Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Saus Sambal


__ADS_3

Happy reading


"Sudah siap?" tanya Galaksi pada istrinya yang sedari pagi tadi riweh dengan dressnya.


"Gimana Mas, kekecilan dress aku," ujarnya memperlihatkan belahan dadanya yang terlihat.


"Kayaknya kamu harus ganti size lagi deh yank, kekecilan banget itu," ucapnya dengan tangan yang sudah meremass dada sintal itu.


"Nanti ya, aku beli. Sekarang gak sempet lagi, kan mau pulang," ucapnya dengan semangat.


Galaksi yang melihat itu berlalu menuju lemari dan mengambil syal yang senada dengan dress Viola.


Galaksi memakaikannya pada leher Viola dengan lembut hingga belahan dada itu tertutupi. Sedikit ia merasa bersalah karena tak membelikan istrinya baju yang lebih besar. Karena jika ia yang beli pasti istrinya itu marah.


"Makasih Mas," ucapnya mengecup rahang suaminya kemudian berjalan keluar menuju mobil.


Galaksi yang mendapat kecupan singkat itu hanya bisa tersenyum. Istrinya itu selalu saja bisa membuatnya senang walaupun dengan cara seenaknya.


Galaksi mengikuti Viola seraya menarik koper berwarna abu abu itu keluar dari kamar.


Akhirnya mereka berdua sampai di mobil, Galaksi memasukkan koper itu di bagasi sedangkan Viola sudah terlebih dahulu masuk kedalam mobil membawa beberapa buah potong buah mangga yang didalam kotak makan.


"Mas mau saus sambal," pintar Violet saat suaminya itu sudah ada di dalam mobil.


"Kenapa gak bilang tadi sayangku? kan bisa sekalian tadi!" tanyanya dengan lembut.


"Tadi belum pengen, tapi aku maunya saus yang ada di tukang pentol," ucapnya dengan senyum.


Galaksi menatap istrinya dengan bingung kenapa harus sausnya tukang pentol. Tapi seketika ia ingat jika istrinya itu sedang hamil, apa ini yang namanya ngidam. Mungkin iya, dan Galaksi akan berusaha untuk mengabulkan apa yang diinginkan oleh anaknya itu.


"Ya sudah kita cari dulu ya tukang pentolnya."


Dengan patuh Viola menganggukkan kepalanya, tangannya terulur untuk menjilat mangga muah itu.


"Apa tidak asam?" tanya Galaksi menatap istrinya dengan lembut.


"Asam tapi seger, kamu mau?" tanya Viola menyodorkan satu potong buah mangga ke mulut Galaksi.


"Enggak sayang, buat kamu aja," jawabnya. Belum mencoba saja sudah membuatnya ngilu apalagi jika sampai memakannya.


"Ya sudah, ayo cari tukang pentolnya," ucap Viola dan dianggukkan oleh Galaksi.

__ADS_1


Calon ayah itu sedang mencari tulang pentolan seperti yang diinginkan sang istri tapi lebih tepatnya calon anak mereka.


Setelah berputar menelusuri jalan akhirnya mereka menemukan tukang pentol yang mangkal dipinggir jalan raya itu. Tampaknya belum ada yang beli pentol itu.


Viola dan Galaksi turun dari mobil hanya untuk meminta saus sambal pak pentol itu saja.


"Permisi pak," ucap Galaksi.


"Iya den mau beli pentol?" tanya tukang pentol itu.


"Iya Pak. Emm begini pak, istri saya kan lagi hamil apa boleh kami meminta sedikit saus sambal itu?" tanyanya dengan sopan.


"Silahkan pak, saya malah senang ada yang ngidam saus sambal saya," jawabnya seraya membuka saus sambal pentol itu.


"Terima kasih pak, bungkus dua puluh ribu jadi 2 ya," ucap Galaksi.


"Jangan lupa yang satunya pedas ya pak," tambah Viola seraya menuangkan saus sambal itu di kotak makannya yang berisi mangga muda.


"Siap neng," jawabnya.


"Sambalnya satu sendok saja pak," ucap Galaksi yang tak mau istrinya sakit perut karena makan terlalu pedas.


"Tapi satu sendok itu gak pedes Mas," cemberut Viola. Tapi Galaksi tetap kekeuh pada pendiriannya yang tak membiarkan Viola makan pedas.


Akhirnya Viola pun mengangguk, Viola dan Galaksi duduk di kursi itu seraya memakan mangga muda yang tadi ia beri sambal tadi. Entah seperti apa rasanya tapi Viola sangat menyukainya.


Rasa asam, manis, pedas, dan entahlah yang satu rasa apa tapi hal itu cukup membuat lidah Viola tak henti hentinya untuk memakan mangga muda itu.


"Mas... habis," ucap Viola memperlihatkan kotak makan itu.


"Nanti kita cari lagi ya mangganya, hari ini cukup segitu aja makannya," ucap Galaksi dengan lembut.


"Tapi masih pengen makan mangga," rengeknya.


"Enggak tetap enggak!"


"Ya sudah kalau begitu, aku mau sambalnya buat dibawa pulang," ucapnya dan dianggukkan oleh Galaksi.


Tukang pentol yang melihat pelanggannya itu hanya mengulum senyumnya. Belum ada pelanggan yang bersikap seperti ini sebelumnya. Bahkan tak pernah ada pelanggan yang meminta sambal untuk di bawa pulang.


Dengan inisiatifnya tukang pentol itu mengambilkan sambel itu dan meletakkan di kresek yang sama dengan pentol tadi.

__ADS_1


"Ini pesanannya, ditambah saus sambal yang nona minta tadi gratis gak bayar," dengan bercanda tukang pentolan itu memberikan kresek itu pada mereka.


Galaksi menerima itu dan memberikan uang dua ratus ribu untuk bapak itu, walau sempat menolak tapi mereka bilang itu rezeki buat bapaknya.


"Saya doakan lancar sampai melahirkan ya non, den," ucapnya dengan senyumnya ia sangat berterima kasih.


Mereka berdua mengaamiinkan apa yang didoakan bapak penjual pentolan ini.


Setelah membayar pentol itu, keduanya kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanannya menuju kediaman Bara. Rumah itu pernah menjadi saksi ia merintih di bawah Galaksi saat itu.


Dalam perjalanannya, Viola memakan pentol itu dengan lahap. Yah, karena akhir akhir ini na*su makannya bertambah. Entah apapun yang ada di depannya pasti ia makan selagi enak. Tapi entah kenapa yang bertambah malah bokong dan dada, tubuhnya masih saja segitu.


"Sayang pelan pelan, kalau masih kurang punyaku kan masih. Aku gak akan rebut kok," ucap Galaksi memelankan mobilnya.


"Enak loh, emang kamu gak mau?" tanyanya dengan senang. Jika Galaksi tak mau ia yang akan memakan semuanya.


"Kalau kamu mau, makan aja," jawabnya dengan senyum manis.


"Makasih, aku emang masih lapar sih."


Galaksi yang mendengar jika istrinya masih lapar itu membulatkan matanya. Bagaimana bisa Viola masih lapar saat tadi wanita itu menghabiskan sarapan yang banyak, ditambah mangga tadi, dan sekarang istrinya itu sudah menghabiskan satu porsi pentol ditambah miliknya.


"Nak, kamu laper apa doyan sih hmmm? Makan mulu perasaan. Gak kenyang ya?" tanya Galaksi mengelus perut sang istri.


"Mama sama dedek cepat lapar Daddy, jadi Daddy harus siap jika sewaktu-waktu kita mau makan," jawab Viola dengan senyum.


"Siap, bilang aja sama Daddy, Pati akan Daddy kabulkan."


Viola yang mendengar itu tersenyum senang, ia memang sudah memikirkan apa yang harus ia katakan pada suaminya nanti. Pasti akan dapat.


"Tapi badan kamu masih sama kok yank, gak ada yang berubah selain ini dan ini," ucap Galaksi memegang dada dan bokong Viola.


"Belum bukan enggak," jawabnya dengan nada ketus. Ia membayangkan nanti jika ia gendut.


"Awas aja sampai kamu main serong!"


Mendengar ancaman Biola membuat galaksi mengangguk patuh. Lagipula ia tak akan mengkhianati cintanya.


Bersambung


Hai kakak kakak, jangan lupa mampir ke novel senior Tya ya. Judulnya Junior CEO dan Bodyguard Mei, karya kak Ingflora

__ADS_1



__ADS_2