Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Tak Asing


__ADS_3

Happy reading


"Yakin mau pulang?" tanya Satya pada Clara.


Yah, mereka baru saja selesai bermain di pasar malam. Yang lokasinya sama dengan sang Galaksi dan Viola tadi.


"Iya kak, udah malam nih. Takut orang rumah khawatir, aku jarang keluar soalnya," jawab Clara dengan nada tak enak.


"Maaf ya kak."


"Gak apa-apa kali dek, aku juga seneng bisa ajak kamu jalan."


Mereka berdua berjalan keluar dari pasar malam itu dengan tangan yang saling menggandeng. Tak tahu siapa yang awalnya menggandeng tapi yang pasti pegangan itu terasa hangat bagi mereka.


"Kamu mau makan apa dulu gak dek? Nanti Kakak beliin?" tanya Satya pada Clara.


"Emm gak usah kak, langsung pulang aja."


"Bener gak mau beli apa gitu?" tanya Satya dan dianggukkan oleh Clara.


Akhirnya mereka berlalu menuju motor mereka, Clara naik dan Satya mulai menjalanlan motor itu keluar dari area pasar malam.


Tanpa sadar Clara mulai melingkarkan tangannya di perut Satya. Sedangkan pria itu mengulas senyumnya saat merasa tangan hangat itu melingkar pada perutnya yang tertutup kaos.


"Yang erat pegangnya, aku gak mau kamu jatuh. Kasihan asalnya," ujar Satya dengan canda. Sedangkan Clara yang mendengar itu cemberut.


"Harusnya kasihannya tuh ke aku bukan ke aspal. Duh gak peka banget jadi cowok," ucap Clara dengan ketus.


"Hahaha!! Aku cuma bercanda dek, ya pasti kasihan ke kami lah. Aku gak mau badan kamu yang mulus itu lecet karena jatuh dari motor butut ini," ujarnya dengan tawa yang tentu saja membuat kecemberutan Clara tadi berubah menjadi senyum malu.


"Jangan gitu nanti aku baper," gumamnya tapi masih bisa di dengar oleh Satya, karena Satya tak memakai helm walau suasananya dingin.


"Andai kamu tahu Ra, aku seneng banget bisa jalan berdua gini sama kamu," ucapnya dalam hati.


Clara adalah wanita pertama yang ia cintai, mungkin ini akan selamanya. Bahkan dulu tak terlintas dalam pikirannya untuk menyukai seorang cewek karena yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana mencari uang agar bisa lebih cukup untuk Ibu dan Adiknya (Nana).

__ADS_1


Tapi kini ia sudah bisa membeli motor dengan uangnya, bekerja dari perusahaan Ryano, sisa gajinya juga ada yang di tabung. Ia sangat berterima kasih kepada sepupunya karena sudah diberikan pekerjaan yang bagus. Walau awal awal terasa sulit karena harus lembur dan jauh dari keluarga. Tapi sekarang malam adalah hidupnya untuk pulang.


Dengan lembur ia dapat menambah gaji bulanannya. Kehidupannya juga sudah mulai tertata sejak saat itu.


Tak terasa sudah sampai di depan gerbang besar itu, Clara turun dari motor metic itu. Tapi sebelum itu ia melihat wajah Satya yang juga menatapnya.


"Makasih udah ajak Clara ke pasar malam, sumpah disana tadi asik banget. Kapan kapan aku ajak Nana buat kesana," ujarnya dengan senyum.


"Nana lagi sibuk cari kerja, makanya jarang chat atau telepon kamu," jawab Satya merapikan anak rambut Clara yang tak teratur.


"Lah dia kok gak bilang, tahu gitu aku bisa bantu cariin," ujarnya dengan senyum malu.


"Dia ingin berusaha sendiri, aku sudah pernah menawarinya untuk bekerja di perusahaan walaupun dibagian OG tapi dia tetap gak mau," jawabnya kembali pada posisinya.


"Udah biarin aja, mungkin dia ingin cari suasana baru," tambahnya saat melihat raut wajah Clara yang terlihat kesal.


"Tapi harusnya dia bilang sama aku," ujarnya tak terima.


Apa selama ini Nana tak bisa menganggapnya sebagai seorang sahabat yang bisa berbagi cerita dengannya? Apa ia tak bisa di andalkan untuk hal ini. Padahal ia bisa membantu Nana walau hanya sedikit.


Clara yang mendengar itu terenyuh, dia menatap Satya yang sedikit sendu setelah menceritakan itu. Terbesit rasa bersalah dalam hatinya karena ini.


"Maaf kak, aku gak bermaksud untuk mengungkit masa lalu kakak," ucap Clara dengan tak enak.


Sedangkan Satya yang melihat itu dengan senyum lalu menggeleng. Ia tak apa, hanya sedikit sedih mengingat masa masa kelamnya dulu.


"Udah dingin, masuk gih. Aku gak mau kamu sakit gara-gara kelamaan di luar."


"Kakak usir aku?" tanya Clara menatap Satya yang langsung panik akan ucapan Clara.


"Enggak dek, kakak gak maksud buat ngusir kamu. Aku cuma gak mau kamu sakit udah itu aja, jangan marah ya," ujarnya dengan lembut.


"Hehe iya aku tahu, aku gak marah. Makasih udah khawatirkan aku," jawab Clara menatap Satya.


"Heem."

__ADS_1


Setelah itu Clara berlalu menuju gerbang dan melambaikan tangan pada Satya dan dibalas lambaian tangan oleh Satya.


Setelah memastikan Clara masuk, Satyapun keluar dari area perumahan besar itu dengan senyum mengembangkan.


Tanpa disadari jika Viola dan Galaksi juga melihat apa yang mereka lakukan dari jauh.


"Sepertinya itu adalah cowoknya Clara deh," ucap Viola seraya memakan pentol ekstra pedas pesanannya tadi.


"Apa iya yank, tapi kok pake motor sih!"


Viola yang tak suka dengan ucapan suaminya itu mulai menyumpal mulut Galaksi dengan pentolan yang sudah berwarna merah karena sambal itu.


"Asshh sayang kenapa kamu kasih pentol setan itu sih ke mulut aku. Pedas nih," ujarnya dengan paksa memakan pentol itu. Karena Viola tak suka jika ada orang yang membuang-buang makanan.


"Pertanyaan kamu itu seperti orang yang sedang merendahkan. Aku gak suka suami aku membedakan bedakan orang. Mau orang itu pakai mobil, motor, bahkan becak sekalipun. Yang harus dilihat itu hati dan ketulusannya. Bukan apa-apa, aku gak mau anak-anak nurun sikap kamu yang kayak gini!"


"Aku gak suka!!"


Nafas Viola terengah saat mengatakan hal itu, sungguh ia tak mau suaminya menilai orang hanya dari hartanya saja.


"Aku hanya tanya sayang, bukan maksud merendahkan."


Rayu Galaksi ia tak mau membuat istrinya marah, benar niat hatinya bukan untuk merendahkan cowok tadi tapi ia merasa tak asing dengan cowok itu.


"Aku gak mau kamu marah, aku juga gak merendahkannya kok yank."


Alhasil berhasil, Viola malah melengos seraya memakan pentolnya.


Galaksi yang melihat itu hanya bisa menghela nafasnya kasar saat melihat istrinya tak mau menjawabnya itu. Dengan paksa ia melajukan mobilnya menuju rumah utama.


"Kenapa rasanya tak asing ya, aku pernah bertemu dia tapi dimana?" tanyanya dalam hati.


"Aku akan membiarkan hubungan mereka mengalir begitu saja, tapi jika laki-laki itu membuat sakit hati Clara. Dia harus berhadapan denganku," lanjutnya masih dengan batin.


Sampainya di rumah, Viola membuang sampah plastik itu dan berlalu begitu saja menuju tempat sampah meninggalkan Galaksi yang masih ada di belakangnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2