Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Kamu Cemburu?


__ADS_3

Happy reading


Jika dua pasangan itu sedang berbelanja di mall, beda lagi dengan Satya yang belum mengutarakan perasaannya pada Clara.


Walau Galaksi juga sudah tahu, tapi ia ingin mementaskan diri untuk anak bungsu keluarga Ryano ini. Ia tak mau dianggap sebagai orang yang hanya ingin harta mereka saja, ia tak mau dipandang sebelah mata.


Bekerja di perusahaan Ryano membuatnya mengerti banyak hal. Ia juga sudah mampu membuat toko untuk ibunya agar tak lelah dengan mencuci, kehidupan mereka sudah lebih dari cukup daripada dulu.


Sejak sukses bekerja dengan gaji yang lumayan besar membuat Satya banyak mendapat surat lamaran dari gadis di desa bahkan luar kota. Tapi Satya tetap pada pendiriannya untuk menyukseskan diri dan meminang sang pujaan hati. Tapi jika Clara sudah terlebih dahulu mendapatkan jodoh yang baik dan sesuai ia akan mencoba ikhlas.


Sedangkan Clara juga mulai ragu dengan Satya yang tak juga menyatakan cintanya. Apa selama ini hanya ia yang berharap? Apa benar Satya hanya menjadikannya sebagai adik?


Hari ini setelah pulang kampus, Clara ikut ke kafe tempat Nana bekerja. Niatnya hanya ingin menemani sahabatnya itu saja.


Tanpa sengaja Clara melihat Satya yang masuk ke dalam kafe dengan seseorang perempuan berhijab itu.


Tanpa sadar air matanya jatuh melihat kedekatan mereka. Satya yang ingin melewatinya itu menutup wajahnya dengan buku menu.


"Dasar playboy cap buaya," gumamnya meremas kertas ujiannya yang ada di sampingnya.


"Embat sana sini, gue nyesel udah suka sama dia," lanjutnya meminum jus yang tadi ia beli sampai tandas.


Ia memesan bakso yang paling pedas, ia harus melampiaskan kekesalannya dengan makan makanan yang pedas dan satu menu yang paling pedas adalah bakso larva. Tapi Clara pesan yang ukurannya kecil.


Nana yang bertugas mengantarkan pesanan Clara itu heran kenapa sahabatnya memesan bakso sepedas ini.


Hingga tatapannya mengarah ke meja no 11, pantas saja Clara badmood ternyata ini penyebabnya.


"Kenapa pake bawa cewek genit ini sih, hijab sih hijab tapi kelakuannya kek demit. Gue gak mau ya punya kakak ipar kayak dia," batin Nana melewati meja kakaknya.


"Lebih baik Clara yang jadi kakak ipar gue, gue lebih suka Clara walau dia sering ngambek ngambek gak jelas," lanjutnya dengan batin yang tentu saja siapapun tak bisa mendengarnya kecuali Tuhan dan Malaikat.


Nana meletakkan bakso itu di depan Clara beserta jus yang baru dipesan Clara.


"Kenapa lu pesen bakso pedes kek gini? Gak takut sakit perut lu?" tanya Nana pada sahabatnya.


Sejak bersahabat dengan Nana ia mengerti jika sahabatnya ini sedang kesal. Clara memang unik jika kesal atau marah, gadis itu melampiaskannya pada makanan pedas.

__ADS_1


"Kesel gue," jawabnya dengan nada ketus.


Tanpa memikirkan apapun Clara memakan bakso pedas itu dengan lahap hingga membuat bibirnya itu berubah jadi merah.


"Kenapa sih Ra, lu bisa cerita sama gue," ujarnya dengan senyum mengelus pundak Clara yang ikut panas.


Clara hanya diam, ia tahu jika Clara melihat kakaknya dengan wanita ulat itu hingga membuat Clara cemburu. Yah, Nana tahu jika Clara juga mencintai kakaknya.


Anda


Kak, Clara lihat lu sama cewek lain tuh. Dia ada di meja no 4, kayaknya kesel banget.


Send to Kakak


"Ra kamu mau tetap nunggu aku disini atau pulang? Aku sebenarnya gak apa-apa kalau kamu mau disini tapi shiftku sampai jam 9 malam nanti kalau kamu mau nunggu," ujarnya yang seketika menghentikan makannya.


Clara mengambil jus yang ada di depannya dan menatap Nana.


"Serius sampai jam 9 malam?" tanya Clara dengan nada tak percaya. Seberat itu bekerja sebagai pelayan di kafe.


"Heem kalau ambil shift siang, dari jam 8 sampai jam 4 sore," jawabnya dengan senyum khas Nana.


"Udah biasa Ra, aku mau cari uang sendiri tanpa melibatkan Ibu dan Kakak," jawabnya meminum jus sisa Clara walau tak sampai habis.


"Kamu hebat, aku bangga bisa jadi sahabat kamu," ujar Clara dengan senyum.


"Aku balik kerja lagi, kamu jangan marah marah atau kesel lagi. Mungkin kak Satya ada alasan sendiri kenapa dia bawa tu ular kesini," ujar Nana yang membuat Clara salah tingkah karena Nana tahu ia kesal karena kakaknya.


"Enggak kok, lagian aku bukan siapa siapanya kan," jawab Clara kembali melanjutkan makannya.


Setelah perbincangan itu Nana kembali bekerja meninggalkan Clara yang ada disana.


Saat melewati kakaknya, Nana sedikit berbisik pada Satya tentang Clara yang melihat mereka.


Sontak saja, Satya langsung melihat meja nomor 4. Benar saja Clara sedang memakan bakso yang sudah berwarna merah itu dengan lahapnya.


"Nin, lu bisa pulang sendiri kan? Gue ada urusan."

__ADS_1


"Lu belum jawab pertanyaan gue Sat, lu maukan jadi pacar gue?" tanya Hanin dengan penuh harap.


"Maaf ya Nin, gue cuma anggap lu itu sebatas teman gak lebih. Dan gue udah punya cewek yang sangat gue cintai, sekali lagi gue minta maaf," jawab Satya yang langsung mendapat tatapan bahagia dari Nana yang masih berdiri tak jauh dari mereka.


"Gue tahu cinta lu cuma sama Clara kak," batin Nana melanjutkan pekerjaannya.


"Tapi gue cinta sama lu Sat," ujarnya dengan nada sedih agar Satya simpati padanya.


"Maaf tapi gue udah terlanjur nyaman dengan yang sekarang," jawabnya.


Akhirnya setelah mendapat penolakan dari Satya, Hanin yang memang hanya mencintai uang yang dimiliki Satya itu langsung pergi dari tempat itu tanpa salam.


"Ternyata Nana benar, dia tak sebaik yang di kira. Dia memang berhijab tapi matre," gumamnya.


Setelah melihat Hanin sudah tak terlihat, Satya bangun dari duduknya dan berlalu menuju meja Clara.


"Cantik sendirian aja," ujar Satya duduk di hadapan Clara.


Clara yang mendengar suara Satya itu otomatis ia langsung menatap depannya.


"Apa?" tanya Clara dengan ketus. Pedas di mulutnya kini beralih pada kata katanya saat berucap.


"Kenapa kamu makan pedas gini? Gak takut sakit perut?" tanya Satya mencoba sedikit bakso itu dan ia bisa merasakan bakso dengan pedas tingkat kabupaten itu mulai membakar lidahnya.


"Aku sakit atau enggak kan juga bukan urusan kakak. Kenapa gak perhatiin cewek kakak aja," ketus Clara dengan nada tak bersahabat. Entah kenapa ia jadi gampang emosi apa karena hormon datang bulannya.


"Cewek yang tadi itu bukan siapa siapa aku dek, dia cuma orang asing. Namanya Hanin, dulu teman kuliah aku aja. Gak lebih," jawabnya tanpa sadar menceritakan siapa Hanin.


Clara yang mendengar itu tersenyum dalam hatinya, entah kenapa ia jadi senang karena jawaban Satya tentang wanita berhijab tadi.


"Gak tanya, dah deh kak aku mau makan jangan ganggu," ujarnya masih kesal.


"Aku gak ganggu kamu loh," ujarnya dengan santai.


"Tapi ak terganggu," jawabnya dengan nada kembali ketus.


"Kamu cemburu?" tanya Satya dengan menahan senyumnya.

__ADS_1


Bersambung


Please deh Sat jangan gantung Clara. Diambil orang dulu kamu baru nyahok kamu.


__ADS_2