Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Pantai


__ADS_3

Mohon maaf para reader, kalau dalam cerita ini tak full cerita Viola, Galaksi dana anak anak mereka. Kadang kala aku menceritakan Satya dan Clara, Reno dan Aulia, dan kadang juga Beby dan Bian. Semua ini agar semua mendapat akhir dalam satu cerita. Gak kayak novel aku sebelumnya yang melenceng kek gubuk penceng.


Happy reading


Jika di kantor Galaksi asik video call dengan Viola. Saat ini Clara dan Satya sudah sampai di pantai.


Clara yang melihat pantai itu tak sabar ingin segera keluar dari mobil itu. Tapi Satya langsung menahannya.


Pria itu takut kulit pacarnya gosong karena terik matahari yang saat ini sedang panas panasnya.


Satya memberikan sunscreen yang ada di mobil itu, dan benda itu diterima oleh Clara.


"Kamu udah siapin ini juga?" tanyanya seraya membalurkan sunscreen pada kulit mulusnya begitupun dengan Satya.


"Kulitmu juga salah satu asetku dimasa depan," jawabnya dengan lembut.


Setelah litu mereka keluar dari mobil itu, Clara meninggalkan tas kecilnya di mobil dan hanya membawa ponselnya.


"Kita ke warung itu dulu yuk, masih panas banget loh."


Clara yang diajak itu hanya heeh saja, karena cuaca di siang itu juga masih panas walau sudah banyak orang yang berlalu lalang di pantai itu.


"Kelapa mudanya dua," pesan Satya pada penjual kelapa muda.


"Siap, ditunggu ya."


Satya mengangguk dan mulai membawa sang pacar agar duduk di kursi plastik itu.


"Yang seneng diajak ke pantai, sampai lupa yang bawa," sindir Satya menatap Clara yang sedang mengamati pemandangan di pantai.


"Ini pertama kali aku ke pantai, Ay. Aku gak di bolehin main di pantai, takut kalau tenggelam padahal aku sangat ingin bermain di pantai," jawabnya mengingat dulu saat ingin pergi ke pantai bersama teman temannya tapi tak diperbolehkan oleh Mama dan Papanya.


"Kamu senang bisa ke pantai?" tanya Satya merapikan rambut Clara yang berterbangan karena angin pantai itu.


"Senang dan sangat sangat senang, aku nanti mau berenang. Boleh kan, Ay?" tanya Clara dengan melas. Ia sangat ingin berenang di pantai yang sangat biru itu.


"Gak boleh sayang, bahaya. Kita cukup bermain di tepi aja. Gak usah sampai berenang, nanti aja kalau berenang itu di rumah," jawabnya dengan tegas. Ia tak mau terjadi apa apa dengan pacarnya ini.


"Ayolah ayang. Aku mau berenang," rengek Clara dengan puppy eyesnya tapi tak juga membuat Satya luluh.


Pria itu malah dengan santai meminum kelapa muda yang memang sudahlah saat mereka sedikit bertengkar tadi.


"Haiss."

__ADS_1


Satya yang melihat pacarnya ngambek ini mulai mengelus rambut Clara dengan lembut.


"Bukannya aku gak bolehin main air sayang, aku cuma menjaga kepercayaan Papa dan mama kamu agar kamu tidak kenapa napa. Kamu tahu pantai bukan tempat yang cocok untuk berenang."


"Dulu Nana juga hampir ingin tenggelam untung aku sudah bisa menyelamatkannya. Kalau hal itu terjadi sama kamu aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri," tambah Satya dengan lembut.


Clara yang mulai paham itu mengangguk dan pasrah jika tak boleh main air. Akhirnya mereka menikmati kelapa muda itu seraya menunggu matahari turun.


"Ayang, udah gak panas lagi. Yuk ke sana," ajak Clara menujuk batu besar yang biasa dibuat anak-anak muda berfoto.


Satya yang melihat itu mengangguk dan menggandeng tangan Clara menuju batu itu. Suara ombak disana membuat suasana makin alami hingga membuat Clara memejamkan matanya.


"Sejuk banget, beda sama yang tadi."


Satya yang melihat itu hanya tersenyum, bahagia melihat Clara seperti ini. Tadinya Nana juga ia ajak tapi adiknya itu menolak karena masih ada sedikit trauma tentang pantai dan laut.


Diam diam Satya memotret Clara yang sedang menikmati alam itu. Foto yang ia dapat juga sangat cantik, bukan hanya satu dua yang ia dapat tapi banyak.


Hingga Clara kembali membuka matanya dan mulai turun dari batu itu dan mulai berlari dengan telanjang kaki.


Satya yang melihat itu ikut turun dan melepas sepatu yang ia pakai. Satya menggejar Clara yang sudah sedikit jauh dari penglihatannya.


Tapi bukan Satya jika tak bisa mengejar sang pujaan hati.


"Kejar aku, Ay."


Akhirnya setelah beberapa saat Satya bisa menangkap Clara dengan memeluk tubuh pacarnya itu dari belakang.


"Lepasin, gerah nih..."


"Gak mau kamu orangnya bandel, lihat tuh kaki kamu ada darahnya."


Sontak saja Clara langsung melihat kakinya dan benar saja kakinya sedikit berdarah. Tapi kenapa ia tak sadar.


"Aku gak sadar, gak rasa sakit juga. Ini cuma luka kecil kok," ujar Clara dengan santai mencuci kakinya di pantai itu dan menghilangkan darah yang ada di kakinya.


"Punya pacar satu kok bandel banget sih," geram Satya mulai menggendong tubuh Clara menuju tempat yang agak sejuk.


"Kamu tunggu disini aku mau ambil kotak P3K di mobil," ujar Satya dan diangguki oleh Clara.


Dengan cepat Satya mengambil kotak P3K dan juga sepatu mereka yang ada di dekat batu itu. Tapi saat ia kembali, Clara terlihat sedang ngobrol dengan seorang wanita yang hanya memakai bik!ni saja.


Clara yang melihat pacarnya mendekat itu langsung menyuruh temannya itu pergi. Ia tak mau mata pacarnya ternodai karena penampilan teman kampusnya tadi.

__ADS_1


"Yang tadi siapa yank?" tanya Satya dengan lembut.


Ia mulai berjongkok dan mengobati kaki Clara yang ******* oleh pasir pasir pantai entah juga ada beling atau apa Satya juga tak tahu.


"Teman kampus, Ay. Namanya Saidah, orangnya emang agak centil dan sangat seksi," jawab Clara menahan perih di kakinya.


"Seksi apa kayak gitu, terlihat murahan."


Jawaban Satya membuat Clara diam diam tersenyum. Ternyata Satya hampir sama dengan kakaknya yang tak suka dengan sebangsa cewek menggambar auratnya di depan publik.


Andai kamu tahu Clara, saat Viola dan Galaksi pacaran. Viola hanya memakai tank top dan hotspant saja.


"Kalau aku berpakaian seksi di depan kamu emang gak boleh?" tanya Clara menggoda pacarnya.


"Boleh boleh aja, selagi masih di ruangan kita. Da hanya boleh berdua saja aku tak mau orang orang menikmati pemandangan dari tubuh kamu."


"Dih ternyata kamu sama aja gitu."


"Aku juga laki laki sayang, tapi aku tak suka orang yang mengobral tubuhnya. Aku lebih suka yang lebih pribadi."


"Ful*ar banget kamu, Ay."


"Sekali kali kamu pakai pakaian seksi di depan aku juga gak apa-apa loh."


"Gak mau nanti kamu gak tahan lagi."


Satya yang mendengar itu hanya tertawa, kemudian ia menjadikan paha pacarnya sebagai bantal. Dengan pandangan mengarah ke perut Clara tak lupa pelukan di perut langsing itu.


"Kumat lagi manjanya."


"Besok udah masuk kerja lagi, sayang. Jadi hari ini aku mau habisin banyak waktu aku sama kamu."


"Harusnya kan sama Ibu dan Nana, Ay. Mereka keluarga kamu," jawabnya dengan lembut memainkan rambut Galaksi.


"Aku selalu bersama mereka kok, sayang."


"Jangan bohong, aku gak mau kamu terlalu fokus sama aku saja."


"Iya."


Satya memang sering menghabiskan waktu dengan Clara tapi tak menutup kemungkinan keluarganya juga nomor satu. Pernah Satya mengancam Nana untuk berhenti bekerja tapi Nana yang dasarnya keras kepala tak menanggapi ucapan kakaknya.


Tapi untuk ibu, beliau hanya duduk manis di rumah dan menikmati masa tuanya dengan menjahit sesekali ia membantu orang yang ada di toko mereka.

__ADS_1


Akhirnya di sore itu mereka menunggu senja di pantai dengan Satya yang sedang bermanja ria di atas paha Clara. Untung wanita itu memakai celana di bawah selulut.


Bersambung


__ADS_2