
Happy reading
"Ayo menikah."
Galaksi masih setia berlutut dengan memegang kotak cincin itu. Viola yang melihat tingkah pacarnya itu hanya tersenyum geli. Bukan ia mau menolak, ia juga mendengar sedikit apa yang diucapkan Mama Audi hingga membuat Viola berfikir ulang untuk menikah.
"Tapi aku gak hamil loh By, jadi jangan dulu ya," goda Viola menatap sang suami.
"Aku tak bisa menunggu sayang, aku takut jika kamu hamil. Anakku adalah keturunan Ryano, aku juga tak mau anakku lahir tanpa ayah," ujarnya dengan sendu.
"Aku gak hamil loh, kenapa Kamu yakin banget kalau aku hamil?" tanya Viola dengan tatapan Yang tak bisa diartikan.
"Aku yakin kamu hamil Viola sayang, tapi belum kelihatan aja kan belum sampai 2 minggu juga," ujarnya dengan gusar. Ia takut di tolak Viola lagi, tapi ia juga tak mau terus terusan menganggantung.
"Mama udah restuin kita kok yank, jadi kamu gak perlu takut," ujar Galaksi masih stay berlutut.
"Gak bisa Gal! Aku masih muda," ucapnya seraya menaikkan kakinya ke kasur empuk itu.
Galaksi yang kembali mendapat tolakan dari sang pacar itu menghela nafasnya kasar. Sepertinya ia harus melancarkan apa yang diucapkan Mama Audi kemarin.
Galaksi membuka kemejanya hingga ia telanjang dada dan masih memakai celananya. Galaksi naik keatas kasur dan menindih tubuh Viola.
"Gal apa yang mau kamu lakukan? Kenapa kamu di atasku?" tanya Viola mulai takut dengan apa yang akan dilakukan pacarnya ini.
"Aku ingin kamu benar-benar mengandung anakku sayang. Aku sudah tak tahan menahan ini semua lagi, aku seorang pria normal Vio."
"Dan sepertinya mengulangi apa yang seminggu lalu kita lakukan itu bisa membuat kamu hamil."
Galaksi mulai mengelus pipi putih itu dengan lembut, sebenarnya ia tak mau berbuat seperti ini tapi mungkin ini cara agar Viola menerimanya.
"Kamu gila ya!! Kamu kan udah janji gak bakal setu*uhi aku lagi sebelum menikah. Kamu mau langgar janji lagi?" tanya Viola menatap kecewa Galaksi.
"Maka dari itu kamu harus menikah denganku agar aku bisa sepuasnya bercin*a denganmu," ucapnya mulai membuka baju yang dipakai Viola.
Galaksi mengecup bibir pink itu dan sesekali melu*atnya. Viola yang tak bisa bergerak karena tangannya di cekal oleh Galaksi itu hanya dibatasi menerima. Viola tahu Galaksi mencintainya terbukti dari ciuman lembut dan tak memaksa itu. Sungguh Galaksi memang tak bisa kasar dengan Viola.
"Kamu bisa merasakannya kan hmm?" tanya Galaksi menggesekkan beda yang sudah menonjol di celananya itu pada milik Viola yang masih terbalik rok dan CD.
"Emmhhh jangan macam macam ya Gal, atau aku akan sangat membenci kamu!!"
__ADS_1
Hati Galaksi berdenyut saat Viola mengatakan akan snagat membencinya. Ia tak bisa di benci wanita yang satu ini.
"Aku gak mau berhenti sebelum bilang 'iya'," ucapnya dengan mengecup singkat leher Viola.
Tubuh Viola merespon apa yang dilakukan Galaksi walau mulut dan hatinya menolak. Ia bukan wanita amatir yang polos akan se*s.
"Ahhh Galaksi stop it."
"Gak mau sebelum kamu jawab 'iya'," ucapnya menurunkan ciuman nya kearah dada dan meninggalkan bekas merah disana.
"Sangat cantik," ucapnya kembali membuat tanda merah itu di dada Viola. Ingin buat di leher, ia belum cukup berani jika dilihat Ayah Sandi dan Ibu Lana.
"Ahh jangan lagi, kumohon."
Viola sudah tak kuat akan apa yang di lakukan sang pacar kali ini. Jangan sampai ada aksi coblos mencoblos untuk yang ke tiga kalinya tanpa ikatan pernikahan.
"Oke aku mau menikah denganmu, tapi kumohon berhenti ya," ucap Viola yang membuat Galaksi menghentikan apa yang ia lakukan.
"Really?" tanya Galaksi menatap mata Viola yang sudah mengeluarkan air mata.
"Ya hiks hiks aku tak mau kita melakukannya lagi saat masih menjadi pacar. Sudah cukup dua kali, aku tak mau ke tiga kalinya lagi hiks," jawabnya dengan tangis.
"Akhh punyamu menusuk hikss, sakit tahu," ringis nya saat benda milik Galaksi menyekang miliknya.
Galaksi terlalu kuat memeluknya hingga membuat bagian bawah mereka cenut.
"Aku terlalu senang sayang," jawabnya yang masih memeluk tubuh Viola yang ada di bawahnya.
"Tapi kamu berat hiks, lepas."
Akhirnya dengan berat hati Galaksi melepaskan pelukan itu dan berguling ke samping Viola.
"Sayang," panggil Galaksi menghadap pacarnya yang masih mengelus dada agar tak menangis.
"Apa?" tanya Viola ketus. Hampir saja mereka melakukan itu lagi.
"Makasih ya, aku janji akan segera melamar kamu."
"Tapi aku tak punya keluarga lagi," jawabnya dengan sendu, ia menatap Galaksi dan memeluk dada pria itu.
__ADS_1
"Kan masih ada Ayah Sandi dan Ibu Lana, apa selama ini kamu gak pernah berfikir jika anak mereka yang hilang itu adalah kamu?" tanya Galaksi mengelus punggung pacarnya dengan lembut. Galaksi tahu, Viola akan sedih jika ada yang berhubungan dengan keluarga.
Viola masih teringat bagaimana dulu Mama dan Papanya memeluknya erat agar tak terbentur hingga menyebabkan kedua orang tuanya meninggal di tempat sedangkan dia masih bertahan.
Hari itu adalah hari terburuk bagi Viola, dimana orang tuanya pergi meninggalkannya. Bahkan orang tuanya juga sudah menyiapkan biaya untuk sekolah Viola sampai sarjana.
"Tapi mereka bukan orang tua kandungku hikss,"
jawabnya dengan isak.
Galaksi mengecup pucuk kepala Viola dengan lembut.
"Sudah jangan menangis hmm, aku keluargamu sekarang. Bahkan Ibu Lana dan Ayah Sandi sudah menganggap kamu sebagai putri kandungnya menggantikan Tiara. Dan tak lama lagi kamu juga akan punya adik dan orang tua lagi," ujar Galaksi menenangkan Viola yang terisak di dadanya.
Setelah berberapa saat, Viola tenang dengan pelan ia melepaskan pelukan itu dan menghapus air matanya.
"Udah tenang hmm?" tanya Galaksi mengelus rambut Viola yang mengangguk.
"Terus gimana cara nenangin yang bawah yank? Sakit banget tahu," ujarnya sedikit meringis pelan.
"Terus aku harus apa? Ini juga salah kamu kan!"
"Aku kan cuma mau kamu jawab iya yank, gak sabar mau halalin kamu," ucapnya membuka celananya.
"Kamu Curang kalau gini," ujarnya ketus.
"Tapi kamu juga menyukai jika kita menikah hmm?" tanya Galaksi menutup bendanya dengan bantal.
Viola yang tak sengaja melihat benda besar yang sudah tegak berdiri itu malu. Walau dulu ia pernah melihat bahkan baru saja minggu lalu.
"Kenapa malu? Bukannya yah pernah lihat?" tanya Galaksi dengan suara beratnya.
"Ih kamu gak ada malu malunya sih," ujar Viola memakai kembali bajunya tanpa bra karena branya sudah dikoyak oleh Galaksi tadi.
"Sakit yank, kamu gak mau bantu ya?" tanya Galaksi menahan sakit itu.
Viola yang tak tega dengan pacarnya itu hanya bisa diam, karena ia juga tak tahu harus apa. Cara yang ia tahu adalah berhubungan badan tapi ia tak mau sampai di masukin lagi oleh Galaksi sebelum menikah.
"Bantuin ya," ujarnya mengarahkan tangan Viola ke miliknya.
__ADS_1
Bersambung