
Happy reading
Reno yang baru saja pulang dari kantor itu, mendapat kabar jika hasil tes DNA sudah keluar itu langsung melesat menuju rumah sakit.
Aulia yang memberitahukan jika hasil DNA antara Ibu Lana dengan Viola memakai rambut mereka masing-masing itu.
Sampainya Reno di rumah sakit, pria 27 tahun itu berlari cepat menuju ruangan dokter Dina dan kebetulan disana ada Aulia yang kebetulan disuruh Dina untuk tetap disana.
Tanpa basa basi Reno masuk ke ruangan itu dan meminta hasil tes DNA itu.
"Mana hasilnya!"
"Kalem napa sih, gue yang mau nikah aja B aja tuh lihat isinya," jawab Dina dengan kesal. Temannya yang satu ini memang tak pernah bisa santai.
"Lu udah lihat?" tanya Reno.
"Kan gue yang lakuin tes DNA nya, dan gue juga yang masukin tuh kertas dalam amplop. Otomatis tahu lah," ujarnya dengan santai.
"Terus hasilnya? Lu gak tukar kan?" tanyanya penuh intimidasi. Ia masih ingat sekitar saat ada yang menukar hasil tes DNA di rumah sakit.
"Ya Tuhan, Reno. Kita temenan udah berapa tahun ha? Lemes banget mulut lu," ujarnya tak terima. Sedangkan Aulia hanya tertawa geli melihat Dokter Dina dan Kekasihnya ini.
"Jangan ketawa sayang," perintah Reno pada pacarnya.
"Lucu sih, kamu mah gak perayaan banget. Aku juga jadi saksi ya kalau ini tuh real."
"Tuh dengerin apa kata pacar lu, awas aja kalau gue udah nikah. Biar suami gue yang balas lu," kesal Dina pada Reno.
"Gue juga terpengaruh Lia sih," ucap Reno.
Setelah selesai berbincang dengan Dokter Dina, Reno keluar dari ruangan itu di ikuti oleh Aulia.
"Gak mau di buka?" tanya Aulia yang sebenarnya juga ikut penasaran.
"Nanti aja di rumah bareng sama semuanya."
"Kalau Viola bukan adik kamu gimana?" tanya Aulia yang membuat Reno menatap kekasihnya dengan lekat.
"Ya kita akan mencoba ikhlas, tapi doakan saja semoga Viola memang benar adikku," jawabnya menarik Aulia agar duduk di kursi tunggu itu.
"Pastilah, aku akan sangat senang jika memiliki adik ipar seperti Viola. Anaknya baik aku suka," ujarnya dengan senyum.
"Kamu masih ada tugas?" tanya Reno.
"Masih sampai jam 10 malam nanti, kenapa?" tanya Aulia.
"Kangen kamu!!"
__ADS_1
"Sabar ya, kamu tahukan ini pekerjaan aku. Tolong ngertiin ya," ucap Aulia mengelus lengan Reno.
"Heem, kalau kamu mau pulang nanti telepon aja ya. Nanti aku jemput," ucap Reno pada Aulia.
"Gak usah Ren, aku bisa pulang sendiri. Kamu pasti capek habis kerja hmmm. Aku gak mau kamu sakit karena kelelahan."
"Tapi Liat sayang, jam 10 itu udah malam banget. Aku gak mau kamu kenapa napa di jalan, " ucapnya dengan khawatir.
"Kemarin kemarin aku pulang sendirian gak ada apa apa tuh. Aku kan pemegang sabuk hitam Ren, jadi kalau buat lawan penjahat aja kecil lah," jawabnya memenangkan Reno.
"Sombongnya kumat kan," ujarnya dengan menyentil kening kekasihnya dengan pelan.
"Ya gak apa-apa dong," ujarnya dengan senyum.
"Emm Lia, kamu mau gak jadi asisten aku di kantor?" tanya Reno paan kekasihnya.
Jujur jika begini mereka jadi sulit untuk bersama, Reno di kantor sedangkan Aulia di rumah sakit.
"Kamu pengen banget ya aku jadi asisten kamu?" tanya Aulia dengan muka polosnya.
"Kontrakku di rumah sakit ini masih 5 bulan Ren, aku gak bisa lepas tanggung jawab begitu saja. Tapi kalau kamu cari asisten, aku punya rekomendasi buat kamu," ujarnya pada kekasihnya.
"Siapa? Aku hanya gak mau kita selalu jauh kayak gini. Kalau masalah kontrak aku bisa bantu kamu bayar penaltinya. Lagi pula ini adalah rumah sakit Viola."
Aulia yang mendengar ucapan Reno itu hanya bisa menggeleng. Kenapa kekasihnya ini bisa seloyal ini. Apa tak takut jika dimanfaatkan.
"Jangan dong, ini tubuh bentuk tanggung jawab aku sebagai perawat. Kamu mau aku lepas tanggung jawab gitu aja. Aku tahu kamu punya uang banyak tapi gak semua bisa di beli pakai uang kan?" tanyanya menatap Reno.
"Sabar kalau kita udah nikah kan sehari hari juga bakal ketemu," ucapnya dengan senyumnya.
Akhirnya Reno mengangguk, mau menjawabpun tak ada gunanya. Karena kekasihnya ini selaku saja bisa membalasnya.
Setelah berberapa menit melepas rindu paan pujaan hati, Reno pamit pada Lia untuk pulang. Aulia juga merekomendasikan sepupunya yang baru lulus kuliah sebagai asisten Reno. Untungnya sepupu Aulia laki-laki, kalau perempuan bisa bisa terpesona lagi sama ketampanan Reno. No!! Aulia tak akan membiarkan siapapun merebut Reno darinya. Ia juga tak mau disebut perawan tua.
"Nanti pulangnya sama aku aja Lia, kebetulan jadwalku sampai jam 10 malam nanti," ucap Dokter Dina pada Aulia. Ia tak sengaja mendengar percakapan mereka tadi.
"Lah terus Dokter Andre?" tanya Aulia pada Dina.
"Dia masih ada operasi jam 11 malam nanti, lagian ya emang gak ada dokter lain apa. Bayangin aja Lia, dia udah kerja dari pagi sampai malam."
"Tapi kan, siangnya tidur bareng Dokter Dina. Pasti udah keisi lagikan tenaganya?" goda Aulia pada Dokter Dina.
Bukan menjadi rahasia lagi jika mereka sering berdua di ruangan, karena semua orang juga tahu jika dokter Andre dan Dokter Dina adalah pasangan kekasih. Undangan pernikahan juga sudah menyebar keseluruh rumah sakit.
Reno yang sudah sampai di rumah pukul 7 malam itu langsung memanggil Ibu dan Ayahnya, kebetulan Galaksi dan Viola juga baru sampai. Jadi mereka ada di ruangan itu.
"Kenapa ya kita semua di kumpulin disini?" tanya Ayah Sandi.
__ADS_1
"Iya kak, Viola juga gerah nih. Belum mandi tadi," ujar Viola pada Reno.
"Kalian semua boleh duduk," titah Reno pada semuanya.
Semua orang yang ada disana menatap Reno dengan bingung. Tapi tidak dengan Galaksi yang sepertinya sudah tahu apa yang ingin diucapkan sekretarisnya ini.
"Sebelumnya Viola maafkan kakak karena sudah melakukan tes DNA ini tanpa persetujuan kamu."
"Tes DNA, aku gak pernah ambil darah kak."
"Bukan datang tapi rambut yang Galaksi berikan waktu itu."
"Di dalam sini adalah hasil tes DNA antara Ibu dan Viola, jika cocok Viola adalah adikku tapi jika tidak Viola bukan adik kandungmu," ucapnya memperlihatkan amplop yang masih tersegel dan tertulis nama rumah sakitnya.
"Kamu melakukan tes tanpa memberi tahu kita!!"
"Ya Yah, aku hanya ingin memastikan saja."
"Biar Ayah yang buka ya," ucapnya dengan senyumnya. Ia tak marah atas kelakuan putranya tapi jika Viola benar putrinya ia akan sangat bahagia.
Reno memberikan amplop itu pada ayahnya, Ayah Sandi menerimanya dan mulai membukanya.
Ayah Sandi membaca kertas itu yang membuat ia meneteskan air matanya, ia memberikan kertas itu pada istri dan anaknya. Lalu memeluk tubuh Viola dengan erat.
"Kamu anak saya, kamu Tiara Anjani anak Ayah. Anak kandung Ayah," ucap Ayah Sandi yang membuat air mata Viola jatuh sepenuhnya.
Dalam kertas tadi 97% Viola Angelista adalah anak kandung dari Lana. Viola adalah anak kandung mereka, putri kecilnya mereka yang hilang.
Ibu Lana yang sudah melihat kertas itu hanya tersenyum, ia tak salah mengenali orang. Ikatan darah lebih kental daripada air. Firasat seorang ibu selalu benar.
Reno juga yang melihat hasil tes DNA itu langsung memeluk erat tubuh Viola. Kakak mana yang tak senang jika adik kecilnya yang sudah hilang 16 tahun lalu kini menjelma sebagai bidadari tak bersayap untuk keluarganya.
"Maafkan Kakak yang lalai menjagamu dulu," ucapnya mengusap air matanya.
Viola hanya diam ia menatap Galaksi yang tersenyum lalu mengangguk. Viola bingung jika mereka adalah orang tuanya kandungnya, terus yang merawatnya selama ini siapa? Orang tuanya menyelamatkannya siapa.
"Jika kalian keluargaku, Mama dan Papaku siapa?"
Tangisnya jatuh saat mendapat kenyataan ini, ia hanya bisa berbalik dan memeluk tubuh Galaksi. Ia tak tahu sedih atau senang tapi yang pasti ia hanya butuh pelukan Galaksi.
"Terima mereka jadi keluarga kamu sayang. Inilah keluarga kandung kamu," bisikan seraya mengelus punggung Viola dengan lembut.
"Tapi Mama dan papa?"
"Mereka pasti bahagia di alam sana, jika tahu putri mereka menemukan keluarga kandungnya."
Viola tak menjawab ia masih memeluk tubuh Galaksi dengan erat, bahkan ia sudah menguat baju Galaksi basah karena air mata dan inginnya.
__ADS_1
Bersambung
Yey, akhirnya Viola kembali ke keluarganya. Tapi bagaimana bisa Viola di asuh sama Mama dan Papa angkatnya jika hanya segitu dekat hilangnya. Bahkan mereka tak menemukan keberadaan Viola bertahun tahun.