Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Perasaan Bersalah


__ADS_3

Happy reading


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!!"


Reno masuk ke dalam ruangan Tuannya dengan sopan, setelah dari rumah sakit tadi Reno tampak bersalah karena tak memberi tahukah soal Viola pada Galaksi.


"Kenapa Ren?" tanya Galaksi tanpa menoleh kearah Reno.


"Saya mau minta maaf Tuan, bukan maksud saya menyembunyikan Nona Viola tapi beliau sendiri yang ingin menyembunyikan diri," jelas Reno dan diangguki oleh Galaksi.


"Aku tahu, dia sudah bercerita padaku," jawabnya yang membuat Reno menghela nafasnya.


"Maaf juga Tuan, karena Nona Viola juga harus merawat Ibu saya. Saya juga tak tahu kenapa Ibu menyukai Nona Viola dan selalu memanggil Nona Viola sebagai Tiara."


"Apa kamu tak kepikiran jika Viola adalah adikmu?" tanya Galaksi menatap Reno.


"Saya pernah berfikir demikian Tuan, tapi saya menutupnya. Saya pernah mengambil rambut Nona Viola untuk tes DNA tapi entah kemana rambut itu hilang," jawabnya.


"Hmm, kamu bilang adikmu hilang sejak dia berumur 5 tahun kan?" tanyanya dan dianggukkan oleh Reno.


Dan pas sekali biodata Viola saat itu hilang dari bayi sampai berumur 5 tahun. Galaksi pernah berfikir jika terjadi sesuatu pada kekasihnya dulu.


"Apa jadwalku hari ini?" tanya Galaksi pada Reno.


"Hari ini kosong Tuan, karena meeting dengan PT Angkasa diundur sampai minggu depan. Dikarenakan beliau berhalangan untuk hadir," jawabnya yang memang sudah hapal di luar kepala.


"Oke bagus, hari ini aku akan menginap di rumahmu," ucap Galaksi dengan tegas seolah tak ingin di tolak.


"Baik Tuan."


"Aku seneng Tuan Galaksi sudah bisa mengingat semuanya, tapi kenapa Anda semakin bikin saja dengan Nona Viola? Bahkan kemana mana harus bersama," batin Reno menatap Galaksi yang kembali berlayar pada laptopnya.


"Dan yah siapkan spa langganan kita," ujarnya menatap pantulan dirinya di larat laptop itu.


"Tuan mau kesana?"


"Hanya memotong rambut dan perawatan mata," jawabnya membuka galeri laptop itu.


"Dia sangat hot," batinnya menatap foto Viola yang hanya memakai celana pendek dengan bera berwarna merah itu sedang tersenyum di atas kasur.

__ADS_1


Tak heran jika ada foto seperti itu di laptopnya, karena hampir setiap saat Galaksi memotret Viola saat wanita itu tak sadar. Hal itu cukup mengesankan untuk Galaksi karena Viola jarang sekali foto sedangkan ia memiliki ribuan foto kekasihnya.


"Tuan Galaksi sudah gila?" tanyanya dalam hati.


Reno pamit keluar dari ruangan itu meninggalkan Galaksi yang masih menggeser foto foto kekasihnya.


"Lebih hot lagi kalau gak pake apa-apa," batin Galaksi dengan senyumnya.


Sedangkan Viola yang sudah sampai di rumah keluarga Reno. Rumah dua lantai dengan halaman yang luas itu terlihat masih sangat rapi dan bersih. Mungkin karena rumah itu selalu di rawat dengan baik tiap harinya.


Mereka berjalan masuk ke dalam rumah dengan Viola mendorong kursi roda Ibu Lana diikuti oleh Ayah Sandi di belakang.


"Nak Vio, maaf ya Ayah banyak ngerepotin," ucap Ayah Sandi pada Viola.


"Gak ngerepotin kok Yah, Viola malah seneng bisa jaga Ibu. Soalnya Mama dan Papa Vio udah gak ada," jawabnya dengan senyum.


"Andai kamu Tiara anak kamu, pasti kami akan sangat bangga nak," ujarnya mengelus rambut Viola dengan lembut.


Deg


"Perasaan apa ini? Kenapa sangat nyaman dielus seperti inii?" tanyanya menikmati elusan tangan Ayah Sandi.


"Tiara pasti ketemu kok Yah," jawab Viola menatap Ayah Sandi.


"Ini Tiara loh Yah, kok gak ingat sama anak sendiri?" tanya Ibu Lana pada suaminya.


"Ini Viola bu, bukan Lana. Anak kita belum ketemu," lirihnya tapi masih bisa di dengar oleh Ibu Lana.


"Gak! Kamu Tiara kan? Anak Ibu?" tanya Ibu Lana dengan nada bergetar. Kenapa suaminya tak percaya jika ini adalah Tiara, putri mereka?


Viola yang mendengar itu menelus punggung Ibu Lana untuk menenangkannya.


"Iya bu, ini Tiara tapi juga Viola. Ibu bisa panggil aku Tiara, bisa juga Viola."


"Kamu Tiara hiks, Tiara putriku," tangisnya memeluk tubuh Viola dengan erat.


Ayah Sandi yang melihat itu sedih tapi juga senang karena disaat istrinya sedih sudah ada yang bisa menenangkannya.


Detik berganti menit, menit berganti jam. Tak terasa hari sudah mulai sore, Viola dan Ibu Lana yang berada di taman itu kembali masuk karena cuaca dingin yang tak baik untuk Ibu Lana.


Ayah yang baru turun dari kamar itu membuat Viola tersenyum. Ayah menghampiri mereka, dan mengecup kening istrinya.

__ADS_1


"Ibu waktunya istirahat loh, emang gak capek hmm?" tanya Ayah Sandi mengelus rambut istrinya yang tadi terbawa angin.


"Enggak kan ada Tiara," jawabnya senang.


"Tiara juga lelah Bu, dia belum istirahat dari pagi. Ibu gak mau Tiara lelah dan sakit kan?" tanyanya dengan lembut. Ibu Lana menggeleng, ia tak mau putrinya lelah dan pergi dari rumah ini lagi.


"Ya sudah biarkan Tiara istirahat dan kita juga istirahat ya," ajaknya dan diangguki oleh Ibu Lana.


"Terima kasih ya Nak Vio, Ibu istirahat dulu," ujarnya dengan senyum menatap Viola yang mengangguk.


Kini tinggallah Viola di ruang keluarga itu, ia tak tahu ingin berbuat apa sekarang.


"Bibi mau masak?" tanya Viola yang melihat Bibi pembantu membawa barang belanjaannya itu.


"Iya Mbak Vio, masak buat makan malam," jawabnya dengan senyum.


"Nah pas banget, Viola bantuin ya Bi. Viola bosen gak ngapa ngapain," ujarnya mengikuti bibi ke dapur.


"Emang gak ngerepotin Mbak?" tanya Bibi.


"Gak kok Bi, Vio udah biasa masak kayak gini jadi gak kaget. Boleh ya bi?"


"Iya mbak kalau gak ngerepotin Mbak Vio. Bibi mah iya aja," jawabnya dengan senyum.


Akhirnya di sore ini Viola membantu Bibi untuk memasak makanan malam, Viola tak tahu jika Galaksi juga akan menginap disini.


"Bibi udah lama kerja disini?" tanya Viola seraya memotong daging ayam itu tipis.


"Lama sih mbak dari Tuan Reno umur 7 tahun kayaknya. Saat itu saya menggantikannya ibu saya yang dulu juga kerja disini sebagai Baby sitter Mas Reno dan Mbak Tiara yang saat itu masih umur 1 tahun."


"Jadi bibi tahu dong tentang Tiara yang hilang itu?" tanya Viola.


"Tahu Mbak, saat itu Bibi yang paling bersalah dalam hilangnya Mbak Tiara. Bibi lalai menjaganya, bahkan saat melihat wajah sedih Mas Reno dan Bapak saya selalu bersalah," jawabnya dengan sedih. Wanita berumur 46 tahun itu terlihat sedih dan menyesal.


Viola yang mendengar itu hanya bisa mengelus punggung Bibi pembantu dengan lembut.


"Saat itu.."


Bersambung


Bab selanjutnya adalah tragedi dimana Tiara hilang dari rumah pas ulang tahunnya yang lebih 5 tahun ya. Salah satu request dari reader yang saya lupa siapa namanya tapi yang pasti udah buat saya ide baru. Makasih ya.

__ADS_1


Salam Sayang


Tya


__ADS_2