
Richard menarik kursi dan duduk disamping Alana, matanya menatap Alana dengan sangat dalam.
"Om, kenapa lihat Alana segitunya ," ucap Alana kepada Richard yang masih menatapnya.
"Om ingin lihat, apa dimatamu ini tidak ada rasa cinta terhadap anak itu lagi ?" tanya Richard.
"Om, dia yang membuat Alana hampir kehilangan nyawa," ucap Alana dengan suara yang ketus.
"Apa dia yang mengemudi yang menyebabkan Alana begini?" tanya Richard.
"Tidak ! tapi perselingkuhan dia yang membuat Alana kecelakaan ."
"Al, kau harus mendengarkan penjelasan dari mulutnya. Jangan menilai apa yang terlihat, mungkin saja itu tidak seperti yang kau bayangkan."
Alana diam
"Apa aku harus mendengarkan cerita Dony ." dalam benaknya Alana.
"Cepat selesai masalah kalian, jangan sampai berlarut-larut. Nanti ada pihak ketiga yang masuk dan menambah cerita yang tidak benar." Richard berdiri, dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.
"Om mau kemana ?" tanya Alana, karena melihat Om Richard nya berdiri.
"Pulang."
"Om tidak nginap disini ?" tanya Alana.
"Om besok ada tugas keluar kota, kenapa ?"
"Al bosan dirumah terus ." rengek Alana, agar Om Richard nya mau menginap dirumahnya.
"pulang dari luar kota om akan nginap disini, ok ."
"Janji ."
"Iya janji, biasanya ada temannya. Kemana mereka berdua ?"
"Cie.. Om mau tanya Aisha ya ." goda Alana kepada omnya.
"Di rumah sakit mereka terus ada bersama mu," kata Richard.
"Aisha sibuk kuliah, dan Mayang kerja," kata Alana.
"Nanti jika tidak sibuk, Om akan sering kesini ." Richard mengecup pucuk kepalanya Alana sebelum Pergi.
****
Wisnu mengangkat satu demi satu koper yang berisi baju dan buku-buku Aisha, sedangkan Aisha masih seperti tadi tidur.
"Ais.." ibunya membangunkannya tetapi Aisha tidak merespon.
"Tidak bangun ?" tanya nenek kepada Larasati.
__ADS_1
"Tidak Bu, Laras jadi khawatir," ucap ibu Aisha melihat Aisha tidak merespon semua panggilannya.
Wisnu masuk kembali kedalam kamar Aisha setelah mengantarkan Koper masuk kedalam mobilnya.
"Ada apa Bu ?" tanya Wisnu.
"Aisha tidak mau bangun," kata nenek.
"Kita gendong saja Bu ," ucap Wisnu.
"Apa barang-barang sudah masuk kedalam mobil semua ?" tanya nenek.
"Sudah nek, Bu kunci pintu dan jendela. Jangan sampai kelupaan ," kata Wisnu.
Larasati bangkit dari duduknya disisi ranjang Aisha, dan berjalan menuju dapur untuk memeriksa semua jendela dan pintu.
"Sudah semua ," kata Larasati.
Wisnu mengangkat Aisha dan membawanya masuk kedalam mobilnya.
"Apa kita tidak perlu bilang ketetangga ?" tanya nenek dan melihat kerumah tetangga disebelah kanan dan kirinya rumah Larasati.
"Orangnya pada pergi Bu, nanti Laras bilang melalui ponselnya saja ," ucap Laras dan masuk kedalam mobil, pahanya menjadi bantal Aisha untuk tidur.
Dengan perlahan-lahan, mobil membawa Aisha meninggalkan rumah tempat dia lahir hingga besar.
Tidak ada yang tahu kepergian Aisha dan ibunya, hanya gelapnya malam yang mengantarkan kepergiannya. Membawa duka dan derita.
Tangan Larasati mengelus rambut Aisha, dan air matanya mengalir jatuh menimpa rambut Aisha.
"Laras, Aisha tidak akan apa-apa ," kata nenek dari depan.
"Siapa yang mau menikahinya Bu ." tangis Larasati keluar, bersamaan dengan air mengalir dari kedua sudut bola matanya.
"Tidak usah dipikirkan itu Larasati, kita tidak tahu apa dia .." nenek menghentikan ucapannya, dia tidak tega mengucapkan kalimat itu. Dia berharap bahwa hal itu tidak terjadi.
Wisnu mengemudi mobil dengan cepat, tangannya menggenggam stir mobilnya dengan erat dan terlihat raut wajahnya yang ketat. Menandakan dia berusaha untuk menahan amarahnya.
"Aku akan menyelidiki ini semua, akan kubalas orang itu dengan tanganku sendiri ." monolog dalam benaknya Wisnu.
"Wisnu ." nenek melihat rahang Wisnu mengetat, dan genggaman tangannya disetir mobil yang sangat erat.
"Wisnu, bawa bertenang. Perjalanan kita masih jauh, jangan nanti kita berakhir dirumah sakit. Kita harus menjaga Aisha, tidak ada yang boleh sakit ," ucap nenek dengan memberikan tepukan dilengan Wisnu.
Wisnu menoleh sebentar kearah belakang, dilihatnya Aisha masih tidur.
Wisnu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Rafa, sebentar lagi kami tiba di yayasan." Wisnu memutuskan hubungan teleponnya setelah memberikan pesan kepada orang yang disebutnya dengan nama Rafa.
"Kenapa Rafa kau suruh datang Wisnu ?" tanya nenek.
__ADS_1
"Kita tidak tahu Nek, apa yang terjadi pada Aisha saat dia bangun nanti," kata Wisnu.
"Apa dia akan histeris seperti tadi Wisnu ?" tanya Larasati.
"Wisnu juga belum yakin Bu, makanya Rafa kita butuhkan," jawab Wisnu.
"Kemungkinan Aisha mengalami trauma sangat besar, kalau dilihat saat dia terbangun tadi ," kata Wisnu.
"Aisha..," ucap ibunya, begitu mendengar perkataan Wisnu yang mengatakan Aisha mengalami trauma.
"Aku tidak bisa melihat Aisha seperti tadi Bu, apa yang terjadi kepada anak Laras Bu. Kenapa ini menimpa kami ." Larasati mencium rambut Aisha, dan air bening jatuh kerambut Aisha yang berasal dari Maya ibunya.
Wisnu dan nenek tidak bisa berkata apapun lagi, pandangan mata mereka kosong menatap jalan raya menuju desa mereka yang lengang.
****
Mobil Gaby berhenti dibelakang mobil yang sudah terparkir sedari tadi, Gaby membuka pintu mobilnya dan turun. Dan dari mobil yang didepannya juga turun seorang pria yaitu Ragil.
"Mana ?" tanya Gaby.
"Mana sisa pembayaran ," kata Ragil kepada Gaby.
Gaby mengeluarkan amplop dari tas kecil yang dibawanya.
"Ini, serahkan dulu gambarnya," ucap Gaby.
"Ini ." Ragil menyerahkan amplop yang dipegangnya, begitu juga dengan Gaby menyerahkan amplop berisi uang kepada Ragil.
Setelah masing-masing memegangnya, Ragil melihat isi yang diberikan Gaby. Begitu juga dengan Gaby melihat hasil kerjaan Ragil.
Melihat hasil kerjaan Ragil senyum lebar merekah dari bibirnya yang merah, tetapi tiba-tiba senyumnya memudar.
"Kenapa tidak ada gambar dia tidur dengan seorang pria ?" tanya Gaby kepada Ragil.
"Nona, apa kau mau ketangkap. Jika mereka mengadu ke polisi dan mencari pria yang ada di foto itu, kita akan diciduk Nona ." alasan Ragil kenapa tidak mengambil gambar Aisha tidur dengan seorang pria.
"Benar juga ya, bisa-bisa aku ketangkap ." dalam benaknya Gaby.
"Ya sudah, ini juga sudah cukup. Lihat pembalasanku Alana, teman baikmu sekarang yang akan menderita. Dia sekarang sudah sembunyi dilubang tikus, ha...ha..," kata Gaby sambil tertawa ngakak, membuat Ragil yang masih berada ditempat menjadi heran.
"Sudah gila," ucapannya sambil masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan Gaby yang tertawa sendiri yang sedang gembira.
"Sekarang aku yang menang, sainganku anak yang tidak tahu asal-usulnya sudah hilang." Gaby masih tertawa sendiri dalam gelap, dan hanya ditemani suara binatang malam.
"Nanti malam, tidurku akan nyenyak. Aku akan kirim gambar ini kepada temanmu terlebih dahulu Aisha. Moga saja dia akan mengalami serangan jantung dan akan mati ," kata Gaby sambil menjalankan mobilnya.
"He..he jangan mati ah..! nggak asik, aku ingin melihat dirinya menangis melihat nasib sahabatnya tersebut gila."
**Bersambung
Slow update ya, maklum author tidak bisa begadang.
__ADS_1
kakak-kakak reader juga harus jaga kesehatan, baca novel boleh tapi jangan sampai lupakan kesehatan.
Novel ini terus ada di platform, tetapi kesehatan jika tidak dijaga akan berbahaya**.