
Happy reading
"Sayang tunggu," teriak Galaksi berlari menuju lift yang hampir tertutup itu. Sontak saja Viola yang melihat tubuh suaminya masuk dari celah kecil itu menjadi lebih kesal lagi.
"Mas, kalau kamu kenapa napa gimana?" tanyanya dengan kesal.
Bukannya menjawab Galaksi menekan lantai kamarnya, dan memeluk tubuh sang istri dengan erat. Ia tak mau istrinya marah hanya gara-gara masalah sepele. Bisa hilang jatah malamnya jika hal itu terjadi.
"Jangan marah lagi, apalagi cuma gara-gara masalah sepele. Sumpah aku gak ada maksud buat merendahkan orang sayang, aku cuma gak asing sama cowok tadi," ujarnya dengan lembut menyadarkan kepalanya di dada sintal Viola.
Viola masih tak bergeming, ia masih sedikit kesal dengan suaminya. Tapi dengan perlahan Viola mulai mengelus rambut hitam sedikit pirang itu.
"Tapi nada kamu kayak merendahkan, memang kenapa kalau cowok itu pakai motor? Bahkan aku lebih suka cowok bermotor daripada bermobil," ujar Viola dengan sengaja.
"Owh gitu, besok aku borong semua motor yang ada di Indonesia kalau begitu. Biar kamu tambah suka," ujarnya dengan senyumnya.
"Kamu mau buat aku suka atau jualan motor sampai semua motor kamu beli. Gak ya, aku gak mau kamu boros."
"Tapi kan kamu suka cowok bermotor yank, nanti aku beli motor dan ajak kamu keliling kota," ucapnya mengendus leher Viola.
"Aku gak suka orang boros, kalau kamu mau beli ya beli aja satu atau dua. Jangan sampai puluhan motor. Emang kalau beli mau taruh dimana? Garasi udah penuh tuh," ucapnya.
"Nanti buat garasi lagi," jawabnya santai.
"Enggak usah, kamu gak usah beli. Mobil kamu aja udah banyak, walau aku suka cowok bermotor. Aku gak mau kamu pindah bawa motor ke perusahaan," ujarnya dengan lembut.
"Hmmm."
Akhirnya mereka sampai dilantai kamar mereka, Galaksi yang tak melepaskan pelukannya itu membuat Viola sedikit kesusahan untuk keluar.
"Mas peluknya nanti aja di kamar. Viola susah nih harus jalan kalau mas gini," ujarnya pada Galaksi.
Apalagi perutnya sudah besar sekarang, walau masih 3 bulan ia sudah mulai merasakan susahnya memiliki perut besar. Gimana Nanti kalau 9 bulan. Mungkin perutnya akan jumbo.
Galaksi yang mendengar itu langsung melepas pelukan itu dan menggendong tubuh istrinya menuju kamar. Walau Viola sempat menolak tapi tidak dengan tubuhnya yang menerima gendongan itu.
__ADS_1
Setelah sampai kamar, mereka langsung berlaku menuju kamar mandi dan bersiap untuk tidur.
"Yank, yang tadi kamu janji," ujar Galaksi menatap istrinya yang sedang memakai pakaian.
"Janji apa lagi sih Mas, aku capek banget nih," ujarnya dengan lemas. Ia memang sangat lelah karena bermain di pasar malam tadi.
Galaksi yang melihat raut wajah lelah itu hanya diam. Ia tak bisa memaksa istrinya untuk melakukan itu tapi ia sangat ingin.
"Hufftt mungkin besok atau lusa aku baru bisa berbangga," ucapnya dalam hati.
Galaksi dan Viola keluar dari kamar mandi, tak biasanya Galaksi lesu seperti ini. Tapi Viola juga lupa janjinya tadi sebelum berangkat.
Mereka menarik selimut tebal itu dan menutupi tubuh mereka. Setelah mengucapkan selamat malam dan mematikan lampu kamar itu. Kini hanya tinggal keheningan yang menerpa mereka, lampu tidur yang masih menyala tak dapat membuat Viola sadar akan apa yang dilakukannya.
Viola yang belum tertidur itu menoleh kearah suaminya, dan ternyata Galaksi sedang membelakanginya. Tak biasanya Galaksi membelakanginya, bahkan tanpa disuruhpun Galaksi selalu memeluk dan mengelus perutnya sebelum tidur tapi ini apa.
"Apa aku punya salah sampai dia seperti itu?" tanya Viola dalam hati.
"Mas," panggil Viola memiringkan badannya.
"Mas kenapa gak peluk Vio, kenapa gak elus anak anak kita?" tanya Viola pada Galaksi tapi pria itu masih saja bungkam.
"Apa Mas Galaksi udah tidur? Viola emang punya salah apa sama Mas?" tanya Viola memegang pundak Galaksi.
"Salah karena gak ingat janji kamu," jawab Galaksi dalam hati. Ingin sekali ia mengucapkan itu tapi ia tak mampu menyakiti hati istrinya.
Viola yang tak tahu apa-apa itu mulai memeluk perut suaminya. Seperti yang dilakukan Galaksi di malam malam sebelumnya, ia juga mengelus perut kotak kotak sang suami.
"Astaga kalau gak mau kasih jatah jangan mancing dong," batin Galaksi menahan rasa panas yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Tak mendapat respon dari tubuh suaminya, tangan Viola mulai turun kebawah mencari sesuatu yang sangat ingin ia pegang. Hingga ia teringat suatu hal.
"Oh astaga aku lupa dengan janjiku," batinnya menghentikan elusannya.
"Apa karena ini Mas Gala jadi beda sama aku, sejak dari kamar mandi tadi dia sudah lesu banget."
__ADS_1
Viola yang tahu Galaksi belum tidur itu malah melepas semua baju yang ada di tubuhnya. Hingga ia sudah polos duluan tanpa Galaksi tahu.
"Mas bangun aku dingin," rengeknya dengan manja tak lupa nada yang dibuat seolah kedinginan.
"Hiks Mass."
Karena tak tahan dengan suara tangisan sang istri, lantas Galaksi mulai membuka mata dan membalikkan tubuhnya.
Deg
"Kenapa kamu polos seperti itu ha? Kalau dingin jangan malah buka baju," ujar Galaksi menyelimuti tubuh Viola agar tak merasa dingin.
Tak menyia nyiakan waktu, Viola langsung naik keatas tubuh Galaksi menatap dada bidang dan perut kotak kotak bak roti sobek 10000 an.
"Sayang turun, aku gak mau kamu tambah capek. Lagian kamu juga gak ingat janji kamu," ucapnya dengan lirih di akhir kalimat.
"Aku gak lupa Mas, tadi itu cuma bohong. Tapi kamu udah terlanjur kesal dulu," jawabnya dengan bohong. Ia memang sedikit lelah tapi ia tak mau membuat suaminya sedih karena ia lupa akan janjinya.
"Bener?" tanya Galaksi menahan tangan istrinya yang ingin melepaskan celana pendeknya.
"Iya Mas bener."
Akhirnya apa yang menjadi keinginan Galaksi tercapai.
Merasa Viola sudah tak sanggup kini, giliran Galaksi yang memimpin. Ia melakukan dengan lembut hingga membuat Viola keenakan dibuatnya.
"Kenapa dia bisa seenak ini, padahal aku sudah sering mencoblosnya," batin Galaksi.
Akhirnya mereka melepaskan apa yang sedari tadi ingin di lepas, sepertinya anak anak juga ikut senang di datangi Daddynya.
"Terima kasih sudah menepati janjimu, masih ada 6 hari lagi loh ya," bisik Galaksi dan dijawab deheman oleh sang istri.
"Thanks anak anak Daddy, semoga kalian bisa sep******* Daddy suatu saat nanti," besoknya mengelus perut buncit itu.
Viola yang mendengar ucapan sang suami itu langsung menggeplak lengan suaminya kemudian terlelap karena lelah.
__ADS_1
Bersambung