
Happy reading
Tak seperti hari biasanya jika weekend selalu bekerja, hari ini Reno sengaja meliburkan dirinya untuk menjaga istrinya yang sedang sakit. Aulia juga sedang hamil, usia kandungannya baru 1 minggu tak seperti Viola yang sudah jalan 1 bulan.
Sudah seminggu Aulia mengajukan cuti dari rumah sakit, dikarenakan badannya yang selalu tak tahan jika berada di rumah sakit. Bawaannya mual dan ingin muntah. Kata dokter itu hal biasa dan Aulia juga tahu itu.
"Sayang makan dulu yuk, dari kemarin kamu belum makan loh," bujuk Reno pada Aulia yang saat ini sedang menutup rapat mulutnya. Ia tak mau makan karena saat ia mengunyah makanan biasanya langsung muntah.
"Sayang kamu gak kasihan sama anak kita hmmm? Kamu lagi hamil loh. Walaupun swdikit harus makan. Ayo buka mulutnya."
"Aku gak mau Mas, nanti muntah lagi," jawabnya menatap suaminya dengan sendu. Ia sebenarnya ingin makan tapi perutnya tak mau menerima nasi yang masuk.
"Sedikit aja ya."
Aulia tetap menggeleng, ia tak mau apapun selain tidur di kamarnya yang empuk ini. Tapi bukan Reno jika tak bisa membuat istrinya itu makan.
Reno menarik tengkuk leher Aulia dan dengan paksa menyuapkan bubur ayam yang tadi ia buat. Saat Aulia ingin memutahkannya, dengan cepat Reno mencium bibir pucat itu hingga membuat Aulia melotot jadinya.
Hingga mau tak mau Aulia menelan bubur yang ada di mulutnya dengan paksa. Reno tetap melakukan hal itu hingga bubur yang ada di mangkuk habis. Setelah selesai makan Reno memberikan buah anggur agar meredakan mual yang mendera Aulia. Hal itu karena ia tanya pada Viola kemarin.
"Kamu mau apa lagi yank?" tanya Reno pada istrinya.
"Gak mau apa-apa, mau tidur aja tapi kamu peluk aku ya," pintanya dengan wajah melas. Rasanya ia ingin tidur saja tanpa melakukan apapunnyang membuatnya pusing.
"Ya sudah, sini aku peluk. Kamu sejak hamil jadi manja ya. Tapi aku suka kamu yang manja begini," ucap Reno mengelus punggung istrinya dengan lembut.
"Sehat sehat ya anak Papa, jangan nyusahin Mama terus," ucap Reno mengelus perut rata istrinya. Aulia yang hanya mendengar anak Papa itu tak terima pasalnya ini juga anaknya.
"Anak Mama sama Papa bukan cuma anak Papa!"
"Iya anak Mama dan Papa."
Akhirnya Aulia diam, entah kenapa sekarang ia jadi sensitif begini padahal hanya masalah sepele.
Tak lama nafas Aulia mulai teratur, Reno yang melihat istrinya sudah terlelap itu hanya tersenyum. Wajah Aulia sangat mengemaskan jika sedang tenang seperti ini. Tapi beda lagi jika nanti sudah bangun, sifatnya yang keras kepala itu membuat Reno pusing tujuh keliling.
__ADS_1
"Aku mencintai kalian kesayangan Papa," bisiknya Reno di telinga istrinya tapi tangannya mengelus perut sang istri.
Di tempat yang berbeda, Clara yang sedang mengendarai sepeda milik kakaknya itu tak sengaja menabrak ranting pohon yang sepertinya belum di singkirkan, hingga membuat Clara jatuh dari sepeda.
"Awss sakit banget," gumamnya memegang kakinya.
"Adek gak apa-apa?" tanya seorang laki-laki yang tak sengaja melihat insiden jatuhnya Clara.
Clara yang mendengar itu langsung mendongakkan kepalanya dan ternyata laki laki itu adalah Satya.
"Gak apa-apa," jawabnya malu.
Satya yang mendengar itu hanya menggeleng, jelas jelas lutut Clara mengeluarkan darah tapi masih bilang tak apa-apa.
Tanpa ba bi bu, Satya menggendong Clara menuju kursi yang ada disana. Ia meninggalkan Clara disana sendiri tanpa berbicara.
"Mau kemana sih dia, gak jelas banget deh. Udah gendong aku tapi aku malah ditinggal sendiri disini," gumamnya kecewa.
Padahal ia sudah berharap seperti yang ada di novel novel, ceweknya jatuh dan cowoknya ngobatin lukanya. Tapi hidup tak seindah cerita di novel.
"Jangan banyak cemberut nanti cepat tua loh," ujarnya. Clara menerima es itu dengan malu, apa Satya tahu tingkatnya tadi.
Pria itu berjongkok di depan Clara dan membersihkan luka di lutut gadis itu.
"Perih kak, pelan pelan," ucapnya memegang pundak Satya.
"Gak sakit kok dek, kalau gak cepat diobati nanti malah infeksi," ucapnya dengan lembut. Suara itu cukup membuat Clara yang notabene menyukai pria ini tersenyum malu.
Akhirnya Satya selesai mengobati lutut Clara, yang memang hanya memakai celana yang sedikit longgar itu.
"Mau kakak antar pulang?" tanya Satya yang tak tega melihat Clara seperti ini.
"Aku bosen kak di rumah terus, mau main sama Kak Viola udah dikuasai sama Kak Galau jadi ya aku sendiri."
"Emang kamu gak punya teman hmm? Biasanya anak cewek itu kan kalau weekend selalu jalan jalan sama temannya dan belanja gitu," tanya Satya duduk di samping Clara.
__ADS_1
"Aku gak punya temen kak, semua yang deketin aku cuma mau harta aku aja. Dan juga tanya tanya soal kak Gala," jawabnya tanpa sadar menceritakan apa yang selama ini tak pernah ia ceritakan pada siapapun. Gadis itu merasa nyaman saat berada di dekat Satya.
Clara memakan es krim pemberian Satya tadi dengan lahap hingga membuat mulut gadis itu belepotan.
"Emm kamu masih SMA kan?" tanya Satya mengusap noda di bibir Clara.
Deg deg deg.
"Mama papa help me, jantung Clara gak normal," batin Clara memegang dadanya yang berdetak kencang.
"Heem, Clara masih SMA. Tinggal tunggu ujian kelulusan dan udah selesai," jawabnya.
"Adik kakak juga masih SMA, mungkin kamu gak kenal sama dia."
"Siapa?" tanya Clara.
"Nana Saputri," jawabnya.
"Nana? Kelas MIPA 2 kan?" tanya Clara dan diangguki oleh Satya.
Tentu Clara tak akan lupa siapa itu Nana, gadis satu satunya yang menolongnya saat ia di bully di gudang sekolah.
"Dia adikku, dia terlalu berani hingga membuat aku dan orang tua khawatir karena keberaniannya itu."
"Nana pernah membantu aku saat dibully, bahkan seragamnya sampai sobek saat itu. Aku ingin berterima kasih tapi kata teman temannya dia gak masuk. Sampai saat ini aku belum ketemu dia lagi."
"Kamu pernah di bully dan Nana yang menyelamatkan kamu."
Satya cukup yerkejut mendengar jika wanita yang mencuri perhatiannya pernah dibully dan yang lebih kagetnya lagi Nana pernah menyelamatkan Clara.
Galaksi teringat saat Nana pulang dengan kacau beberapa bulan lalu. Nana bilang jika dirinya menyelamatkan kucing yang terjepit di gudang sekolahnya hingga membuat rok dan baju seragamnya sobek.
Jadi yang dimaksud Nana kucing itu Clara, Clara memang mengemaskan jadi tak heran kenapa Nana memanggilnya kucing.
"Kak Sat, aku boleh bertemu Nana. Mau bilang terima kasih," pintanya dan dianggukkan oleh Satya.
__ADS_1
Bersambung