Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 43 Aisha menghilang


__ADS_3

Jumpa lagi dengan Author yang suka membuat cerita dengan alur yang ribet..


***


Alana sudah mulai belajar berjalan dengan mengunakan tongkat.


"Al, sekarang coba lepaskan tongkatnya ." perintah Mayang.


"Ah.. nanti aku jatuh ," ucap Alana, menolak untuk melepaskan tongkat yang membantunya berjalan.


"Tidak akan jatuh Al, aku akan berada dibelakang mu. Ayo Alana ," kata Mayang.


"Betul ya, kau harus menjaga ku." Alana sedikit demi sedikit mulai melepaskan tongkatnya , dan kakinya mulai menahan beban tubuhnya.


"Masih sakit ." ringis Alana menahan nyeri dikakinya yang di gibs.


"Ayo Al, gunakan kakimu ," ucap Mayang.


"Masih sakit ," kata Alana.


"Ok, diam saja. jangan berjalan untuk saat ini. Biar kakimu terbiasa dengan beban badanmu."


"Sudah ya May, aku capek sekali ," kata Alana.


"Ok." Mayang menyerahkan tongkatnya kembali kepada Alana.


"Lucu ya lihat kakiku satu besar dan satu lagi kecil ." ucap Alana sembari memperhatikan kedua kakinya.


"May, apa kakiku akan panjang sebelah ?" tanya Alana dengan wajah yang serius.


"Ha..ha..kau kira kakimu bisa elastis, panjang-pendek sesukanya ." ngekeh Mayang.


"Kakiku tidak akan cacat kan?" tanya Alana, masih memperhatikan kakinya dengan seksama.


"Tidaklah ! kakimu patah, bukan lepas ."


"May, kau sudah tahu kabar Aisha. Sudah seminggu aku tidak bisa menghubungi dirinya ?" tanya Alana.


"Aku juga belum dapat kabar, apa ada masalah dengan ibunya. Aku datang kerumahnya, dan rumahnya juga dalam keadaan sepi," kata Mayang.


"Apa dia pulang ke kampung ?" ujar Alana.


"Mungkin juga, tetapi kenapa ponselnya tidak aktif ?" tanya Mayang, dan keningnya berkerut karena berpikir.


"Coba aku tanya David, mungkin saja dia tahu ?" Alana mencari-cari ponselnya.


"Tidak usah kau tanyakan pada dirinya, dia juga tidak akan tahu. Waktu aku kerumah Aisha, dia ada disana mencari Aisha. Dia seperti kita tidak bisa menghubungi Aisha juga," kata Mayang.


"Pasti Aisha pulang ke kampung, apa neneknya sakit ?"


"Daerah mana kampungnya ?" tanya Mayang.


"Nah..itu aku tidak tahu, tidak pernah kutanyakan ?" kata Alana.


"Kepada siapa harus kita tanyakan ?" ujar Alana.


"Pada Siapa ?" tanya Mayang sambil bertopang dagu dan berpikir.


"Ah.. kenapa aku lupa, orangtuanya Dony berteman dengan ibunya Aisha. Kenapa tidak bertanya kepadanya saja." Alana mengambil ponselnya dan menekan nomor Dony, tak kemudian Dony menjawabnya.


"Apa sayang, sudah rindu ya ," jawab Dony dari seberang teleponnya.


"High..ngapain rindu, baru ketemu semalam," ucap Alana.


"Tapi aku rindu ," kata Dony.


"Aku tidak tuh..," balas Alana.

__ADS_1


"Hih..!"


"Sudah cukup rindu-rindu, Dony. Aku ingin tahu apa kau tahu kampung Aisha ?" tanya Alana.


"Ini pertanyaan kedua pada hari ini yang bertanya padaku, menanyakan tentang Aisha ," ucap Dony.


"Siapa lagi ?" tanya Alana.


"David ," jawab Dony.


"Ada apa dengan Aisha ?" tanya Dony.


"Aisha tidak ada kabar, ponselnya juga tidak aktif ," kata Alana.


"Kemana dia?" tanya Dony.


"Kami juga tidak tahu, apa dia pulang kampung. Mungkin neneknya sakit, apa kau tahu kampung Aisha ?"


"Aku juga tidak tahu, mungkin mama tahu. Tapi mama ikut papa pergi keluar kota , nanti aku coba tanyakan," kata Dony.


"Nanti jika kau sudah tahu alamatnya, cepat beri kabar ya ," kata Alana.


"Baik sayang ," ucap David.


"Sudah ya, aku mau meneruskan latihan jalan," kata Alana dan ingin memutuskan sambungan teleponnya.


"Yang.. jangan putuskan dulu, aku masih mau ngobrol ." Dony melarang Alana memutuskan sambungan teleponnya.


"Aku mau latihan, bye..." Alana langsung memutuskan sambungan teleponnya, tanpa mendengarkan ucapan Dony lagi.


"Al, kamu itu tidak ada mesra-mesranya bicara dengan cowokmu ya," kata Mayang.


"Dia sibuk kerja dan aku juga sibuk dengan latihan jalan."


"Alamat Aisha, nanti dia akan tanyakan kepada mamanya ." sambung Alana.


Alana menerima surat tersebut, dan membolak-balik amplop tersebut.


"Tidak ada nama pengirimnya, Bu. Siapa yang ngirimkan ?" tanya Alana.


"Nggak tahu Non, pak satpam yang ngasih ke ibu tadi ," jawab Bu Sira.


"Buka aja, mungkin dalamnya ada segepok uang ," kata Mayang.


"Siapa yang ngirim uang dalam amplop ." Alana merobeknya dan mengeluarkan isi amplop tersebut keatas pangkuannya.


isi amplop jatuh keatas pahanya dan ada juga jatuh kelantai.


"Apa ini !? " Alana kaget dan matanya terbelalak melihat apa yang ada diatas pahanya.


"Aisha !"


Mayang bangkit dan mengambil gambar yang jatuh kelantai, seperti Alana. Dia juga kaget menatap gambar tersebut, tangannya meremas gambar tersebut sehingga tidak terbentuk lagi berada dalam genggaman tangannya.


"Apa-apaan ini ?" ucap Mayang dan mengambil gambar yang ada diatas pangkuan Alana.


"Aku tidak tahu ," jawab Alana, mereka saling menukar pandangan.


"Apa ini yang membuat Aisha menghilang ?" tanya Alana.


"Coba lihat, apa ada surat didalamnya ?" kata Mayang.


Alana memasukkan jemarinya kedalam amplop, dan mengeluarkan sepucuk surat dari dalam amplop.


Alana dan Mayang membaca surat tersebut, mereka marah begitu selesai membacanya.


"lihat, keadaan temanmu. temanmu sudah hancur, temanmu sudah tidak suci lagi. Terima pembalasanku, ha..ha..Dan jangan lapor polisi, gambar temanmu akan aku sebarkan.

__ADS_1


"Siapa yang melakukannya ?" tanya Mayang, begitu mereka selesai membaca surat tersebut.


"Aku tidak tahu ," kata Alana yang dengan suara yang sedih.


"Kalau menurut surat ini, sepertinya orang ini mengenal kalian berdua," kata Mayang.


"Apa yang terjadi dengan Aisha, siapa yang melakukannya ? Mayang. Aku ingin bertemu Aisha ," ucap Alana sambil menatap Mayang, dan matanya sudah berkaca-kaca. Dan dia berusaha untuk bangkit tanpa menggunakan tongkatnya.


"Al, jangan gegabah ." Mayang menyuruh Alana untuk duduk kembali.


"Aku ingin mencari Aisha ," ucap Alana .


"Dengan kaki yang masih begitu ." tunjuk Mayang kekaki Alana.


"Kemana kita mencarinya, apa kau tahu ?"


"Oh.. shit..!" Alana mengeluarkan umpatan dan tangannya terkepal.


"Aku tahu siapa yang melakukannya, hanya dia yang membenci kami !" seru Alana, saat tiba-tiba dia mengingat nama seseorang yang muncul dalam pikirannya.


"Siapa ?" tanya Mayang.


"Gaby, pasti dia. Aku tidak akan melepaskan dirinya," ucap Alana dengan penuh emosi.


"Telepon dia ," kata Mayang.


"Aku tidak ada nomor ponselnya ," kata Alana.


"Shit..!" keluar dari mulut Mayang.


"Apa Aisha, seperti yang dituliskan dalam surat ini?" tanya Alana dengan suara yang bergetar, Alana yang biasanya sangar. Sekarang tiba-tiba berubah menjadi pendiam dan terlihat dari raut wajahnya yang khawatir.


" Kita harus melaporkan orang itu Al ," kata Mayang.


"Apa yang harus kita laporkan ?" tanya Alana.


"Inilah.." tunjuk Mayang kepada gambar-gambar Aisha.


"Kita harus ketemu dengan Aisha dulu ," kata Alana.


"Aku akan hubungi om Richard ." Alana mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Om Richard.


"Om, Al butuh bantuan Om," ucap Alana sambil menangis.


"Al, apa yang terjadi ?" tanya Richard yang mendengar suara Alana yang menangis dari sambungan telepon.


"Tolong Al Om ." tangisan Alana makin kencang.


"Ada apa Al, mama mana ?" tanya Richard.


"Ini bukan mengenai Al Om, tapi ini mengenai teman Al," ucap Alana sambil tersedu-sedu.


"Iya..iya.. Om akan datang, tapi tidak sekarang. Om lagi dalam perjalanan menemui client, sekarang Al bersama siapa dirumah ?"


"Ada Mayang Om ," jawab Aisha .


"Sudah jangan nangis, Om akan tiba secepat nya," ucap Richard dan sambungan teleponnya terputus.


"Bagaimana ?" tanya Mayang .


"Om Richard akan datang ."


**Bersambung...


Dalam kehidupan nyata sering terjadi bullying dan teman yang menjual teman sendiri.


Stop bullying**..

__ADS_1


__ADS_2