
Happy reading
"Tuan kecil masih bisa menyusu walau Nona masih di alam bawah sadarnya Tuan. Karena ASI Nona tetap berproduksi."
Galaksi menatap wajah putranya yang sudah memerah karena tangisan yang terlalu keras.
"Kalian pasti kangen Mommy kan? Baiklah Daddy akan mempertemukan kalian. Semoga saja setelah bertemu kalian Mommy cepat bangun," ucap Galaksi dengan senyumnya.
Galaksi meminta suster untuk membawa anak pertamanya menuju kamar istrinya sedangkan dia membawa anak keduanya.
"Kalian jaga disini, jangan sampai ada yang masuk sebelum selesai," ujarnya pada beberapa bodyguard dengan tegas.
"Siap Tuan!"
Galaksi masuk dan mempersilahkan suster dan dokter untuk melakukan apapun yang bisa membuat Viola menyus*i putra mereka.
"Sebenarnya ada cara lain selain men*usu langsung Tuan, tapi kami belum memiliki alatnya. Dengan memompa ASI Nona Viola agar lancar produksi ASI nya."
Dokter itu membuka baju pasien yag dipakai Viola dan terlihatlah dada yang cukup besar itu.
Dokter itu mengambil satu bayi kembar itu dan meletakkannya di dada Viola. Bayi itu mulai diam dan mencari sumber kehidupannya.
"Akhirnya abang bisa minum dengan lahap," ucap Galaksi kemudian ia menatap bayi yang ada di gendongannya.
"Apa tidak bisa langsung dua? Aku kasihan dengan putraku yang ini jika harus menunggu Abangnya selesai minum," tanya Galaksi pada dokter itu.
Jujur saja melihat wajah putranya yang sudah memerah membuatnya tak tega dan juga takut.
"Bisa saja Tuan, semoga Nona tidak kesakitan," jawabnya.
Dokter itu bukan tak tahu jika Bayi itu akan lama meny*su karena dari lahir belum ada yang masuk kedalam perut mereka.
Karena Galaksi belum mau menamai anak-anak mereka, hingga membuatnya memanggil Abang dan Adik.
Adik diletakkan di dada bagian kanan Viola sedangkan Abang ada di sebelah kiri.
Tampak mereka sangat lahap men*usu, hingga membuat Galaksi mengulas senyumnya.
__ADS_1
"Di saat tak sadar saja kamu juga sudah menjadi seorang ibu yang baik sayang," batin Galaksi duduk dan mengamati apa yang sedang anak anaknya lakukan.
"Kalian semua boleh keluar, aku ingin anak anak bersamaku saat ini," usir Galaksi pada mereka semua.
"Baik Tuan jika nanti Tuan kecil sudah selesai minum, Tuan bisa meletakkannya kembali di troli.
"Hmmm."
Dua suster itu keluar dari kamar itu hingga tersisalah, Galaksi, Viola dan dua anak mereka yang sangat lahap meminum susu itu.
"Jangan kenceng kenceng ya boy, kasihan Mommy," ucap Galaksi pada anak anaknya. Walau mereka tak merespon apapun.
Sebenarnya ia sedih melihat anaknya yang seakan menginginkan kasih sayang Mommynya, tapi melihat istrinya yang masih terbaring dengan lemah di ranjang itu membuatnya takut.
Setelah beberapa menit meny*su Abang sudah selesai menyus*u, terlihat dari bayi itu yang sudah melepaskan hisapannya. Sedangkan adiknya masih betah menyedot sumber kehidupan itu dengan lahap.
"Anak Daddy sudah kenyang hmm?" tanya Galaksi menggendong bayi yang sedang mengerijabkan matanya itu dengan pelan itu.
"Maafkan Daddy karena belum memberi nama kalian. Daddy ingin memberi kalian nama saat Mommy sudah bangun hmm. Jangan marah ya sayang, kalian akan Daddy panggil Abang dan Adik."
Galaksi menimang pelan Bayi itu, terlihat Abang tersenyum samar menatap Daddy nya.
"Adik sudah kenyang hmm, gimana rasanya bisa minum sampai puas hmm?" tanya Galaksi mengecup hidung Adik yang terlihat sangat mengemaskan.
Adik tak menjawab tapi tangannya mulai keluar dari bedong yang dipakai. Galaksi yang melihat dada istrinya masih terbuka itu mulai menutupnya dengan pelan tapi satu kecupan lembut ia layangkan ke dada putih mulus itu.
"Cepat bangun, aku juga menginginkan dada kamu ini sayang. Bukan cuma anak anak," ujar Galaksi menutup dada Viola dengan lembut.
Tanpa Galaksi sadari jika Viola meneteskan air mata. Wanita itu merespon apa yang telah terjadi tapi matanya seakan berat tak ingin di buka.
***
Tak terasa hari sudah mulai malam, Reno yang sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan Satya itu memutuskan untuk pulang. Satya yang biasanya lembur juga ikut pulang karena ingin melihat bayi dari bosnya.
Reno melajukan mobilnya menuju warung bakso langganannya dan memesan pesanan sang istri tadi.
Sedangkan Satya saat ini menjemput Clara di mansion. Karena mereka ingin bersama ke rumah sakit.
__ADS_1
Hubungan keduanya juga sudah tak menjadi rahasia lagi. Dan hubungan mereka juga di restui oleh kedua belah pihak. Keluarga Ryano juga tahu jika Satya adalah anak baik baik, dan satu rahasia yang dulu cukup membuat mereka semua terkejut. Bahwa Ibu Satya adalah anak angkat Oma Airin yang saat kecil diculik.
"Masuk sayang, kenapa diam aja di luar?" tanya Satya membukakan pintu mobil itu dari dalam.
"Gak apa-apa, kakak baru pulang kerja ya?" tanya Clara menatap stelan baju Satya.
Clara masuk ke dalam mobil itu, dan meletakkan tas yang ia bawa di kursi belakang.
"Apa itu?" tanya Satya mulai menjalankan mobilnya.
"Baju ganti kak Galaksi dengan baju baju si kembar," jawabnya memeluk lengan pacarnya dengan erat.
Maklumlah sudah tiga hari mereka tak bertemu, sekalinya bertemu pasti Clara akan sangat manja tapi Satya tak keberatan akan hal itu.
"Kakak udah makan belum?" tanya Clara pada Satya.
Karena Clara sering mendapati pacarnya ini belum juga makan malam karena terlalu mementingkan pekerjaannya membuat Clara yang notabene adalah pacar menjadi khawatir akan kesehatan Satya. Tak jarang Clara membawakan makanan ke kantor untuk Satya, tapi beberapa hari ini ia terlalu sibuk dengan tugas kuliahnya.
"Belum," jawabnya jujur. Ia tak pernah menyembunyikan sesuatu sekecil apapun dengan pacarnya ini begitupun dengan Clara.
"Kok belum sih kak, nanti kalau kakak sakit gimana? Udah berapa kali Clara biang kalau kesehatan itu lebih mahal dari apapun," ujarnya dengan nada khawatirnya.
"Kakak gak apa-apa kok sayang, tadi siang udah makan kok."
"Kita mampir ke kafe dulu baru kita ke rumah sakit," ujar Clara.
"Kamu tahu kan, jam besuk sudah hampir habis. Aku gak mau nunggu sampai besok sayang. Nanti aja ya di kantin rumah sakit," ujarnya dengan lembut mengelus rambut pacarnya.
"Kalau nanti kamu sakit gimana?" tanya Clara menatap mata Satya yang fokus pada jalannya.
"Enggak sayang, udah jangan khawatir gitu."
Satya senang diperhatikan seperti ini oleh Clara. Jika tahu memiliki pacar semenyenangkan ini mungkin sudah sedari dulu ia memiliki pacar. Tapi ia tak menyesali apapun yang terjadi saat ini. Karena ia sangat mencintai pacarnya ini.
"Nanti kita jalan jalan bentar mau?" tanya Satya pada Clara.
"Boleh kak," jawabnya.
__ADS_1
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit, Clara mengambil tas yang ada di belakang dan membawanya masuk ke rumah sakit.
Bersambung