
Happy reading
Tak terasa hari sudah mulai malam, Satya yang melihat Clara terlelap itu tak tega untuk membangunkannya.
Satya menunggu sampai pacarnya itu bangun walau kakinya sudah sedikit keram karena memangku bobot dari Clara.
"Kamu memang cantik dan sedikit polos, selebihnya kamu juga sedikit mesum sayang. Aku gak nyangka hidupku agar sebahagia ini saat kamu menjadi pacarku," ujar Satya mengelus pipi putih itu dengan lembut.
Merasa ada yang menyentuhnya, Clara mulai mengerijabkan matanya dan bangun.
"Aku udah lama ya tidurnya?" tanya Clara dengan suara parau. Ia belum sepenuhnya terbangun dari tidurnya.
"Udah sayang, sekarang juga sudah malam."
Clara yang mendengar itu langsung membuka lebar matanya dan menata jam di pergelangan tangannya.
"Oh my god, udah jam 7 malam. Aku udah berapa jam tidur?"
Clara cukup kaget mendapati kenyataan bahkan dia sudah terlelap lebih dari 4 jam lamanya. Ia ingat tadi sebelum ia tidur Satya mengelus punggungnya lembut hingga membuatnya mengantuk dan tertidur dalam pangkuan Satya yang masih menyelesaikan pekerjaannya.
"Bangun dong yank, kaki aku agak keram."
Dengan cepat Clara bangun dan menatap Clara, ia menatap Satya dengan raut bersalahnya karena sudah duduk terlalu lama di pangkuan Satya.
"Maaf ya, Ay. Aku gak tahu, kenapa tadi kamu gak pindahin aku aja sih, biar aku gak buat kamu sakit gini," ujar Clara sedikit mengomel karena rasa bersalahnya.
Satya yang mendengar itu hanya tersenyum dan menggeleng. Mana bisa ia membiarkan pacarnya tidur di sofa keras itu. Lebih baik kan ia mengorbankan kakinya daripada tubuh Clara yang sakit.
Saya menarik tubuh pacarnya dan memeluk tubuh Clara dengan lembut. Ia meletakkan kepalanya di dada Clara yang cukup besar untuknya.
"Empuk banget deh dada kamu, kamu gak oplas kan yank?" tanya Satya dengan lembut.
Clara yang mendengar itu hanya tertawa, bukannya ia tersinggung atau marah. Lucu saja pertanyaan pacarnya yang mengira jika ia oplas.
"Aku gak oplas ayang. Dadaku ini ori, bukan imitasi. Walau aku sedikit pendek tapi aku juga bingung kenapa dadaku bisa sedikit besar dari ukuran normal."
"Tapi aku gak nyesel kok, bagiku dada besar itu sebuah anugerah dan aku malah terlihat lebih seksi. Kata kak Viola juga gitu," tambahnya.
"Hmmm."
"Tapi kamu suka kan?" tanya Clara menggoda Satya yang masih stay menelusupkan wajahnya di dadanya.
"Suka banget malahan. Tapi jangan salah ya sayang, aku menyukai kamu itu tulus bukan karena dada kamu yang besar ini. Walau aku suka sama dada kamu," jawab Satya dengan jujur.
"Oke oke, jadi dada besar itu bisa jadi nilai plus gitu kan ya?" tanya Clara mengelus rambut Satya.
"Mungkin."
__ADS_1
"Udah malam nih, kamu mau pulang atau enggak? Keram kamu juga udah sembuh atau belum?"
"Udah mendingan, yuk pulang. Bang Reno pasti juga sudah pulang dari sore tadi," ujarnya bangun dari kursinya.
Tapi sebelum pulang, Satya dan Clara berlalu menuju kamar mandi bergantian. Clara yang ingin membasuh muka sedangkan Satya ada sesuatu yang harus ia selesaikan.
Setelah selesai, Clara dan Satya keluar dari ruangan itu. Tak lupa untuk menguncinya.
Dalam perjalanannya menuju lantai bawah, Satya tetap memeluk pinggang Clara dengan satu tangannya sedangkan tangan satunya membawa tas kerjanya.
Sampainya di lantai bawah, mereka sedikit menyapa orang yang masih berjaga atau lembur disana. Hubungan keduanya juga sudah menyebar di kantor hingga tak ada yang akan salah sangka sekarang.
"Kita makan malam dulu yuk yank," ajak Satya setelah mereka sampai di mobil.
"Ayo aja, yang penting jangan sampai malam pulangnya nanti."
Satya mengangguk, ia juga tak akan membiarkan pacarnya dimarahi oleh keluarganya karena pulang terlalu malam bersamanya.
Satya menjalankan mobil itu menuju tempat makan favorit mereka, sejak masih berteman sampai sekarang.
"Bang sate ayam dua porsi dengan nasi," ucap Satya dan diaggukkan oleh abang tukang sate.
"Siap, mohon ditunggu ya Mas, Mbak."
Aroma sate yang dibakar itu membuat mereka tak sabar ingin memakannya, apalagi sate yang sudah bercampur dengan bumbu itu.
Mereka sangat menikmati makanan itu, seraya mendengarkan alunan lagu dari pengamen yang melewati mereka.
"Kamu suka seperti ini?" tanya Satya pada Clara.
"Suka banget, kapan aku gak suka kalau udah sama kamu."
"Kamu nih ya lagi lagi bikin aku gemes aja," ujarnya seraya mengusap noda sambal kacang di bibir Clara dengan tisu.
"Aku jujur kok. Aku suka selagi itu juga sama kamu," ujarnya dengan senyum.
"Ibu kemarin nanyain kamu, kapan mau datang ke rumah?"
"Terus kamu jawab apa?" tanya Clara.
"Aku bilang kamu masih sibuk sayang. Nanti kalau ada waktu aku mau ajak kamu ke rumah mau?" tanya Satya penuh harap.
"Mau! Aku juga kangen banget sama ibu, apalagi sama masakannya."
"Week end ya," ujarnya dan diangguki oleh Satya.
Akhirnya makan malam itu selesai, Satya membayar makanan mereka dan memutuskan untuk mengantar pacarnya pulang.
__ADS_1
"Ayang, besok aku gak bisa bawain kamu makan ke kantor. Tapi aku bawain bekel nanti ya, sebelum aku ke kampus aku mampir ke kantor buat kasih bekel ke kamu."
Clara memang sudah pandai memasak, karena ajaran dari Viola dan juga para koki di mansion. Kata Viola seorang wanita itu minimalnya harus bisa masak buat suami dan anak anak kita nantinya.
Walau Cara belum bisa memasak yang sulit, tapi masakan sudah cukup enak untuk dinikmati.
Nana adalah orang yang sering menjadi kelinci percobaan Clara. Dan hasilnya ada yang mengecewakan tapi yang enak juga banyak.
"Iya sayang, makasih buat selama ini. Maaf jika aku jarang merespon pesan kamu sama menyuruhku makan siang."
"Gak apa aku paham kok. Tapi jangan lupa makan ya," ucapnya dan diangguki oleh Satya.
Akhirnya mereka sampai di rumah besar itu pukul setengah 9 malam. Satya yang sudah melihat gerbang di tutup itu langsung membunyikan klakson.
"Gak apa-apa yank, biar aku yang jelasin kek Papa."
Gerbang itu dibuka dan benar saja Papa Bara sudah berdiri di depan pintu masuk bersama satu bodyguard menikmati kopi yang dibuat sangat istri tadi.
Keduanya keluar dari dalam mobil dan menghadap ke Papa Bara.
Papa Bara yang melihat Satya dan Clara mendekat itu tanpa sadar mengulas senyumnya tipis.
Ternyata putrinya tak salah pilih pendamping, sama seperti Galaksi dulu yang tak salah memilih Viola.
Satya memang pria yang bertanggung jawab, dalam menjaga Clara hingga saat ini.
"Kemana saja jam segini baru pulang?" tanya Papa Bara pada mereka berdua.
"Kami mampir makan sate dulu Pah. Maaf jika membuat Clara pulang terlalu larut."
Papa Bara bangkit dan mulai berjalan menuju sang anak dan Satya. Papa Bara tersenyum dan menepuk pundak Satya.
"Terima kasih sudah menjaga Clara, lain kali jangan terlalu pulang malam. Papa tak melarang tapi kalian ini belum resmi menikah, kalian masih pacaran. Papa tak mau sampai Clara kenapa napa."
"Siap Pa. Terima kasih."
"Hmm, jangan hancurkan kepercayaan Papa ya Nak. Papa berharap banyak pada kamu," ucapnya dengan lembut tapi penuh akan harapan seorang ayah.
Satya mengagguk dan tersenyum. Ia juga sudah berjanji akan menjaga Clara sampai kapanpun.
Ia tak akan mengecewakan Papa Bara dan seluruh keluarga yang sudah memberikan mereka restu.
Setelah itu Satya pamit pulang, dan diaggukkan oleh mereka. Clara yang melihat pacarnya itu hanya tersenyum.
Melihat Satya sudah pergi dari area rumah besar itu, Papa Bara dan Clara masuk ke dalam rumah menuju kamar masing masing. Mau bertemu dengan kembar juga sudah tidur merekanya.
Bersambung
__ADS_1