Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 50 Menikah


__ADS_3

Terimakasih ya sudah mampir, happy reading.


***


Richard memandang kedua orangtuanya yang terkejut mendengar perkataannya.


"Ma, Pa. Kenapa ? apa kalian tidak setuju. Apa karena peristiwa penculikan itu yang membuat kalian tidak menyukai Aisha, Mama dan papa pasti sudah tahukan mengenai peristiwa yang dialami Aisha?" tanya Richard.


"kami sudah tahu ceritanya, kami terkejut bukan karena kami tidak setuju. Apa kau yakin dengan keputusanmu itu, ingat. Pernikahan itu bukan main-main," kata papanya.


"Ya Richard, pernikahan bukan suatu permainan. Atau rasa kasihan, apa kau menyukainya atau mencintai dirinya?" tanya mamanya.


"Terus terang, belum ada rasa cinta. Tapi menyukainya, siapa yang tidak menyukainya. Dia gadis yang manis dan cantik ," kata Richard.


"Kecantikan Aisha dan kebaikannya tidak diragukan, Alana bersahabat dengannya sudah lama," kata mamanya.


"Terus, kenapa mama dan papa sepertinya tidak setuju ?" kata Richard.


"Bukan tidak setuju, tapi karena ada peristiwa yang menimpanya. Mama takut kau menikahinya hanya karena rasa iba," kata mamanya.


Richard diam dan mengambil sandwich dan memasukkan kedalam mulutnya.


"Boy, apa benar seperti yang mamamu katakan. Hanya karena ada rasa kasihan kau menikahinya ?" tanya Papanya.


"Tidak pa, kalau karena kasihan. Sudah banyak gadis yang akan Rich nikahi, bukan hanya Aisha. Banyak gadis yang senasib dengan Aisha diluaran sana ."


"Boy, kau tidak punya kekasih diluar negeri ?" tanya papanya.


Richard diam dan kembali memakan sandwich yang ada diatas piringnya.


"Richard, kau punya kekasih disana ?" ulang mamanya pertanyaan papanya tadi.


"Sudah berakhir ," jawab Richard dan memain-mainkan sendok makan.


"Serius ? jangan nanti, begitu kau sudah punya istri dia kembali. Mama tidak ingin kau permainkan hati dan perasaan Aisha ," kata Mamanya.


"Ingat Boy, jangan kau sakiti hati dan perasaannya. Dia itu sahabat Alana ," ujar papanya.


"Kau pikirkan lagi dengan matang, baru kita melamarnya. Jangan terburu-buru Rich, mama tidak ingin kau menyesal dikemudian hari. Mama tidak ingin ada perceraian dalam rumah tangga anak mama," kata mamanya.


"Kapan Alana pulang ? Chintya bilang Alana tidak ikut pulang dengan mu ," kata mamanya.


"Mungkin besok, Richard akan menjemputnya. Dia juga belum bisa masuk kampus."


"Dia kan masih terapi ," kata papa Richard.


"Temannya yang melakukan terapi terhadapnya juga ikut kesana ."


"Seperti mama bilang tadi, coba kamu pikirkan. Mama tidak keberatan dengan Aisha," kata mamanya.


"Begitu juga dengan papa, anak itu terlihat baik."


"Pikirkan Boy ." papanya bangkit dan menepuk pundak putranya tersebut sebelum beranjak dari meja makan.


"Awas.. kalau kau mempermainkan Aisha, mama kembalikan kau kedalam sini " ancam mamanya dengan mengusap perutnya.


Richard hanya tertawa kecil melihat mamanya.

__ADS_1


***


Edward setengah berlari menuju kekantor Daddy-nya.


"Mana Daddy ?" tanya Edward kepada karyawan Daddy-nya.


"Dalam ," tunjuk karyawan tersebut kedalam ruangan kerja Daddy-nya.


"Dad..!" seru Edward begitu pintu terbuka, dan tangan Edward menggoyang-goyangkan map yang berada dalam tangannya.


"What..!" Daddy-nya kaget dengan pintu terbuka tiba-tiba yang dilakukan Edward.


"Surat-surat Daddy sudah selesai, kita akan terbang." Edward gembira menyampaikan kabar tersebut kepada Daddy-nya.


"Sungguh ?"


"Ya, untuk apa Edward berbohong ." Edward menyerahkan map tersebut dan kemudian Josh membukanya.


"Akhirnya.."


"Kapan kita berangkat ?" tanya Edward.


"Sekarang lagi musim liburan, banyak yang menyewa kapal kita. Mungkin akhir bulan ini, kita bisa berangkat," kata Josh sambil melihat kalender yang ada diatas meja kerjanya.


"Ah..masih lama, ini baru awal bulan ," ujar Edward.


"Hei anak muda, kalau usaha kita ini tidak kita jalankan. Dari mana dana untuk biaya ke Indonesia, dan mengaji para karyawan," kata Daddy-nya.


"He..he.." Edward hanya tertawa kecil.


"Dua Minggu lagi kami libur ," Jawab Edward.


"Baguslah, kita ke Indonesia. kamu sudah libur, sekolahmu tidak terganggu."


"Mommy mana ?" tanya Edward, karena tidak melihat keberadaan ibunya.


"Ada turis tadi ingin melihat matahari terbenam," kata Josh.


"Mommy sendirian ?"


"Marco bersama dengannya."


****


Mentari muncul menampilkan sinarnya, tiga sahabat sudah berada diluar rumah. Berjalan-jalan untuk menyambut sinar matahari pagi.


"Ah.. indahnya." Mayang merentangkan tangannya, menghadapi sinar mentari yang masih dengan malu-malu menampilkan sinarnya.


"Kenapa tidak bawa ponsel tadi, bagus tadi kita bisa Selfi dengan mentari pagi ," kata Alana.


"Al, apa tidak capek. Kita sudah lumayan jauh dari rumah?" tanya Aisha.


"Tidak, aku ingin terbiasa menggunakan kaki ini. Kapan aku sembuh, jika duduk terus menerus dikursi roda," kata Alana.


"Minggu depan gibs sudah bisa dibuka," kata Mayang.


"Akhirnya, kakiku tidak perlu dibungkus lagi," ujar Alana.

__ADS_1


"Jangan kau ulangi lagi, jika marah jangan bawa mobil dengan ngebut," kata Mayang.


"Iya, tobat aku. Cukup sekali badan ini patah," kata Alana.


"Ais, kapan kau bilang ke ibumu kau akan kembali kuliah?" tanya Alana.


"Apa ibu akan setuju ? jika ibu setuju, mas Wisnu dan nenek pasti yang akan melarangnya. Dan aku juga masih takut untuk kembali kekota ," kata Aisha.


"Coba aja bilang Ais, mungkin saja mereka mengizinkannya. Sangat disayangkan kuliahmu tinggal setahun lagi," kata Mayang.


"Nanti akan kutanyakan kepada ibu dan nenek," kata Aisha.


Setelah mentari sudah keluar dengan sempurna, mereka bertiga kembali kerumah dengan semangat yang baru.


****


Mobil warna merah terparkir didepan rumah, dan terlihat seorang gadis masih dalam posisi tidur dengan pulasnya.


"Ah.. sudah pagi ." Gaby mengeliat dan membuka matanya, sinar matahari menyilaukan pandangan matanya.


"kenapa aku tidur disini ?" Gaby sedikit heran, ketika menyadari bahwa dia tidak berada diatas kasur empuknya. Tetapi dia tidur didalam mobilnya dan mobilnya terparkir dipinggir jalan yang sudah padat dengan mobil yang berlalu-lalang.


"Ahh..pusing ." Gaby memegang kepalanya, yang pusing secara tiba-tiba.


Gaby mencari ponselnya dan melihat puluhan panggilan dari mamanya.


"Gawat, mama tahu bahwa aku tidak dirumah," kata Gaby.


"Gara-gara orang itu, aku mabuk dan tidak bisa bawa kendaraan." Gaby ingat semalam dia lomba minum dengan dua orang pria yang baru dikenalnya di club' seven, tempat Gaby mangkal dengan teman-temannya.


"Untung, aku masih bisa bawa mobil sampai disini. Bagaimana jika aku mabuk berat dan orang itu membawa


aku ke hotel, bisa dibunuh mama dan papa aku ," kata Gaby yang masih ada rasa takut dengan kemarahan kedua orangtuanya.


Setelah merasa pusingnya sedikit mereda, Gaby menjalankan kendaraannya untuk pulang.


***


Saat berada dimeja makan, ketika sarapan. Aisha mengutarakan niatnya untuk kembali kuliah.


"Nenek tidak setuju !" ujar neneknya dengan tegas.


"Mas juga tidak setuju, orang itu belum ketangkap. Bagaimana jika dia mengulangi perbuatannya?" kata Wisnu.


"Ibu juga tidak setuju Ais, ibu sangat khawatir. Ibu tidak sanggup lagi jika hal itu terulang kembali, bisa-bisa ibu akan mati saat itu juga ," ucap ibu Aisha dengan perasaan yang sedih, jika mengingat apa yang dialami Aisha saat itu.


"Ais, jika kau ingin benar-benar kembali kuliah. Hanya ada satu jalan ," kata neneknya.


"Apa itu nek, kalau itu bisa membuat Aisha kembali kuliah. Aisha akan melakukannya," kata Aisha.


"Kau harus menikah !" kata nenek dengan tegas.


"Apa..!?" kaget Aisha.


Bersambung guys


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2