
Happy reading
Setelah selesai belanja keseluruh tempat yang ingin ia beli, Viola kembali ke tempat dimana adiknya tadi mengirim pesan yaitu restoran.
Viola membawa banyak belanjaannya kesana, walau banyak tapi Viola tak samapi menghabiskan 25 juta. Mama Audi yang melihat menantunya datang itu terkejut saat melihat banyak paper bag yang dibawa Viola.
"Kamu beli apa saja banyak banget? Kamu muterin satu mall hmmm? Kan Mama udah bilang jangan capek capek," omel Mama Audi membawa putrinya itu untuk duduk.
"Gak banyak kok Mah, hanya beberapa pasang dress sama sesuatu aja. Tadi juga gak lelah, cuma sedikit jalan jalan aja."
Jujur Viola senang akan perhatian mertuanya ini, dulu Mama Audi sangat membencinya tapi sekarang ia malah disayangi layaknya anak sendiri.
"Bener gak capek?" tanyanya dan dianggukkan oleh Viola.
Mereka memesan makanan dan minuman seraya menunggu Galaksi dan Papa Bara yang entah kapan datangnya.
"Mbak jus tomat sama asam jawa ya satu. Makannya ayam geprek aja satu yang pedes," pesan Viola yang membuat mereka melongo pasalnya tak ada menu minuman yang dipesan Viola.
"Maaf mbak, tapi minuman yang Anda pesan tak ada di restoran kami," ucap pelayan itu dengan sopan.
Mama Audi yang tahu menantunya sedang mengidamkan minuman itu berbicara pada pelayan itu hingga akhirnya di iyakan.
"Bener kak mau minum itu?" tanya Clara dengan wajah yang masih kaget.
"Heem."
"Sayang, kakak kamu ini lagi ngidam. Kalau gak dituruti anaknya nanti ileran kamu mau ponakan kamu ileran hmmm? " tanya Mama Audi pas clara yang langsung menggeleng.
"Owhh gitu," Clara mengangguk.
"Selama kehamilan kamu ini ada kendala apa aja nak? Cucu oma ini gak nyusahin kamu kan?" tanyanya dengan tangan mengelus perut Viola.
"Enggak ada Mah, Viola juga gak pernah ngalamin morning sickness. Anak Vio pengertian dan gak mau nyusahin Mommynya," jawab Viola dengan senyum.
"Syukurlah kalau begitu."
Clara yang melihat itu tersenyum, ia jadi membayangkan jika nanti ia hamil dan memiliki anak apakah akan sebahagia itu. Tapi siapa yang akan menjadi jodohnya kelak?
Setelah pesanan mereka datang, mereka langsung menikmatinya tanpa menunggu para suami datang.
Mama Audi dan Clara yang melihat lahapnya Viola itu hanya terheran apa tidak aneh. Ayam geprek dengan minuman jus tomat dicampur asam.
Tak lama mereka menunggu Papa Bara datang dan tak lama Galaksi mengikuti di belakangnya.
__ADS_1
Galaksi yang melihat istri tercintanya itu mendahului sang Papa dan memeluk tubuh Violqa dengan erat. Rasanya ia sangat rindu sekali dengan istrinya ini, mungkin terdengar alay tapi itulah kenyataannya. Bawaannya pengen terus dekat dengan Viola, entah ini hanya keinginannya atau memang bawaan bayi.
"Kakak lebay," cibir Clara pada kakaknya.
Galaksi yang dasarnya bodo amat itu hanya diam dan menghirup wangi parfum sang istri. Mama Audi dan Papa Bara yang melihat tingkah manja sang putra itu hanya menggeleng pelan.
"Mas malu dilihat banyak orang," bisik Viola menatap suaminya yang ada di ceruk lehernya.
"Gak peduli yank, aku kangen kamu," balasnya tetap bodo amat.
Viola yang mendengar itu hanya bisa menghela nafasnya, ia malu pada mertuanya yang melihat tingkah suaminya.
"Gak apa-apa nak mungkin itu bawaan bayi, Papa dulu juga gitu," ucap Papa Bara pada menantunya.
Akhirnya Viola membiarkan apa yang dilakukan suaminya, untung ruangan itu VIP jadi tak banyak yang memperhatikan mereka.
"Udah makan?" tanya Viola mengelus rambut suaminya.
"Belum," jawabnya.
"Mau makan apa? Aku pesenin."
"Kamu tadi makan apa?" tanya balik Galaksi.
Bukannya tak mampu untuk beli tapi baginya makanan istrinya itu yang ternak, akan tetapi jika tak ada makanan itu, suapan istrinya juga tak masalah.
Viola kembali memesan kembali satu porsi ayam geprek plus nasi, bagi Viola makan apapun harus ada nasinya. Tya juga gitu, makan mie masih ditambah nasi.
Setelah datang Viola mulai mengambil ayam itu dan menyuapkannya pada Galaksi yang sudah anteng. Kan emang dari tadi anteng.
"Gimana rasanya?" tanya Viola.
"Biasa aja, enak buatan kamu," jawabnya dengan jujur.
"Kalau gitu aku buka warteg aja ya," ucap Viola dengan senyum manisnya menggoda suaminya.
"Kalau gitu biar aku yang jadi pembelinya, bila perlu aku buat pengumuman jika wartegnya udah aku beli," jawab Galaksi mengunyah makanan itu.
"Terserah kamu aja," ucap Viola.
Interaksi mereka itu tak luput dari tatapan ketiga orang ini. Mama dan papa tak salah memilih Viola menjadi menantunya. Lebih tepatnya Galaksi sangat tepat memilih istri.
"Nanti kita ke butik," ucap Galaksi yang membuatnya bingung. Kenapa ke butik jika di mall ini ada.
__ADS_1
"Ngapain?"
"Beli gaun sayang, besok aku mau ajak kamu ke perusahaan," jawabnya.
"Lah ngapain? Aku kan udah pernah ke sana."
"Udah kamu nurut aja sayang," ujarnya meminta untuk disuapi lagi.
Akhirnya Viola hanya bisa mengangguk seraya menyuapi suaminya dengan telaten.
Setelah selesai, Viola dan Galaksi pamit dulu pada mereka bertiga yang masih ingin kumpul keluarga di luar. Mama dan Papa juga ingin menghabiskan waktu mereka dengan sang putri yang tak lama akan berusia 19 tahun.
"Mas maaf ya aku belanja banyak, banyak habiskan uang juga," ucap Viola setelah mereka sampai mobil. Lihat saja mobil bagian belakang mereka penuh dengan barang belanjaan Viola.
"Banyak apa apanya, yang masuk ke ponsel aku cuma 25 juta kok. Gak sampai 1 milyar. Kamu itu terlalu hemat sayang, dan aku gak suka kamu menahan apa yang ingin kamu beli," ucap Galaksi memasang sabuk pengaman Viola.
"Kamu terlalu boros Mas, gimana kalau tiba-tiba besok kamu bangkrut? Kamu tahu mencari uang 100 ribu itu sangat sulit."
Galaksi hanya bisa menghela nafasnya, kenapa istrinya ini selalu bilang bangkrut bangkrut gitu. Ia tak akan bangkrut walau harus kehilangan satu perusahaan. Tapi apakah Galaksi tak memikirkan nasib pegawainya jika sampai benar perusahaan bangkrut.
"Mas.."
"Iya yank ada apa?" tanya Galaksi menatap sang istri.
"Besok ada acara apa di kantor?" tanya Viola dengan penasaran.
"Ada pokoknya, kamu tinggal nurut aja."
Viola yang tak mendapat jawaban dari sang suami itu hanya bisa pasrah, tangannya memeluk lengan sang suami dan menyadarkan kepalanya di bahu Galaksi.
Galaksi mengelus kepala istrinya dengan lembut, sesekali ia mengecup kening mulus Viola. Tangan satunya masih memegang kendali stir mobilnya.
"Anak kita cewek apa cowok ya Mas?"
"Cewek atau cowok Mas akan selalu sayang karena mereka adalah anak Mas."
"Tapi Vio takut jika anak kita nanti cewek Mas, gimana kalau nanti dia menikah. Kamu gak akan bisa menjadi walinya," ujar Viola mengeluarkan apa yang menjadi beban selama ini.
Galaksi yang mendengar itu hanya tersenyum, ia tak akan menyesali semuanya karena bagaimanapun kehamilan Viola adalah anugrah paling indah yang tuhan berikan padanya. Walau hadir dari sebuah kesalahan.
"Semua akan baik baik aja," jawabnya dengan senyumnya.
Bersambung
__ADS_1