
Happy reading
"Kenapa dengan Ibunya Reno? Kenapa harus kamu yang menjaganya?" tanya Galaksi pada Viola.
Viola mengambil bubur yang tadi ia bawa dan menyuapkannya ke mulut Galaksi. Walaupun ingin mendengar jawaban dari Viola tapi ia tak bisa menolak suapan dri wanitanya itu.
Akhirnya Viola menceritakan apa yang dialaminya setelah keluar dari rumah Galaksi saat itu. Galaksi dengan seksama mendengarkan apa yang diucapkan oleh Viola hingga membuatnya sedikit kesal dengan Reno yang menyembunyikan pacarnya selama ini. Bahkan jika ditanya Reno selalu menjawab dengan jawaban yang sama.
"Jangan marah padanya, aku yang menyuruhnya untuk tak memberitahu kamu ataupun Clara. Aku tak mau hubunganmu dengan keluargamu hancur gara-gara aku. Sudah cukup aku kehilangan Mama dan Papa, aku tak mau kamu menyesel dikemudian hari," ujar Viola ikut menyuapkan makanan itu ke mulutnya.
"Tapi mereka salah sudah usir kamu dari rumah tanpa mendengar penjelasan dari kamu. Aku gak akan rela siapapun rendahin kamu tak terkecuali Mama dan Papa aku."
"Sudahlah aku tak apa, mungkin hanya sedikit nyeri saja. Semua yang sudah berlalu tak bisa diulang kan? Jangan mengungkitnya lagi," ujarnya dan diangguki oleh Galaksi.
Entahlah Galaksi juga tak tahu terbuat dari apa hati pacarnya ini, kepada bisa selembut ini pada orang yang sudah jahat padanya. Bahkan dengan mudahnya memaafkan kesalahannya.
"Kamu tidur sini kan?" tanya Galaksi menatap Viola dengan rindu.
"Untuk malam ini aku tidur sini tapi entahlah besok dan lusa."
"Aku yang akan ke rumah Reno, dan menginap disana agar aku bisa terus dekat denganmu," ucapnya tak mendasar bisa bisanya ingin tinggalnya rumah orang sedangkan ia punya rumah sendiri.
"Rumah kamu?"
"Kan masih banyak orang, lagian selama seminggu ini aku udah gak pulang ke rumah," jawabnya menggeser tubuh lemahnya agar Viola bisa naik.
"Terus kamu tidur dimana?" tanya Viola pada Galaksi.
Wanita itu naik keatas kasurnya dan menatap Galaksi yang menatapnya dengan senyum itu.
"Di apartemen kamu," jawabnya.
"Pantes apartemen aku jadi kandang kerbau," batin Viola dengan sedih melihat penampakan kamar dan ruangan lainnya.
Galaksi memeluk tubuh Viola manja, ia meletakkan kepalanya di dada Viola yang berdetak kencang itu.
"Sayang," panggil Galaksi bermain di dada Viola.
"Ada apa? Kepalanya sakit lagi?" tanya Viola khawatir degan keadaan Galaksi.
__ADS_1
"Enggak kok, aku cuma ngerasa bersalah aja sama kamu. Mulutku ini rasanya mau aku robek aja. Bisa bisanya aku ngomong gitu kemarin. Maaf ya sayang, aku gak bermaksud gitu," ucapnya dengan sedih.
"Kamu belum ingat Galaksi, lagipula aku tak memberikan obat sialan itu kok ke makanan kamu. Aku cuma di suruh Sania untuk mengantarkan sarapan kamu, tapi entah kenapa kamu sudah ada di kamarku," ucap Viola mengelus rambut Galaksi dengan lembut.
"Maafin aku ya," ujarnya.
"Iya."
"Nanti kalau kamu hamil gimana? Aku masih ingat pagi itu aku tak memakai pengaman sayang. Kamu juga gak datang bulan kan?" tanyanya.
"Jika memang aku hamil ya tetap aku terima, anak adalah anugrah yang tuhan titipkan buat kita. Ada atau tidaknya kamu aku akan tetap menjaganya, karena dia adalah anakku."
Galaksi yang mendengar itu tak bisa membayangkan bagaimana jika nanti Viola hamil tanpa dirinya pasti akan sangat susah, apalagi orang hamil pasti akan ada masa ngidam.
"Aku berharap kamu belum hadir disini," batin Galaksi mengusap perut Viola.
"Jangan berpikir yang tidak tidak, belum tentu apa yang kamu pikirkan itu adalah hasilnya," ucap Viola.
"Jika benar kamu hamil, siap tidak siap. Mau tidak mau kamu harus menikah denganku sayang, aku tak mau anak kita lahir tanpa adanya ayah!!"
"Nanti aja dipikirkan, toh aku belum hamil kan."
Galaksi mengangguk, Viola yang merasa gerah itu bangun dari duduknya dan berlalu menuju lemari pakaiannya. Viola memang tak nyaman jika berpakaian yang membuatnya gerah. Pasti dia hanya memakai tank top dan celana pendek saja. Karena itu adalah baju tidur paling nyaman baginya.
"Jangan mesum ya!!"
Viola tahu apa makna tatapan Galaksi padanya, dengan cepat ia menarik selimutnya dan menutupi tubuhnya.
"Aku lagi demam loh yank, masa kamu gak mau ngurus aku?" tanya Galaksi melas.
"Tidur aja By, nanti juga mendingan. Kamu nih ya kalau sakit pasti manja," omel Viola menatap Galaksi yang tampak melas itu.
Galaksi hanya diam, tapi tatapannya satu seakan dia yang paling tersakiti dan paling membutuhkan kasih sayang.
Viola yang melihat itu hanya bisa menghela nafasnya pelan, wanita itu merentangkan tangannya dan Galaksi masuk kedalam dekapan Viola yang hangat itu.
"Katanya orang demam itu harus banyak minum biar cepat sembuh, iya gak?" tanya Galaksi pada Viola.
"Kamu mau minum? Aku ambilin gimana?" tanyanya yang dijawab gelengan oleh Galaksi.
__ADS_1
"Terus?"
"Minum susu!"
"Lagi gak stok susu By, kamu juga gak terlalu suka susu kan."
"Bukan susu itu sayang kayak gak tahu aja sih, susu ini," gemas Galaksi meremat dada sintal Viola hingga membuat wanita itu tersadar akan kebodohannya.
"Ngilu ih jangan dulu ya," ujarnya pada Galaksi.
"Nanti juga hilang ngilunya. Ya sayang boleh ya, gak lama kok," ucapnya melas bahkan ia bahagia anak kecil yang merengek ingin mainan.
Akhirnya Viola yang tak bisa menolak itu hanya bisa mengangguk dan menurunkan tali tank top hitam itu dan juga pengait bera miliknya.
"Aku pikir dulu kamu oplas saat melihat dada ini, tapi ternyata itu semua ulahku sendiri," ucapnya yang membuat Viola tertawa.
Memang benar dadanya lebih besar dari tahun sebelumnya, bahkan bera nya sudah berganti size yang lebih besar.
"Jangankan kamu yang amnesia By, teman kerja dan kuliah aku dulu juga bilang kalau dadaku ini oplas. Ya sudahlah aku iyakan aja, yang penting aku gak oplas."
"Lagian mana ada waktu aku buat oplas kalau setiap ketemu kamu selalu minta hmm? Kamu juga lihat perbedaannya dulu sama sekarang," lanjutnya.
Viola juga sedikit miris dengan bentuk dadanya, belum melahirkan saja sudah sebesar ini bagaimana nanti jika sudah memiliki anak.
"Hmm."
Viola membiarkan Galaksi melakukan apa yang dia inginkan, tangannya juga mengelus rambut tebal itu dengan lembut. Dadanya sedari kemarin memang ngilu tapi ia tak menghiraukannya.
"Shitt kenapa semakin hari semakin nikmat saja sih, padahal belum keluar apapun. Bagaimana jika nanti keluar susunya? Pasti manis!" batin Galaksi menikmati semua ini dengan lembut.
Viola yang mulai mengantuk karena apa yang dilakukan Galaksi itu mulai menarik selimut dan menutupi tubuh Galaksi yang masih menjadi bayi besar.
Galaksi yang melihat kekasihnya tertidur dengan nyenyaknya itu tersenyum. Ia bahagia memiliki kekasih seperti Viola. Selama berpacaran dengan wanita ini banyak sekali perubahan dari diri Galaksi.
Galaksi tak pernah menyesal berubah menjadi seperti sekarang ini. Karena semenjak adanya Viola, Galaksi kembali merasakan betapa beruntungnya dibutuhkan dan diharapkan oleh orang yang dicintai.
Viola beda dari wanita yang mendekatinya, rata-rata semua hanya menginginkan kedudukan dan harta. Sedangkan Viola, wanita itu hanya memerlukan perhatian dan kasih sayangnya.
Apartemen yang sekarang ditempati ini tak sepenuhnya uang Galaksi, Viola ikut andil saat ia magang dulu. Gaji bersih dan bonus lemburnya ia kumpulkan untuk membeli apartemen ini. Intinya Galaksi tak menyesal mengenal Viola.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Viola sayang," bisiknya menutup kembali dada itu tapi tidak dengan berat yang sudah berada di bawah sana. Galaksi memeluk erat tubuh Viola dengan nyamannya ia menjadikan dada empuk itu sebagai bantal.
Bersambung