Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Pak Dosen


__ADS_3

Happy reading


Setelah nasihat dari sahabatnya, jika cowok bukan hanya Arka. Membuat Nana lebih tenang, hari ini ia memutuskan izin tidak bekerja.


Nana sudah kembali, dengan wajah cerianya. Clara yang melihat Nana kembali seperti dulu itu membuatnya senang.


"Ke toko buku yuk, Na," ajak Clara setelah kelas mereka selesai.


Keduanya kini tengah mengemasi barang yang ada di meja itu dan memasukkannya ke dalam tas.


"Ayo aku juga mau beli buku buat tugas," jawabnya dengan santai.


Clara yang mendengar itu langsung menatap sahabatnya, tak biasanya Nana akan mencari buku pelajaran. Clara tahu betul Nana yang sangat malas di disuruh membaca.


Tapi ya sudahlah mungkin Nana sedang insyaf dan belajar dengan giat tidak hanya memikirkan kerja dan kerja.


Mereka berdua keluar dari kelas menuju parkiran mobil Clara.


Sebenarnya Nana dan Clara banyak yang menyukai di kampus. Tapi dua wanita itu seakan cuek akan pria pria itu, Nana hanya menemukan sosok hangat seperti Arka yang tak ada di pria lain.


Mereka masuk kedalam mobil dan mobil itu perlahan meninggalkan area kampus. Tujuan Clara dan Nana adalah toko buku, menurut informasi yang Clara dengar. Sudah ada novel baru di toko buku, hingga ia mengajak Nana untuk ke sana.


Selain itu ada tujuan lain yaitu membuat suasana hati sahabatnya membaik dengan mengajaknya jalan jalan sehabis ini.


"Nana jangan nangis lagi ya. Gue gak mau lu sedih cuma gara-gara cowok. Ingat ya kita tuh perempuan, banyak kok anak kampus yang suka sama lu."


"Lu aja yang gak mau buka mata," tambahnya yang membuat Nana diam.


Bukan ia menyalahkan apa yang diucapkan Clara. Tapi benar juga ia sudah terlalu membuang waktu untuk nangis demi laki laki yang tak mengerti perasaannya.


"Iya."


"Gimana hubungan lu sama kakak?" tanya Nana mengalihkan pertanyaan Clara.


"Hubungan gue sama kakak lu ya seperti biasa. Selalu berjalan dengan baik walaupun banyak bacot an diantara kita," jawab Clara dengan senyum manisnya.


"Menurut lu kakak itu orangnya romantis gak?" tanya Nana dengan penasaran.


Setahu Nana, Satya adalah orang yang cuek apalagi soal asmara bersama perempuan. Walau banyak yang mendekati Satya tapi kakaknya itu terkesan tak peduli dan menganggapnya teman. Tapi berbeda jika bersama Clara, dan Nana yakin perubahan dalam hidup kakaknya itu karena sahabatnya ini.


"Romantis banget malahan, Kak Satya itu memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan rasa cintanya buat aku. Entahlah romantisnya bisa mengalahkan keromantisan kak Galaksi pada kak Viola," jawab Clara dengan jujur.


Clara kembali mengingat saat mereka berdua di pantai kemarin. Saat dimana Satya selalu bisa membuatnya tersenyum walau dengan cara yang sederhana.

__ADS_1


"Kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian ketahap yang lebih serius?" tanya Nana dengan senyum.


"Jika sudah waktunya. Lagipula aku masih kuliah Nana, belum waktunya memikirkan hal yang dewasa seperti itu," jawab Clara yang tiba tiba memerah malu karena pertanyaan Nana yang menjurus ke sana.


"Oke oke, aku tahu. Kakak juga sedang berjuang untuk kamu, Ra. Jadi aku mohon jangan sampai kamu meninggalkan dia ya," pinta Nana dengan serius.


"Iya aku janji," jawab Clara dengan senyum manisnya. Dalam hatinya ia tak ada niat sedikitpun untuk meninggalkan lelaki yang paling ia cintai itu.


Akhirnya setelah beberapa saat mereka berbincang di mobil. Mereka berdua sampai di toko buku terbesar disana.


Keduanya masuk dan berpencar mencari buku yang akan mereka pilih masih masing. Clara ke tempat buku novel sedangkan Nana ke tempat buku bisnis.


Nana sedikit menyesali kenapa dulu ia menjual buku pelajaran kakaknya hanya karena dulu tak ada pikiran untuk kuliah. Sekarang ia yang menyesal.


Nana melihat harga dari buku itu hanya bisa menghela nafasnya kasar. Buku itu sama dengan setengah gajinya di kafe.


Apa ia harus membuang uang segitu banyak hanya untuk membeli buku itu.


Akhirnya Nana berjalan lagi mencari buku yang sekiranya agak murah. Saat itu melihat ada buku bersampul hijau itu tapi di rak yang paling tinggi.


"Gimana ya?" tanyanya dengan berfikir cara mengambil buku itu.


Tanpa Nana tahu jika ada seorang laki laki yang menatapnya dengan raut tak biasa. Laki laki itu mendekat ke arah Nana dan mengambil buku itu untuk wanita yang kini ada di depannya.


Deg!


"Pak dosen!!"


"Hmmm, kamu ingin mengambil ini kan?" tanya dosen tersebut dengan senyum.


"Iya pak, terima kasih."


"Sama-sama, lain kali kalau tidak sampai itu bilang jangan cuma diam."


Dia adalah Ihlam, salah satu dosen muda di kampus Nana yang baru saja menyelesaikan S 2 nya. Atau bisa dibilang dosen ini adalah kakak tingkatnya dulu yang sekarang diangkat menjadi dosennya.


"Jangan dipanggil kak, kesannya aku ini tua banget ya," ujar Ilham dengan senyum.


"Kan Bapak udah jadi dosen saya. Beda dong sama dulu yang masih kakak tingkat," jawabnya Nana duduk di kursi kayu yang disediakan itu.


"Sama saja, Nana. Aku masih 24 tahun, jangan memandangku Tua. Walau aku sebagai dosenmu tapi kita dulu juga teman," ujar Ilham ikut duduk di samping Nana.


"Ya ya terserah Anda."

__ADS_1


Ilham tersenyum melihat wajah yang setiap hari dia rindukan itu. Tapi Ilham tak cukup keberanian untuk mengatakannya.


"Kamu ingin membeli buku ini, Na?" tanya Ilham dan dianggukkan lalu di gelengkan oleh Nana.


"Entahlah aku bingung, harga buku disini mahal mahal. Aku tak bisa membuang uang begitu saja hanya untuk membeli buku ini," ujar Nana melihat label harga buku itu.


"Kenapa?"


"Karena aku tak mau boros, Pak. Aku harus bekerja untuk kebutuhanku sendiri. Dan harga buku buku tentang bisnis disini hampir setengah dari gajiku," jawab Nana dengan lesu.


"Kalau Bapak sendiri kenapa ke toko buku?" tanya Nana yang membuat Ilham kikuk sendiri jika ditanya seperti itu.


Pria itu tadi hanya mengikuti Nana dan Clara, karena hari ini ia tak ada jadwal mengajar di kelas mereka.


"Mau beli buku tadi," jawabnya berbohong.


"Emm jika kamu mau, aku masih memiliki buku bisnis seperti ini."


"Mau pak, tapi apa bapak tak apa meminjamkannya pada saya?" tanya Nana.


"Tentu saja tidak apa-apa, daripada buku itu tak terpakai."


Nana mengangguk, setidaknya dengan meminjam milik Ilham. Dia bisa mengirit uang untuk membeli buku.


"Kamu bisa mengambilnya di rumah," ucapnya dengan lembut.


Degup jantung Nana tak normal saat mendengar suara lembut Ilham. Pria yang taat agama dengan segala prestasinya itu membuat Nana merasakan hal yang aneh.


"Ada apa ini?" tanya Nana dalam hati.


"Nanti saya ambil ya, Pak. Bapak kirimkan saja alamat bapak," jawab Nana sedikit gugup.


"Habis ini kamu mau kemana?" tanya Ilham.


"Gak tahu pak, mungkin pulang."


"Kalau begitu kita ambil sama sama saja, lagipula Ibu saya ingin bertemu dengan kamu," ucap Ilham pada Nana.


"Tapi.."


"Nanti saya tanyakan pada Clara ya, Pak."


Ilham tersenyum dan mengangguk, entah kenapa ia selalu tenang dan nyaman bersama wanita sedikit tomboy ini.

__ADS_1


Bersambung


Gimana kalau Nana sama Pak Ilham saja?


__ADS_2