
Happy reading guys ❤️
***
Dama masuk kedalam kamar Papanya, sedang Vely masuk kedalam kamar Richard.
Tok..tok...
Vely mengetuk pintu kamar Richard.
Tok..tok ..
Begitu juga dengan Dama.
Keduanya saling pandang, karena kamar Richard dan David bersebelahan.
"Nggak ada suara" kata Vely kepada Dama.
"Buka saja " kata Dama, ada rasa khawatir didalam benaknya.
"Apa Papa pingsan, terlalu banyak mengkonsumsi obat tidur" gumamnya.
"Kak Dama, bagaimana? kita masuk saja. Tidak ada suara dari dalam" Vely melekatkan telinga dipintu, untuk mendengar suara Daddy-nya.
"Masuk saja"
Keduanya memegang gagang pintu.
Cklek...
Keduanya mendorong pintu, Dama dan Vely berdiri di depan pintu, secara perlahan kedua masuk kedalam kamar.
Vely secara perlahan mendekati ranjang, dimana Richard masih dalam posisi tidur dengan memeluk guling.
"Dad.. Daddy.." Vely duduk ditepi ranjang, jemarinya menyentuh kening Daddy-nya. Karena tidak biasanya Richard bangun didahului oleh matahari, biasanya. Matahari belum bersinar, Richard sudah keluar dari dalam kamar untuk melakukan olahraga lari.
"Tidak demam, mungkin Daddy letih saja " gumam Vely.
"Daddy.. Daddy..!" Vely menggoyang-goyangkan lengan Richard untuk membuat Richard bangun.
"Dad bangun sudah jam 9" kata Vely.
"Eee.." Richard hanya menggeliat, dan mengganti posisi tubuhnya menjadi miring. Guling tetap berada dalam dekapannya.
"Daddy bangun!" seru Vely lagi.
"Asay, mas masih ngantuk. Jangan ganggu ya" ucap Richard dengan mata masih terpejam, dan mengira yang mengusiknya adalah Aisha.
"Hih.. Daddy, Asay juga yang diingat"
"Daddy! bangun!" seru Vely dengan menggoyangkan lengan Daddy-nya.
"Aish, masih ngantuk" ucap Richard yang tetap mengira dia berada dirumahnya sendiri.
"Ini Vely Daddy! bukan Aisha, ini anak Aisha!" teriak Vely dengan suara sedikit keras.
"Anak Aisha! Aisha punya anak?" Richard sontak kaget, dan langsung duduk diranjang dengan mata yang setengah terpejam.
"Hih... Daddy ini, lupa ya sudah punya anak empat dirumah. Sudah punya mantu lagi " ngedumel Vely.
Richard berusaha untuk membuka matanya, tapi berat rasanya. Pikirannya merasa di awang-awang.
"Daddy kenapa? apa Daddy mabuk?" tanya Vely sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Richard, tetapi tidak tercium bau minuman beralkohol dari mulut Richard.
"Vely, Daddy masih ngantuk. Biar Daddy istirahat sebentar lagi ya "
Tanpa menunggu lagi, Richard merebahkan tubuhnya dan meraih guling dan memeluknya dengan erat.
Didalam kamar David, tidak jauh dari apa yang dialami Vely. Dama juga tidak berhasil membuat Papanya untuk bangun.
"Papa..papa..ayo bangun, sudah jam 9. Apa Papa mau berada didalam kamar terus, katanya mau ke restoran " ujar David .
"Hemm ." David hanya membuka matanya sedikit, kemudian memejamkan matanya kembali.
"Apa Papa sakit?" tanya Dama sembari memegang keningnya.
"Tidak hangat." gumam Dama.
"Bagaimana kak, apa Papa tidak mau bangun juga?" tanya Vely dari depan pintu kamar.
Dama menoleh kearah Vely, dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Sepertinya Papa sangat mengantuk, Daddy bagaimana?" tanya Dama.
"Sama juga" sahut Vely.
"Kita biarkan tidur sebentar lagi" Dama keluar dari dalam kamar David.
"Ayo kita lihat Opa dan uncle Edward," kata Dama.
Saat ingin menuju kamar Josh dan Edward, mereka bertemu dengan istri Pak Yusuf.
"Mau kemana Nak Dama?" tanya istri Pak Yusuf.
"Mau lihat Opa dan uncle Edward" jawab Dama.
"Mereka berdua sudah ikut bapak ke restoran, mereka cepat bangun tadi. Nggak sabar nunggu yang lain bangun, keduanya ikut. Begitu tahu bapak mau ke restoran" beritahu istri Pak Yusuf.
"Untung Opa tidak seperti Papa dan Daddy" batin Dama.
"Ayo kita kesana juga" kata Dama kepada Vely.
"Nggak sarapan dulu?" tanya istri Pak Yusuf.
"Di restoran saja "sahut Dama.
Dama membawa Vely menyusuri pasir putih menuju ke restoran, sesekali ombak menerpa kaki.
"Nyaman ya, jika tinggal ditepi pantai" kata Vely.
"Suka?" tanya Dama.
"Suka" sahut Vely.
"Itu jual apa!" Vely menunjuk kearah satu orang yang dikerumuni oleh orang yang sedang berjalan-jalan dipinggir pantai.
"Nggak tahu, ayo kita lihat." kata Dama.
"Jualan apa ya Bu ?" tanya Dama kepada orang yang sedang mengantri untuk membeli.
"Bubur sea food, enak. Makanya banyak yang nunggu ngantri untuk membeli " jawab ibu tersebut.
"Bubur sea food, mau ?" tanya Dama pada Vely.
Akhirnya Dama dan Vely ikut ngantri menunggu untuk dilayani.
"Bang..bang! masih ada buburnya, nanti kami tidak kebahagiaan," ujar orang yang mengantri dibelakang Dama dan Vely.
"Tenang, Abang tukang bubur selalu menyediakan stok bubur. Tidak akan ada yang tidak kebagian" ucap orang yang berada didepan.
"Abang!" gumam Dama.
"Delove, jangan panggil Kak Dama dengan Abang ya. Batal" bisik Dama.
"Kenapa kak? " Vely juga sudah lupa dengan memanggil Dama dengan Abang, sedari tadi dia memanggil Dama dengan kak Dama.
"Tukang bubur dipanggil Abang oleh pembeli, masa kak Dama sama panggilannya dengan tukang bubur" ucap Dama dengan berbisik.
Vely tertawa kecil, dan tawanya itu terlihat oleh Dama.
"Jangan tertawa " bisik Dama.
"Bang Dama," ucap Vely menggoda Dama.
"Goda terus, nanti malam terima hukuman" ucap Dama.
"Nggak takut, nanti malam Vely tidur dikamar sendiri. Week..!" ucap Vely, dan menjulurkan lidahnya.
"Masuk jendela, naik dari tangga" balas Dama.
Vely menoleh kearah Dama, dia teringat apa yang dilakukan Dama beberapa hari yang lalu.
"Awas ya kak, jika kak Dama muncul dari jendela lagi" ancam Vely.
"Nggak takut tu..!" seru Dama seraya memainkan matanya, dengan mengedip-ngedipkannya.
Akhirnya mereka berdua mendapatkan bubur sea food.
"Ayo bang Dama, cepat " ujar Vely dengan memanggil Dama dengan panggilan Abang.
Dama mendelikkan matanya.
"Bilang apa tadi ?" tanya Dama.
__ADS_1
"Nggak ada ." Vely mempercepat langkahnya.
"Vely..!"
Vely bukan berhenti, malah berlari menjauhi Dama.
Vely berlari menjauh dari Dama, sembari tertawa lebar. Dengan memanggil Dama dengan Abang.
"Ayo bang...bang kejar...!" seru Vely memanggil Dama dengan Abang.
"Ahh..! Vely, cukup. Kakak nggak sanggup lagi mengejar mu " napas Dama ngos-ngosan.
"Hih..dasar payah kak Dama! gitu saja nggak sanggup. Berapa sebenarnya umur kak Dama ? Daddy saja sanggup berlari tujuh putaran keliling perumahan" ledek Vely.
"Sudah sebulan ini, kak Dama tidak aktif lagi berlari" kata Dama.
"Jangan cari uang terus kak, jaga kesehatan. Vely tidak mau jadi janda diusia muda ya" ujar Vely seraya mendekati tempat Dama berdiri.
"Kakak juga tidak ingin membuatmu menjadi janda muda " balas Dama.
"Ayo, kita ke restoran," kata Dama.
"Masih jauh kak?"
"Nggak, tuh..!" Dama menunjuk kearah belakang yang sudah mereka lewati.
"Itu !" tunjuk Vely kearah satu bangunan diatas pantai, yang menjorok ke laut.
"Iya" sahut Dama.
"Kenapa kita sampai kesini? kalau restoran sudah kita lewati kak ?"
"Siapa tadi yang ngejek kakak dan berlari duluan?"
"Seharusnya kak Dama bilang, itu restorannya. Kan nggak sampai sejauh ini kita berjalan, dekat dengan Abang bubur" kata Vely.
"Ayo sini kakak gendong, kalau letih ." Dama jongkok, agar Vely naik keatas panggungnya.
"Nggak, Vely masih muda."
Vely berjalan mendahului Dama.
***
D Vila, Richard dan David baru bangun dari tidur panjangnya. Dengan masih malas-malasan keduanya keluar dari dalam kamar.
"Selamat pagi mas besan" sapa David.
"Pagi" balas Richard.
Lihat melihat kearah jam dinding, dan jarum jam menunjukkan pukul 9.45.
"Apa jam itu rusak ?" bingung Richard.
Richard beranjak menuju luar, dan melihat matahari sudah hampir diatas kepala.
"Susah siang !" seru Richard tidak percaya.
"Ada apa mas besan?" tanya David seraya membawa teh hangat untuk diminumnya.
"Apa jam itu rusak ? atau kita kelamaan tidur?" tanya Richard.
"Kita kelamaan bangun," jawab David.
"Kemana semua orang?" tanya Richard.
Istri Pak Yusuf masuk membawa sarapan untuk Richard dan David.
"Kemana Dama?" tanya David kepada istri Pak Yusuf.
"Mereka semua sudah ke restoran" sahut istri Pak Yusuf.
"Kenapa mereka tidak membangunkan kita ?" kata Richard.
Istri Pak Yusuf meninggalkan Richard dan David.
**
Bersambung 😘
Maaf jika ada typo, lagi direvisi perbaikan penulisan yang typo.
__ADS_1