
Happy reading
Di jalan Clara masih saja diam memikirkan tentang cincin yang ada di tanganya kini. Walau sudah dilepas tapi tetap saja ia merasa bersalah karena sudah membuat Satya mengeluarkan begitu banyak uang untuk cincin ini.
"Kenapa diam aja sayang, biasanya kamu paling heboh kalau habis beli beli."
"Maaf ya, Ay. Aku banyak ngerepotin kamu, karena cincin ini kamu banyak keluar uang," jawab Clara dengan nada sendu.
Satya yang melihat pacarnya akan menangis itu mulai menepikan mobilnya dan mulai memeluk tubuh Clara dengan lembut.
"Sudahlah aku tak apa, lagipula aku punya uang untuk membelikan kamu cincin ini. Aku mau yang terbaik buat kamu," ujar Satya mengelus lembut rambut pacarnya.
Bukannya sombong, tapi memang setelah bekerja keuangan Satya dan keluarga sudah membaik. Bahkan Satya sudah membelikan sepeda motor keinginan Nana sendiri, dan Ibunya juga sudah tak perlu lagi keliling mencari pakaian kotor.
"Lain kali yang murah aja ya, aku gak mau kita terlalu boros. Belum menikah saja aku sudah banyak membebanimu apalagi jika nanti kita sudah menikah. Pasti kebutuhan kita tambah banyak. Kalau banyak uang kita tabung aja oke."
"Iya sayang, apapun untuk kamu."
"Oh ya, setelah ini aku mau ajak kamu ke suatu tempat," ujar Satya menggenggam tangan Clara dengan lembut.
"Kemana?" tanya Clara degan penasaran.
"Nanti juga kamu tahu. Simpan dulu cincinnya, aku gak mau kedua cincin itu hilang," ujar Satya pada Clara dan wanita itu meletakkan kotak cincin berwarna merah itu ke dalam tasnya yang pasti sudah sangat aman.
***
Setelah mengambil kalung pesanan tadi itu, Galaksi kembali ke kantor. Karena hari ini ada meeting sekitar jam 1 siang, untung ada Reno yang siap membantunya saat Satya izin.
Sampainya di kantor ternyata masih ada 10 menit untuk persiapan. Untungnya tadi ia sudah makan siang di luar jadi perutnya tak kosong. Lagipula ia tak akan lupa makan siang karena ibu negara sudah berulang kali mengirimnya pesan untuk segera makan siang.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," Galaksi yang sedang mengamati kalung untuk istrinya itu kembali memasukkannya dalam kotak.
"Meeting sudah siap, Tuan."
"Hmmm, aku akan segera kesana."
Reno mengangguk dan menunduk sopan kemudian keluar dari ruangan itu. Galaksi yang sudah siap itu langsung bangkit tak lupa ia mencium foto sang istri yang ada disana.
Galaksi sampai di tempat rapat, hingga semua sudah siap akhirnya rapat dimulai.
Galaksi tak cukup banyak memberikan penjelasan karena semua sudah di jelaskan oleh Reno.
Galaksi hanya menambah sedikit tentang apa yang di tanyakan oleh mereka.
Setelah rapat selesai, Galaksi mulai menjabat tangan rekan bisnis mereka satu persatu.
__ADS_1
Kini hanya tinggal Galaksi sendiri di ruangan itu, saat ia hendak bangun tiba tiba ponselnya berdering.
"Panjang umur banget istri gue," gumamnya menatap nama kontak istrinya di ponsel.
Tanpa menunggu lama, Galaksi langsung mengangkat panggilan video dari Viola.
Dan terlihatlah anak-anak saja yang masih bersandar di dekat ranjang tangan sangat empuk itu.
"Halo sayang, anak anak Daddy lagi ngapain?" tanya Galaksi pada anak-anaknya.
Saat Bima dan Bima mendengar suara Dadanya mereka lantas mencari dimana keberadaan Daddynya.
"Dyy...."
"Sayang, Daddy ada disini," ucap Viola memperlihatkan wajah suaminya yang ada di ponsel.
Viola mulai memangku kedua anaknya di paha kanan dan kiri yang bersandarkan badannya. Untung dia bisa kalau tidak jatuh sudah anak anak itu.
"Dyyy..."
Rengekan Bisma seolah ingin bersama Daddynya begitupun dengan Bima yang selalu memanggil nama ayahnya.
Di usianya yang baru 3 bulan, Bima dan Bisma sudah bisa mengucap Dyy, Myy, Ma, Pa. Karena itu yang selalu mereka dengar. Ajaib memang anak anak mereka ini, yang harusnya hanya berceloteh Ah dan Oh tapi mereka sudah bisa mengucapkan 4 kata itu bahkan lebih.
"Kenapa Mom?" tanya Galaksi pada Viola yang tampak mengurus kedua buah hati mereka di kamar.
"Anak anak selalu panggil kamu, Dad. Sambil nunjuk foto pernikahan kita. Mungkin mereka kangen Daddynya," jawab Viola mengecup kepala kedua buah hatinya.
"Kangen Daddy, makanya cepat pulang," jawab Viola tanpa malu.
Walau sebenarnya ia tak terlalu rindu dengan suaminya tapi entah kenapa hal itu terceletuk.
"Tunggu ya Mom, Daddy masih ada kerjaan. Mungkin nanti jam 4 baru Daddy pulang," jawab Galaksi dengan lembut.
"Iya, Daddy yang semangat kerjanya. Abang sama Adik tungguin loh ya," ucap Viola membahasakan anak-anaknya.
"Iya sayang. Kalian juga yang pintar di rumah jangan susahin Mommy sama Embak ya."
"Siap Dad."
"Daddy juga jangan nakal, kalau makalah nanti Abang sama Adik marah loh."
"Pasti sayang."
"Oh ya Mom, anak-anak gak rewel kan? Gak buat kamu capek kan?" tanya Galaksi pada istrinya.
"Enggak kok, seperti biasa," jawabnya dengan senyum manis.
__ADS_1
Ia menatap suaminya dengan senyum kemudian menatap anak anaknya yang sangat anteng mendengar perbincangan kedua orang tuanya.
"Dyy...."
"Iya Bang kenapa?" tanya Galaksi pada Bima.
"Dyyy..."
"Dyy..."
Ucapan mereka berdua saling beradu hingga membuat Galaksi dan Viola tersenyum mendengarnya. Hidup Galaksi makin berwarna lagi setelah hadirnya anak-anak lucu dan imut ini.
"Anak anak kangen Mas, mungkin karena tadi pagi kamu gak kecup dan pamit sama mereka," ucap Viola.
Bukannya mengapa Galaksi tak pamit pada anak-anaknya seperti biasa. Karena pagi ini kedua anaknya masih terlelap dengan nyamannya di kasur setelah membuat Galaksi dan Viola begadang semalaman.
"Kan tadi pagi mereka masih tidur," jawabnya dengan lembut. Seakan tak mau disalahkan.
"Iya aku tahu kok," jawabnya dengan lembut.
Galaksi keluar dari ruang rapat itu dengan VC yang masih menyala. Viola juga sudah memindahkan anak anaknya ke kasur agar lebih nyaman.
Galaksi yang sudah sampai di ruangannya itu langsung duduk dan menyadarkan ponsel di di sebelah laptopnya. Agar ia bisa bekerja dan mengamati istri dan anak-anaknya.
"Kami ganggu Daddy kerja ya?" tanya Viola dengan nada yang berbeda.
Yah Viola seperti mengganggu suaminya yang sedang bekerja. Dengan ia melakukan panggilan Video dengan suaminya. Padahal Galaksi sama sekali-kali merasa terganggu malam ia senang karena istrinya bisa menemaninya saat ia sedang bekerja walau lewat video call.
"Enggak kok Mom, Daddy malah senang Mommy video call seperti ini. Kalau bisa Mommy yang langsung kesini."
Mendengar jawaban suaminya cukup membuat Viola ikut tersenyum. Tapi tetap saja ia merasa bersalah jika nanti malah menganggu konsentrasi suaminya dalam bekerja.
Akhirnya ia memilih diam seraya mengelus rambut halus anak-anaknya yang tampak sudah sedikit panjang dan lebat.
Galaksi sempat bingung kenapa istrinya diam tapi setelah mengingat percakapan mereka beberapa menit yang lalu Galaksi sadar jika sang istri merasa bersalah.
"Twins udah tidur yank?" tanya Galaksi.
"Belum Mas, mereka masih melek aja sampai sekarang."
"Nanti kamu mau dibawakan apa kalau aku pulang?" tanya galaksi pada sang istri.
"Martabak manis komplit," jawabnya dengan cepat.
"Oke untuk kali ini aku kabulkan tapi tidak untuk waktu dekat."
"Siap komandan."
__ADS_1
Galaksi hanya menggeleng melihat tingkah istrinya yang sangat suka dengan yang namanya martabak dengan toping yang melimpah.
Bersambung