
Hai Aisha menyapa nih..
kakak-kakak ikuti protokol kesehatan agar virus covid-19 cepat berlalu, jangan anggap remeh dengan virus ini. Mari kita saling melindungi keluarga kita sendiri.
🌟🌟🌟🌟
Dibalik jendela ada dua pasang mata dan telinga yang mendengar teriakkan dan tangisan Aisha.
"Ayo ." Ragil menepuk pundak Danil untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
Dengan mengendap-endap, Ragil dan Danil keluar dari pekarangan rumah Aisha untuk kembali ketempat dimana mobilnya terparkir
Kemudian keduanya masuk kedalam mobil yang terparkir tidak begitu jauh dari rumah Aisha.
"Aku tidak tega Ragil ," ucap Danil begitu sudah berada dalam mobil.
"Kau kira aku tega, walaupun Aisha tidak akrab dengan kita. Tetapi dia tidak pernah menganggap remeh keberadaan kita, setiap aku menyapanya. Dia selalu membalasnya." cerita Ragil.
"Kenapa tetangga tidak yang keluar, apa mereka tidak mendengar suara teriakan dan tangisan Aisha ?" tanya Danil sambil mengamati area sekitar rumah Aisha.
"Tidak kau lihat, rumah itu masih gelap. Mungkin saja mereka tidak berada dirumah," ucap Ragil dan mulai menjalankan mobilnya menuju tempat dimana dia berjanji dengan Gaby.
"Kemana kita sekarang ?" tanya Danil.
"Menemui perempuan gila itu, semoga setelah ini dia tidak menganggu Aisha lagi," ucap Ragil.
"Apa masalahnya dengan Aisha, Aisha itu gadis yang sangat lembut ," kata Danil.
"Aku juga tidak tahu, mungkin rebutan pria," kata Ragil.
"Aisha sudah punya pacar ? selama ini tidak ada laki-laki bersama dengan dirinya," ucap Danil.
Ragil hanya diam, dalam benaknya juga penuh dengan pertanyaan seperti yang ada dalam pikiran Danil.
***
Larasati terus berada dalam kamar Aisha, dia mengoleskan crem ke lengan Aisha yang sedikit memar.
"Apa yang harus kulakukan, apa aku harus melapor ke kantor polisi. Jika aku kekantor polisi, Aisha pasti akan ditanyai dengan berbagai macam pertanyaan." Larasati berbicara sendiri sembari mengelus rambut Aisha .
"Aisha pasti tidak bisa menghadapi ini semua ," ucap Larasati dan tangannya tidak berhenti terus mengelus rambut panjang Aisha.
Larasati berdiri saat mendengar suara pintu pagar dibuka dengan suara yang keras, Larasati berjalan dengan setengah berlari. Begitu keluar dari dalam kamar Aisha, dia melihat nenek dan Wisnu sudah berada dalam rumah. Karena tadi Larasati tidak mengunci pintu rumahnya setelah membawa Aisha masuk.
"Ibu..!" Larasati berlari dan memeluk ibunya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi ?" tanya ibunya Larasati sambil memeluk putrinya yang sedang tersedu-sedu menangis dalam dekapannya.
"Mana Aisha Bu ?" tanya Wisnu, dan matanya menatap kesegala arah didalam rumah ibunya. Tapi yang dicarinya tidak kelihatan.
"Aisha...Aisha ! dia mengalami pelecehan ," kata Larasati sambil menangis dalam pelukan ibunya.
"Apa..!? siapa yang melakukannya, kita harus laporkan ke polisi," ucap Wisnu dengan suara yang keras karena marah.
Wisnu lari menuju kamar Aisha dan diikuti oleh nenek dan Larasati.
Wisnu melihat Aisha tidur dengan telentang, Wisnu duduk dipinggir ranjang Aisha dan tangannya mengusap pipi Aisha yang merah bekas bekapan tangan.
"Cucu ku, apa yang terjadi ?" nenek naik ke atas ranjang dan duduk disisi Aisha yang tidur seperti tidak adapun yang terjadi.
"Kita harus melaporkan ke polisi dan melakukan visum ," kata Wisnu.
"Apa yang harus kita katakan, kita tidak ada bukti. Siapa yang telah melakukan perbuatan keji ini terhadap Aisha," kata Larasati.
"Apa kita harus mendiamkan ini semua, orang itu harus mempertanggung jawabkan perbuatannya," kata Wisnu lagi.
"Siapa orang itu ?" tanya nenek.
"Itu tugas polisi untuk mengungkapkannya ," kata Wisnu
"Mereka akan menanyai Aisha ," kata Larasati.
"Aisha pasti tidak akan sanggup menghadapi ini semua," kata nenek.
Tiba-tiba..
"A..a..a..!" teriak Aisha sambil bangkit dan duduk diranjang, matanya nyalang menatap ke depan.
"Aisha.." nenek memeluknya, tetapi Aisha meronta-ronta sehingga Wisnu mengambil alih dan memeluknya dengan erat.
"Ais, tenang. Tidak ada yang menyakiti Aisha lagi, Aisha sudah aman disini ." Wisnu mengusap-usap pundaknya dan Aisha terlihat sudah mulai tenang dan mulai tidur kembali. Wisnu membaringkan Aisha kembali.
Sedangkan nenek dan Larasati hanya dapat menangis, melihat keadaan Aisha .
"Kita harus kekantor polisi Bu ," ucap Wisnu.
"Aisha pasti tidak bisa menghadapi ini semua ," ucap Larasati.
"Terus, apa yang harus kita lakukan. Apa kita melepaskannya begitu saja," kata Wisnu.
"Bagaimana jika kita tunggu Aisha tenang dulu, baru kita laporkan," kata Larasati.
__ADS_1
"Kita bawa Aisha kekampung, ibu siapkan semua baju-baju Aisha," ucap Wisnu.
Ibu kemudian keluar dan kembali dengan membawa koper. Dengan dibantu nenek Larasati memasukkan semua baju Aisha kedalam koper.
"Bawa semua yang penting Bu, jangan sampai ada yang ketinggalan," ucap Wisnu.
"Apa kami tidak akan kembali kesini lagi ?" tanya Larasati.
"Bagaimana kau masih mau kembali kesini lagi, setelah apa yang terjadi kepada Aisha. Kota ini tidak cocok lagi untuk kalian tinggali," ucapan nenek menyadarkan bahwa dia dan Aisha harus pergi dari kota ini.
"Bu, tinggalkan kota ini. Kita tidak tahu siapa yang melakukan ini semua kepada Aisha, bagaimana jika orang itu mengulangi perbuatannya kembali ," ucap Wisnu.
"Apa ?! mereka mau melakukannya lagi ." terlihat rasa khawatir dari raut wajah Larasati.
"Karena itu, tinggalkan kota ini. Jauhi orang-orang yang ingin berbuat jahat kepada Aisha."
Larasati keluar kembali dan membawa dua koper dan memasukkan buku-buku Aisha yang ada diatas meja belajar dan dalam lemarinya. Larasati memasukkan semua buku dengan secara serampangan saking gugupnya.
"Ibu, coba bawa tenang ," kata Wisnu yang melihat keadaan Larasati juga tidak cukup baik.
"Apa salah Aisha Wisnu, apa salah ibu kepada orang itu. Sehingga mereka sanggup melakukan ini semua, masa depan Aisha sudah hilang " Larasati menangis, Wisnu membawa ibunya masuk kedalam pelukannya.
"Aisha kita, tidak akan apa-apa Bu. Dia akan selalu menjadi kebanggaan kita" ucap Wisnu.
"Larasati, kamu harus kuat. Jangan tunjukkan kelemahan kita, Aisha pasti akan kuat," kata nenek.
"Baju Aisha sudah selesai, bereskan baju-baju mu yang harus dibawa," kata Nenek kepada Larasati.
"Iya Bu ."
***
Alana duduk dikursi rodanya, karena kakinya belum begitu pulih untuk membawa beban tubuhnya.
"Hei Anak nakal, bagaimana keadaan mu hari ini ?" suara Richard mengagetkan Alana yang sedang asik membaca bukunya.
"Om Richard, buat kaget saja. Untung Alana masih muda dan jantung Alana sehat ," ucap Alana dengan mengusap area dadanya.
"Baca atau melamun ?" tanya Richard dan mengambil buku yang ada dalam genggaman Alana.
"Bacalah." bibir Alana ngerucut.
"Sampai kapan kau mau menghukum pemuda itu ?" saat masuk kedalam rumah kakaknya tadi, Richard berpapasan dengan Dony yang berjalan gontai. Sekali lagi, Alana menolak untuk bertemu dengan dirinya.
**Bersambung.
__ADS_1
Maaf ya, sekarang Author slow update. karena Author tidak sanggup begadang untuk nulis 🙏🙏
Maaf juga dengan Typo, karena typo itu sahabat penulis 😄