Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Tiara


__ADS_3

Happy reading


Galaksi menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju apartemen Viola. Tujuannya ingin meminta maaf akan apa yang telah ia lakukan tadi pagi dan juga meminta maaf akan perkataan yang ia ucapkan pada wanitanya.


Urusan Sania ia bisa mengurusnya lain kali, tapi sekarang Viola lebih penting.


Sampailah di area apartemen itu, Galaksi turun dan berlari menuju unit apartemen Viola. Hingga sampailah ia di depan pintu apartemen Viola yang dulu membuat mereka pertama kali melakukannya.


Galaksi menekan pin apartemen itu dan yah ternyata berhasil, Viola belum menggantinya.


"Sayang kamu disini?"


"Vio," teriaknya.


Tapi kamar ruangan itu kosong, tiada yang menjawab teriakannya. Galaksi berlalu menuju kamar dan ternyata kosong. Kemana pacarnya?Bukankah ini sudah malam? Apa ke rumah mendiang orang tuanya?


[Halo bi]


[Iya. Ini teh Den Gala?]


[Iya bi, Vio ada disana bi?]


[Nona Viola malah belum pulang ke rumah ini lagi Den. Terakhir itu kan sama Den Gala]


[Oh gitu ya bi]


[Iya Den, padahal Bibi kangen sama Non Vio]


[Ya sudah Bi, nanti Gala ajak Viola kesana]


[Terima kasih Den]


Galaksi memegang kepalanya pusing, ia belum sembuh total tapi ia paksa untuk ke apartemen ini.


"Sayang maafkan aku," batinnya.


Tatapan pria itu tertuju pada bunga mawar yang sudah kering itu di nakas. Galaksi ingat jika itu adalah bunga yang ia beli dulu hanya untuk pacarnya.


"Kenapa aku bodoh tak mengingat kamu sayang? Hanya karena kamu memakai bedak sampai aku tak mengingatnya."

__ADS_1


"Apa kamu takut aku akan menyalahkanmu karena kecelakaan itu terjadi? Atau kamu takut keluargaku?"


Lama memikirkan itu, tak terasa Galaksi kembali berbaring dengan kepala yang masih berdenyut. Galaksi bisa merasakan kasur ini sangat dingin berarti Viola belum menggunakannya lagi.


Ia memeluk foto pacarnya yang ada di nakas bersebelahan dengan fotonya.


Sedangkan di rumah sakit, Ibu Lana sudah siuman. Disana juga ada Ayah Sandi, Reno, Aulia dan Viola.


Hal pertama yang dilihat Ibu Lana adalah Viola. Ibu Lana menyebut Tiara saat melihat Viola yang membuat wanita itu bingung, pasalnya namanya Viola bukan Tiara.


Alhasil sekarang Ibu Lana tak mau jauh dari Viola.


"Bu, dia bukan Tiara. Namanya Viola," ucap Ayah Sandi memegang lengan istrinya.


"Gak dia Tiara, Tiara anakku. Kenapa kamu gak percaya hah!!"


Ibu Lana memeluk tubuh Viola erat seakan tak mau ada orang yang mengambilnya.


"Gak apa-apa Yah, mungkin Ibu lagi kangen sama Tiara," ujar Viola mengelus punggung Ibu Lana dengan lembut.


"Maafkan Ibu ya."


"Tiara adalah adikku yang hilang saat dia berusia 5 tahun, saat itu usiaku masih 11 tahun. Kehilangan itu sangat kami rasakan, ditambah ibu stress dan akhirnya dia seperti ini."


"Apa kalian tak mengingat dimana Tiara memiliki apa gitu yang digunakan sebagai petunjuk untuk menemukannya? Aku hanya kasihan melihat Ibu yang sangat merindukan Tiara," ucap Viola menatap mereka.


"Tiara sangat membenci perhiasan, entah itu yang KW apapun yang asli. Setiap kali ibu memakaikan perhiasan ketubuhnya pasti langsung dilepas," jawab Ayah Sandi merapikan rambut acak acakan Ibu Lana.


"Hal lain selain itu?" tanya Viola, entahlah ia memang sangat kepoan akan suatu hal.


"Dia memiliki tahi lalat dipunggung, sangat kecil bahkan jika tidak teliti melihatnya kita tak akan tahu jika disana ada tahi lalat. Tubuhnya bersih, bahkan sangat," jawab Reno.


"Tiara tidur sama Ibu ya, Ibu mau peluk Tiara terus. Ibu kangen banget sama Tiara," pinta Ibu tersenyum menatap Viola dengan lembut.


Viola yang bingung hanya bisa menatap Ayang Sandi dan Reno kemudian Aulia yang sedari tadi hanya menyimak. Mereka mengangguk.


"Baiklah Bu. Nanti Viola tidur disini ya," ucapnya dengan senyum hingga membuat Ibu Lana tersenyum senang.


Merekapun keluar dari ruang rawat itu hingga tersisalah Ibu Lana dan Viola di ruangan itu. Ayah Sandi dan Reno tak bisa mengabaikan pekerjaannya begitu saja begitupun Aulia yang saat ini masih ada shift.

__ADS_1


"Nak Aulia terima kasih sudah ikut menjaga Ibu."


"Sama-sama Ayah, ini juga bagian dari tugas Aulia."


"Reno ajak Nak Aulia kemana gitu, Ayah mau menyelesaikan pekerjaan Ayah dulu."


Reno yang memang berniat untuk mengajak Aulia jalan jalan seraya melepas penat itu langsung mengiyakan. Aulia malu tapi ia juga ingin menghabiskan waktu dengan Reno.


"Tapi aku ada shift loh."


"Aku udah izinin kok," jawab Reno menarik tangan Aulia meninggalkan tempat itu.


Mereka tak jauh dari rumah sakit, hanya untuk menikmati waktu berdua itu sangat sulit bagi mereka. Tak ada hal yang romantis tapi mereka selalu ada untuk masing masing.


Reno yang melihat Aulia kedinginan itu memakaikan jasnya ke tubuh Aulia.


"Lain kali kalau malam pakai jaket ya," ucap Reno menggosok tangan Aulia.


"Kamu juga yang langsung ngajak pergi tadi," jawabnya menatap Reno.


"Ya maaf deh, tapi kamu senengkan bisa keluar bareng aku kayak gini. Maaf ya aku belum ajak kamu ke tempat yang romantis, ini pun disela waktu aku. Dan kamu juga tahu kan?"


"Gak apa-apa, bisa berdua sama kamu apa aku udah seneng banget. Tapi Ren, aku agak ragu dengan hubungan ini. Jika ditanya kamu siapa aku, aku harus jawab apa? Pacar enggak, karena kamu belum nembak aku! Mau bilang calon suami apa lagi. Aku bingung, apalagi Mama dan Papa yang selalu maksa aku buat nikah," ucapnya yang membuat Reno tersenyum.


"Kita lebih dari pacar Aulia, kalau kamu bilang calon suami pun aku gak masalah. Setelah ibu sembuh aku akan langsung lamar kamu. Kamu gak mau kan punya mertua yang gak normal?" tanyanya yang mendapat gelengan dari Aulia.


"Mama dan Papa tak mempermasalahkan tentang keluarga, emm maaf jika aku lancang. Aku sudah bilang ke mama papa tentang kamu dan keluarga kamu. Dan mereka setuju kok sama hubungan ini. Yang penting aku juga bahagia," ujarnya dengan senyum.


"Tunggulah sebentar lagi ya, aku yakin dengan adanya Viola di dekat Ibu. Gak lama ibu pasti sembuh."


"Kamu pernah berfikir gak sih jika Viola itu adalah adik kamu?" tanya Aulia dan dijawab gelengan oleh Reno.


"Dari umur, sama cara ibu mandang Viola aja udah beda. Ini sih cuma pemikiran aku aja ya, tapi kalau iya ya syukurlah."


Reno sedikit berfikir, memang benar usia Viola dan adiknya itu hampir sama bahkan bisa dibilang sama. Tiara hilang saat ulang tahunnya yang ke 5 tahun. Apa ini sebuah kebetulan? Entahlah Reno juga bingung memikirkannya.


"Tiara atau Viola? Apakah Viola memang adikku. Jika iya aku akan sangat bersyukur ya Tuhan."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2