
Happy reading
Setelah memberitahukan tentang obat apa yang diberikan Sania saat itu, Galaksi menjadi orang yang cuek dan dingin persis saat pertama Viola bertemu Galaksi, bahkan saat bersama Viola pun kini semakin jauh hingga membuat Viola sedih akan perubahan ini.
Ia ingin Galaksi yang dulu, Galaksi yang selalu ada untuknya. Kini ia kehilangan sosok itu. Terhitung 2 bulan lebih setelah Galaksi bisa berjalan saat itu tak membuat pria itu terbuka.
Berbeda dengan Galaksi yang saat ini sedang berjalan santai di kamarnya. Ia sudah bisa berjalan normal tanpa bantuan Viola ataupun kursi roda itu karena usahanya.
"Huuhhh."
"Sebenarnya kamu ada dimana? Jika kamu pacarku harusnya kamu ada disini tapi kenapa kamu tak ada?" tanya Galaksi menatap foto yang tak lain adalah Viola tanpa make up cokelat itu.
"Aku sudah menepis perasaanku pada pelayan itu, apa kamu senang? Aku sudah menjaga jarak darinya. Tapi kenapa kamu tak datang?" tanya Galaksi dengan sedih.
Galaksi menyadari sesuatu dari sikapnya yang terkesan ketus pada pelayannya itu, ia mempunyai rasa lain pada pelayan pribadinya itu. Walau Galaksi amnesia tapi ia itu tak bodoh jika dia menyukai pelayannya itu. Tapi Galaksi juga sadar jika ia memiliki pacar yang datang saat malam ia di rumah sakit itu. Galaksi yakin dia orangnya.
Sedangkan di sisi lain Sania yang sudah tak kuat dengan sikap Galaksi yang masih saja cuek dengannya. Bahkan ia sudah mengorbankan pekerjaannya demi Galaksi tapi apa yang ia dapat tak ada.
"Gue harus nekat supaya dapetin Galaksi. Gue gak mau usaha gue sia-sia, selain dia tampan dia juga kaya. Pasti karirku akan melekat saat aku menjadi Nyonya Riano."
"Hahaha untung aku tahu jika Galaksi sudah bisa jalan, gak sia sia aku datang saat itu," gumamnya tertawa.
Segala rencana sudah tertata rapi di dalam benaknya hingga, ia harus memilih ini. Sania membayangkan jika nanti ia menjadi istri Galaksi otomatis derajatnya di dunia model akan melejit dan dia sangat menantikan satu itu tiba.
_____
Seperti biasa, hari ini Sania datang ke kediaman Riano. Ia mengambil sarapan Galaksi tak lupa menambahkan bumbu khas yang sangat epik baginya. Ia berharap rencananya kali ini tak gagal.
"Vio..."
Sania memanggil Viola yang lewat dapur dengan muka lemasnya, Sania tak tahu kenapa tapi yang pasti ia akan melibatkan Viola dalam rencananya.
__ADS_1
"Ya Nona?"
"Tolong anterin makanan ini ke kamar Galaksi ya, tiba-tiba aku aa urusan mendadak yang tak bisa aku tinggalkan," ujar Sania menyerahkan nampan itu pada Viola.
"Baik Nona."
Ada rasa senang saat Sania menyuruhnya untuk mengantarkan makanan ke kamar Galaksi. Karena ia juga sangat merindukan kekasihnya itu, sekarang pekerjaannya sangat mudah hingga membuatnya sering nganggur.
"Tapi ingat setelah mengantarkan makanan kamu harus langsung pergi," ujar Sania yang membuat Viola sedikit bingung tapi wanita itu tak mempermasalahkannya.
"Baik Nona!"
Viola membawa nampan itu menuju kamar Galaksi, sedangkan Sania yang tak benar benar pulang hanya bisa mengawasinya dari jauh.
"Tuan, saya bawa sarapan buat Tuan," ucap Viola yang sudah masuk kedalam kamar Galaksi. Galaksi yang sedang menatap pemandangan diluar kamarnya itu menoleh dan mengangguk.
"Gak mau dimakan dulu Tuan?" tanya Viola.
Viola tetap tersenyum walau itu senyum paksa, entah apa yang terjadi pada kekasihnya itu hingga sikapnya berbeda dengannya.
"Saya ke kamar Tuan, nanti jika butuh apa-apa Tuan bisa panggil saya," ucapnya lembut.
Viola keluar dengan rasa sesak di dadanya, bukan hanya sekali Galaksi bersikap seperti ini padanya tapi berulang kali. Entah sampai kapan ia akan bertahan, tapi ia juga harus ingat jika Galaksi kasih amnesia.
Galaksi menatap kepergian Viola dengan sendu, ia tahu jika sikapnya menyakiti Viola secara perlahan tapi ia juga tak mau mengkhianati pacarnya yang tak lain adalah Viola sendiri.
Galaksi menatap makanan yang ada diatas nakas itu sengaja senyum, Galaksi bangkit dari duduknya dan berjalan mengambil makanannya itu.
Dengan pelan Galaksi menyendok makanan itu dan memakannya hingga habis. Tak ada rasa aneh menurut Galaksi, tapi ini bukan masakan Viola.
Galaksi yang merasa haus itu mengambil minuman yang ada disana dan meminumnya hingga tandas.
__ADS_1
Setelah selesai makan Galaksi duduk di ranjang nya dan entah kenapa badannya jadi hangat. Cuacanya tak panas tapi kenapa dia ke gerahan, AC sudah menyala bahkan dengan volume yang sangat dingin.
Lama kelamaan menjadi panas yang tak tertahankan, Galaksi yang merasa panas itu langsung melepas kaosnya hingga ia hanya memakai celana pendek saja dengan telan*ang dada.
"Sial, kenapa badanku menjadi panas seperti ini?"
Sekilas ia melihat sisa makanan yang masih ada disana dan Galaksi menyadari sesuatu.
"Viola sialan apa yang sudah ia berikan pada makanan itu?" tanyanya geram ia sudah tak sanggup menahan semua ini. Apalagi nafsunya kini memuncak seakan ingin dituntaskan.
"Kau akan merasakan akibat karena sudah bermain denganku Viola!!" geram Galaksi bangkit dari duduknya dan berjalan sempoyongan menuju kamar Viola.
Ia tak tahu jika ini semua jebakan Sania ya saat ini sedang menerima telepon dari agensi yang menaunginya.
Brak
Pintu kamar itu dibuka kasar oleh Galaksi, Viola yang sedang duduk diranjang dengan tangis pelan itu terkejut melihat kehadiran Galaksi. Kenapa pria ini bisa sampai kamarnya, ternyata Galaksi sudah bisa berjalan! Viola yang melihat itu senang walau Galaksi tak memberitahukan ini padanya. Viola bagaikan tak berguna lagi untuk Galaksi.
"Kamu memberikan apa di makananku sialan!!!" teriaknya yang membuat Viola terkejut mendengar teriakan pria ini.
"Aku tak memberikan apapun pada makanan itu Tuan, aku hanya di suruh oleh Nona Sania," jawabnya takut. Viola tak melihat pacarnya sekarang ia ia lihat hanya Galaksi yang beda.
Galaksi berjalan menuju Viola, pria itu tak mengidahkan apa yang di bicarakan wanita ini. Baginya Viola tetap saja salah.
"Kau harus membayar apa yang sudah kamu lakukan padaku Viola," teriaknya menjambak rambut Viola.
Viola yang merasa rambutnya ditarik kuat itu hanya meringis, ia menahan sakit di sekujur kepalanya karena jambakan kuat itu.
Bersambung
Huffttt tahan dulu lah, konflik ada di bab selanjutnya tungguin ya. Hal yang membuat Viola benar benar merasa tak dibutuhkan dan tak berguna untuk semuanya.
__ADS_1