
Happy reading guys ❤️
Suara burung pagi membuat Rodrick membuka matanya lebar-lebar, Rodrick menyibakkan selimut. Turun dari ranjang, dibukanya daun jendela lebar-lebar. Udara pagi masuk menerpa wajahnya yang masih terlihat wajah bantalnya .
"Selamat pagi dunia!" Rodrick merentangkan tangannya lebar-lebar.
"Selamat pagi ." suara dari depan jendela kamarnya, membuat Rodrick kaget. Karena mengira, dirinya yang paling cepat bangun pagi.
"Ooo...!" kaget Rodrick, melihat Adam duduk disamping jendela kamarnya.
"Kenapa? tidak pernah lihat orang ganteng?" tanya Adam.
"Kenapa Om kecil disitu? buat kaget saja" gerutu Rodrick.
"Ini tempat favoritku pagi-pagi " kata Adam.
"Aneh saja, tempat favorit didekat jendela. Untung kepalanya tidak kena daun jendela waktu, saat Drick buka jendela," kata Rodrick.
"Hei..keluar! keliling kampung kita" ajak Adam kepada Rodrick.
"Ayo, naik apa ?" tanya Rodrick masih berada di dalam kamarnya.
"Naik sepeda, bisa kan naik sepeda?" tanya Adam.
"Kecil! naik sepeda saja. Mandi dulu ya, biar ganteng" ujar Rodrick.
Selesai mandi Rodrick keluar dari kamar, mencari keberadaan Om kecil nya.
"Nenek !" Rodrick memeluk nenek uyut yang sedang berjemur.
"Ini cicit nenek sudah bangun?"
"Drick kira nek, Drick yang paling cepat bangun. Ternyata, Drick paling lama bangun " kata Rodrick.
"Ini desa, semua cepat bangun. Jangan kalah dengan ayam " ujar Larasati yang keluar membawa bubur kacang hijau untuk nenek.
"Drick, mau sarapan nasi apa bubur kacang hijau seperti nenek ?" tanya Larasati.
"Nanti saja Oma, Drick mau keliling kampung dengan Om Adam. Mana dia Oma ?" tanya Rodrick.
"Tuh.." tunjuk Larasati.
Rodrick melihat Adam datang dari belakang, dengan membawa sepeda.
"Ini sepeda?" tanya Rodrick.
"Ini sepeda, kelihatan seperti apa rupanya?" balik tanya Adam.
"Lucu sekali sepedanya ." Rodrick melihat sepeda yang dibawa Adam dengan heran
"Lucu nggak apa-apa, yang penting masih bisa dinaiki" ujar Adam, kembali menuju ketempat dia datang tadi..
"Itu sepeda kakek buyut." beritahu Nenek.
"Wow..! apa nenek dulu dibonceng kakek naik sepeda ini nek ? keliling kampung, sore-sore ," ujar Rodrick.
"Nggak! dulu tidak boleh dua-duan oleh bapak nenek, sudah nikah baru boleh boncengan" cerita nenek mengenai masa mudanya.
"Apa nenek tidak pernah ketemu diam-diam, bilangnya kesekolah. Tidak tahunya ketemu kakek" ucap Rodrick.
Nenek hanya tertawa, menjawab pertanyaan Rodrick.
"Ah..! Nenek, curiga Drick ini. Pasti nenek dulu sedikit nakal!"
"Ayo kita pergi, nanti tanya-tanya nenek tentang masa mudanya" Adam datang kembali dengan membawa satu sepeda untuk dinaikinya.
"Jangan jauh-jauh ya " kata Larasati, kepada keduanya.
"Oke "
__ADS_1
Rodrick dan Adam mengayuh sepedanya dengan pelan-pelan, terlebih Rodrick yang tidak biasa membawa sepeda yang aneh menurunnya.
"Ayo kita balapan!" seru Adam kepada Rodrick.
"Ayo! siapa takut !" Rodrick menerima tantangan Adam untuk balapan.
Adam dan Rodrick mengayuh sepedanya menyusuri jalanan, disebelah kiri dan kanan disepanjang jalan hanya ada persawahan.
"Drick, jangan kencang-kencang. Rem Sepedanya tidak bagus !" ingatkan Adam kepada Rodrick.
Begitu Rodrick ingin mengerem, tetapi rem Sepedanya tidak berfungsi.
"Om kecil! rem sepeda blog!" seru Rodrick.
"Sudah dibilang tadi !" seru Adam.
"Awas....!" teriak Rodrick kepada seseorang yang sedang berlari didepan sepedanya.
Orang itu tidak menepi, dia terus berlari. Seperti tidak mendengar teriakkan Rodrick.
Bugh....
Stag sepeda Rodrick menyenggol tubuh orang itu, membuat orang tersebut nyungsep kesawah . Dan Rodrick dengan sepedanya juga ikut nyungsep kesawah.
"Awww..!" teriak orang yang diserempet Rodrick.
"Maaf..maaf..!" seru Rodrick meminta maaf.
"Bunda...!" teriak orang yang ditabrak Rodrick, wajah orang tersebut sudah penuh lumpur.
Sedangkan Rodrick duduk disawah, sehingga dari pinggang ke ujung kakinya penuh dengan lumpur.
"Kenapa kau menabrakku ?"
"Maaf, aku tidak sengaja" kata Rodrick.
Orang yang ditabraknya, melihat kearah Rodrick. Dia cukup terkejut, begitu melihat siapa yang telah menyebabkan dia mandi lumpur.
Rodrick menoleh kearah orang yang memanggilnya dengan sebutan dokter.
"Kau ?"
Orang tersebut mengelap lumpur diwajahnya, dan terlihat wajah cantik yang masih ada sedikit lumpur menghiasi wajahnya.
"Jessie !" begitu lumpur hilang dari wajah gadis tersebut, Rodrick baru melihat wajah Jessie dengan jelas.
"Kak Jessie !" Adam mengenalinya setelah kotoran lumpur hilang dari wajah Jessie.
"Pak Dokter, kenapa kau menabrakku. Apa salahku kepadamu pak Dokter?" tanya Jessie, sembari berusaha untuk berdiri.
"Kenapa Pak dokter disini ? apa Pak dokter mengikutiku?"
"Hih..! untuk apa aku mengikutimu, ini kampung mommy ku !"
"Dokter sengaja ya, nabrakku ?" tuduh Jessie.
"Aku bukan sengaja, aku masih waras. Sepedaku yang tidak waras lagi, ini gara-gara Om kecil ." tuduh Rodrick kepada Adam.
"Lah..! kenapa salahku? dimana letak kesalahan ku ?" tanya Adam.
"Om yang beri sepeda rusak kepadaku, sudah gitu ngajak ngebut lagi " kata Rodrick menyalahkan Adam.
Rodrick berusaha bangkit, seperti Jessie. Kakinya seperti di cengkram lumpur, sehingga sulit untuk berjalan.
"Aku sudah bilang, jangan ngebut yang kencang. Ngebut, tapi pelan-pelan saja " kata Adam dan mengulurkan tangannya untuk membantu Rodrick bangkit dari sawah.
"Om kecil! mana ada ngebut pelan-pelan!" jengkel Rodrick.
"Ah.. kalian berdua, tolongin aku dulu. Baru kalian ribut !" teriak Jessie sembari mengulurkan tangannya kepada Adam, tetapi Rodrick yang lebih dekat membantu Jessie keluar dari dalam lumpur.
"Tadi aku sudah teriak, agar kau minggir. Kenapa kau tidak minggir;" seru Rodrick kepada Jessie.
__ADS_1
"Oh..ini yang membuat kau tidak mendengar teriakkan ku tadi ?" Rodrick melihat headset dileher Jessie.
"Pak Dokter yang salah, sepeda tidak ada rem dipakai ," ujar Jessie.
"Tidak apa-apa kan kak Jessie?" tanya Adam kepada Jessie.
"Nggak, cuma kaget saja ," sahut Jessie.
"Kenapa kau kenal dengan pak Dokter Dam ?" tanya Jessie.
"Pak Dokter ? Rodrick ?" tanya Adam.
"Cewek lumpur ini pegawai ku ." beritahu Rodrick.
"Hei Pak Dokter ! enak saja bilang aku cewek lumpur, wajah ku blepotan begini juga gara-gara Pak dokter," kata Jessie.
"Om kecil kenal dia ?" tanya Rodrick.
"Dia anak dokter Rafa dan dokter Yuni ." beritahu Adam.
"Anak Om Rafa ?"
"Kenapa Pak dokter heran, apa Jessie tidak cocok menjadi anak mereka?" melotot Jessie memandang kearah Rodrick.
"Nggak! heran saja, kedua orangtuanya dokter manusia. Kenapa kau mau menjadi dokter hewan?" tanya Rodrick.
"Karena aku tidak masuk, waktu mau ngambil jurusan kedokteran. Diterima kedokteran hewan, yah.. terima saja. Yang penting sama-sama kedokteran" kata Jessie.
"Ah..sebel! terpaksa aku balik kerumah" Jessie memutar langkahnya, kembali kearah dia datang tadi.
"Bagaimana? apa kita kembali?" tanya Adam.
"Apa mau keliling kampung dengan baju kotor begini? bagaimana dengan sepedanya, apa tidak rusak? nanti nenek marah. Sepeda nostalgianya rusak ," ucap Rodrick.
"Tidak ada yang rusak " ujar Adam, setelah memeriksa sepeda yang dinaiki Rodrick tadi.
"Jessie tinggal dimana Om ?" tanya Rodrick.
"Didekat Yayasan, ada dibangun oleh mas Wisnu perumahan khusus untuk pegawai. Sebenarnya kak Jessie tidak tinggal disini, dia tinggal dikota. Saat liburan baru dia pulang," kata Adam.
"Ayo.. naksir ya ." goda Adam.
"Hih..anak kecil !"
"Anak kecil, tapi aku dipanggil Om. Aku lebih besar. Weekk !" balas Adam senang .
**
Hari ini, Vely berangkat kekampus diantar oleh Dama. Karena Dama juga akan mengunjungi usaha kulinernya.
"Ingat, pulang nanti kakak tunggu disini," kata Dama.
"Iya" sahut Vely.
"Pulang kuliah, kita lihat rumah. Apa ada yang mau diperbaiki," kata Dama
"Rumah?"
"Rumah untuk tempat kita tinggal, tidak mungkin kita pulang balik."
"Dimana kak Dama? tidak jauh dari kampus kan?"
"Sebelah cafe " sahut Dama.
*
*
*
Bersambung 😘
__ADS_1