Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Aldo


__ADS_3

Happy reading


"Kenapa berhenti?" tanya Viola pada sang suami yang berhenti dan mencekal tangannya.


"Kamu gak capek jalan terus?" tanya Galaksi mengajak istrinya untuk duduk di dahan pohon itu.


"Enggak kok Mas, aku malah seneng dan ngerasa sehat setelah jalan jalan gini," jawabnya menyadarkan kepalanya di dada Galaksi dengan nyaman.


Bagi bumil yang satu ini tiada tempat paling nyaman selain dada dan pelukan sang suami entah itu dimanapun dan kapanpun.


"Tapi kita sudah jauh dari rumah loh sayang, kamu juga belum minum susu kamu kan tadi pagi?"


"Mas aja yang minum, aku eneg kalau minum itu terus," jawabnya seraya menutup matanya dengan pelan.


"Mas gak suka susu sayang, tapi kalau susu kamu Mas mau," jawabnya mengecup bibir Viola tanpa malu.


Di taman itu tak banyak orang yang jalan jalan pagi, bahkan rata rata yang ada disana adalah ibu hamil.


"Mas ada banyak orang loh, malu ih," ujar Viola menepuk bibir tebal itu pelan.


"Dosa sayang, kenapa pakai nepuk bibir seksi Mas ini hmmm?" tanya Galaksi menatap sang istri.


"Maaf," ucapnya dengan pelan.


Wanita hamil itu menyuruh Galaksi menunduk dan mulai mengecup bibir itu beberapa kali.


"Udah gak dosa kan?" tanya Viola menatap mata Galaksi.


"Heem."


"Kita ke kafe aja yuk yank, aku udah capek nih nurutin kamu jalan terus," ajak Galaksi menujukan kafe yang tak jauh dari arah mereka.


"Ayo aku juga tiba tiba mau makan di kafe," balasnya dengan senyum.


Mereka berjalan menuju kafe itu dengan tangan yang saling bergandeng.


"Yang lantai atas atau yang bawah aja?" tanya Galaksi saat melihat lantai bawah penuh dengan pembeli.


"Atas aja gimana?"


"Ya sudah tapi harus naik tangga, gak apa kan?" tanya Galaksi mengelus perut buncit istrinya. Viola tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Mereka menaiki beberapa tangga menuju lantai atas itu dengan pelan, Galaksi selalu mengawasi sang istri yang berjalan pelan menaiki tangga.


Akhirnya setelah berberapa saat berjuang, mereka berdua sampai di lantai atas kafe itu. Walau harus menahan pengap karena bobot tubuhnya tapi setidaknya dia sudah olah raga lagi.


Mereka mengambil meja paling pojok yang terhubung langsung dengan kaca transparan itu.


Mereka pesan makan dan minum yang mampu membuat dahaga mereka berkurang.


"Mas tiba tiba pengen apel hijau deh," ucap Viola menatap pohon apel yang tak jauh dari mereka.


"Apel hijau itu dimana sayang?" tanya Galaksi pada Viola. Tak biasa biasanya istrinya ngidam buah selain buah mangga dulu itu.


"Tuhh."


Viola menunjuk pohon apel yang ada disana, berbuah lebat tapi sepertinya masih muda hingga membuat Galaksi yang melihat itu menelan lidahnya kasar.


"Pasti masih kecut apel itu," gumamnya tapi masih bisa didengar oleh Viola.


"Tapi aku mau apel yang itu," ujarnya dengan nada melas.


Mau tak mau Galaksi yang melihat Viola tampak melas itu hanya bisa menghela nafasnya. Jika Viola sudah mengeluarkan wajah melasnya ia tak bisa berbuat apa-apa karena takut akan membuat istrinya itu menangis.


"Kamu tunggu sini hmm, jangan kemana mana," ujarnya dengan lembut.


Galaksi berlaku menuju tempat yang ditunjukkan sang istri tadi. Meninggalkan wanita hamil itu sendiri, bukan sendiri tapi masih ada satu pengawal Viola yang selalu bersama wanita itu jika keluar.


Dari sudut meja yang lain, ada seseorang dengan senyum sendunya menatap Viola yang sedang memakan cake yang ada di depannya.


Pria itu bangkit dan berlalu menuju meja wanita hamil itu.


"Hai Vi," sapa pria itu duduk di depan Viola tempat Galaksi tadi.


Viola yang mendengar suara yang tak asing baginya itu mulai menghentikan makannya dan menatap pria yang ada di depannya.


"Aldo!!"


"Hahaha ternyata ingatan lu masih tajam ya," ujarnya dengan senyum lembut.


"Gue gak nyangka lu ada disini, kapan lu pulang? Kok gak bilang sama gue dan Beby?" tanya Viola dengan antusias.


Wanita itu ingin sekali memeluk Aldo yang tak lain adalah sahabatnya dengan Beby. Bahkan dulu mereka berdua sempat digosipkan berpacaran padahal mereka bertiga adalah sahabat. Beby dan Viola hanya menganggap Aldo sebagai sahabat tak lebih.

__ADS_1


"Udah sebulan lebih gue pulang, nomor kalian ganti jadi gue gak bisa hubungi deh. Tapi gue bersyukur bisa ketemu lu di sini," ujarnya dengan senyum khasnya hingga terlihatlah gigi gingsul milik pria itu.


"Oh ya lupa, ponsel gue yang dulu itu hilang. Nanti kita tukeran nomor WA sekalian punya Beby," balasnya dengan semangat.


"Siap, nih ponsel gue," ujarnya memberikan ponsel pintar miliknya.


Dengan cepat Viola memberikan nomor ponsel miliknya dan nomor ponsel Beby.


"Gue tadi lihat ada laki-laki sama lu siapa?" tanya Aldo dengan penasaran.


"Oh yang tadi itu suami gue, Galaksi namanya. Nanti gue kenalin sama lu," ujarnya dengan senyum seraya meminum jus yang ada di depannya.


"Suami ya," gumamnya dengan senyum kecut.


"Jadi gue kalah lagi Vi, setelah Beby gak bisa gue dapetin sekarang gue juga gak bisa dapetin lu," batinnya dengan sedih bahkan jika bisa ia menangis dalam hati.


Dulu saat kuliah, ia sudah mengalah dengan Chakra karena bisa mendapatkan Beby. Hingga membuatnya mundur tapi lagi lagi hatinya terpaut pada sahabatnya yang satu lagi, siapa lagi kalau bukan Viola.


Tapi Viola saat itu tak mau membuka hati untuk siapapun hingga membuatnya bersabar dan melanjutkan kuliahnya di luar Negeri. Berharap nanti Viola bisa menerimanya.


"Gimana lu udah ada pasangan belum? Anak gue aja udah mau lahir loh Al, kata lu kalau gue sama Beby udah nikah lu juga bakal ikut nyusul," ujarnya dengan nada mengoda.


"Cewek yang gue taksir ternyata udah punya suami Vi," jawabnya dengan sedih.


"Dih kasihan banget sih nasib lu. Dari SMA kisah cinta lu kagak ada yang mulus," ucapnya dengan tawa.


"Lu gak ada niatan buat rebut tu cewek kan? Awas aja kalau lu sampai jadi pebinor," lanjut Viola dengan nada yang serius menatap Aldo.


"Emm tergantung sih. Kalau suaminya gak bertanggung jawab dan buat cewek itu sedih. Gue akan ambil dia walaupun sudah mempunyai anak," jawab Aldo dengan nada serius pula.


Viola mengangguk dan kembali memakan makanannya yang masih tersisa seraya menunggu sang suami yang masih mengambilkan apel untuknya.


"Suami lu mana?" tanya Aldo pada Viola yang terlihat makin cantik daripada dulu saat kuliah.


"Ambil apel," jawabnya dengan santai.


"Lu gak pesen makan?" tanya Viola dan dijawab gelengan oleh Aldo. Niatnya hanya ingin menemani Viola makan saja.


Sedangkan mereka tak tahu jika Galaksi sudah ada disana menahan marah dengan tangan terkepal.


Bersambung

__ADS_1


Tampaknya babang Galaksi sedang cemburu.


__ADS_2