
Happy reading
Seperti biasa, Clara berangkat ke kampus menghampiri Nana di rumahnya. Sekalian bisa bertemu dengan pujaan hati, bisa aja modus ni bocah satu.
Sampainya di rumah sederhana itu, Clara mengklaskon mobilnya.
"Clara udah datang, Bu."
"Ajak Clara masuk, Na. Sekalian kita sarapan bareng," ucap Ibu pada Nana yang langsung mengangguk.
Nana berjalan menuju pintu depan, dan menyuruh Clara untuk masuk. Sekalian makan bareng.
"Yuk masuk, Kakak sama Ibu masih sarapan di dalam," ajak Nana pada sahabatnya.
"Iya, yuk. Gue juga mau ketemu Ayang," jawabnya dengan senang seraya menatap mata Nana yang terlihat sembab.
"Bener deh, matanya agak sembab," batin Clara menatap Nana yang hari ini tampak beda.
Clara mengikuti Nana dari belakang, Cara bisa melihat pacarnya yang tetap tampan walau hanya memakai kemeja hitam saja.
"Duduk sayang, kita sarapan bareng," ajak Ibu pada Clara yang sudah duduk di samping Satya. Satya yang sudah mengambilkan piring untuk pacarnya itu memberikan pada Clara.
"Gak usah malu malu, kita bakal jadi keluarga," ucap Ibu pada calon menantunya.
"Gak malu kok, Bu," jawab Clara dengan senyum manisnya.
Akhirnya untuk kedua kalinya, Clara menikmati sarapan paginya. Bedanya kali ini ia hanya makan sedikit.
Setelah selesai, Nana terlebih dulu masuk ke mobil Clara karena Clara masih ingin berbicara dengan Satya.
Satya memeluk Clara dengan erat. Sedangkan Clara hanya menikmatinya pelukan hangat dari kekasihnya ini.
"Kamu benar deh, tadi mata Nana kek sembab gitu," ujar Clara menatap pacarnya.
"Coba nanti kamu tanya, tadi aku yang tanya dia bilang cuma kelilipan," ujarnya dengan lembut mengelus pipi Clara.
"Emm nanti aku tanyakan. Aku rasa ada yang gak beres sama hatinya. Apa dia patah hati ya, Ay?" tanya Clara menyentuh tangan hangat pacarnya yang ada di pipinya.
"Mungkin iya," jawabnya mengecup kening Clara dengan lembut.
"Udah ih peluk peluknya, malu di lihat orang," ujar Clara pada Satya yang tak mau melepas pelukannya.
"Biarin, biar orang orang lihat kalau aku udah ada yang punya," jawabnya yang terkesan tak perduli.
"Aku mau kuliah loh ini."
"Kiss dulu baru boleh pergi," jawabnya dengan lembut.
Clara yang mendengar itu hanya menggeleng. Ada ada saja pacarnya ini, kalau orang orang lihat bagaimana?
__ADS_1
"Gak bisa, Ayang. Nanti kalau orang lain lihat bisa salah paham," balas Clara mengelus pipi pacarnya.
"Gak peduli. Ayo cepat cium kalau enggak aku gak akan lepasin," ujar Satya dengan kekeuhnya.
Akhirnya mau tak mau, Clara mengecup pipi pacarnya dengan lembut. Satya yang merasakan hal itu membalas kecupan itu di pipi Clara dan juga kening wanita itu.
"Di kampus jangan nakal, ingat kamu udah punya pacar yang tampan ini."
Clara mencebikkan bibirnya mendengar itu.
"Kamu juga, ingat udah punya pacar yang cantik jelita kek aku. Awas ya mata kamu sampai jelalatan."
"Iya sayang."
Setelah melepaskan pelukan itu, Clara terlalu menuju mobil. Nana yang melihat itu hanya cemberut, ia lama menunggu sahabatnya di dalam mobil. Hanya untuk pamitan saja sampai berjam jam.
"Lama banget deh pamitan aja," ketus Nana pada sahabatnya yang baru masuk mobil.
"Namanya juga orang lagi jatuh cinta, lu mana tahu."
"Iya iya tapi gak harus lama juga, Clara. Gue capek tahu nunggu kalian," ujarnya dengan sedikit ketus.
"Maaf ya sayang, aku cuma pamit sama Kak satya kok."
"Tugas lu udah selesai belum?" tanya Clara pada Nana.
"Ohh gue kira belum."
Akhirnya mereka sampai di kampus, Clara merasa ada yang aneh dengan Nana yang sedari tadi diam saja.
"Na, nanti lu gak usah kerja ya. Gue juga udah izinin lu sama manajer dan kakak lu, kalau hari ini lu harus sama gue," ujarnya dengan senyum manisnya.
"Oke tapi nanti malam gue ada janji sama orang," jawab Nana dengan malas.
"Mau kemana nanti malam? Gue ikut ya," pintanya dan dianggukkan oleh Nana.
"Izin sama Kak satya dulu!"
"Siap gampang itu mah."
Mereka berdua masuk kedalam kelas, karena pelajaran hampir di mulai. Jangan lupakan tugas yang sudah menjadi kewajiban setiap mahasiswa di kampus itu.
Dan apa yang dilakukan Nana tak luput dari pandangan Clara. Sepertinya nanti ia harus menginterogasi sahabatnya ini.
***
"Ke kantin yuk," ajak Clara pada Nana yang sudah menenggelamkan wajahnya di meja.
"Males."
__ADS_1
Clara hanya bisa menghela nafasnya melihat sahabatnya yang diam dan bersikap ketus seperti ini.
Akhirnya Clara meminta salah satu bodyguard untuk membelikan mereka makanan dan minuman.
"Lu gak bisa sembunyiin apalagi dari gue," ucap Clara dengan tegas. Ia tak suka sahabatnya ini menyembunyikan sesuatu darinya.
"Gue lagi gak mood cerita," jawabnya dengan nada lemas.
"Sampai kapan lu sembunyiin hal ini sama gue hah? Lu itu anggap gue sahabat gak sih Na?"
"Gue merasa gak berguna sebagai sahabat lu. Apa gue banyak salah sama lu Sampai sampai lu gak mau cerita masalah lu sama gue?"
Nada Clara yang di buat sedih membuat Nana tak tega, ia bukannya tak mempercayai Clara tapi ia tak siap untuk bercerita akan hal ini. Nana cukup malu akan apa yang dia alami.
Akhirnya mau tidak mau, Nana menceritakan apa yang selama ini ia pendam. Mulai dari Nana yang menyukai Arka tapi Arka malah menyukai temannya yang bernama Novi.
Kesedihannya saat Arka memintanya untuk membantu agar dia bisa menembak Novi.
Clara yang mendengar semua cerita Nana itu ikut menangis. Ia memeluk tubuh sahabatnya yang tak lain adalah adik dari pacarnya sendiri.
"Aku bingung. Hatiku sakit Ra, aku gak bisa," isak Nana dengan nafas tercekat.
"Sabar, Na. Cinta itu tak harus memiliki. Kamu tahu kan orang yang pacaran 5 tahun aja masih bisa putus."
"Jika memang Arka itu jodoh kamu, pasti akan kembali sama kamu. Tapi jika Arka bukan jodoh kamu, percayalah kamu akan mendapat laki-laki yang lebih baik daripada Arka," tambah Clara mengelus punggung sang sahabat.
"Tapi apa aku bisa?" tanyanya dengan sedih.
"Percaya Nana sayang, jodoh kamu sedang menunggu kamu."
Clara melonggarkan pelukan itu dan menghapus air mata Nana yang sudah meluber sampai laut.
"Jangan nangis lagi, nanti malah aku lagi yang di salahin kak Satya," ujar Clara dengan lembut.
"Terima kasih sudah menghiburku, Ra. Kamu memang sahabat sekaligus kakak ipar terbaik aku."
"Hidup ini masih panjang, jangan karena cinta buat kamu gila seperti ini."
"Heem, aku akan berusaha melupakan. Aku yakin jodohku pasti lebih baik daripada Arka."
Semangat dalam diri Nana kembali muncul hingga membuat Clara senang di buatnya. Masalah hati memang gak bisa main main.
Clara mengirim pesan pada Satya jika misinya berhasil. Setelah itu Clara mengajak nana untuk makan makanan yang sudah ada di depan mereka dengan lahap.
Nana yang memang lapar langsung memakan makanan itu seakan lupa akan sedihnya yang membuat ia nangis berjam jam.
"Gue senang lu yang kayak gini."
Bersambung
__ADS_1