !" ujar Alana.
"Al, mungkin mulutmu akan mama plester dulu. Supaya bisa diam ," ujar mamanya yang gemas melihat tingkah putrinya.
"Apa Alana menikah saja, sama seperti Aisha ," ucap Oma nya.
"Idihh.. Oma," ngerucut bibir Alana.
"He..he.. sorry, Alana tidak sabar. Nunggu dari mulut Aisha yang keluar, sudah keburu lebaran," kata Alana.
"Nek, Bu . saya minta izin untuk berbicara dengan Aisha berdua , Boleh ?" tanya Richard kepada nenek dan Larasati.
"Silakan" kata nenek.
"Mayang, tolong temani Aisha. Mereka tidak boleh berdua, nanti ada yang ketiga setan yang menganggu," kata nenek.
"Kalau mereka berdua, ditambah Mayang bertiga. Kalau begitu Mayang apaan ?" Mayang menunjuk dirinya.
"Mayang setan..ha..ha !" sambung Alana dengan tertawa cukup keras.
"Kamu yang setan !" seru Mayang.
"Alana !" ingatkan mamanya.
"Al ikut ya, biar Mayang tidak jadi setan. jadi berempat," ujar Alana.
"Semua juga boleh ikut ," kata Richard.
"Pergi sana Ais, di halaman belakang saja kalian bicara," kata nenek.
Aisha bangkit dan berjalan menuju halaman belakang, dan Richard mengikutinya. Dan Alana dan Mayang mengikuti dibelakang Richard.
"Kenapa kita menjadi seperti pengapit pengantin, Om Richard dan Aisha pengantinnya didepan. Kita dibelakangnya," kata Alana.
"Al, kenapa mulutmu ribut sekali. Makan apa kau waktu kepasar tadi ?" tanya Mayang.
"Nggak makan apapun, aku happy Saja. ntar lagi Aisha akan menjadi Tante kecilku ," kata Alana dengan setengah berbisik kepada Mayang.
Aisha duduk di gazebo, yang ada dipinggir kolam ikan dihalaman belakang.
"Om, kami disini saja ya. Om jangan nyosor ya, Aisha masih.." ucapan Alana terputus, karena Mayang menutup mulut temannya tersebut.
"Hih.. Nona, mulut mu minta diplester ya ," ucap Mayang.
"Lepasin, tanganmu bau upil ," kata Alana sembari mengelap mulutnya.
"Bersih ini." Mayang menunjukkan tangannya.
"Duduk May, kita disuruh menjadi pengamat " kata Alana kepada Mayang.
"Mengamati siapa ?" tanya Mayang tidak mengerti apa yang dikatakan Alana.
"Nenek suruh kita untuk menemani Aisha,"kata Alana.
__ADS_1
"Terus ?"
"Arahkan matamu ke mereka ," ucap Alana.
"Apa yang akan dilakukan Om mu ?" tanya Mayang.
"Tidak ada ," Jawab Alana.
"Untuk apa kita mandangin mereka, lebih bagus menatap ikan dikolam," kata Mayang.
"Huh.." ucap Alana.
***
Di gazebo, Aisha duduk dengan gelisah. Dia merasa tatapan mata Richard kearah dirinya, membuat dirinya menjadi gugup.
"Aisha, bagaimana ? Apa kau sudah memikirkannya?" tanya Richard.
"Memikirkan apa ?" tanya Aisha dengan suara yang pelan dan sedikit gemetar.
"Lamaran itu, apa Aisha tidak ingin melanjutkan kuliah kembali ?"
"Mau ," jawab Aisha, dan wajahnya terus menatap ke bawah.
"Aisha, lihat saya. Saya tidak makan orang, tapi jika kamu menunduk terus. Bisa-bisa kau menjadi korban pertama ku, begitu membuat kau terlihat menggemaskan ," kata Richard, yang melihat Aisha malu-malu begitu membuat dirinya semakin ingin melindunginya.
"Apa ?" Aisha mengangkat wajahnya dan melihat Richard yang tersenyum menatapku.
"Kalau kau terus menyembunyikan wajah cantikmu, aku ingin melahap mu," kata Richard lagi.
"Ternyata om Alana pemakan daging manusia." monolog dalam benaknya Aisha.
"Kembali ke soal yang tadi, bagaimana ?" ulang Richard, untuk jawaban apa yang diberikan oleh Aisha.
"Aku..aku...," ucap Aisha terputus-putus.
"A..a.a pa ? untuk apa Aisha sibuk berpikir, jika emang Om tidak mau menerima penolakan," ujar Aisha dan mencebikkan bibirnya kearah Richard.
"Ha..ha.." tawa Richard Melihat Aisha yang jengkel terhadap dirinya.
"Ais, saya katakan. Diantara kita pasti belum ada rasa cinta, tapi kedepannya cinta itu pasti akan datang seiring waktu kita hidup bersama. Saya tidak ingin ada kata berpisah dalam pernikahan kita nanti, tidak ada yang namanya nikah kontrak," kata Richard.
"Apa kita akan tinggal bersama ?" tanya Aisha dengan tatapan mata polosnya.
"Kalau sudah menikah, kita tinggal bersama. Pernikahan kita juga untuk melindungi Aisha, untuk apa kita menikah jika tidak tinggal bersama," kata Richard.
"Apa tidur bersama juga?" tanya Aisha lagi.
" Ya jelaslah, kita akan tidur bersama. Apa Ais mau tidur dengan Alana, kita tidak tinggal bersama Alana ," kata Richard.
"Baiklah, Aisha akan terima pernikahan ini ," kata Aisha.
"Baguslah, anak baik ," ucap Richard sembari mengusap-usap pucuk kepala Aisha.
"Ayo kita kembali ," Richard meraih jemari Aisha untuk kembali kedepan.
"Om, kelihatannya ada kabar baik ini ?" tanya Alana yang melihat tangan Richard menggenggam jemari Aisha.
"Keinginanmu terkabul, Aisha akan menjadi Tante mu ," ujar Richard.
"Akhirnya..!" Alana memeluk Aisha, dia melupakan tangannya yang masih sakit.
"Aduh..!" teriak Alana.
"Ada apa ?" tanya Richard.
"Tangan Alana sakit Om ," ujar Alana, wajahnya meringis.
__ADS_1
"Makanya hati-hati, jangan langsung main peluk orang saja. Sudah lepasin Aisha, aku juga ingin memeluknya." Mayang memberikan pelukan dan selamat kepada Aisha yang telah menerima lamaran Richard.
"Selamat Ais, aku benar-benar bahagia. Semoga kedepannya kau selalu bahagia ." Mayang mengelus pipi Aisha.
"Terimakasih Mayang, kau sahabat terbaikku" kata Aisha.
"Aku tidak sahabat terbaikmu ?" tanya Alana.
"Kau juga Al ," kata Aisha.
"Kau itu keponakan terbaik Aisha, Al ," ujar Mayang.
"Ayo kita kedepan," tangan Richard kembali meraih jemari Aisha, dan menggandengnya.
"Hihh.. Om Richard seperti mau nyeberang saja, gandengan." ledek Alana.
"Diam!" seru Richard.
"He..he.." tawa Alana.
***
Setelah melakukan perbincangan, hari itu juga dilakukan pertunangan. Karena Richard sudah membawa cincin tunangan, yang dibelinya atas petunjuk Alana mengenai ukuran jari Aisha.
"Al, kau sudah tahu ya. Jika hari ini aku akan tunangan?" tanya Aisha.
"Iya, karena Om Richard meminta aku untuk mengukur jarimu," kata Alana sambil tertawa.
"Kapan kau mengukur jemariku ?"
"Tadi malam, aku dan Mayang mengukur jemarimu dengan benang," kata Alana.
"Kalian..!"
"Hei..ayo kita berfoto," ujar Alana.
"Kedepankan jemarimu Ais, biar terlihat cincin tunangannya," ucap Alana.
Akhirnya mereka bertiga berfoto, dan Aisha menunjukkan jemari tangannya yang ada cincin tunangannya.
"Aku akan kirim kepada Dony," ujar Alana dan mengirimkan gambar tersebut ke ponsel Dony.
****
Dony yang sedang melakukan rapat dengan karyawan kaget, begitu melihat gambar yang dikirimkan Alana .
"Bakal ada yang patah hati." dalam benaknya Dony.
Begitu selesai rapat, Dony bergegas pergi ke kantor David yang tidak begitu jauh dari kantornya.
Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Dony langsung membuka ruang kerja David.
David mendongak, melihat siapa yang masuk kedalam ruangan kerjanya tanpa permisi.
"Ada apa kau datang kekantor ku, apa kau ribut lagi dengan Alana ?" tanya David.
"Sabar Bro, lihat ini ." Dony menunjukkan gambar yang dikirimkan Alana.
"Apa." David berdiri dan berjalan menghampiri Dony, dan melihat ponselnya Dony.
"Ini.."
Brukk...
Bersambung..
Apa yang terjadi dengan David ?
__ADS_1