Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 73 Aku kembali


__ADS_3

Jumpa lagi Dengan Aisha dan Richard.


****


"Kenapa tidak kau beritahukan kepadaku, mengenai putri kita Laras. Segitu bencinya kau kepadaku, aku juga berhak tahu mengenai keberadaan putriku," ujar Josh.


"Beritahukan ? bagaimana aku harus memberitahukan keberadaan putriku kepadamu, kau saja tidak tahu kabar beritanya?" Laras memandang Josh dengan perasaan yang terluka.


"Aku sedih, melihat putriku su.." Josh tidak melanjutkan ucapannya, tangannya menghapus air matanya.


"Aku juga sangat sedih Josh, kau tahu. Aisha saat kecil selalu bertanya tentang ayahnya, jika dia melihat anak-anak lain bersama dengan kedua orangtuanya. Sedangkan Dia, hanya aku yang berada di sampingnya."


"Aku kembali waktu itu, aku kembali !" seru Josh.


"Kau kembali? kembali kemana ?" tanya Laras.


"Aku kembali, tapi rumah yang kita tempati sudah tidak ada. Aku bingung, aku tidak tahu harus mencari dirimu kemana?" kata Josh dengan perkataan yang sedikit Inggris dan Indonesia saling bercampur.


Sedangkan nenek, hanya menjadi pendengar saja. Dia tidak mengerti apa yang diucapkan Josh dan Laras.


"Wis, apa yang mereka katakan?" tanya nenek dengan berbisik kepada Wisnu.


"Orang itu mengatakan, bahwa Dia kembali nek. Untuk bertemu ibu," kata Wisnu.


"Kembali, kembali kemana? batang hidungnya tidak kelihatan," ucap nenek.


"Waktu Dia kembali, katanya rumah yang mereka tempati bersama ibu Sudah rata. Mungkin waktu ada kebakaran itu nek, Dia kembali." Wisnu menterjemahkan apa yang dibicarakan Josh dan Laras.


Josh membuka tas yang yang dibawanya, dan mengeluarkan surat-surat perjalanan Waktu Dia berangkat ke Indonesia.


"Ini bukti, aku tidak berbohong ." Josh menyebarkan foto copy paspor dan tiket pesawat atas namanya.


"Josh, kau mendokumentasikan semua data perjalanan ?" Adam mengambil surat-surat tersebut dan melihatnya, semua lengkap didokumentasikan oleh Josh.


"Aku suka mengumpulkan semua tentang perjalanan ku ke setiap negara ," kata Josh.


"Laras, betul kata Josh. Dia kembali." Adam memberikannya kepada Laras , tetapi Laras tidak menerimanya. Wisnu yang menerimanya dan melihat berkas-berkas yang didokumentasikan Josh.


"Apa isi tulisannya Wis ?' tanya nenek.


"Dia berkata benar nek, Dia kembali ." bisik Wisnu.


"Laras, sudahlah. Tidak usah marah lagi, ini semua sudah takdir. Kita sudah tua, kita tidak tahu umur kita sampai kapan. Jangan ada benci lagi ." nenek berkata kepada Laras.


"Jadi mau kamu apa ?" tanya nenek kepada Josh.


"Saya ingin anak saya mengenal saya, dan mengetahui leluhurnya di Swiss ," kata Josh.


"Apa ? kamu mau membawa anakku Aisha !?" kaget Laras.


"No ! bukan membawa selamanya, aku ingin Dia mengenal saudara-saudaranya disana," kata Josh.


"Kalau soal itu aku tidak bisa memutuskan, kita tanyakan kepada Aisha," kata Laras.


"Kapan aku bisa menemuinya ?" tanya Josh.


"Bu, kapan ?" tanya Laras kepada ibunya.


"Kita hubungi Aisha ," kata ibu Laras.

__ADS_1


"Apa yang harus kita katakan kepadanya Bu ?"


"Nek, bagaimana jika kita katakan saja dulu kepada Richard," kata Wisnu.


"Boleh, begini saja. Nanti kami kabari, kapan bisa bertemu dengan Aisha," kata nenek.


"Terimakasih Bu, Laras ." nenek dan Larasati hanya menganggukkan kepalanya.


****


Aisha keluar dari dalam kamar mandi, dan dilihatnya. Richard tidak ada didalam kamar.


"Aman, mas say tidak ada." setelah memakai lip balm dan mengikat rambutnya keatas. Aisha keluar dari dalam kamar.


"Mana dapur ." Aisha mencari keberadaan dapur dengan mencium aroma masakan.


"Nggak sia-sia hidungku mancung."


Aisha menuju pintu yang ada didepannya, dan melihat dua orang wanita setengah baya sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


"Permisi," ujar Aisha kepada wanita tersebut.


"Nyonya, ada yang bisa saya bantu ?" tanya wanita yang lebih tua.


"Jangan panggil nyonya Bu." Aisha tidak terbiasa dengan panggilan yang aneh menurutnya.


"Kami biasa memanggil Mama Den Richard dengan Nyonya ."


"Panggil saya dengan Aisha saja Bu ," kata Aisha.


"Nggak boleh Nyah ."


"Terserahlah, yang pasti jangan Nyonya. Saya masih muda ," kata Aisha.


"Nama ibu-ibu siapa ?" tanya Aisha.


"Saya panggil saja Bi Rum, kerja saya itu bagian memasak," Bi Rum mengenalkan dirinya.


"Saya Bi Siti, saya bagian membersihkan rumah dan mencuci ," ujar Bi Siti.


"Banyak penghuni disini Bi ?" tanya Aisha.


"Nggak ada neng, disini aman. Tidak ada penghuninya disini, nggak usah takut." Bi Rum ngerocos terus.


"Hahahaha..!" Aisha tertawa, Dia tahu bahwa Bi Rum salah paham dengan ucapannya.


"Bibi, yang Aisha maksudkan. Bukan penghuni itu, tapi penghuni seperti kita ini ," kata Aisha.


"Hahaha !" Bi Rum dan Bi Siti turut tertawa.


"Lah bibi kira penghuni rumah yang menakutkan itu neng ," kata Bi Rum sambil tertawa.


"Kami ini semua pekerja dari rumahnya Nyonya besar neng, disuruh bekerja disini ," kata Bi Siti.


"Bibi berdua sudah lama bekerja disini ?" tanya Aisha.


"Turun-temurun neng, semua jadi pembantu disini ," kata Bi Rum.


"Bibi betah, tandanya boss bibi baik ya ?" selidik Aisha.

__ADS_1


"Sangat baik, apa lagi suamimu ini Asay ." terdengar suara dari belakang Aisha, dan pelukan hangat ketubuhnya.


"Mas say ." Aisha malu mendapatkan pelukan didepan para pekerja.


Bi Rum dan Bi Siti, pura-pura tidak melihatnya. Dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Mas say, lepaskan ." Aisha berusaha melepaskan pelukan Richard, tetapi pelukan Richard ketat. Seperti ada lem yang tidak bisa terlepas lagi.


Saat Aisha berusaha untuk melepaskan tautan tangan Richard diperutnya, terdengar suara ribut dari luar.


"Assalamualaikum..spada..!" teriakkan dari luar membuat Richard melepaskan pelukannya.


"Kenapa bocah itu, pagi-pagi sekali sudah datang kerumah orang?"


"Hai Om dan Tante ku yang tercantik!" seru Alana dan langsung memeluk Aisha.


"Apa kau tidak ada kerjaan, selain menganggu pengantin baru?" tanya Richard kepada keponakannya Alana.


"Al, rindu Aisha Om ," ujar Alana.


"Bukannya semalam kalian terus bersama ?"


"Hehehe..Om, jangan galak-galak. Aish, coba kau berjalan ." Alana mundur beberapa langkah, dan memerintahkan Aisha untuk berjalan menuju dirinya.


"Untuk apa ?" tanya Aisha yang heran dengan permintaan Alana.


"Lakukan saja seperti yang kukatakan ?" kata Alana.


"Al, jangan yang aneh-aneh," ujar Richard kepada Alana.


"Nggak aneh Om, ayo Aish. Cepat jalan." perintah Alana.


"Apaan, kau sungguh aneh ." Aisha berjalan mendekati Alana, sedangkan Alana menatapnya dengan tatapan yang tajam dan tanpa berkedip.


"Sudah ?" tanya Aisha, begitu sampai ketempat Alana berdiri.


"Aish ." Alana menarik tangan Aisha dan membawanya menjauhi Richard.


Sedangkan Richard hanya melihat Aisha dan Alana, Dia tahu kenapa Alana menyuruh Aisha untuk berjalan mendekati dirinya berdiri.


"Aish, kau belum itu..?" tanya Alana dengan berbisik.


"Itu, apa ?" tanya Aisha yang tidak paham apa yang dikatakan Alana.


"Itu...!" ulang Alana lagi.


"Itu..itu..itu apa, kalau bicara yang jelas!" seru Aisha dan suaranya didengar Richard.


"Asay, Alana ingin punya sepupu ," kata Richard.


"Asay, siapa Asay ?" tanya Alana.


"Itu panggilan kesayangan kami ," kata Richard.


"Idih..mesra !"


"Aish, kapan kau kasih sepupu ?" tanya Alana.


"Huh..kau ini, apa tidak ada pertanyaan yang lain ," ujar Aisha yang malu dengan pertanyaan Alana.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2