
Happy reading
"Ahhh Viola sayang," era*g Galaksi saat cairan itu keluar dari tempatnya hingga membuat tangan Viola terkena cairan putih itu.
"Terima kasih sayang," ucapnya mengambil tisu yang ada disana dan mengusap sisa cairan itu.
Viola yang mendengar itu hanya mengangguk, jujur ia sangat malu melakukannya. 45 menit lebih tangannya memanjakan benda keramat milik pacarnya.
Setelah semua bersih Galaksi keluar dari kamar mandi hanya memakai celana pendek miliknya itu tanpa atasan. Ia melihat Viola yang sudah terlelap karena lelah itu membelakangi pintu kamar mandi.
"Ahh jika mengingatnya aku bisa gila, rasanya ingin lagi, lagi, dan lagi," gumamnya berlalu menuju ranjang dan memeluk tubuh pacarnya dari belakang.
"Capek ya?" tanya Galaksi mengelus perut Viola lembut.
"Hmm."
"Tapi aku suka loh apa yang kamu lakukan tadi," ujar Galaksi sudah memasuki baju yang dipakai Viola.
"Itu terpaksa," ujarnya dengan kesal.
"Gimana rasanya bisa pegang benda keramat aku yank?" tanya Galaksi menggoda Viola. Sedangkan Viola yang merasa tangan pacarnya mulai naik itu dengan cepat menahannya.
"Awas ih."
"Gak bisa sayang, aku udah terlanjur suka sama dada empuk kamu. Apalagi saat kamu gak pakai bra," ujar Galaksi memeluk erat tubuh sang pacar dengan elusan ringan itu.
"Aku gak bisa membayangkan jika perut kamu buncit yank, pasti akan sangat indah tubuh kamu," ujar Galaksi lagi.
Sedangkan Viola yang mendengar itu langsung menatap perutnya. Apa benar jika ia hamil? Tapi sepertinya belum, tapi jika ia benar hamil ia harus gimana?
"Yang ada kamu gak suka lihat aku kalau gendut, awas aja kalau sampai kamu jajan di luar saat aku hamil," ancam Viola membalikkan badannya dan menatap Galaksi yang hanya tersenyum itu.
"Gak kok sayang, kalau aku sampai selingkuh kamu boleh kuasai harta aku," ucapnya mengecup bibir Viola.
"Modus!!"
"Kamu juga suka kan? Aku adalah orang pertama yang bisa menaklukkan hati kamu yang keras itu dan aku juga yang paling takut kehilanganmu."
Viola yang mendengarkan itu hanya tersenyum, memang benar jika Galaksi adalah orang yang bisa meluluhkan hatinya. Viola selalu menutup hati dari SMA sampai kuliah walau banyak yang menembaknya.
"Gombal banget, aku jadi penasaran kamu pasti sudah banyak menikmati para cewek kan di luar negeri. Sampai kamu lihai banget saat kita pertama melakukan itu."
__ADS_1
Galaksi yang dituduh yang tidak tidak oleh Viola itu hanya bisa menggeleng.
"Aku laki-laki sayang, aku memiliki naluri untuk berbuat itu. Aku juga pria normal yang tak akan selamanya kuat dari godaan kamu ini. Apalagi kamu selalu pakai pakaian mini di depanku."
"Walau aku kuliah di luar negeri, bulan berarti aku bisa seenaknya memberikan keperjakaanku pada orang sana ya. Hanya kamu pertama anda selamanya."
"Yakin, bukannya orang New York banyak yang begituan ya? Aku yakin kamu juga pernah tergoda kan?" tanya Viola polos.
"Tergoda sih pernah tapi gak sampai gitu ya yank, sumpah deh. Aku cuma tergoda sama kamu sejak pertama kita bertemu," ujarnya dengan senyum.
"Heem, jika diingat ingat lucu juga ya. Dimana saat itu aku baru berusia 20 tahun bisa luluh sama kamu yang usianya 5 tahun di atasku. Dah kayak om om hehehe, padahal aku berharap punya jodoh yang usianya sepantantaran gitu sama aku. Maksimal 1 tahunlah di atasku, tapi apa boleh buat kalau yang aku sayang dan aku cinta adalah laki-laki yang umurnya 5 tahun di atasku. Cowok yang buat aku kesel dengan sikapnya yang seenak jidat menyuruhku ini itu."
"Bahkan aku pernah ingin resign dari perusahaan tapi aku ingat lagi gimana nasib aku di kampus kalau aku keluar dari perusahaan kamu."
"Owh jadi kamu anggap aku om om sampai kamu mau resign? Wah parah sih, punya cewek bar bar gini," ucapnya yang membuat Viola tersenyum malu dan memeluk tubuh Galaksi, wanita itu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Galaksi yang kini sudah kembali wangi sabun.
"Untung sayang," ucapnya mengecup kening Viola.
"Masih jam 7, tidur yuk. Dan jam setengah 10 kita pulang," ujar Galaksi dan diangguki oleh Viola.
Mereka tidur dengan pelukan satu sama lain, Viola yang menyembunyikan wajahnya di dada Galaksi itu bagaikan seorang anak yang meringkuk di dekapan ayahnya.
Tak terasa hari sudah malam, Galaksi yang memang sedari tadi belum terlelap itu bangun dan memesan makan malam untuk mereka.
Untung saja Reno sudah menyuruh bawahannya untuk mengirim pakaian Galaksi ke hotel, jadi ia bisa tenang walau tak memakai baju kantor yang tadi.
"Eugh," geliat Viola meraba sisi ranjang tapi kok kosong. Dimana kekasihnya itu, apa Galaksi pergi dan meninggalkannya disini sendiri?
"By...."
"By...."
"Kamu dimana?" teriak Viola memanggil Galaksi. Ia bangun dan menelusuri sekeliling kamar itu, tapi tak kunjung menemukan sang kekasih.
"Galaksi!" teriaknya.
Ceklek
"Ada apa sih sayang, aku cuma keluar bentar kok," ucap Galaksi seraya membawa nampan berisi makan malam.
"Takut kamu pergi dan ninggalin aku disini. Kamu pergi tanpa aku," jawabnya dengan sedih.
__ADS_1
"Aku cuma beli makan kok yank," ucapnya duduk di ranjang itu.
Viola menghela nafasnya panjang, ia pikir Galaksi meninggalkannya. Walau ia tahu pikiran itu sangat tak masuk akal baginya karena Karena tak mungkin Galaksi meninggalkan sendiri disini.
"Jangan pergi lagi kayak tadi, aku takut tahu," ucap Viola seraya menerima suapan dari sang pacar.
"Iya yank, aku tadi cuma kebawah doang kok. Mana mungkin aku tinggalin kamu sendiri disini," ucapnya menyuapkan makanan itu ke mulutnya sendiri.
Mereka makan dalam satu piring dan sendok yang sama hingga membuatnya semakin romantis. Setelah selesai mereka meluas dari kamar untuk pulang ke rumah Reno, mengingat ini sudah pukul setengah sepuluh.
"By ngantuk lagi," rengek Viola menyandarkan kepalanya di bahu Galaksi.
"Ya sudah tidur aja aku gak apa-apa kok," jawabnya mengelus rambut sang pacar.
"Nanti kamu nyetir sendiri lagi, enak banget aku yang tidur," balas Viola memainkan jari jari besar Galaksi sangat berbeda dengan jarinya yang kecil tapi lantik.
Di tengah perjalanan Viola melihat ada penjual sate kelinci.
"By berhenti deh," ucap Viola yang langsung di turuti oleh Galaksi.
"Emang sate kelinci itu enak ya? Kan kelinci tuh kecil mana ada dagingnya."
"Enak sayang, sebagian orang menjadikan kelinci sebagai obat. Kamu mau?" tanya Galaksi menatap pacarnya.
"Kamu mau," tanya Viola menatap Galaksi.
"Aku tanya kamu loh, kok membalikkan pertanyaan?" tanya Galaksi gemas sendiri dengan pacarnya ini.
Dengan malu Viola mengangguk dan sepertinya enak. Galaksi pun mengangguk dan keluar dari mobil untuk membelikan sate kelinci untuk pacarnya.
Setelah mendapat dua porsi sate kelinci itu, Galaksi kembali ke dalam mobil dan memberikannya pada Viola.
Viola yang mencium bumbu kacang dari sate itu seketika tergiur, ia mulai membuka bungkus sate itu dan dengan ragu ia memakannya.
"Gimana rasanya?" tanya Galaksi setelah menjalankan kembali mobilnya.
"Emm enak, rasanya gak terlalu amis. Aku suka, kamu mau?" tanya Viola dan dianggukkan oleh Galaksi.
Akhirnya di perjalanan pulang itu mereka menghabiskan dua porsi sate kelinci dengan Viola yang menyuapi pacarnya. Setelah sampai di rumah, Galaksi mengantar sampai depan pintu dan mengucapkan selamat malam.
Setelah Viola masuk, Galaksi pun kembali ke mobil dan menjalankan kembali mobilnya menuju rumah utama keluarga Ryano dengan senang karena Viola yang sudah mau menikah dengannya.
__ADS_1
Bersambung
Hai hai. Apa kabar nih para readers semuanya? Tya buat grup nih, boleh gabung ya biar bisa saling kenal juga.