Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Dalam Hati


__ADS_3

Happy reading


Sepertinya Galaksi belum mau tidur dengan seperti ini. Violet masih saja merasakan gerakan tangan sang suami di atas perutnya yang sudah tertutup selimut.


"Tidur Mas, jangan main terus," tegur Viola pada sang suami.


"Aku masih main sama anak-anak yank," jawab Galaksi dengan tangan yang menarik nari di atas perut buncitnya.


"Anak anak udah pada tidur Mas, mereka gak mau Daddynya begadang," jawabnya dengan senyum.


Galaksi akhirnya manut, pria itu sudah tak bermain di atas perut Violet tapi lidah pria itu malah menjilat dada Viola layaknya permen hingga membuat Viols geli.


"Mau nen," pintanya dengan mulut yang sudah penuh dengan dada sintal istrinya.


Viola yang melihat tingkah suaminya itu hanya menggeleng pelan. Ia menarik pelan selimut itu hingga menutupi seluruh tubuh Galaksi yang sedang mimik susu asli pabrik miliknya.


"Dasar bayi gede," besoknya mengecup pucuk kepala Galaksi. Kemudian ia memeluk tubuh sang suami dan memutuskan untuk tidur.


Sedangkan Galaksi yang mendengar itu hanya tersenyum tipis. Tak apa bayi gede yang penting ia masih bisa menikmati susu kesukaannya ini.


Karena efek obat yang diminum tadi Galaksi menyusul sang istri menuju alam mimpi. Tapi mulutnya masih memung ut dada besar itu.


***


Sedangkan di kamar Clara, gadis itu tampak sibuk dengan rencananya kuliah bersama Nana, adik Satya.


Ting


Kak Satya


Angkat VC kakak dong dek.


Clara yang melihat pesan dari Satya itu membuat gadis yang baru seminggu lalu merayakan hari ulang tahunnya yang ke 19 tahun itu cepat cepat membenahi penampilannya agar terlihat rapi dilihat oleh Satya. Entahlah kadang Clara terlihat sangat konyol dengan seperti ini.


Dan benar saja, tak lama setelah itu Satya melakukan panggilan video pada Clara. Terlihat pria itu sangat tampan di depan layar. Bahkan Clara yang melihat itu sampai tak berkedip.


"Kenapa belum tidur?"


"Kakak video call," jawab Clara dengan polos.

__ADS_1


"Maksudnya kenapa jam segini belum tidur? Kakak VC kamu karena kamu online."


"Gak apa-apa," jawabnya dengan senyum manisnya.


"Jangan begadang ya, Dek. Walau kamu besok udah gak sekolah tapi tetap aja kesehatan itu penting," ujarnya dengan senyum tulus.


"Kenapa makin hari dia makin cantik saja, apa mataku yang bermasalah atau memang Clara makin cantik?" tanya Satya dalam hati.


Tak ada rasa bosan saat melihat wajah ayu wanita itu hingga membuatnya betah lama lama melihat wajah sang pujaan hati.


"Iya kak," jawabnya dengan senyum tak kalah manis.


"Kapan pendaftaran di kampus itu dek?"


Tanya Satya basa basi walau ia sudah tahu kapan tapi tetap saja ia ingin mencari topik pembicaraan yang membuat pembicaraan berjalan terus.


"Besok lusa Kak, sama Nana juga kok. Nana udah dapat beasiswa itu. Jadi kita bisa bareng bareng," jawabnya.


"Maaf gak bisa antar kamu," ucap Satya dengan sesal.


Walau ia mendapat fasilitas dari kantor tapi belum bisa menggunakannya karena pekerjaannya yang membuatnya belum bisa latihan mobil.


"Karena kamu ada orang spesial Ra, bukan cuma teman adikku saja," batin Satya.


Ingin sekali Satya mengatakan hal itu, tapi ia kembali ingat siapa dia dan Clara. Ia tak mau dibilang cowok mata duitan karena menyatakan cinta pada Clara disaat dia belum mampu.


"Suatu saat jika aku sudah pantas untukmu, aku akan menjadikan kamu permaisuri dalam hidupku Ra. Tak peduli kamu anak siapapun, karena cintaku tulus untukmu," batin Saya menatap wajah Clara.


Mereka masih saja diam, mengamati pahatan sempurna Tuhan itu. Hingga keduanya tersadar saat pintu kamar Satya di buka.


"Tunggu bentar ya dek, itu pasti ibu."


"Iya kak, lihat aja. Aku gak apa-apa," jawabnya dengan senyum.


Satya menyadarkan ponselnya di kotak musik yang ia beli beberapa hari lalu. Clara menatap apa yang Satya dan Ibunya yang sangat hangat.


Ibu datang ke kamar Satya dan mengucapkan selamat malam. Satya dan Nana sudah tak memiliki ayah sejak umur Satya 15 tahun jadi di rumah itu yang menjadi ayah untuk Nana adalah Satya.


"Kamu lagi ngapain malam malam gini belum tidur?" tanya sang ibu yang masih didengar oleh Clara.

__ADS_1


"Selesaiin tugas kantor Bu," jawabnya dengan senyumnya.


"Udah malam lo, Sat. Kamu juga harus jaga kesehatan kamu," ujar Ibu dengan perhatian.


Sebagai Ibu tentu saja dia tak mau anak laki-lakinya sampai sakit. Tapi Ibu tetap bersyukur karena anak laki-lakinya bisa bekerja di perusahaan besar itu. Ibu juga sangat berterima kasih pada Aulia yang sudah mencarikan kerja untuk Satya.


"Ini juga mau tidur kok Bu. Ibu juga kenapa jam segini belum tidur?" tanya Satya pada Ibu.


Di usia ibunya yang sudah tak muda, membuat Satya dan Nana sering khawatir dengan kondisi Ibunya yang masih kuat bekerja. Padahal Satya sudah memperingatkan Ibunya agar berhenti bekerja dari buruh cuci, tapi ibunya itu tak mengidahkan.


Setelah ia bekerja, Satya juga memberikan setengah dari gajinya untuk sang Ibu. Tapi Ibu hanya mengambil untuk uang daput saja selebihnya untuk Satya sendiri dan Nana kelak.


"Ibu mau lihat anak anak Ibu udah pada tidur apa belum? Eh ternyata kamu belum tidur. Sekarang Ibu mau ucapin selamat malam buat anak sulung Ibu yang tampan ini," ujarnya dengan senyum manisnya.


Cups


Ibu mengecup kening Satya dengan lembut, dan di balas kecupan singkat juga di kening sang ibu. Sumpah demi apapun Satya sangat menyayangi Ibunya lebih dari apapun.


"Satya sayang Ibu," ucap Satya dengan lembut.


"Ibu juga menyayangi anak-anak Ibu."


"Ayah pasti juga senang, karena anaknya sudah berhasil menyelesaikan kuliahnya dan bekerja di perusahaan besar," batin Ibu mengelus rambut Satya.


Setelah itu, Ibu pergi dari kamar Satya menuju kamarnya sendiri. Satya menguci pintu kamarnya dan kembali ke meja belajarnya, ternyata Clara masih stay di sana. Walau wajah wanita itu sudah lelah di atas bantal.


"Kakak hebat punya ibu yang selalu memberi kecupan selamat malam setiap hari. Clara juga pengen kayak gitu," ujarnya dengan cemberut.


Entah kenapa Mama dan papanya selalu tak memberikan kecupan di malam hari. Entah lupa atau apa, Clara juga tak tahu.


"Kalau kamu mau, kamu bisa nginep disini. Dijamin Ibu juga akan memperlakukan Kamu sama sepertiku dan Nana."


"Nanti deh kalau ada waktu, atau enggak saat aku jadi istri kakak," jawabnya dengan tawa. Walau terlihat bercanda percayalah jika itu tadi tulus dari hati.


"Kakak juga berharap begitu dek," batin Satya penuh harap.


"Entah kenapa aku sangat menyukai moment ini. Aku mencintai Kak Satya," batin Clara.


Setelah beberapa menit Video Call mereka memutuskan panggilan video itu dan mulai memejamkan matanya menuju alam mimpi masing masing. Berharap mereka akan bertemu di alam mimpi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2