Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Berbedanya harapan


__ADS_3

Happy reading


Pagi harinya, Galaksi yang terbangun terlebih dahulu itu tak langsung berdiri tapi memandangi wajah cantik sang pacar. Tak lama tatapannya beralih ke perut Viola.


"Aku berdoa bibitku tumbuh disini," batinnya dengan mengelus perut Viola lembut.


Samar ia masih mengingat rasanya kembali ke lembah nikmat milik Viola yang sangat terawat untuknya. Galaksi menyayangkan ucapan kasarnya dulu pada wanita yang ada di depannya itu.


"Kenapa dada ini semakin besar ya? Bahkan tubuhmu ini bertambah seksi di mataku," gumamnya memegang dada Viola.


Merasa sesuatu menyentuh tubuhnya, perlahan Viola membuka matanya dan betapa terkejutnya dia melihat apa yang dilakukan Galaksi pada atasannya.


"Kebiasaan deh By, bilang dulu kek. Jangan mencuri gini," ucap Viola menjauhkan diri dari Galaksi yang sudah memasukkan dadanya ke mulutnya. Otomatis dadanya itu terlepas dari bibir Galaksi.


"Tadi malam kamu tidur yank, jadi aku gak bisa nen," ucap Galaksi dengan manja.


"Kamu kok bisa masuk?" tanya Viola menatap pintu kamar itu dan ia baru sadar jika ia tak mengunci pintu kamarnya.


"Lain kali kalau mau tidur jangan lupa kunci pintunya," ucapnya kembali meraup buah dada yang sudah lama menjadi candunya itu.


" Sstttt," ringis Viola saat Galaksi mengemutnya terlalu kencang.


"Maaf."


"Ngilu By," ujarnya lirih.


Galaksi diam dan melanjutkan apa yang dia lakukan dengan lembut hingga membuat Viola sedikit mengeluarkan suara laknat itu dari bibirnya.


"Jangan medessah," ucapnya dan dianggukkan oleh Viola. Tentu saja Viola tahu apa yang akan terjadi jika ia terus mengeluarkan suara laknat itu.


Setelah berberapa menit Galaksi menghentikan aktivitasnya. Karena jam sudah menujukkan pukul setengah enam dan mereka belum mandi.


"Sayang," panggil Galaksi.


"Ada apa?" tanya Viola dengan lembut.


"Pindah ke apartemen yuk, disini gak bisa leluasa tahu gak," ujarnya merengek.


"Aku belum bisa By, Ibu Lana masih membutuhkanku. Aku janji setelah Bu Lana sembuh aku akan kembali ke apartemen lagi," ujarnya dengan senyum manis.


"Kalau menikah?" tanya Galaksi pada Viola.


"Umur 23."


"Kalau kamu hamil?" tanyanya. Entah kenapa ia sangat menginginkan pacarnya itu hamil dan ia bisa menjadi seorang Daddy.

__ADS_1


"Emm itu bisa dipertimbangkan, karena kita pernah melakukan sebelum itu tapi aku gak hamil kan," ujar Viola. Sebenarnya gadis itu juga bimbang akan kata hamil, bagaimana jika nanti dirinya hamil.


"Apapun bisa terjadi sayang," ucapnya seolah tak terima akan jawaban sang pacar.


"Berdoa saja supaya benih kamu belum jadi kecambah di dalam perut aku," balas Viola memakai kembali tank top yang ia ambil di ranjang itu.


"Aku tak mengaamiinkan doamu itu sayang, aku malah berdoa supaya ada makhluk kecil di perutmu," batin Galaksi.


"Aku mandi dulu, kamu mandi di kamar kamu sendiri ya," ucapnya bangun dari duduknya tapi tangannya dicekal oleh Galaksi.


"Kenapa?" tanya Viola menatap Galaksi.


"Kiss."


"Lagi gak bawa permen," jawabnya.


"Kiss me sayang, bukan kiss permen," ucap Galaksi kesal. Viola yang mendengar itu langsung tertawa malu bisa bisanya ia melupakan arti kiss yang sebenarnya.


Cups


Viola membulatkan matanya saat merasa benda kenyal tak bertulang itu menempel ke bibirnya. Galaksi yang melihat reaksi sang pacar hanya terkekeh geli, pria itu terus mencium bibir Viola dengan lembut.


"Emmhhh."


Ciuman itu terlepas dengan Galaksi yang menatap Viola dengan tatapan mautnya. Viola yang melihat tatapan itu langsung salting, entah kenapa tatapan Galaksi dari dulu selalu membuatnya terpesona.


"A-aku mau ma-ndi," gugup nya langsung berlari ke kamar mandi.


Galaksi yang melihat tingkah kekasihnya itu tertawa, ia tahu Viola sedang salting ditambah pipinya yang merah itu.


"Lucunya," gumamnya.


Galaksi keluar dari kamar itu menuju kamarnya sendiri tapi saat ingin masuk kedalam kamar ia dikejutkan dengan Reno yang sudah bersandar di dinding itu, jangan lupakan tangannya di dada.


"Dari mana?" tanya Reno.


"Dari kamar sebelah," jawab Galaksi.


Ia bagai orang yang kepergok sedang ngapeli pacarnya, padahal Viola kan kekasihnya.


"Kamar Viola?" tanya Reno tanpa ekspresi.


"Ya."


"Gue gak mau lu sampai keluar batas lagi ya Gal, gue udah anggap Viola sebagai adik gue sendiri dan gue juga gak akan rela jika adik gue kembali merasakan sakitnya. Apalagi lu belum nikahan dia," ujar Reno panjang lebar.

__ADS_1


"Gue tahu, gue gak akan keluar batas kok. Lu tenang aja, makasih bang udah ingetin gue. Sekarang lu abang gue," ucap Galaksi menepuk dada Reno.


"Hmm."


"Gue masuk dulu mau mandi."


Galaksi masuk kedalam kamarnya untuk mandi sedangkan Reno berlalu menuju kamar orang tuanya. Disana sudah ada Ibunya yang duduk di depan meja rias dengan Ayah yang menyisir rambut Ibu. Ibu seperti orang waras tak terlihat gila sama sekali.


"So sweet nya, Reno jadi iri," ucap Reno membuka pintu kamar itu sedikit.


Ibu dan Ayah yang mendengar itu menoleh kearah pintu. Ibu yang melihat putranya itu mengulas senyum, Ibu memang tak amnesia tapi jika menyangkut Tiara Ibu akan sedikit sensitif.


"Makanya cari calon dong, ya kan Bu."


"Iya nak, cari calon istri dan calon mantu buat kamu," ucap Ibu dengan lembut. Reno yang mendengar itu langsung masuk tanpa meminta izin.


"Reno sudah punya calon Yah, Bu... Apa kalian mau menerimanya?" tanya Reno.


"Bawakan dia kemari Nak, jika kami dan kamu cocok dengan dia kami akan sangat merestuinya. bukan begitu Bu?"


"Iya nak, Ibu akan sangat bahagia jika kamu bisa menemukan belahan jiwamu," ucap Ibu dengan lembut.


Reno yang mendengar itu hanya tersenyum dan memeluk kedua orang tuanya.


"Secepat mungkin Reno akan bawa dia kesini," ucap Reno mantap.


"Tapi ibu sudah sembuh kan?" tanya Reno dan diangguki oleh Ibu.


"Maafkan Ibu ya, Ibu gak akan kenapa napa jika Tiara sudah ketemu," jawabnya dengan tenang.


"Apa mungkin memang Viola adalah Tiara? Aku tak bisa bimbang terus hari ini juga aku akan mengambil rambutnya," batin Reno mantap.


Mereka terus berbincang tanpa tahu jika Viola ada di sana melihat dan mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Apa aku akan terus ada disini? Bisa muring-muring kalau pacar gue tahu soal ini," batin Viola menatap mereka.


Viola yang sudah terlanjur sayang dengan keluarga ini tak bisa seenaknya meninggalkan keluarga ini. Apalagi ia bagaikan mendapat ayah dan ibu lagi dengan adanya keluarga ini. Jika boleh berharap ia ingin menjadi Tiara yang sebenarnya tapi apa boleh buat ia hanya orang asing.


Viola berlalu meninggalkan tempat itu menuju dapur dan membuat sarapan untuk mereka semua dibantu oleh Bibi pembantu.


Bersambung


Jadi gimana nih Viola itu Tiara apa bukan?


Like dan komennya ya

__ADS_1


__ADS_2