Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Negosiasi


__ADS_3

Happy reading


Sampainya di rumah Galaksi membawa satu bayi mereka, dan juga memeluk pinggang Viola.


"Mas malu," ucapnya dengan nada yang menggemaskan bagi Galaksi.


"Siapa yang kamu malu in hmmm?" tanya Galaksi dengan senyum manis.


Galaksi memberi perintah agar para pelayan dan bodyguard itu untuk tak memperhatikan Viola dan Galaksi terlalu sangat.


"Semuanya."


Kadang kala Viola sangat risih diistimewakan, maka dari itu ia lebih suka di kamar daripada keluar mansion.


Saat pintu di buka, keduanya di buat terkejut dengan rumah yang sudah dihias sedemikian rupa hingga membuat Viola terharu.


"Selamat datang twins Bima and Bisma," ucap mereka semua.


"Terima kasih semuanya," balas Viola dengan air mata yang sudah tak bisa ia bendung.


Di sana ada banyak sekali orang, terutama orang terdekat mereka. Keluarga Viola, keluarga Galaksi. Bahkan Bibi dan Paman dari Ibu juga ada di sana.


"Sini biar sama Oma dan Nenek," ucap Mama Audio mengambil Abang dari gendongan Viola. Sedangkan Adik di ambil oleh Ibu Lana.


Galaksi yang melihat sang istri itu hanya bisa memeluk sang istri dengan lembut. Ia tak menyangka jika dia akan menjadi seberuntung ini setelah melewati fase yang sangat menyulitkan dulu.


"Kenapa malah nangis sih hmmm? Kan harusnya kamu senang mendapat sambutan seperti ini."


"Hiks aku terharu, terima kasih."


Viola tak mampu menatap mereka semua satu persatu, Viola hanya bisa menangis dalam dekapan Galaksi.


Galaksi yang mendengar itu hanya mengangguk dengan tangan yang terus mengelus punggung sang istri.


Galaksi membawa sang istri untuk duduk di sofa paling dekat dengan mereka agar istrinya itu bisa nyaman. Hal itu tentu tak luput dari semua perhatian orang orang.


"Udah jangan nangis sayang, anak anak gak suka kalau Mommynya kayak gini. Nanti malah Daddy yang disalahin," ucap Galaksi dengan lembut.


"Mommy gak sedih, tapi bahagia. Karena Viola dan anak-anak sudah diterima baik oleh keluarga ini," ujarnya dengan senyum walau air matanya tetaplah mengalir.


"Kenapa kakak menangis, kita sayang kok sama kakak. Dengan adanya kak Viola, Kak Galaksi jadi mau bertemu sama kita. Karena kak Galaksi tuh kalau kita berkunjung dianya malah gak ada, entah alasannya sibuk, banyak kerjaan, atau malah hilang gitu aja. Walaupun kak Galaksi tuh ganteng tapi dinginnya buat kita kita gak tahan," ucap salah satu sepupu Galaksi dari Mama Audi.


Viola yang mendengar itu hanya bisa terdiam dengan nada yang segukan. Galaksi langsung meminta pelayan untuk mengambilkan minuman.

__ADS_1


Setelah pelayan mengantarkan minum, Galaksi langsung menyerahkan gelas itu pada Viola. Viola yang memang butuh minum itu langsung menghabiskannya.


Kini disana hanya ada Galaksi, Viola, dan keponakan yang tak jauh beda dengan Clara umurnya tapi ada juga yang sudah menikah. Sekitar 7 orang disana berkumpul, hingga Viola ini tenang dan bisa tersenyum lagi.


"Terima kasih semuanya atas sambutan kalian untuk Abang Bima dan Adik Bisma," ucap Viola dengan senyum manisnya.


Senyum tulus seperti biasanya yang kadang membuat Galaksi tak suka karena di sana juga ada laki laki, takutnya malah sepupunya ini suka lagi sama istrinya.


"Udah Viola harus istirahat, nanti kalau mereka sudah selesai bermain dengan Bima dan Bisma tolong antarkan ke kamar kakak," ucap Galaksi dan diangguki oleh mereka.


Yang dimaksud mereka adalah para tetua yang sedang bermain dengan anggota baru keluarga ini.


Galaksi menggendong tubuh Viola menuju lift itu. Walau Viola sudah sempat memberontak tapi tak berhasil karena Galaksi sangat kekeuh dengan apa yang ia lakukan.


Hingga akhirnya lift itu berhenti di lantai tepat kamar mereka, kamar Viola yang dulu juga masih sempat mereka gunakan mungkin nanti akan menjadi kamar Abang dan Adik.


"Mas aku berat ya?" tanya Viola setelah membuka pintu kamar itu.


"Enggak juga, walaupun kamu makin berisi tapi kamu gak berat sayang. Kamu lihat otot otot Mas kan. Bagi Mas, tubuh kamu ini sudah pas, tapi kalaupun kamu tambah lagi juga gak masalah," jawabnya seraya menurunkan sang istri di ranjang.


Walau terlihat sudah sembuh tapi tetap saja, jahitan itu belum kering. Hingga membuat Galaksi takut jika sesuatu terjadi pada Viola.


"Masih sakit yank?"


"Jalan lahir Baby Twins," jawabnya seraya menarik selimut itu agar bisa menutupi tubuh istrinya.


Cuaca di luar memang sedikit dingin karena mendung, hingga membuat Galaksi takut jika istrinya sakit.


"Ihhh ngomongnya kok gitu sih Mas, pertanyaan kamu itu loh terlalu ful*ar," ujar Viola seraya mencubit perut Galaksi.


"*** sakit sayang, jangan dicubit dong. Lebih baik kamu elus elus manja," ujarnya seraya mengelus perutnya yang sakit karena cubitan sang istri.


Viola hanya cuek, ia tahu cubitannya tak sakit. Karena ia tak mencubit perut itu keras.


"Modus!"


Dengan pelan Viola menarik selimut itu dan mulai baring di kasur itu menghadap suaminya yang memang duduk di sampingnya.


"Buka baju dong Mas," pinta Viola dengan lembut.


"Kamu mau apa yank? Jahitan kamu belum terlalu kering loh," ujarnya dengan nada was was. Bukan ia tak suka tapi ia hanya takut.


"Emang apa hubungannya jahitan sama buka baju?"

__ADS_1


"Kamu mau begituan kan?" tanya Galaksi dengan percaya dirinya.


"Dih ngarep ya, aku cuma mau peluk aja. Tapi baju kamu bau asem," jawabnya menarik paksa baju itu.


Galaksi yang mendengar itu menjadi cemberut, ia pikir istrinya meminta sesuatu yang lebih.


Dengan paksa Galaksi membuka bajunya dan Viola mulai memeluk perut Galaksi dengan erat.


"Yank, gak bisa ya puasanya diganti 20 hari aja. Aku gak kuat deh kalau sampai 40 hari," ujar Galaksi mencoba bernegosiasi dengan Viola.


Pria itu mengelus punggung istrinya, tapi tangan jahilnya itu mengelus pangkal dada istrinya yang sudah ia lepas pengaitnya tadi.


"Gak bisa Mas, kalau aku sudah bersih baru boleh. Lagian kamu juga pernah loh nahan itu sampai beberapa bulan sebelum menikah itu."


"Itu beda lagi sayangku, cintaku. Saat itu aku belum terlalu kecanduan dengan milikmu yang menggigit tapi sekarang. Semua itu adalah hidupku, bahkan aku tak bisa sehari untuk menahan diri."


"Tahan ya Mas."


"Kalau aku lagi pengen gimana?" tanya Galaksi dengan frustasi.


Viola yang mendengar rengekan dari Galaksi itu hanya tersenyum lembut di dalam dekapan Galaksi.


"Kan bisa pakai tangan atau enggan pakai ini," jawab Viola mengecup bibir Galaksi.


"Udah ya, masih ada banyak cara kok buat kamu. Jangan kayak gini, gak pantes sama jabatan kamu," ucap Viola kembali menarik tangannya dari sana tapi Galaksi menahan tangan itu.


"Elus aja terus yank, gak apa apa kok."


"Hahaha untung sayang Mas."


Galaksi yang hanya bisa menikmati elusan Viola itu tersenyum.


"Peluk Mas," rengek Viola saat merasa tangan Galaksi menjauh darinya. Hingga membuatnya sedikit dingin.


Galaksi yang ingin melakukan sesuatu yang lebih itu langsung tertawa kemudian memeluk erat sang istri.


"Love you sayang, terima kasih ya."


"Hmmm."


Bersambung


Dasar mereka ya.

__ADS_1


__ADS_2