Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 51 Tidak setuju??


__ADS_3

Terimakasih ya sudah mampir, happy reading.


***


Dalam kamar Aisha, Alana dan Mayang belum juga terpejam. Mereka masih asik berbincang-bincang, walaupun Aisha hanya sesekali ikut masuk dalam perbincangan tersebut.


"Ais, ayolah ngomong. Mulut kami sudah berbuih ini, asik kami saja yang berbicara ," ucap Alana.


"Iya nih Ais, nggak asik. kami rindu dengan celotehan asburd mu ," ucap Mayang sambil ngekeh.


"Asburd..! emang Aisha sepertimu ?" ujar Alana.


Aisha tersenyum melihat kedua temannya.


"Ais, kau itu harus tunjukkan kepada perempuan sinting itu. Bahwa kau tidak takut dengan dirinya, jika dia melihat kau seperti ini. Dia akan senang, Karena telah berhasil membuat kau bersembunyi ditempat ini," kata Mayang.


"Iya Aisha, kau harus tunjukkan. Bahwa kau itu kuat, hanya karena perempuan tidak jelas itu kau sampai depresi," kata Alana juga.


"Aku malu." Aisha membuka suaranya, dengan dua kata. Membuat Alana dan Mayang tertawa senang.


"Alhamdulillah..! suara mahalmu akhirnya terdengar." gemas Mayang dan memeluk temannya tersebut.


"Suara berlian Aisha terdengar, Apa yang kau malukan ?" tanya Alana.


"Orang-orang pasti berpikir aku sudah diperkosa ," kata Aisha.


Mayang dan Alana saling pandang, mereka belum paham apa yang Aisha ucapkan.


"Kalian juga pasti berpikir, aku sudah dilecehkan?" tanya Aisha kepada Mayang dan Alana.


Keduanya saling mengangguk, dan menatap wajah Aisha.


"Aku tidak dilecehkan, aku sudah periksa" kata Aisha.


"Aisha..!" keduanya memeluk Aisha dengan erat, sehingga mereka bertiga saling berpelukan.


"Aduh...!" Alana berteriak, karena saking gembiranya. Dia melupakan kakinya yang masih sakit.


"Ada apa ?" tanya Mayang.


"Kakiku guys, sakit ." Alana mengelus kakinya yang nyeri tiba-tiba.


"Kamu sih..! semangat sekali ,". ujar Mayang.


"Aku senang Ais..!" seru Alana dengan gembira kembali, karena kakinya sudah tidak sakit lagi.


"Hati-hati Non, ingat kakimu. Apa kau lebih suka berjalan dengan kaki tiga begitu ." ingatkan Mayang kepada Alana dan menunjukkan kruk yang berdiri disamping ranjang.


"He..he.." hanya tawa yang keluar dari bibir Alana.


" Waktu kami kembali nanti, kau harus ikut kembali ya ," kata Alana.


"Aku belum tahu, kapan ibu akan pulang. Aku ikut ibu saja ," kata Aisha.


"Besok kita tanya Tante Laras ," kata Alana.


"Ais, aku senang. Akhirnya temanku kembali, kita harus tunjukkan kepada Gaby. Bahwa kau itu bukan orang yang lemah, semangat..!" seru Alana dengan menaikkan tangannya keatas.


"Haisss..! Alana, kau jangan teriak-teriak malam begini. Bisa-bisa satu kampung akan terbangun ," kata Mayang.


"Sorry, aku terlalu bersemangat," kata Alana.

__ADS_1


"Ayo kita tidur, biar besok kita bangun dengan penuh semangat ." Mayang merebahkan tubuhnya, dan diikuti oleh Aisha dan Alana.


"Good night ," ucap Alana.


"Malam." balas Aisha.


"Sweet dream friends," kata Mayang.


Aisha melihat kearah kedua temannya Alana dan Mayang yang sudah masuk kedalam mimpi, sedangkan dirinya belum bisa memejamkan matanya. Dia masih berpikir, apakah keputusannya untuk kembali ke kota diizinkan nenek dan ibunya.


"Apa aku harus mengubur mimpiku untuk meneruskan kuliah, sangat disayangkan jika aku tidak meneruskannya. Kuliahku hanya tinggal setahun ini ." monolog dalam benaknya Aisha.


Suara binatang malam mengiringi Aisha memasuki dunia mimpi indahnya, hanya dalam dunia mimpi yang membuat Aisha melupakan beban pikirannya.


****


Richard sampai kerumah orangtuanya larut malam, hari ini dia memilih untuk menginap dirumah orang tuanya.


Richard masuk dan melihat satpam sudah dalam posisi tidur duduk dalam posnya.


"Pak Mun ." Richard membangunkan satpam rumahnya.


"Pak Mun ," panggil Richard, setelah panggilan pertamanya tidak membangunkan Pak Mun.


"Hemm.." Pak Mun terbangun dan melihat Richard berdiri diluar posnya.


"Den Richard..!" kaget Pak Mun,. melihat wajah anak majikannya dari dalam pos satpam.


"Pak, bukakan pintu ," kata Richard.


"Oh..iya Den ." dengan cepat Pak Mun menekan tombol dan kemudian pagar terbuka dengan sendirinya.


Richard masuk kedalam mobilnya, dan kemudian mobilnya masuk kedalam garasi.


"Iya Den, teman satunya lagi pulang kampung," kata Pak Mun.


"Ya sudah pak, kembali ke pos." Richard masuk kedalam rumah dan suasana rumah yang hening, karena hanya mama dan papanya yang tinggal dirumah yang cukup besar.


"Ah..ranjangku.." Richard langsung merebahkan tubuhnya.


"Sepertinya sudah cukup lama aku tidak masuk kedalam kamar ini ." Richard bangkit dan melihat sekeliling kamarnya, nuansanya tidak berubah. Wallpaper abu-abu mendominasi warna kamarnya.


Richard menuju keruangan walk in closed dan melihat pakaian lamanya masih tersusun rapi, Richard mengambil baju tidur dan membawanya kedalam kamar mandi.


***


"Pagi ." Richard berjalan menuju keruang makan dan dilihatnya mama dan papanya sedang sarapan pagi.


"Pagi boy ," balas papanya.


"Kenapa baru sekarang tahu pulang kerumah ini, apa sudah lupa jalan kerumah ini ." ngedumel mamanya.


"Mama, kenapa pagi-pagi sudah ngedumel. Awas mas, nanti wajah mama tambah keriputnya." goda Richard.


"Walaupun mama tambah keriputnya, dia bisa membuat kembali kencang," kata papa Richard.


"Oh..iya, Rich lupa. Mama kan pakarnya soal kecantikan" kata Richard.


"Cukup bahas mama, kapan kau bawa menantu mama kerumah ini. Kami kesepian di sini, apa lagi jika papa keluar kota ," kata mama Richard.


"Mama itu butuh menantu atau sebagai teman dirumah, lagi pula mama itu kan ada pasien mama yang banyak itu. Mama dirumah saja hanya waktu malam," kata RICHARD.

__ADS_1


"Benar Rich, mamamu itu waktunya dihabiskan ditempat prakteknya saja. Papa saja sering ditinggalkan ," kata papa .


"Nah tu maa, papa sudah ngeluh."


"Mama ingin pensiun," ucap mama tiba-tiba.


Richard dan papanya saling pandang, karena selama ini mereka menyarankan untuk pensiun. Mama menolaknya.


"Mama sehatkan ?" mata Richard menatap mamanya.


"Sehat seratus persen," ucap mamanya.


"Terus kenapa mau pensiun ?" tanya Papa.


"Mama ingin dirumah menjaga cucu saja ," kata mamanya.


"Alana sudah besar maa, dia tidak perlu dijaga ," kata Richard.


"Bukan Alana, tapi cucu dari kamu Richard !" seruan mama mengenai cucu darinya, membuat Richard terbatuk-batuk..


"Huk..huk.!"


"Lihat maa, gara-gara ucapan mu. Richard tersedak begitu ."


"Maa, kalaupun Richard menikah besok atau pun hari ini. Belum tentu Richard langsung memberikan cucu kepada mama ," kata Richard.


"Walaupun kau belum bisa memberikan cucu, tapi mama sudah punya mantu," kata mama Richard.


"Richard mau mengatakan, hemh.." Richard menjeda ucapannya, membuat mama dan papa penasaran.


"Apa Rich ?" tanya mama dengan menatap wajah putra semata wayangnya tersebut.


"Richard ingin mama dan papa melamar gadis untuk Rich nikahi ," ucapan Richard membuat kedua orangtuanya saling pandang dan tidak percaya dengan pendengaran mereka.


"Papa dengar, putra kita ingin melamar gadis ?" tanya mama kepada suaminya.


"Iya maa."


"Apakah betul Rich ?" tanya mamanya.


"Iya maa, Richard akan menikah ," kata Richard.


"Siapa gadis itu ?" tanya papa dan mama secara bersamaan.


"Mama dan papa mengenalnya ," ucap Richard.


"Siapa, apakah dia artis pasien mama ? kalau artis pasien mama. Mama tidak setuju ."


"Bukan maa," kata Richard.


"Lalu siapa ?"


"Aisha, aku akan menikahi Aisha !" ucapan Richard membuat kedua orangtuanya cukup terkejut.


"Aisha !?" kata mama.


"Ya Aisha ."


Mama dan papanya diam...


Bersambung...

__ADS_1


Like like like like like like like like like like


__ADS_2