
Oke, kalau kemarin kita sudah baca flashbacknya Tiara saat hilang. Kini saat Tiara di temukan oleh Mama dan Papa ya.
Happy reading
"Ibu, Ayah...."
Tangisan itu sangat pilu, Tiara kecil masih saja memeluk boneka yang diberikan Reno itu padanya.
"Kak Lenooo, Tiara takuttt hiks."
Tiara duduk di bawah pohon besarnya dengan memeluk lututnya sendiri. Rasa takut itu membuat gadis slcilik itu berhenti. Apalagi ini adalah malam hari.
Sedangkan seorang suami istri yang baru saja pulang dari pemakaman itu tampak sedih karena putri tercinta mereka harus menghadap sang ilahi terlebih dahulu. Mama Luna dan Papa Zidan, pasangan suami istri yang baru saja kehilangan seorang anak karena kecelakaan.
"Viola udah tenang di alam sana Mah, jangan tangisi dia terus hmmm. Kan kita masih bisa bikin yang lain."
"Papa gak ingat apa kata dokter dulu, aku susah hamil lagi karena satu indung telurku diangkat. Memiliki Violet adalah hadiah terbesar dalam hidupku, tapi kenapa Tuhan malah kembali mengambilnya," ucapnya menangis pilu.
"Kita harus selalu usaha Mah, banyak yang masih bisa punya anak walau memiliki satu indung telur, Mama jangan pesimis gitu dong," ucapnya dengan senyum seolah memberikan kekuatan pada istrinya.
"Tapi Mama mau Viola Pah," isaknya terus terdengar.
"Mama, kalau Mama terus terus tangisi Viola. Dia gak akan tenang. Mama mau anak kita gak tenang hmmm?" tanya Papa Zidan pada istrinya. Tangan pria itu mengelus punggung sang istri.
Setelah tangisan itu reda, tanpa sengaja mata Mama Luna tertuju pada gadis kecil yang duduk di pinggir jalan di bawah pohon besar itu.
"Pah, itu manusia apa bukan?" tanya Mama Lunak menujuk Tiara yang ada disana.
"Manusia kayaknya, lihat aja masih napak kakinya," jawab Papa Zidan menepikan mobilnya di sana.
Mereka berdua keluar dari mobil dan menghampiri tiara yang menangis di pinggir jalan itu.
"Nak, kenapa nangis disini? Orang tuanya mana?" tanya Mama Luna pada Tiara. Entah kenapa ia seraya dekat dengan Viola, putrinya yang berusia hampir sama dengan Tiara.
Mendengar pertanyaan itu membuat Tiara mendongakkan kepalanya menatap sumber suara dengan tatapan polosnya.
Mama Luna dan Papa Zidan yang melihat Tiara itu sempat terpesona akan mata bulat dan pipi cubby Tiara. Hingga mereka kembali tersadar saat mendapat jawaban dari Tiara.
"Tia hilang dari rumah hiks, Tia takut hiks hiks," jawabnya dengan tangis air matanya kembali mengalir saat menjawab itu.
"Nama kamu siapa Nak?" tanya Papa Zidan.
"Tiara."
__ADS_1
"Tiara tahu rumahnya dimana? Biar om sama Tante anterin!"
"Mas..." Mama Luna menggeleng, entah kenapa ia sangat menyukai Tiara. Apa mungkin Tiara adalah pengganti Viola untuk membahagiakan mereka.
"Tiara gak tahu rumah Tia dimana, tadi Tia main ini. Tapi tersesat sampai sini, Tia takut... Tiap kangen Ibu, Ayah, Kak Reno..."
"Kalau gitu kita laporkan ke polisi yuk Mah. Kasihan dia, pasti orang tuanya juga ikut mencari."
"Aku gak mau Mas, biarkan Tiara tinggal sama kita," ucap Mama Luna. Ia berjongkok di depan Tiara.
"Tiara sayang.... Kamu mau tinggal sama Om dan Tante nak? Nanti kita cari Ibu dan Ayah kamu disini," tanya Mama Luna dengan lembut.
Papa Zidan yang mendengar itu langsung menggeleng, jika mereka di tuduh penculik anak bagaimana?
"Mama tapi gimana kalau ada yang tahu Mah, bukan aku gak mau tapi Papa cuma takut dikira penculik anak," ujar Papa Zidan.
"Gak akan kok Pah, lagipula besok lusa kita kan akan ke Singapura," ucapnya mengelus rambut Tiara dengan sayang.
Tiara yang menikmati elusan lembut itu tak terasa terlelap dalam pelukan Mama Luna. Ia lelah jalan sendirian, dan setelah menemukan sandaran yang pas, ia tertidur.
"Papa gak kasihan lihat wajah polosnya tertidur seperti ini? Mungkin Tuhan memang mengirimkan Tiara untuk kita," ujarnya menatap Tiara yang sedang terlelap di pelukannya.
Akhirnya Papa Zidan mengikuti apa yang diinginkan sang istri, tak ada salahnya juga ia mengadopsi Tiara menjadi putrinya. Tapi tetap Viola dan Tiara akan menjadi anak anaknya.
Mama Luna menidurkan Tiara dengan lembut, tangannya tak berhenti mengelus rambut halus Tiara.
Papa Zidan yang memuat kebahagiaan di wajah istrinya itu hanya tersenyum, baginya tak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat wajah yang kita cintai bahagia.
"Mas gimana kalau kita adopsi Tiara!"
"Tapi persyaratan adopsi itu tak mudah loh, kita pakai identitas Viola saja dulu. Lagi pula sepertinya mereka sepantaran. Aku kasihan jika dia ditemukan orang jahat tadi," jawabnya dan diangguki oleh Mama Luna.
"Mungkin Tiara adalah anak yang dikirim Tuhan untuk kita agar bisa lebih bersyukur. Viola akan tetap menjadi putri Mama, dan Tiara juga akan menjadi putri Mama. Kalian berdua anak anak kami. Walau Viola lebih dahulu meninggalkan kita," gurami Mama Luna mengecup keinginan Tiara.
"Tapi jika dia dicari orang tuanya bagaimana?" tanya Papa Zidan.
"Suatu saat mereka juga akan menemukannya. Sekarang biarkan Tiara bersama kita ya, aku menyayanginya. Dia pengganti Viola," jawab Mama Luna.
Akhirnya mobil mereka sampai di rumah dua lantai itu. Papa Zidan menggendong Tiara memasuki kamar Viola yang penuh akan boneka.
"Pah.... Aku tidur sini ya sama Tiara," pintunya dan dianggukkan oleh Papa Zidan.
"Papa juga mau tidur sini, bareng kalian," jawabnya. Mama Luna tersenyum dan mengajak Papa Zidan untuk mandi karena mereka sehabis dari makam Viola.
__ADS_1
"Mama.... Plus plus ya," pintunya seraya menggendong tubuh Mama Luna ke kamar mandi.
"Besok ya, hari ini Mama capek. Emang Papa gak capek habis dari makam?" tanya Mama Audio membuka pakaiannya dan diikuti oleh suaminya.
"Enggak ada kata capek buat Papa," jawabnya dengan senyum.
Suaminya itu ada ada saja. Akhirnya mereka berdua mandi besar membersihkan noda noda yang menempel pada tubuh mereka.
"Pah," panggil Mama Luna yang baru saja mengganti pakaian Tiara.
"Ada apa?" tanya Papa Zidan yang memang tak keluar.
"Kayaknya dia habis ultah deh Pah, lihat gaunnya aja gaun pesta," ucapnya berkaca kaca.
Apa memang Tiara ditakdirkan untuk mereka, hari ini Viola juga ulang tahun dan tepat dengan Tiara berulang tahun.
"Ini bukan sebuah kebetulan Pah, Tiara memang di takdirkan untuk menjadi anak kita," ucapnya dengan tangis haru.
Papa Zidan memeluk tubuh istrinya dengan lembut, ia juga berfikir sama.
Setelah hari itu, lukanya mereka mengajak Tiara ke Singapura karena perusahaan mengirimnya untuk ke sana. Tiara yang terlanjur nyaman itu mau mau saja apalagi banyak boneka di rumah itu.
Tiara yang saat itu masih berumur 5 tahun sangat senang dengan semua ini, perlahan ia melupakan kesedihannya tentang keluarga kandungnya karena keluarganya yang sekarang juga menyayanginya.
Mama Luna dan Papa Zidan bangga memiliki putri yang sangat pintar dan juga baik. Tiara yang saat itu berubah jadi Viola juga sering memenangkan kompetisi diberbagai bidang. Walau namanya ganti tapi jiwa dan kesukaannya adalah Tiara.
Setelah lima tahun di Singapura, keluarga kecil itu kembali ke Indonesia. Mereka kembali ke rumah itu dengan Tiara yang sudah tumbuh menjadi gadis cantik dengan tubuhnya yang tinggi membuatnya menjadi idola di sekolahnya. Hingga membuat banyak siswa tak suka dengan Tiara. Tapi Tiara bukanlah gadis lemah yang gampang ditindas, ia sangat pemberani melawan pembully. Walau orang tuanya harus dipanggil karena kelakuannya itu tapi Mama dan papanya tak pernah memarahinya, karena ia tak salah.
Hari hari berlalu, ia keluar dari SMP dan ingin di sekolah SMA ternama di kota itu. Belum ada yang bisa membuat hadiah 15 tahun itu jatuh hati karena ia masih kecil itulah jawaban saat ada cowok atau teman laki lakinya yang menembaknya.
Hingga disaat orang tua dan dirinya ingin menghadiri sebuah acara di perusahan, mobil mereka ditabrak oleh sebuah bus pariwisata hingga hancur. Papa Zidan dan Mama Luna yang saat itu ada di kursi belakang memeluk erat Tiara dengan erat seolah memberi perlindungan penuh untuk putrinya ini. Tiga kata yang Tiara dengar sebelum ia ikut pingsan,"Tiara putri kami."
Dalam kecelakaan itu, hanya Tiara yang selamat. Korban kecelakaan itu ada 20 orang. Empat diantaranya adalah Tiara atau Viola, Mama Luna, Papa Zidan, dan supir rumah mereka. Sedangkan 16 lainnya adalah supir dan penumpang bus pariwisata itu.
Setelah mengetahui orang tuanya tiada, tentu Tiara sangat syok bahkan pernah dinyatakan gila. Tapi Tiara berusaha menerima setelah ada seorang ustadz yang menasehatinya. Ternyata orang tuanya sudah menyiapkan biaya untuk melanjutkan hidup setelahnya.
Ia hanya hidup bersama pembantu rumah dan satu orang supir saja hingga saat ini.
Bahkan hingga saat ini Tiara masih ingat bagaimana eratnya pelukan kedua orang tuanya hanya untuk menyelamatkannya. Baginya orang tuanya itu adalah penyelamatnya.
Flashback off
Jadi begitulah kisah kelam yang pernah dialami Tiara.
__ADS_1
Viola itu adalah Tiara, dan Tiara adalah Viola.