
Happy reading
Lama mereka berdua disana, hanya duduk dan mengamati kendaraan yang lalu lalang didepan mereka tanpa tahu mau apa lagi.
"Hai, kamu Aulia kan?" tanya seorang laki-laki yang berhenti di depan mereka dengan motor sportnya.
"Maaf siapa ya?" tanya Aulia yang memang tak ingat siapa yang ada di depannya ini.
"Aku Dino, temen kuliah kamu dulu," jawabnya turun dari motor.
Reno yang melihat pria itu mulai mendekat kearah Aulia itu, dengan cepat menarik tangan Aulia hingga membuat Aulia terjatuh ke dadanya.
"Ren.."
"Dia siapa Li?" tanya Dino pada Aulia.
"Gue calon suaminya kenapa?" tanya Reno dengan sengit.
"Wah selamat ya, gue gak nyangka wanita judes kek dia bisa dapat jodoh," ujar Dino terkekeh, mengingat dulu bagaimana Aulia menjaga istrinya agar tak salah jalan.
"Makasih."
Aulia yang masih ada di dada Reno itu mulai menatap Reno seraya mengingat siapa pria yang ada di depannya ini.
"Lu Dino, suaminya Rina?" tanya Aulia pada Dino yang mengangguk.
"Wah gimana kabar lu? Lama banget gak ketemu! Rina juga gimana kabarnya?" tanya Aulia yang menjadi akrab. Maklumlah ketemu teman lama pasti langsung nyambung.
"Baik gue baik, Rina juga baik. Yang gak baik itu nuruti ngidamnya. Ini aja gue harus cari martabak malam malam," jawabnya dengan senang.
"Sabar aja, namanya juga bumil. Semoga lancar sampai lahiran ya."
"Thank's doanya."
"Oh ya kenalin ini Reno," ucap Aulia mengenalkan Reno pada Dino.
"Calon suami lu kan? Awas bang kalau sama ni cewek, orangnya gak asik. Gak bisa romantis malah kacau sama dia mah," ujar Dino berusaha akrab dengan Reno.
"Hmm, dia udah jinak sama gue. Gak perlu khawatir lagi," jawab Reno menatap mesra Aulia yang malu karena tatapan itu.
"Baguslah kalau begitu, gue doain kalian tetep langgeng sampai nikah ya. Jangan lupa undang gue sama Rina, awas aja kalau lu lupa," ujarnya dengan ancaman yang tentu saja tak serius.
"Pasti."
__ADS_1
Bukan Aulia yang menjawab melainkan Reno, ia tahu gadisnya ini masih malu malu kucing dibuatnya.
"Sampai jumpa lagi ya, Ibu negara bisa ngamuk kalau pesanannya gak datang," ujarnya dan diangguki mereka.
Setelah Dino pergi, kini kembali tinggallah Reno dengan Aulia yang masih bersandar di dada Reno. Nyaman aja rasanya kek gimana gitu.
"Tadi siapa?"
"Temen kuliah aku."
"Kok kayak akrab banget sama kamu?" tanyanya lagi.
"Akrab dong, la wong dia suaminya sahabat aku."
"Ooo."
"Ih o doang, kamu mah gak asik."
"Terus aku harus jawab gimana?" tanya Reno memeluk tubuh Aulia.
Aulia hanya diam, tapi pandangan gadis itu tertuju pada tukang pentol yang lihat di depan mereka.
"Bang, pentolnya 10 ribuan 2 ya," pesan Aulia yang sudah keluar dari dekapan hangat Reno.
"Pedes banget bang, yang satu sedang aja," jawabnya menatap Reno yang hanya mengiyakan.
"Siap."
"Campur ya bang," ucap Aulia yang di iyakan oleh bang pentol.
Pesanan Aulia sudah jadi, Reno membayarnya dan bang pentol pun kembali berjualan.
"Pedes gitu kalau sakit perut aku gak mau tahu ya," ujar Reno memakan pentol miliknya.
"Kamu ada kamu yang rawat, lagian udah biasa juga aku makan pedes. Dan kamu tahu itu," ujarnya dengan senyumnya.
Aulia memang pecinta pedas,lain lagi dengan Reno yang tak kuat akan rasa pedas. Reno lebih memilih makanan yang memiliki kepedasan sedang daripada pedes banget seperti kekasihnya ini.
Melihat Aulia kepedasan, Reno bangkit dari duduknya dan membelikan air kelapa untuk Aulia.
"Makasih ganteng," ucap Aulia mengambil air kelapa yang ada ditangan Reno.
"Gak salah kamu muji aku?" tanya Reno kembali memakan pentol itu.
__ADS_1
"Lah emang kamu ganteng, kalau aku bilang jelek kamu marah lagi," ucapnya dengan tawanya.
"Aku emang ganteng tapi ini pertama kalinya kamu bilang aku ganteng. Perdana loh, apa perlu kita rayakan?" tanya Reno mengusap sisa saus di bibir Aulia.
"Lebay banget, yang perlu dirayain tuh kesembuhan Ibu dulu. Lah ini gak penting, aku bisa aja bilang kamu ganteng setiap saat," ujarnya menatap Reno.
"Ya ya, aku benar. Makin sayang deh."
Aulia yang memiliki niat jahil itu menyuruh Reno membuka mulutnya dan dimasukkanlah satu pentol miliknya yang membuat pria itu memuntahkan pentolnya.
"Sayang!!!"
Melihat kegeraman Reno membuat Aulia memilihnya maaf, ia hanya jahil saja. Ia juga tahu jika Reno tak suka pedas oleh sebab itu tadi ia pesan yang sedang.
Reno yang kepedasan mengambil air kelapa Aulia dan meminumnya.
Berbeda dengan Reno dan Aulia yang sedang menikmati malam mereka. Di rumah sakit Viola harus menidurkan Ibu Lana yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.
"Ibu tidur yuk, nanti Viola juga gak tidur loh."
"Kamu Tiara bukan Viola."
"Ya, nanti Tiara gak tidur kalau ibu masih bangun. Yuk tidur yuk," dengan lembut Viola mengelus rambut hitam yang sudah ada ubannya itu.
"Tiara gak akan tinggalin ibu lagi kan?" tanya Ibu memeluk erat tubuh Viola.
"Enggak kok bu, Tiara akan selalu ada buat ibu."
"Janji ya."
"Heem."
Akhirnya Bu Lana mau memejamkan matanya, tak lupa pelukan yang tak terlepas sedari tadi. Dengan sayang Viola mengelus rambut ibu Lana. Rasanya ia dekat sekali seperti ini, bahkan dengan Mamanya dulu ia tak pernah sedekat ini.
Ayah Sandi yang melihat interaksi antara Viola dengan istrinya itu hanya tersenyum dari balik pintu. Tanpa terasa air matanya menetes membasahi lantai dingin itu.
Ayah Sandi salut dengan kelembutan Viola, tak heran jika Galaksi sangat mencintai wanita ini. Viola adalah orang kedua yang bisa menenangkan istrinya tanpa bius.
"Andai Viola adalah Tiara, aku akan sangat bahagia. Aku tak bisa membayangkan bagaimana bahagianya keluarga kami jika benar itu terjadi," batinnya dengan sedih.
Ia kembali membayangkan malam tragis dimana pesta ulang tahun Tiara yang belum selesai tapi gadis berusia 5 tahun itu sudah tak ada di kamar. Entah bagaimana caranya, Tiara bisa pergi. Apakah putrinya itu diculik? Atau malah pergi karena keinginannya sendiri?
Bersambung
__ADS_1