
Happy reading
Galaksi membanting tubuhnya di kasur yang dulu dia dan Viola gunakan untuk bercinta seminggu yang lalu. Aroma pacarnya masih melekat dalam kamar itu bahkan ada foto dirinya di kamar itu.
Pikirannya bercabang sekarang. Viola yang kini ada di rumah Reno, kasus pembullyan Clara, keinginannya untuk segera memiliki Baby, restu orang tuanya.
"Rindu deh, dia lagi apa ya?" gumamnya menatap ponselnya yang terdapat foto pacarnya yang ia gunakan sebagai wallpaper.
Galaksi memanggil nomor ponsel sang pacar dengan seny, setelah panggilannya tersambung mereka berbincang melepas kangen Galaksi yang sangat alay menurut Tya. (Bukan begitu para readers tersayang?)
Berbeda dengan bosnya yang asik teleponan dengan Viola. Kini Reno masih sibuk dengan berkas yang ada di depannya, karena Galaksi pulang terlebih dahulu akhirnya Reno yang kena getahnya.
Brak
"Akhirnya tinggal save dan beres. Gak sabar mau ke rumah sakit."
"Lagian punya bos, seenak jidat aja. Mainnya ninggalin kerjaan segini banyaknya."
Reno menatap jam yang ada di dinding ruangannya ternyata sudah jam 8 malam, ia juga melupakan makan malamnya karena ini.
"Gimana ya kalau gue pulangnya gini terus? Nanti Aulia marah lagi kalau gue pulangnya malam terus," gumam Reno membereskan barang barangnya dan bersiap untuk pulang.
Reno berlalu meninggalkan ruangan pribadinya itu tak lupa mengunci pintu ruangan itu.
Tujuannya saat ini adalah rumah sakit, sebelumnya ia sudah janjian dengan seorang dokter untuk tes DNA. Selain itu ia juga ingin memberi kejutan untuk Aulia, karena sudah seminggu mereka tak bertemu. Kirim pesan saja jarang karena kesibukan masing-masing.
Mobil Reno melaju dengan kecepatan penuh untuk cepat sampai di rumah sakit. Setelah berberapa menit, akhirnya Reno sampai di rumah sakit.
Reno keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah sakit, sebelum menemui Aulia ia terlebih dahulu menemui dokter yang akan melakukan tes DNA untuk dua rambut yang ia bawa.
"Jadi berapa lama hasilnya keluar?" tanya Reno pada dokter wanita yang umurnya 2 tahun di atasnya itu.
"Seminggu lagi hasilnya akan keluar, karena tes DNA dengan rambut beda dengan tes DNA dengan darah yang semalam bisa keluar hasilnya," jawab Dokter Dina pada Reno.
"Apa tidak bisa dipercepat?" tanya Reno dengan tak sabarannya.
"Emm bisa sih, diusahakan pokoknya."
"Gak apalah yang penting hasilnya masih tersegel."
"Aman itu mah, gue juga gak sabar lihat keluarga kalian kumpul. Apalagi Aulia yang sudah uring uringan pengen di halalin," ujar Dokter Dina menggoda temannya ini.
Dokter Dina memang berteman dengan Reno apalagi Aulia yang memang sudah akrab dengannya sejak pertama kerja.
"Doain secepatnya undangan nyebar," ujarnya dengan senyum tipis.
"Gue doain yang terbaik buat kalian. Oh ya, nih undangan pernikahan gue. Minggu depan tuh acaranya awas kalau lu lupa. Dan ini buat bos lu, jangan lupa suruh ajak Nona Viola," ucap Dokter Dina memberikan dua undangan itu pada Reno.
"Oke lah, nanti gue ajak Aulia. Biar gak jadi nyamuk mereka," jawabnya menerima undangan itu.
__ADS_1
"Hahaha emang dari dulu lu tuh nyamuk, untuk sekarang udah ada Aulia kan."
Reno mengangguk, kemudian ia menyerahkan tes DNA itu pada Dokter Dina.
Setelah itu Reno bertanya dimana Aulia sekarang dan Dokter Dina menjawab jika Aulia ada di ruangan prakteknya. Karena tadi Dokter Dina menyuruh Aulia untuk membereskan ruangan itu.
Reno pun berlalu menuju ruangan praktek Dokter Dina, ia membuka ruangan itu dengan pelan. Ia melihat Aulia yang dengan cekatan membereskan barang barang yang ada disana.
Perlahan Reno berjalan menuju tempat Aulia dan memeluk perut ramping sang kekasih dengan mesra hingga membuat Aulia yang sedang memegang suntik itu reflek melepaskannya.
"Kangen," bisik Reno meletakkan dagunya di bahu Aulia.
"Reno..."
"Hmm."
"Maaf ya baru bisa kesini," ucapnya lirih.
Aulia yang mendengar itu menolehkan wajahnya ke sisi kiri dan benar saja jika yang memeluknya adalah Reno, laki-laki yang ia harapkan kehadirannya.
"Gak apa-apa, kamu kan sibuk. Aku paham kok," jawabnya dengan senyum. Pelukan itu makin erat, Reno seakan engga untuk melepaskan pelukan itu.
Cup
"Aku bantuin ya biar cepet kelar," tawar nya setelah mengecup pipi Aulia.
Dengan malu Aulia mengangguk, wajahnya sudah memerah hingga membuat Reno gemas sendiri dibuatnya.
"Kamu masih ada tugas jaga gak?" tanya Reno kembali memeluk perut Aulia hingga Aulia duduk dipangkuan Reno yang saat ini duduk di sofa.
"Emm udah enggak deh, karena aku cuma sampai jam 9. Maklumlah kemarin lembur jadi sekarang bisa lebih awal," jawabnya dengan lembut. Walau masih malu karena posisi ini tapi Aulia akan tetap tenang.
"Kamu jarang tidur ya?" tanya Reno mengelus pipi Aulia.
"Enggak juga, kan siangnya aku tidur walau sedikit."
"Tapi aku gak mau kamu sakit Lia," ujarnya dengan posesif.
"Aku gak akan sakit kok Ren, percaya sama aku hmm."
"Oh ya, aku mau ajak kamu ke rumah mau?" tanya Reno lembut.
"Emang boleh?"
"Kamu kan calon istri aku, udah sepantasnya kamu ketemu sama orang tuaku," jawabnya mencubit gemas hidung gadisnya itu. Bisa bisanya Aulia tanya emang boleh?
"Emang jam segini Ibu sama Ayah belum tidur?" tanya Aulia yang sebenarnya tak tega karena harus bertemu malam malam.
"Iya juga sih, gimana kalau besok?"
__ADS_1
"Besok? Emang kamu gak kerja hmm?" tanya Aulia mengelus rahang Reno.
Hufftt
"Jadi kapan dong?" tanya Reno dengan kesal.
Ia kesal dengan pekerjaannya, mereka memiliki tugas dan tanggung jawab yang tak bisa di tinggalkan begitu saja.
"Gimana kalau lusa. Kebetulan kan libur weekend, aku bisa izin juga di hari itu," ujar Aulia dengan lembut.
"Boleh juga, lusa ya Lia. Aku jemput kamu di rumah," ujarnya dengan senyum manisnya, Aulia mengangguk.
"Tapi kalau Galaksi nyuruh tiba tiba gimana?" tanyanya dalam hati.
"Sayang..." panggil Reno yang membuat Aulia dag dig dug.
"Hmm."
"Jalan yuk," ajaknya.
"Kemana? Udah malam loh, dingin."
"Pake jaket dong," jawabnya seraya menyandarkan kepalanya di dada Aulia. Reno menikmati detak jantung Aulia.
"Ya sudah, aku ambil jaket dulu. Udah habis jiwa waktu tugasku," ujarnya menjauhkan kepala Reno dari dadanya tapi bukannya menjauh Reno malam memeluk perut itu erat antara semakin menelusupkan kepalanya di dada itu.
"EHEM.... Kalau mau romantis tuh, jangan di ruangan orang dong. Gue iri nih," ucap Dokter Dina mengagetkan mereka.
"Ya sudah. Ayo yank kita pergi dari sini, daripada ganggu tu perawan tua."
"Woy gue udah mau nikah ya, dasar..."
Reno dan Aulia hanya tertawa dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Dokter Dina di ruangannya.
Tok! Tok! Tok!
Bersambung
Hayo loh siapa yang ketok pintu?
***
Btw makasih yang sudah mau support karya Tya *Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku* Makasih sudah mau like, dan komennya.
Terima kasih sejauh novel ini Tya up gak ada komen yang bikin hati cenut gitu. Alhamdulillah komen kalian mendukung Tya buat terus up tiap harinya. Jangan bosen buat komen ya, yang membangun oke👌👌
Sekali lagi terimakasih buat kalian, maaf juga komennya gak bisa Tya balas satu per saty. Tya tanpa kalian juga bukan apa-apa, intinya Tya sayang banyak banyak readers Tya (Kalian)
Kalau ada yang mau follow ig Tya juga gak apa apa: @tyatul.nt
__ADS_1
Salam Sayang
Tya